
Setelah perbincangan mereka berakhir, Ayu memilih duduk ditempat lain untuk menghindari berbagai pertanyaan dari Abuts.
"kenapa tu cewek incaran lho, seperti ketakutan gitu!?," kata Ardi kepada Abuts sambil menunjuk Ayu yang pindah tempat duduk agak ke pojok.
"tidak tau juga, Aku lihat Ayu juga aneh hari ini, seperti menyembunyikan sesuatu gitu!," jawab Abuts masih tetap menatap Ayu yang berada agak jauh dari tempat duduknya.
Ardi dan Abuts terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Lho kenapa ikut-ikutan diam?, jangan-jangan Lho naksir juga dengan gadis incaran gue ya?," Abuts bertanya sambil memukul pundak sahabatnya,
"Ya kali, Aku naksir sama cewek incaran teman Gue!, tapi Bro... andaikan Ayu nolak Lho, bolehlah Aku yang maju, siapa...." ucapan Ardi terputus karena tiba-tiba Abuts memukul kepalanya,
"Siapa tau apa Bro?, hargai Akulah, ini Aku lagi berjuang untuk mendekatinya, kalau bisa bantulah sahabatmu ini!," Abuts tidak terimah jika Sahabatnya ingin ikut mendekati cewek yang dia incar, karena Abuts sangat tahu watak dan gaya pacaran sahabatnya itu.
***
Ardi adalah sahabat Abuts dari kecil, sekaligus berasal dari daerah yang sama dengan dirinya, Ayah Abuts juga berteman baik dengan Ayah Ardi, makanya mereka bersahabat dari kecil, tapi sifat dan gaya mereka tidak sama soal wanita, Ardi adalah sosok pria yang periang dan jagoan soal mendekati wanita, dia pintar dalam hal berkata-kata, sejak Sekolah menengah pertama Dia sudah pacaran, sedangkan Abuts adalah sosok pria yang irit dalam bicara, waktunya banyak dihabiskan untuk membaca buku, dan Ayu adalah wanita pertama yang dia Taksir, padahal usianya sekarang sudah Delapan belas Tahun, makanya dia sangat bersemangat mendekati Ayu.
"siap!, tadi kan Aku sudah bantu Bro, kamu nya aja yang kurang trik!," ucap Ardi sambil memperbaiki posisi duduknya,
Tidak lama kemudian terdengar bunyi panggilan, agar semua penumpang pesawat segera menaiki pesawat.
***
Didalam pesawat Ayu mendapatkan posisi tempat duduk berdekatan dengan Ardi, sementara Abuts berada tepat di belakang kursinya.
Sebenarnya Ardi juga tidak tahu kalau dia berdekatan dengan gadis incaran sahabatnya, tapi kali ini dia sengaja ingin melihat reaksi dari sahabatnya.
__ADS_1
"Pasti dalam hatinya dia kesal", gumam Ardi dalam hati, segaja pura-pura tidak melihat kebelakang.
"Eh... kak Ardi duduk disebelah Aku ya?," tanya Ayu basa-basi karena melihat Ardi duduk disampingnya,
"Syukurlah, bukan Kak Abuts," gumamnya dalam hati setelah melihat Ardi duduk disampingnya,
"Iya Yu,... Aku dapat nomor kursinya Enam belas B. kamu tidak keberangkatan kan?," Ardi memastikan dan sengaja berbicara dengan suara agak dikeraskan agar sahabatnya dengar di belakang,
"Yah tidaklah Kak, emang Ayu siapa mau keberatan?, Kan kita sama-sama penumpang," jawab Ayu tertawa kecil, Dia merasa lucu dengan pertanyaan Ardi barusan.
Sementara Abuts yang berada dibelakang Ardi, seperti ingin menonjok kepala sahabatnya.
"ini orang, sengaja panas-panasin Gue, atau gimana sih?," Abuts merasa jengkel dalam hati.
"Tenyata kamu manis sekali Yu, kalau lagi senyum!," ucap Ardi spontan,
Sebagai cowok yang terkenal playboy sejak SMP, Ardi juga merasa tertarik dari awal melihat dan menyapa Ayu di bandara barusan.
"Terimakasih Kak atas pujiannya, tapi Ayu tidak punya uang kecil," jawab Ayu malu-malu.
"uang besar juga Aku terimah ko Yu," balas Ardi dengan senyum menawannya,
Ayu senang dan merasa nyaman berbicara dengan Ardi, karena sudah hampir dua puluh menit mereka berbicara tapi Ayu masih merasa normal, keanehannya tidak muncul, berbeda jika dia berbicara dengan Abuts atau Reza.
Ayu merasa sangat mengantuk setelah melihat Ardi memejamkan mata, mungkin karena tidak ada yang mengajak dia berbicara.
"aduh ngantuk nya," keluh Ayu dalam hati,
__ADS_1
Sudah berkali-kali Dia menutup mulut dengan tangan karena menguap dan kali ini matanya mungkin sisa lima Watt, jadi dia memutuskan untuk tidur sebentar.
"Yu ... Ayu... bangun, sudah sampai!," terdengar suara seseorang yang sangat familiar dari samping,
"em...!," hanya itu suara yang keluar dari mulutnya,
"Bangun Ayu, kita sudah sampai Jakarta!," orang tersebut mencoba membangunkan lagi, karena Ayu belum bangun juga, sementara penumpang yang lain sudah dipersilahkan untuk turun dari pesawat.
"Oh... iya pak, maaf... Ayu ketiduran," ucap Ayu sambil memperbaiki posisi duduknya,
"Pak?... Ayu, Aku Abuts, emang Aku seperti bapak kamu ya?," Abuts merasa lucu dengan tingkah konyol Ayu yang baru bangun,
"eh... maaf Kak, bukan begitu maksud Ayu," ucap Ayu tidak enak hati,
"Duluan Bro, selamat bersenang-senang!," ucap Ardi sambil menepuk pundak Abuts,
"Terimakasih banyak Bro, sampai ketemu lagi," balas Abuts kepada sahabatnya.
Ardi berjalan melewati mereka berdua bersama penumpang lainnya, sementara Ayu baru selesai melepaskan sabuk pengaman dan memakai ranselnya.
"Ayo... kita turun lewat pintu depan!," Abuts mengajak Ayu yang masih kelihatan bingung,
Ayu turun dari pesawat mengikuti Abuts yang sudah hampir naik bis yang menjemput mereka dari pesawat.
Sementara di luar bandara, tepatnya di ruang kedatangan, seseorang berdiri sambil terus melihat orang-orang yang berlalu lalang keluar dengan membawa barang-barang mereka.
"Ayu Kamu dimana sih, kenapa handphone kamu juga belum aktif?, apa pesawat yang kamu tumpangi di Lay ya?," orang itu terus mengomel dalam hatinya, sudah hampir Sepuluh menit dia berusaha menghubungi gadis kecilnya, tapi nomor yang di hubungi masih berada di luar jangkauan.
__ADS_1