
Hampir Tiga puluh menit, Reza, Ichal dan Ayu duduk bertiga di depan IGD, namun belum juga mendapatkan kabar tentang kondisi Ibu Siti. Reza yang sudah gelisah, tidak tahan untuk duduk diam.
Reza beranjak dari tempat duduk.
"Mas Reza mau kemana?". Tanya Ayu heran.
Mendengar Ayu berbicara, Ichal yang duduk di samping anaknya juga ikut mengangkat kepala untuk melihat Reza.
"Mas mau ke sana dulu, kamu disini saja sama Ayah kamu!". jawab Reza menunjuk ke arah depan.
Melihat Reza berjalan meninggalkan Ayu dan ayahnya, Dalam Hati Ayu bertanya-tanya, "Ada urusan mendadak apa yang membuat Reza tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya dan ayah, padahal kondisi nenek masih di IGD?".
"Ayah tadi di rumah buat apa...apakah ayah sempat untuk istirahat?". Tanya Ayu merasa prihatin dengan kondisi Ichal yang terlihat sangat lelah.
"Iya nak... Ayah sempat baring-baring sebentar sebelum membersihkan diri!". Ichal menjawab sambil memperhatikan Ayu.
"Kamu juga baik-baik saja kan nak... Reza tidak menindas kamu kan?". tanya Ichal, sekedar ingin tau bagaimana tanggapan dan penilaian Ayu kepada Sahabatnya, Reza.
"Iya Ayah... Ayu baik-baik saja dan Mas Reza tidak menindas Ayu, Dia pria baik!". jawab Ayu sambil tertunduk.
Ayu merasa sangat malu mendengar pertanyaan dari sang Ayah.
"Ayo... kita makan siang dulu!". Ucap Reza membawa paper bag yang cukup besar, Reza meletakkan diatas kursi tepat disamping Ayu dan Ichal.
"Terimakasih Za... kamu sudah sangat peduli dengan keluarga Mas...!". Ichal terharu dengan perhatian Reza yang tau jika mereka belum makan siang, padahal waktu sudah menunjukkan hampir jam Dua belas siang.
"Mas... Seperti bicara sama siapa saja... bahasa terlalu formal dan sungkan, Ayo makan!". Reza menepuk pundak Ichal dan duduk di sampingnya.
Melihat interaksi Ichal dan Reza beberapa hari ini, membuat Ayu semakin percaya jika hubungan ayahnya dengan Reza memang benar-benar Sahabat sejati.
Selesai makan siang, Reza ingin menyampaikan sesuatu kepada Ichal, mengenai kondisi nenek Ayu, tapi Reza juga seperti berat untuk berterus terang.
"Apakah Mas Ichal bisa menerima kondisi terburuk nenek Ayu?". gumam Reza ingin membicarakan mengenai kondisi ibunya. Namun sebagai sahabat Reza merasa tidak tega.
Akhirnya Reza hanya bisa kembali duduk di samping Ichal, menunggu info dari dokter.
"Pak Ichal... Dokter ingin bertemu dengan anda!". Ucap Suster menghampiri Ichal dan Reza.
__ADS_1
"Iya Suster... terimakasih banyak!". Ichal berjalan bersama suster memasuki ruangan dokter.
Setelah hampir dua puluh menit, Ichal kembali menemui Ayu dan Reza dengan wajah yang sedikit sendu.
Melihat Ichal yang datang menghampiri dengan wajah sendu, membuat Reza bisa menebak, apa yang dokter sampaikan kepada Ichal, sama dengan yang Reza dapat dari dokter, sekaligus teman Reza waktu kuliah di luar negeri, yang kebetulan tugas di rumah sakit tempat nenek Ayu di rawat sekarang.
"Ada apa yah... apa yang dokter sampaikan kepada ayah?'. tanya Ayu tidak sabar mendengarkan kabar dari ayahnya.
"Tidak apa-apa sayang, Dokter hanya bilang nenek kamu masih harus di rawat dengan baik di sini!'. jawab Ichal mencoba menetralkan perasaannya, Agar Ayu tidak curiga.
"Reza... Ayo kita bicara sebentar!". Ichal mendekat sambil merangkul pundak Reza.
Reza yang mendengar dan melihat Ichal bertingkah seperti itu tidak kaget, karena Reza sudah menebak pasti ada sesuatu hal yang cukup serius yang Reza akan bicarakan.
Setelah berjalan cukup jauh dari tempat duduk Ayu, Ichal mengeluarkan secarik kertas yang Ichigo dapatkan dari Suster yang memanggil Ichal untuk bertemu dokter.
"Sekarang Mas... ?". Tanya Reza memastikan isi dari tulisan tangan Nenek Ayu yang baru saja selesai Reza baca.
"Iya Reza... Tolong Mas ya... Karena ini permintaan ibu saya!". Ichal berbicara sambil memohon kepada Reza, sampai air matanya menetes.
Ichal sangat takut, Reza tidak bisa melakukan hal ini, apa lagi permintaan ibu Siti sangatlah mendadak. Tapi Ichal harus bisa memenuhi keinginan ibunya, sebelum Ichal semakin merasa bersalah.
"Jangan begitulah Mas... Kita ini kan bukan orang asing... Aku janji akan mengabulkan semua permintaan ibu... Tapi bagaimana dengan Ayu mas... Apakah dia bersedia... apalagi inikan sangat mendadak?". Reza mencoba menanyakan apa yang beberapa hari ini mengganjal di hati dan pikirannya.
Reza tidak yakin, jika Ayu mau hidup menua bersama dengan dirinya, apalagi usia mereka terpaut cukup jauh, Reza sudah berumur Dua puluh Tujuh tahun, sementara Ayu masih cukup berumur Tujuh belas tahun.
Menurut Reza, Ayu pasti belum siap menjalani kehidupan rumah tangga, apalagi mendadak seperti ini. Ayu seharusnya masih menikmati usia Remaja yang beranjak dewasa bersama teman-teman seusianya.
"Soal Nur... Nanti Mas yang mencoba menyampaikan permintaan neneknya ini...!".
"Tapi Mas Ichal jangan memaksa Dia, apalagi sampai mengancam!". Reza memotong ucapan Ichal, karena sedikit banyak Reza tau sifat Ichal.
"Kamu tenang saja...!". Ucap Ichal sambil menepuk pundak Reza dan berjalan meninggalkan Reza sendiri.
Reza hanya bisa melihat Ichal berjalan mendekati Ayu yang duduk sendiri di depan ruang IGD.
"Nak... ayah ingin berbicara serius dengan kamu, tapi ayah mau kamu jangan membatah atau memotong perkataan ayah sebelum ayah selesai berbicara!".
__ADS_1
Mendengar Ayahnya berbicara seperti itu, membuat jantung Ayu berdebar cukup kuat, karena Ayu tau jika ayahnya berbicara seperti ini, berarti apa yang akan Ayahnya sampaikan adalah hal yang sangat serius.
Ayu hanya menganggukkan kepala, sebagai pertanda bahwa Dia setuju dengan permintaan Ichal.
"Nak... Tadi ayah sudah masuk menemui dokter dan sempat melihat nenek sebentar, dan asal kamu tau nak... Ayah sangat sedih dan merasa bersalah atas semua yang terjadi kepada nenek kamu, tapi ayah tidak tau harus berbuat apa... Di dalam dokter menyampaikan kepada ayah, mengenai kondisi nenek yang sangat kecil kemungkinan untuk bisa bertahan lebih lama lagi, karena di kepala nenek ada darah yang membeku, tapi dokter tidak bisa mengoperasi...!".
Ichal merasa tidak sanggup lagi untuk meneruskan ucapannya, sesekali Ayu melihat mata ayahnya berkaca-kaca, menahan air mata yang hampir jatuh.
"Teruskan Ayah...!". Ucap Ayu penasaran dengan apa yang ingin Ichal sampaikan.
"Dokter tidak bisa melakukan operasi karena nenek punya darah tinggi dan kolesterol yang sangat tinggi nak... Dan suster tadi memberikan ayah secarik kertas yang nenek tulis sebelum Nenek kembali drop!". Lanjut Ichal lagi.
"Lalu apa yang nenek tulis ayah... ?". tanya Ayu tidak sabar.
"Ayah akan memberitahukan kepada kamu, asal kamu janji..., bersedia melakukan semua yang nenek tulis!". tegas Ichal dengan wajah yang cukup serius memandang ke arah Ayu.
"Iya yah... Ayu janji dengan sepenuh hati, akan melakukan semua yang nenek minta, termasuk memberikan nyawa Ayu, akan Ayu lakukan, asal nenek kembali sehat!". Jawab Ayu dengan tegas.
Reza yang berjalan mendekati anak dan ayah yang sedang berbicara, sempat mendengar ucapan Ayu.
"Ini kertas yang Mas Ichal dapat dari suster, yang di tulis oleh nenek!". Reza memberikan secarik kertas yang Ichal berikan kepadanya tadi.
"Ah ... menikah... sekarang...?". ucap Ayu tidak percaya, setelah membaca tulisan tangan neneknya, dan Ayu sangat yakin itu tulisan tangan neneknya, karena Ayu sangat hafal gaya tulisan ibu Siti.
"Kenapa cepat sekali ayah...?". Tanya Ayu kepada Ayahnya dengan air mata yang sudah menetas di pipinya.
Bukannya Ayu tidak ingin menikah dengan Reza, tapi Ayu tidak menyangka jika waktunya secepatnya ini. Lagi pula Ayu selama hidupnya belum pernah menikmati yang namanya pacaran dan umurnya juga belum cukup Tujuh belas tahun. Bulan depan baru Ayu berulang tahun.
"Mas.... kasih kami waktu untuk berbicara berdua ya... Lima belas menit saja!". Reza tiba-tiba menarik tangan Ayu.
*** BERSAMBUNG ***
Author Minta maaf sebesar-besarnya kepada para pembaca, karena baru sempet Upload🙏🙏🙏
Author lagi banyak kesibukan sampai tanggal 1 November.
Terus dukung Author ya🙏🙏🙏
__ADS_1
Thanks for reading's 🥰🥰🥰