PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 101


__ADS_3

"Akhhh"


Meleset.


Darren menghindar hingga pisau yang digunakan Jessen mengenai pria yang dibelakangnya.


Darren menggunakan kesempatan itu untuk membebaskan Andra dan Aurel. Darren berkelahi dengan dua pria tersebut sendirian. Andra terlalu terpuruk untuk membantunya saat ini.


Aurel merampas pisau yang ada di tangan Jessen dan membuat tangganya tergores hingga mengeluarkan darah segar.


Aurel menggunakan pisau itu untuk membunuh dua pria tersebut. Dua kali ia hunuskan pisau pada kedua pria tersebut hingga tewas.


"Jessen! Habisi mereka! Atau keluarga kamu mati!" Teriak Arsy.


Mendengar itu, Jessen langsung merebut pisau di tangan Aurel dengan paksa. Ia ingin menghunuskan pisau itu pada Aurel.


Namun,


"Ugh"


Salah sasaran.


Pisau tersebut mengenai Andra.


"Andra!" Teriak Aurel dan Darren. Mereka langsung menghampiri Andra.


"Ndra, kamu bertahan ya! Kita bakalan bawa kamu ke rumah sakit" ujar Aurel.


"G_gak per_lu, a_ku mau ne_me_nin mik_ha dan ren_dy" balasnya terbata-bata. Dan akhirnya Andra menutup matanya.


"Andra!!" Teriak aurel tak terima.


Darren bangkit dan berdiri. Ia menatap Jessen penuh amarah.


"Pembunuh!" Ujarnya. Darren memberikan pukulan beruntun pada Jessen.


Sementara itu, melihat Arsy yang terus saja menonton. Aurel sangat geram. Ia mengambil sebuah balok kayu. Ia menghampiri Arsy penuh amarah.


"Arsy!" Teriaknya berlari menghampirinya.


Bug


Sebuah pukulan dari balok kayu tersebut mendarat di tubuh Arsy. Aurel yang sudah di penuhi amarah. Ia terus memukuli Arsy dengan balok kayu tersebut hingga amarahnya redah. Namun amarahnya tak kunjung redah. Hingga ia tak menyadari jika Arsy sudah tak bergerak lagi.


Aurel yang ingin kembali memukul Arsy. Tiba-tiba akal sehatnya muncul.


Ia melemparkan balok kayu tersebut asal.

__ADS_1


"Arsy" ujarnya. Ia mengecek nafas dan denyut nadinya.


"Gak ada" lirihnya.


Tanpa sadar ternyata dirinya juga seorang pembunuh.


"Ahh"


Sontak Aurel mundur kebelakang. Ia melirik tangannya yang sudah menghilangkan nyawa orang.


Disisi lain, Darren telah membuat Jessen babak belur hingga ia pingsan. Darren menghampiri Aurel yang terlihat syok.


"Kamu gak papa?" Tanya Darren.


"Aku gak sengaja bunuh dia" balas Aurel gemetar.


"Gak papa, dia pantas mati" ujar Darren.


"Uhuk Uhuk"


Sontak Darren dan Aurel menoleh.


"Kayla" ujar Darren.


Aurel Dan Darren langsung berlari menghampiri anaknya itu.


"Sakit ma" ujar Kayla memegangi lehernya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Ujar Aurel.


Darren langsung menggendong anaknya menuju mobil.


Di lantai bawah, ia melihat Mikha dan Rendy yang sudah bersimbah darah.


"Aku bakal kembali lagi" ujar Aurel. Ia langsung memasuki mobil dan membawa anaknya ke rumah sakit bersama Darren.


🥀


Warna hitam melambangkan kesedihan. Seperti saat mengenakan pakaian hitam di pemakaman. Hal itu menandakan jika kita tengah berduka.


Sama seperti yang di lakukan Darren, Aurel dan Kayla. Mereka mengenakan pakaian hitam tepat di depan empat tumpukan tanah dengan nisan, Andra, Mikha, Rendy, dan Naya.


"Semoga kejadian mengerikan itu tidak pernah terjadi lagi" ujar Aurel.


"Kami pamit" lanjutnya. Mereka meninggalkan tempat pemakaman umum tersebut.


Sesampainya di rumah. Aurel langsung menuju kamarnya. Sementara Darren dan kayla tengah bermain di ruang tamu.

__ADS_1


Aurel membuka lacinya. Ia kembali mengambil foto yang beberapa waktu lalu ia simpan disini.


"Aku mau keluar bentar" ujar Aurel pada Darren.


"Iya"


Aurel melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


Kantor polisi.


Polisi membawa seorang pria untuk menemuinya.


"Apa kabar?" Tanya Aurel.


"Tidak ada yang baik setelah kejadian itu" balas Jessen.


"Ini, simpanlah!" Ujar Aurel. Ia memberikan beberapa foto tersebut pada Jessen.


"Apa ini?"


"Lihatlah!"


Jessen melihat foto tersebut. Fotonya bersama Naya saat masih mengenakan pakaian putih abu-abu.


Tanpa sadar air matanya menetes melihat foto tersebut.


"Aku tau kalian saling mencintai, jagalah foto ini baik-baik. Meski Naya tak lagi ada di dunia ini"


"Terimah kasih"


Setelah perbincangan singkatnya dengan Jessen. Aurel kembali ke rumahnya. Dirumah ada Lastri dan Aleta.


Aleta sudah memutuskan untuk tinggal bersama dengan anak dan menantunya.


"Jadi mama mau tinggal sama kita?" Tanya Aurel.


"Iya" balas Aleta.


"Kenapa gak dari dulu?" Ujar Aurel. Ia langsung memeluk mamanya itu.


...~end...


Mohon tinggalkan komentar positif ya🌺


Jangan Sampai merusak mental penulis🐞


Sekian💐

__ADS_1


__ADS_2