PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 100


__ADS_3

"Lepas! Aku gak akan biarin anak ku tersiksa sendirian" balas Mikha sesenggukan.


"Mikha, jangan!" Ujar Andra.


"Maafin aku" lirihnya menatap Andra.


Arsy meminta jessen untuk melepaskan ikatan tangan dan kaki Mikha. Jessen menjalankan tugasnya. Ia melepaskan tali yang mengikat tangan Mikha.


Mikha langsung berlari ke tepi lantai dengan memegangi tali yang mengikat leher anaknya.


Dilihatnya Rendy yang bergelantungan dengan tali di lehernya. Anaknya itu terlihat tersiksa karena tali yang mencekik lehernya.


"Rendy! Bunda bakalan narik kamu sayang! Sabar ya" ujar Mikha. Ia menarik tali tambang tersebut.


"Kalau kamu tarik, itu berarti kamu membunuh anak kamu sendiri dengan mencekiknya menggunakan tali itu" ujar Arsy tepat di telinga Mikha.


Mikha sadar, jika ia menarik tali tersebut maka sama saja ia membunuh anaknya sendiri. Karena tali tambang tersebut di ikatkan pada leher anaknya.


Mikha kehilangan akal untuk menyelematkan Rendy.


"Temani dia!" Bisik Arsy di telinga Mikha.


Dan,


"AHHHH!"


Arsy mendorong Mikha untuk menyusul Rendy.


"Mikha!"


"Mikha!"


Semua yang ada di sana berteriak histeris dengan jatuhnya Mikha dan Rendy dengan tidak manusiawi.


"Dua orang selesai" ujar Arsy. Ia menatap ke bawah lantai. Ibu dan anak yang bersimba darah dengan kalungan tali di kedua lehernya.


"Sekarang giliran kalian!" Ujar Arsy berbalik.


Ia menatap Andra yang hancur. Pria itu sudah tak berdaya. Ia tak bisa menyelamatkan istri dan anaknya sendiri. Ia kehilangan kedua orang yang sangat di cintainya sekaligus.


"Kenapa cuma meraka! Bunuh aku juga!" Ujar Andra.


Darren dan Aurel menatap iba pada Andra. Tapi mereka juga tak bisa melakukan apa pun. Karena ada orang yang selalu berdiri di belakang mereka meringkus kedua tangan mereka.


"Andra, jangan putus asa" ujar Darren.


"Istri sama anakku di ambil sekaligus oleh wanita gila itu. Dan kamu nyuruh aku buat jangan putus asa?" Balas Andra sesenggukan.


Darren terdiam, ia hanya ingin memberikan semangat untuk Andra. Bukan malah membuatnya semakin terpuruk.


Arsy menghampiri Andra.


"Kematian kamu belum tiba" balas Arsy.


"Sekarang giliran gadis kecil itu" ujar Arsy menatap Kayla.


Anak itu sudah menangis sedari tadi. Namun karna sumbatan pada mulutnya membuat tangisnya tak begitu terdengar.

__ADS_1


Ia semakin histeris dengan ucapan Arsy. Anak itu terus menggelengkan kepalanya ketakutan.


"Arsy! Jangan Kayla! Aku aja!" Teriak Aurel. Ia rela jika nyawanya di ganti dengan anaknya.


"Ouh, ibu yang baik" balas Arsy pada Aurel. Namun, ia. Tetap mendekati Kayla.


"Arsy! Jangan sakiti Kayla! Aku mohon!" ujar Darren. Ia sangat menyayangi anaknya itu lebih dari dirinya sendiri.


Namun, Arsy tak menghiraukan satu pun ucapan mereka.


"Sayang sekali, gadis mungil ini akan segera tiada" ujar Arsy.


"Jessen!" Ujar Arsy.


Jessen memberikan sebuah pena pada Arsy.


"Kayla suka nulis?" Tanya Arsy.


Kayla tak menjawab, hanya air matanya yang mengalir. Menandakan bagaimana ketakutannya anak itu.


Arsy tersenyum melihat pena yang di berikan Jessen.


Dan,


"Akhhh"


Ujung pernah tersebut menancap pada leher Kayla.


"Kayla!" Teriak Darren dan Aurel bersamaan.


"Arsy! Aku mohon jangan sakiti Kayla! Kamu mau apa pun aku turuti asal Jangan sakiti Kayla" ujar Aurel.


"Aku gak butuh apa pun dari kamu! Aku hanya ingin nyawa kalian semua!" Kekehnya. Melihat darah yang menyembur dari leher Kayla membuat Arsy sangat senang.


Darren dan Aurel hanya bisa menyaksikan anaknya meregang nyawa di depan mata mereka sendiri. Tanpa bisa melakukan apa pun.


Sementara itu, Naya yang duduk di samping Kayla. Ia tak pernah menyangka akan kehilangan keponakannya dengan begitu tragis.


Ia melirik Jessen yang berdiri di belakang Arsy. Pria yang pernah ia cintai itu dan mungkin masih di cintainya. Ternyata rela bekerja pada wanita iblis seperti Arsy.


Sekarang Naya benar-benar menyesal karena pernah mencintai pria itu. Saat Naya memperhatikan Jessen. Jessen menatapnya, hingga pandangan keduanya terkunci beberapa detik. Dan akhirnya mereka memalingkan wajah.


"Kayla" lirih Aurel. Tangisnya pecah melihat Kayla yang sudah tak bergerak lagi.


"Kayla jangan tinggalin papa!" Ujar Darren lirih.


"Selesai tiga! Tersisa empat!" Ujar Arsy.


"Kira-kira selanjutnya siapa ya?" Ujar Arsy memilah-milah.


Ia menatap berulang pada ke empatnya. Dan tatapannya terhenti pada Naya.


"Gadis ini!" Ujar Arsy.


"Jessen! Bunuh dia!" Pinta Arsy.


"Jangan!" Ujar Darren. Setelah kehilangan anaknya, ia juga tak rela jika harus kehilangan adiknya juga.

__ADS_1


"Ta_tapi Bu" balas Jessen gugup. Seumur hidup ia tak pernah membunuh manusia. Membunuh binatang saja ia tidak tega apalagi manusia.


"Kamu mau keluarga kamu gak selamat?" Tanya Arsy.


"Gak Bu, saya lakukan!" Balas Jessen.


Ia mengambil pisau yang sudah di berikan oleh Arsy. Tangannya gemetar menghadap Naya. Ia menghunuskan pisau tersebut, namun akhirnya terhenti.


"Oh ayolah Jessen! Aku tau kamu mencintai gadis ini! Tapi kamu harus memilih antara dia atau keluarga kamu!" Pinta Arsy.


Sontak Naya langsung menatap Jessen lekat.


"Aku menyuruh mu menjualnya pada penjual organ tubuh itu, agar kamu bisa mendapatkan uang untuk pengobatan ibu mu. Tapi tak disangka dia bisa selamat" kekeh Arsy.


Sontak Darren dan Naya tersentak kaget. Ia tak menyangka jika pria itu berada dalam ancaman Arsy.


"Maaf" lirihnya. Naya bisa melihat mata Jessen yang tak tega pada dirinya.


Jessen kembali menghunuskan pisaunya.


Dan,


"Ughh"


"Bagus sekali!" Sorak Arsy kegirangan.


Pisau yang di hunuskan Jessen tergeletak di lantai.


"Naya!" Teriak Darren sementara itu Aurel hanya bisa memalingkan wajahnya. Satu persatu keluarganya di habisi di depan matanya sendiri.


"Maaf!" Teriak Jessen. Ia memeluk tubuh Naya yang sudah bersimbah darah.


Jessen melepaskan sumpalan mulut Naya. Sepertinya gadis itu ingin menyampaikan sesuatu sebelum ajalnya.


"Gak papa" balasnya. Hingga akhirnya Naya menutup matanya di pangkuan Jessen.


Aurel sudah tak tahan dengan kekejaman yang dilakukan Arsy. Darahnya mendidih melihat Arsy dengan kejamnya menghabisi satu persatu orang yang disayanginya.


Darren semakin geram dengan wanita yang ada di depannya ini. Ia ingin sekali membalaskan dendam kematian adik dan putrinya pada wanita itu.


Sementara itu, Andra ia sudah sangat terpuruk. Kematian Mikha dan Rendy sungguh merusak mentalnya.


"Darren, kamu mau menyusul mereka?" Tanya Arsy.


"Aku gak akan mati di tangan wanita menjijikan seperti kamu!"


"Awalnya aku kira kamu sudah berubah, tapi ternyata aku salah! Kamu lebih buruk!"


"Darren, Darren, sombong sekali kamu" ujar Arsy.


"Jessen habisi dia!" Pinta Arsy.


Jessen langsung menghampiri Darren. Ia kembali menghunuskan pisau pada Darren.


Dan,


"Akhhh"

__ADS_1


__ADS_2