
Setelah acara potong kue selesai Aurel langsung memberikan Kado yang telah ia bungkus setengah jam itu pada Darren. Tapi Aurel melarang Darren membukanya sebelum mereka pulang. Begitu pun Aunia dan Andra yang juga ikut memberikan kadonya.
Ketiga saudara itu langsung kembali ke rumahnya. Setibanya di rumah, mereka langsung di sambut oleh Aleta yang duduk di ruang tamu.
"Mama, belum tidur?" tanya Aurel.
"Belum, kalian dari mana aja? kenapa baru pulang sekarang?" tanya Aleta dengan nada tegas.
"Maaf ma, tadi kita ada acara di luar" ujar Aunia menunduk.
"Acara apa?"
"Ulang tahun Darren Tan" jawab Andra.
"Kenapa harus sampai tengah malam?"
"Maaf ma, kita lupa waktu gara-gara keasyikan ngobrol" balas Aurel.
Aleta menghela nafasnya kasar.
"Mama tau kalian masih muda, kalian juga butuh pergaulan tapi gak gini, kalian perempuan gak baik pulang malam gini, dan kamu Andra, kenapa gak ingetin mereka, sebagai kakak seharusnya kamu bisa mengayomi mereka" nasehat Aleta.
"Maaf tan" balas Andra sembari menunduk karna ia sadar jika ia memang salah.
"Yasudah, balik ke kamar kalian!" pinta Aleta.
"Iya ma"
"Iya Tan"
Ketiganya langsung menuju kamar masing-masing. Tersisa Aleta yang masih tetap di ruang tamu menatap ketiganya memasuki kamar masing-masing.
.
.
.
Keesokan harinya....
Aurel terbangun dari tidurnya, sebuah suara yang sangat berisik mengusik tidurnya.
"Siapa sih yang berisik pagi-pagi" gumam Aurel sembari menggosok-gosok matanya.
Aurel melangkahkan kakinya dengan malas mencari sumber suara tersebut. Namun baru beberapa langkah hingga ia sampai di depan pintu kamar. Suara tersebut menghilang.
"Udah gak kedengaran lagi" gumamnya.
Matanya yang sangat mengantuk, membuat Aurel kembali ke ranjangnya untuk melanjutkan tidur. Sebelum tidur ia sempat melirik jam Beker yang menunjukkan pukul dua dini hari.
Aurel merebahkan kembali tubuhnya, tak butuh waktu lama untuknya agar terlelap.
Suara gemericik air di kamar mandi kembali membangunkan tidurnya.
"Ada yang mandi ya" pikirnya. Ia melirik kesamping ranjangnya, Aunia sudah tak ada disampingnya. Aurel dapat menebak jika itu adalah Aunia.
Aurel kembali melirik jam bekernya, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Pantesan udah jam segini ternyata" ujarnya menyandarkan tubuhnya pada dinding ranjang.
Aunia keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang segar.
__ADS_1
"Kamu gak mandi?" tanya Aunia.
"Iya, lagi nungguin Lo selesai" balas Aurel lalu menyambar handuknya yang tergantung di balik pintu.
Aurel langsung memasuki kamar mandi dan membersihkan diri.
Selesai mandi, Aurel langsung menghampiri Aunia yang sudah duduk di kursi lukisnya.
"Masih pagi ini, udah ngelukis aja Lo" ujar Aurel sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Ya mau gimana lagi, Aku suka" balas Aunia sekenanya.
Aurel tak menjawab ucapan Aunia melainkan membalut rambutnya dengan handuk.
"Gue mau ambil minum dulu" ujar Aurel yang hanya dibalas deheman oleh Aunia.
Aurel langsung terbelalak kaget ketika melewati ruang tamu.
"Aunia!!! Mama!!! Andra!!!" pekik Aurel memanggil semua yang ada dirumah.
Aunia yang sedang duduk di kursi lukisnya pun segera berlari menghampiri Aurel. Dan Aleta yang baru selesai mandi pun segera menghampiri Aurel dengan rasa cemas. Sementara Andra yang masih tidur langsung kaget ketika mendengar teriakan Aurel.
"Kenapa rel?" tanya Aunia ketika ia baru saja sampai diruang tamu dengan tergesa-gesa.
"Aurel kenapa teriak?" tanya Aleta khawatir.
"Kenapa sih, pagi-pagi udah ribut" tanya Andra serak karna habis bangun tidur.
Aurel tak menjawab ia hanya melihat ke arah ruang tamu, dengan mata melotot kaget.
Karna Aurel tak kunjung menjawab pertanyaannya, ketiganya langsung mengikuti arah pandang Aurel.
"Astaga, ini kenapa?" tanya Aleta ketika ia melihat ruang tamu yang berantakan.
"Aurel ini kenapa?" tanya Andra, ia sudah bisa mengumpulkan semua kesadarannya saat melihat ruang tamu yang begitu berantakan.
"Gue gak tau, waktu gue mau ambil minum udah kayak gini" ujar Aurel.
"Kita diteror" ujar Andra saat ia melihat sebuah tulisan dengan tinta merah di dinding rumah.
PEMBUNUH
Ketiga perempuan yang mendengar itu langsung mengarahkan pandangannya pada arah yang ditujukan Andra.
Secara otomatis ketiganya menutup mulut syok.
"Ini kerjaan siapa sih? Iseng banget" ujar Aurel geram.
"Udah, gak usah di dipikirin, lebih baik kita beresin semua ini" ujar Aleta, ia tak mau anak-anaknya menjadi khawatir.
"Iya ma"
Setelah membereskan barang-barang yang berantakan, mereka hanya tinggal memikirkan bagaimana cara menghilangkan kata-kata pembunuh yang ada di dinding rumah.
"Tulisan ini gimana ngilanginnya?" tanya Aunia.
"Cat aja dindingnya" usul Aurel.
"Iya bener" ujar Andra menyetujui.
"Digudang ada cat, kalian ambil aja disana!" pinta Aleta.
__ADS_1
"Oke ma"
"Bentar! biar gue yang ngambil" ujar Andra.
"Yaudah gue sama Aunia tunggu sini" balas Aurel.
Andra segera menuju gudang untuk mencari cat yang dimaksud Aleta. Setelah menemukannya ia segera membawa cat tersebut pada Aunia dan Aurel.
Mereka mulai mengecat tulisan warna merah pada dinding dengan warna putih, agar terlihat sama dengan dinding lainnya.
Ketiganya tersenyum lega ketika hasil kerja mereka telah selesai dan memuaskan.
Ting Tong
Baru saja menyelesaikan pekerjaannya, suara bel rumah sudah berbunyi.
"Biar gue yang bukain, kalian beresin ini aja" ujar aurel yang di angguki Aunia dan Andra.
Aurel segera membukan pintu untuk sang tamu.
"Pagi" sapanya.
"Pagi, Darren" balas Aurel mendapati sang pacar sudah ada didepan rumahnya.
"Gue mau ngambil motor" ujarnya.
"Oh mau ngambil motor doang?" tanya Aurel.
"Gak sih, mau ketemu Andra juga" balas Darren.
"Oh mau ketemu Andra? gue gak?" tanya Aurel kesal.
"Hehehe masih pagi, gak boleh cemberut" ujar Darren mencubit pipi Aurel.
"Darren, sakit tau" protes Aurel.
"Pacarnya gak di bolehin masuk nih?" tanya Darren mengangkat-angkat kedua alisnya.
"Iya, boleh. Ayo masuk!" ujar Aurel.
Darren langsung memanggil Andra ketika memasuki rumah.
"Ndra! Lo dimana?" teriak Darren.
"Siapa sih yang teriak-teriak" geram Andra.
"Elo? ngapain teriak? masih pagi juga!" ujar Andra.
"Buku yang kemarin gue beli ketinggalan di mobil Lo" ujar Darren to the point.
"Tuh kunci mobil disana, Lo ambil sendiri aja sana!" ujar Andra.
"Oke bos" balas Darren semangat.
"Buku apaan sih?" tanya Aurel penasaran.
"Udah, tunggu aja disini, ntar juga bakalan tau" kekeh Darren.
"Sekalian, bawain buku Aunia yang kemarin gue beliin" pinta Andra sedikit berteriak.
Darren segera mengambil paper bag yang berisi buku-buku yang dibelinya di toko buku bersama Andra.
__ADS_1
Dengan semangat Darren langsung memasuki rumah dengan membawa dua paper bag di tangannya.