PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 23


__ADS_3

Aurel melotot tak percaya mendengar cerita dari Bu Lina. Ia sangat tak menyangka jika kejadian mengerikan itu terjadi di sekolah yang sekarang ia tempati.


"Diantara mereka anak ibu siapa?" Tanya Aurel.


Mendengar pertanyaan Aurel, Bu Lina mengambil foto yang ia pajang di atas mejanya. Ia mengelus lembut foto itu, setetes air mata keluar dari sudut matanya.


"Lala" ujarnya sendu. Gadis dengan rambut panjang dan poni rata itu tengah tersenyum lebar pada foto yang dipegang ibu Lina.


"Cantik" puji Aurel saat ia melihat foto yang dipegang Bu Lina.


"Iya dia sangat cantik tapi gadis iblis itu membunuhnya" geram Bu Lina.


"Sabar Bu, suatu saat dia pasti akan dapat ganjarannya" ucap Laura yakin.


"Lalu apa yang terjadi sama teman-teman lala Bu?" Tanya Darren.


"Mereka semua tewas kecuali Laura, hanya saja dia harus menjalani operasi wajah dan baru kembali kesekolah beberapa hari yang lalu" ucap Bu Lina.


"Operasi wajah?" Tanya Aurel.


"Iya wajah gue rusak parah dan dokter nyaranin gue buat operasi tapi saat operasi selesai wajah gue berubah" ujarnya sendu.


"Berubah?"


"Saraf-saraf wajah gue banyak yang rusak, jadi gak memungkinkan untuk ngembaliin wajah asli gue" terangnya.


"Maksudnya gimana? Gue gak ngerti" bingung Darren.


Laura mengeluarkan ponselnya ia menunjukkan sebuah foto pada Darren.


"Ini siapa?" Tanya Darren.


"Gue"


"Tapi,,, oh gue paham jadi wajah Lo yang dulu ini dan sekarang berubah jadi gini" ucap Darren seraya menunjuk foto di ponsel Laura dan berganti pada wajah Laura.


"Bu, saya gak tau kalau dia beneran kembaran saya atau gak. Tapi saya janji sama ibu saya bakal buat dia bertanggung jawab sama perbuatannya" ucap Aurel yakin.


"Saya permisi" lanjutnya, Aurel keluar dari ruangan guru.


"Aurel, tungguin!!" Teriak darren, berusaha mensejajarkan langkah dengan Aurel.


Sementara itu Laura dan Bu Lina saling berpelukan, keduanya saling menguati satu sama lain.


"Laura yakin Aurel sungguh-sungguh dengan ucapannya" yakin Laura.


"Entahlah, tapi ibu juga merasa begitu" balas Bu Lina.


.


.


.


Aurel melangkahkan kakinya memasuki rumah, ia langsung menuju kamar Andra.


"Andra!!"


"Andraaa!!"


"Andra Lo denger gue gak sih?" Aurel terus mengetok pintu kamar Andra.


"Kenapa rel?" Tanya Aleta yang baru saja keluar dari dapur.


"Ma, Andra kemana?" Tanya Aurel.


"Andra balik ke Bandung nganterin Tante Hilda"


"Kapan?"

__ADS_1


"Tadi pagi"


"Yaudah ma, aku ke kamar dulu"


Aurel segera menuju kamarnya, ia hempaskan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap langit-langit kamar, kejadian pagi tadi masih tergambar jelas dipikirannya.


"Kasihan Bu Lina, dia pasti kehilangan banget" lirihnya.


"Gue harus cari tau secepatnya di mana aunia"


"Kira-kira siapa yang bisa bantu gue?" Pikirnya.


"Andra? Gak deh dia lagi kebandung gak mungkin gue selalu ngelibatin dia" gelengnya cepat.


"Darren" lirihnya.


Segera ia ambil ponsel yang ada pada tas ranselnya.


"Halo"


"Halo Darren, gue butuh bantuan Lo"


"Bantuan apa?"


"Kerumah gue sekarang" pintanya.


"Yaudah gue siap-siap dulu"


"Eh gak jadi deh, gue aja yang kerumah Lo"


"Kenapa?"


"Ntar mama gue marah, kalau gue sering bergaul sama Lo" ujarnya.


"Kenapa?"


"Kenapa Mulu dari tadi, ntar aja gue jelasin" aurel mengakhiri panggilannya. Ia mengganti baju seragam dengan baju biasa.


"Mau kemana kamu?" Tanya Aleta dari meja makan.


"Kerja kelompok ma" alibinya.


"Makan dulu!"


"Gak usah ma, ntar makan diluar aja" pamit Aurel berlari keluar rumah.


Taksi yang ia hentikan didepan rumah tepat berhenti disebuah rumah dengan nuansa cream.


Aurel memencet bel rumah itu berkali kali. Lelah memencet bel akhirnya Aurel menelfon Darren.


Beberapa kali ia menelfon tak juga diangkat oleh Darren. Geram akan sikap darren ia terus menelfon hingga telfonnya diangkat.


"Halo" suara serak Darren.


"Lo tidur?!!" Kesal Aurel.


"Eh maaf rel, gue ketiduran. Lo udah nyampe?" Tanya Darren. Ia bergegas menuju pintu rumah.


"Udah dari tadi, pegel kaki gue berdiri depan rumah Lo" ketus Aurel.


"Ya maaf, otw buka pintu ini! Sabarrr" Darren mengakhiri panggilannya dan segara menuju pintu rumah.


Clekk


Terlihat Aurel yang sedang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah kesal.


Pletak


Aurel memukul kepala Darren sampai ia mengadu kesakitan.

__ADS_1


"Ampun rel, sakit nih" keluhnya.


"Makanya, kalau orang telfon tuh diangkat" Oceh Aurel.


"Ya maaf kan gak kedengaran"


"Tau ah gue kesel!!" Ucap Aurel nyelonong memasuki rumah.


"Kesel kok bilang-bilang" kekeh Darren.


"Gak usah ketawa, sekarang mending Lo ambilin gue minum! Haus nih"


"Iya bentar" Darren segera menuju dapur mengambil minuman untuk Aurel.


Darren menyodorkan segelas jus jeruk pada Aurel.


"Nih"


"Thanks" Aurel meneguk minumannya.


"Jadi?" Tanya Darren.


"Oh yah gue hampir lupa, gue kesini mau minta bantuan Lo"


"Bantuan apa?"


"Bantu cari tau keberadaan aunia"


"Lo tau sesuatu tentang aunia?"


"Gak, makanya gue minta bantuan elo"


"Lu inget gak sih, waktu kita di rumah Lo yang dibandung. Papa Lo nyuruh bodyguard nya buat manggil aunia, apa aunia ada disana?" Pikir Darren dan diangguki Aurel.


"Kemungkinan gitu"


"Gimana kalau kita cari tau kesana?" Usul Darren.


"Boleh tuh, kapan?"


"Besok aja"


"Tapi besok sekolah"


"Bolos kali-kali gak papa kan ya?" Kekeh Darren.


"Gak baik tau, ntar kita ketinggalan materi! Tapi yaudahlah sekali doang" ucap Aurel dengan polosnya.


"Katanya gak baik, malah mau-mau aja di ajakin" Darren mengacak-acak rambut Aurel.


"Rambut gue berantakan Darren" gerutu Aurel.


"Gapapa, masih tetap cantik kok" puji Darren.


"Masa?" Ge'er Aurel.


"Iya, cantik banget kayak kuntilanak" tawa Darren meledak dengan ucapannya sendiri.


"Darren!!" Aurel memukul Darren tanpa ampun.


.


.


.


.


Thanks udah baca :)

__ADS_1


Hay ketemu lagi di part ini,, semoga kalian masih stay baca cerita ini ya,, hehehe


Maafin ya,, kalau up nya kelamaaan


__ADS_2