
Setelah sampai Bandara dan mengurus semua yang harus di urus, Reza kembali menemui Ichal dan pak Supri. Reza dan Ayu sudah ingin masuk ke ruang tunggu.
"Nak... Mulai sekarang Aku akan panggil kamu anak, dan kamu panggil Aku Ayah, karena kamu sudah menjadi menantu saya...
Dan sebagai ayah... Aku titip anak perempuan Aku sama Kamu, tolong perlakuan dan bimbing dia dengan baik, jika kelak Istri mu melakukan kesalahan dan sudah tidak ingin mendengar nasehat dari kamu, tolong kembalikan dia sama Ayah dengan baik, karena bagaimanapun, Istri mu adalah anak Ayah...!". Ichal memberikan wejangan singkat kepada Reza, setelah melepas pelukan perpisahannya.
"Iya ayah... Aku akan mengingat pesan ayah, doakan kami agar selalu hidup bahagia!". Jawab Reza kembali memeluk mertua sekaligus sahabatnya.
Reza merasa sangat berat meninggalkan Ichal sendiri di kampung, Apalagi Reza sangat tahu sifat dan watak Ichal, yang selalu bosan dengan pekerjaan yang monoton, seperti bertani.
"Nak... Hargai suami kamu, dengarkan apa yang dia katakan dan belajar yang rajin... Ayah sangat menyayangi kamu nak!". Kini Ichal berbalik memeluk Ayu yang berdiri di samping Reza.
"Iya Ayah...!". Jawab Ayu sambil terus memeluk Ichal.
Rasanya Ayu belum mau berpisah dengan Ichal, tapi apa boleh buat, Namanya sudah terdengar di seluruh ruangan kedatangan.
"Pergilah Nak ... jika ada waktu dan kesempatan, ayah akan pergi mengunjungi kamu di sana... Baik-baik dengan suami kamu...!". Ichal melepas pelukan Ayu.
"Ayah, pak Supri... kami pergi... sampai ketemu lagi!". Reza menyalami Ichal dan Pak Supri.
Ayu juga ikut menyalami Ayahnya dan pak Supri.
***
Sampai Jakarta...
Reza di jemput oleh supir kantor, karena memang Reza tidak memberi tahukan ayahnya, jika hari ini Dia dan Ayu akan pulang ke Jakarta.
Seharian ini, Reza belum berkirim kabar dengan Ayah dan ibunya. Reza hanya menelpon supir pribadi yang bekerja di kantor nya, untuk menjemput dia siang ini.
Sebenarnya Reza ingin memberikan kejutan kepada ke dua orang tuanya, Tapi tak di sangka setelah Sampai ke rumah ke dua orang tuanya, hanya pak Susilo yang menyambut Reza dan Ayu.
"Silahkan masuk nak... jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri!". Ucap Pak Susilo, ayah Reza ketika menjemput menantunya di depan rumah bersama beberapa asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Reza.
"iya pah...yah...!". Jawab Ayu gugup dan berusaha untuk tersenyum manis.
Ayu merasa takjub melihat rumah ke dua orang tua Reza yang begitu besar dan megah menurut Ayu. Biasanya Ayu hanya melihat rumah yang sebagus ini di TV.
Mata Ayu tidak berhenti menatap rumah besar yang ada di hadapannya, sampai Reza merangkul dirinya, barulah Ayu tersadar dari rasa Takjubnya.
__ADS_1
"Nak... ayo masuk...!". Pak Susilo menghampiri Ayu dan menarik tangannya dengan lembut.
"Oh iya yah... Terimakasih kasih!". Jawab Ayu, mengikuti langkah ayah Reza masuk ke dalam rumah.
"Pah... mama mana?". Tanya Reza setelah masuk ke dalam rumah dan tidak mendapati sang mama di ruang tamu.
"Oh... ibu kamu ada di atas...!". Jawab Pak Susilo menunjuk ke arah atas.
Mendengar jawaban ayahnya, Reza tidak melanjutkan pertanyaan nya. Reza mengira jika ibunya sedang tidak enak badan, karena baru kali ini sang mama tidak menjemput dirinya, padahal dia baru pulang dari luar kota.
"Ajak istri kamu duduk di sana... papa akan memanggil mama kamu sebentar!". Pak Susilo memberikan tangan Ayu yang dia pegang dari tadi kepada Reza.
Melihat Ayahnya naik kelantai atas, Reza merangkak Ayu menuju sofa dan duduk berdua di sana.
Hampir Lima belas menit Reza duduk berdua dengan istrinya, bahkan teh dan cemilan yang diantar oleh asisten rumah tangga reza sudah mau habis, tapi papa maupun mama Reza belum juga turun dari lantai atas.
Sementara di lantai atas, tepatnya di dalam kamar Reza, Ibu Darti, mama Reza sedang duduk di atas tempat tidur putra semata wayangnya sambil membelakangi suaminya.
"Mah... ayo turun, temui menantu kita!". Ajak Pak Susilo kepada ibu Darti untuk ke sekian kalinya.
"Papa saja yang temuai Dia... perempuan itukan menantu ayah!". Jawab ibu Darti masih membelakangi suaminya.
"Sudahlah Pah... mama tidak mau mengakui gadis itu sebagai menantu mama, jadi bilang saja Reza, jika Aku sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa menemui mereka!". Ibu Darti memotong ucapan suaminya tampa menunggu suaminya menyelesaikan perkataannya.
"Terserah mama...
Pak Susilo keluar dari kamar Reza setelah merasa tidak berhasil membujuk istrinya.
"Za... ajak Istri kamu istirahat di kamar sana!". Pak Susilo berbicara sambil menunjuk pintu yang tidak jauh dari ruang tamu.
Mendengar ayahnya menyuruh Reza untuk membawah Ayu ke kamar tamu. Reza sudah bisa menebak, jika ada yang tidak beres antara ayah dan ibunya.
"Baik Pah...
"Ayo sayang... aku antar ke kemar, kamu pasti capek...!". Reza mengajak Ayu untuk masuk ke dalam kamar.
Sekali lagi Ayu di buat takjub, setelah sampai di dalam kamar yang begitu luas ditambah, tempat tidur dan lemari yang terbuat dari kayu ukiran jepara.
"Sementara kita tinggal di sini dulu sayang... mungkin besok baru Aku antar kamu ke sekolah... Jika kamu mau mandi, itu ada kamar mandi!". Reza berbicara sangat lembut kepada Ayu yang terlihat seperti orang linglung.
__ADS_1
"Sayang... Mas keluar dulu ya, kamu istirahat saja di sini, Mas mau bicara dulu dengan ayah soal kerjaan...!". Reza berpamitan dengan Ayu sebelum meninggalkan istrinya sendiri di dalam kamar.
"Iya Mas...!"..ucap Ayu singkat.
Setelah Reza keluar, Ayu duduk sebentar, lalu berjalan melihat-lihat ke sekeliling kamar, Ayu membuka pintu kamar mandi dan melihat peralatan mandi, seperti yang pernah Ayu gunakan ketika mandi di hotel Reza saat neneknya di rawat di rumah sakit.
Setelah melihat kamar mandi, Ayu berjalan menuju jendela, yang terbuka setengah. Ayu melihat keluar dan melihat ada taman yang cukup indah di belakang kamarnya.
Ayu berdiri hampir Sepuluh menit di jendela untuk menikmatinya pemandangan taman.
Sementara Reza, berbicara di ruang kerja ayahnya. Reza merasa ada sesuatu yang ayahnya sembunyikan dan kenapa ibunya tidak menyambut kedatangannya, padahal seharusnya, ibunya senang karena akhirnya Reza menikah dan mematahkan isu teman-teman arisan ibunya, tentang Reza yang tidak normal.
Tapi Reza heran karena ibu malah beralasan jika sedang sakit, untuk menghindari Reza dan Ayu.
"Pah... mama sakit apa?". Tanya Reza membuka pembicaraan dengan pak Susilo.
"Sebenarnya... mama kamu tidak...
"Tidak sakit... Reza sudah menebak itu pah... tapi kenapa Ibu melakukan ini pah?, Bagaimana jika Anandita tidak nyaman pa?". Reza memotong perkataan ayahnya dengan nada sedikit emosi.
"Iya Nak... sebanyak ibu kamu tidak setuju dengan tindakan yang kamu ambil, dengan menikahi Anak sahabat kamu itu, dan ayah sudah membujuk dan berbicara dengan mama kamu, tapi mama kamu tetap tidak ingin mendengarkan papa!". Jawab Pak Susilo dengan nada suara penyesalan karena tidak berhasil memberi pengertian kepada Istrinya.
"Bukannya ayah sudah berjanji, untuk berbicara dengan mama... tapi kenapa mama masih berperilaku seperti itu?". Tanya Reza merasa tidak puas dengan dengan penjelasan ayahnya.
Reza sangat khawatir, jika Ayu tidak nyaman dengan sifat ibunya yang tidak merestui hubungan mereka.
"Kamu harus sabar nak... mungkin ibu kamu Shock karena ini terlalu cepat buat Dia!". Pak Susilo berusaha memberikan pengertian kepada Reza.
"Ya... sudahlah Pah... kalau ibu masih bersifat seperti itu sampai makan malam sebentar, berarti, mau tidak mau Reza harus membawa Ayu malam ini tinggal di apartemen Reza Pa!". Reza tidak bisa berbuat terlalu banyak untuk saat ini, karena Reza tahu watak ibunya yang susah dibujuk, kecuali jika ayahnya sedikit keras dengan ibunya.
Hal ini bukan untuk pertama kalinya, ibu Darti bersifat seperti itu, tapi yang membuat Reza takut adalah Ayu, Reza tidak mau istrinya itu merasa tidak nyaman jika tahu ibu mertuanya tidak merestui pernikahan dirinya.
*** BERSAMBUNG ***
Author Ucapkan banyak terimakasih atas dukungan dan waktunya.
Sudah menyempatkan diri untuk membaca karya Author 🙏🙏🙏
Sampai jumpa pada bab-bab berikutnya 👋👋👋
__ADS_1