
Semua persiapan untuk camping sudah siap. Aurel, Aunia, Andra dan Darren sudah siap untuk berangkat menuju gunung pancar.
"Gue kabarin mama dulu ya" ujar Aurel dan di angguki oleh yang lainnya.
Aurel menelfon mamanya, nada tersambung terdengar hingga dua detik kemudian suara Aleta terdengar di telinga Aurel.
"Kenapa Aurel?" tanya Aleta.
"Ma, aku sama yang lain mau berangkat, kita pamit ya"
"Oh yasudah, hati-hati ya, kalau udah sampai jangan lupa kabarin mama"
"Iya ma"
"Yaudah mama tutup ya, mama lagi sibuk"
Setelah panggilan telfon berakhir, Aurel langsung memberitahu yang lainnya bahwa ia sudah selesai mengabari Aleta.
Mereka pergi ke gunung pancar menggunakan mobil Andra. Sepanjang perjalanan tak ada yang membosankan bagi mereka. Disela-sela waktu mereka mengisinya dengan bernyanyi bersama, adu pantun, bahkan berakhir dengan saling ejek.
Tapi hal itu tak membuat salah satu dari mereka sakit hati. Karna celotehan yang keluar dari mulut mereka hanyalah candaan yang terdengar di telinga kanan dan keluar di telinga kiri.
Sesampainya di gunung pancar, mereka disambut oleh wilayah pegunungan yang masih asri. Banyak pepohonan yang menjulang tinggi dan dedaunan hijau yang lebat di setiap pohonnya.
Setelah memarkirkan mobil di kawasan gunung pancar. Mereka berempat berjalan kaki menuju kawasan camping.
"Tunggu deh!" ujar Darren. Aurel dan Aunia yang tengah berjalan beriringan pun menghentikan langkahnya dan menghadap Darren. Sementara Andra yang berjalan disisi Darren hanya melihat tanpa bertanya.
"Ada apa?" tanya Aurel.
"Ada taman bunga, kita foto dulu yuk, gue bawa kamera nih" balas Darren semangat. Sikembar yang mendengar adanya taman bunga langsung mengarahkan pandangannya pada taman bunga yang ditunjukan Darren.
"Eh iya, Aku gak nyadar loh, mana bagus banget lagi" ujar Aunia kagum.
"Udah tunggu apa lagi? ayo kita foto!" ajak Darren.
"Iya"
Mereka segera menuju taman bunga tersebut.
"Kita kan berempat, trus yang motoin siapa?" tanya Andra.
"Kalian aja yang foto, biar gue yang fotoin" balas Darren.
"Jangan gitulah, gak Asyik! masa kita foto gak lengkap" ujar Aurel.
"Mas!" panggil Aunia, saat ia melihat salah satu petugas dari kawasan gunung pancar.
"Iya ada apa mbak?" tanya petugas.
"Hmmm, bisa minta tolong gak mas?"
"Tolong apa ya mbak?"
"Bisa tolong fotoin kita gak mas?"
__ADS_1
"Oh bisa kok mbak"
"Darren! kasiin kameranya!" pinta Aurel.
Darren memberikan kameranya pada petugas tersebut. Dengan berbagai pose mereka akhirnya bisa berfoto-foto di taman bunga itu.
Setelah acara foto-foto di taman berakhir. Mereka melanjutkan jalan menuju kawasan camping.
Kawasan camping gunung pancar tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang yang berkemah di tempat ini.
Setelah melepaskan lelah sejenak, Aurel dan Aunia mulai mendirikan tenda untuk berlindung dari dinginnya malam begitu juga dengan Darren dan Andra.
Selesai mendirikan tenda, mereka langsung disambut oleh gelap. Dinginnya malam yang semakin mencekam, mereka memutuskan untuk membuat api unggun. Namun sayangnya, mereka belum memiliki kayu bakar untuk membuat api unggun tersebut.
"Disini dingin banget ya" keluh Aunia.
"Iya, padahal gue udah pake jaket tebal gini" balas Aurel.
"Bikin api unggun aja gimana?" tawar Darren.
"Tapi kita gak punya kayu bakar" ujar Andra.
"Yaudah, kita cari sekarang!" balas Darren.
"Udah malam ini, Lo yakin?"
"Yakin gue! kenapa? Lo takut?"
"Gak, gue gak takut, ayo cari kayu bakar" balas Andra.
Lama Darren dan Andra memilih kayu bakar di hutan, hingga Darren dan Andra merasa kayu bakar yang mereka dapatkan sudah cukup, mereka memutuskan untuk kembali.
Namun sialnya, saat mereka ingin kembali ke tenda mereka lupa jalan mana yang telah mereka ambil. Karna semua jalan tak terlihat dengan jelas tertutup kabut.
"Ndra, pulang lewat mana?" tanya Darren.
"Lewat si---" ucapan Andra terpotong ketika ia tak juga bisa mengenali mana jalan pulang yang harus ditempuh keduanya.
"Kenapa bisa ada kabut?" tanya Andra yang baru menyadari jika semua jalan sudah tertutupi kabut.
"Gue gak tau"
Dilain sisi...
"Udah setengah jam nih, Darren sama Andra kenapa belum balik juga?" tanya Aurel.
"Apa mereka nyasar ya?" tebak Aunia.
"Jangan ngawur deh, masa nyasar sih" balas Aurel yang masih menggosok-gosok telapak tangannya yang terasa dingin.
"Aku kan cuman nebak doang, mana cuacanya makin dingin lagi"ujar Aunia memeluk tubuhnya sendiri.
"Coba gue telfon dulu deh" ujar Aurel. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Darren.
Berulang kali Aurel menelfon namun, yang terdengar hanya suara operator.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Aunia.
"Gak aktif"
"Coba kak Andra" usul Aunia.
"Gak aktif juga!" balas Aurel ketika ia sudah berulang kali menelfon Andra.
"Kok perasaan aku gak enak ya" ucap Aunia.
"Iya, gue jadi khawatir sama mereka, jangan-jangan mereka kejebak di hutan lagi!"
"Apa kita susulin aja?"
"Iya ayo, dari pada kita nunggu gak jelas disini"
"Bentar aku ambil senter dulu"
Aunia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan senter yang telah ia bawa dari rumah.
"Ayo!" ujar Aunia.
Aurel dan Aunia berjalan menuju hutan, namun sebuah panggilan menghentikan langkah mereka.
"Hei!! kalian mau kemana?"
Keduanya membalikkan badan melihat siapa yang memanggil mereka.
"Eh bapak, ada apa ya?" tanya Aurel ketika ia tau jika yang memanggil mereka adalah petugas camping tersebut.
"Kalian mau kemana?"
"Ini pak, temen kami nyari kayu bakar tapi belum balik sampai sekarang, padahal berangkatnya udah dari tadi pak" terang Aurel.
"Iya bener pak, kita mau nyusulin mereka, siapa tau mereka butuh bantuan kita" tambah Aunia.
"Tapi daerah hutan sangat rawan pada malam hari, kenapa kalian tidak bertanya terlebih dahulu ketika memasuki hutan"
"Memangnya kenapa pak? apakah para pengunjung dilarang memasuki hutan?" tanya Aunia.
"Ya, itu benar. Para pengunjung dilarang memasuki hutan pada malam hari"
"Tapi atas dasar apa pak?" tanya Aurel.
"Saat malam hari di hutan akan ada kabut tebal yang bisa membuat siapa saja yang ada di dalam sana tersesat"
"Lalu teman kami bagaimana pak?" ujar Aurel.
"Untuk itu kami tidak bisa membantu, kita hanya bisa menunggu sampai pagi tiba untuk mencari teman kalian"
"Tapi pak, bagaimana jika terjadi sesuatu pada teman kami?" balas Aunia.
"Iya pak, tolong bantu kami cari mereka pak" ujar Aurel.
"Maaf kami tidak bisa mengambil resiko untuk itu, karna kabut tebal itu memberikan ilusi pada siapapun yang terjebak di dalamnya, saran kami lebih baik kalian segara kembali ke tenda!"
__ADS_1
"Tapi pak, teman kami bagaimana?" tukas Aurel.