
Beberapa hari kemudian....
Aurel menjalankan aktivitasnya seperti biasa, seperti tak pernah ada kejadian mengerikan dalam hidupnya. Hanya saja hubungannya dengan Gio tak lagi seperti dulu. Aurel tak lagi seakrab sebelumnya dengan Gio, ia seolah membatasi jarak dengan Gio.
Aurel keluar dari kamarnya, seragam sekolahnya sudah ia kenakan. Ia menghampiri Aleta dan Gio yang tengah sarapan pagi.
"Pagi ma" sapa Aurel, kemudian melihat Gio sekilas.
"Sini makan dulu rel, mama ambilin ya?" ujar Aleta penuh perhatian.
"Iya ma"
Aurel menghabiskan Nasi goreng yang dibuat Aleta untuknya. Setelahnya, Aurel berpamitan kepada Aleta untuk pergi kesekolah.
Bukannya tidak menyadari ada perubahan besar pada hubungan Aurel dan Gio. Hanya saja Aleta tak ingin memperkeruh suasana jika ia bertanya.
Setelah kepergian Aurel, Aleta melihat suaminya menghela nafas panjang.
"Sebenarnya Kalian kenapa?" tanya Aleta.
"Kenapa apanya?" tanya balik Gio, ia berusaha menetralkan raut wajah kecewanya.
"Kamu dan Aurel?"
"Aku sama Aurel gak papa"
"Gak usah bohong, belakangan ini hubungan kalian renggang!"
"Perasaan kamu aja" balas Gio.
"Aku udah kenyang" Gio meninggalkan Aleta yang masih bertanya-tanya apa yang terjadi pada hubungan ayah dan anak itu.
.
.
.
Sesampainya disekolah Aurel langsung disambut oleh Darren yang baru saja memarkirkan motornya.
"Rel!!" Panggilnya melambaikan tangan.
"Ada apa?"
"Salah gue nyapa?!" tanya Darren tak mengerti. Setelah pulang dari Bandung beberapa hari yang lalu, Darren tak lagi menemukan Aurel yang selalu seenaknya padanya. Ia seakan melihat Aurel yang pertama kali ia temui, dingin dan ketus.
"Gue Ke kelas duluan" pamitnya.
"Bareng aja"
Darren tak mengerti dengan sikap Aurel, apakah melihat kejadian yang mengerikan bisa membuat orang irit dalam berbicara dan dingin seperti ini.
"Rel, Lo masih trauma sama kejadian itu?" tanya Darren. Seketika Aurel menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Darren.
"Gue udah bilang jangan pernah bahas itu lagi!" ujar Aurel, lalu ia meninggalkan Darren yang terpaku akan bentakan Aurel.
"Baru pertama kalinya gue di bentak Aurel" ujarnya pada diri sendiri.
Sadar dari lamunannya Darren kembali menyusul Aurel yang berjalan lebih dulu dari dirinya.
"Rel, gue minta maaf" ujar Darren, tapi Aurel tak menggubrisnya.
__ADS_1
"Maaf Darren, gue cuma takut kalau masalah ini sampai terdengar oleh orang lain maka papa gue bisa ditangkap dan gue gak mau hal itu terjadi, gue tau gue egois, gue minta maaf" batin Aurel.
"Rel, jangan diam aja! gue minta maaf, gue janji gak bakalan ngungkit lagi masalah ini" ujar Darren sungguh-sungguh.
"Iya, gue maafin"
Drettt Drettt
Getaran ponsel pada tangannya membuat Aurel melirik nama yang tertera pada layar ponselnya.
Andra calling....
Seketika Aurel langsung menggeser kan ikon hijau pada layar ponselnya kesamping.
"Halo ndra?" sapa Aurel dengan nada bertanya.
"Besok gue balik ke Jakarta, ada hal penting yang mau gue kasih tau sama Lo" ujar Andra dari dalam telfon.
"Gak bisa kasih tau ditelfon aja?"
"Gak bisa rel"
"Yaudah, gue tunggu"
Calling end...
"Andra?" tanya Darren.
"Iya, katanya ada hal penting yang mau di kasih tau"
"Emangnya dia gak kuliah? masa bolak balik Jakarta Bandung Mulu, gak capek apa?"
"Andra gak mungkin datang kalo gak ada hal penting, kemarin dia datang karna libur kuliah dan sekarang Andra udah mulai masuk, dia rela bolos kuliah buat kesini, hal yang mau di omongin Andra pasti penting!"
"Ngapain Lo nanya-nanya?"
"Gak papa, pengen tau aja"
"Andra sekarang masuk semester 2"
"Gue kira dia udah mau nyusun skripsi gitu, eh taunya masih semester 2 toh, pantes aja dia berani bolos" kekeh Darren.
"Jangan ngeremehin dia, gitu-gitu dia murid kepercayaannya dosen tau?!"
"Masa sih? kok bisa?"
"Yah karna dia pinter lah"
"What?!!" Pekik Darren tak percaya.
.
.
.
Gio terus mondar mandir di dalam kamarnya, ia merasa gelisah akan perubahan sikap Aurel padanya. Jika biasanya Aurel adalah orang yang paling antusias menyambutnya saat pulang. Maka sekarang Aurel adalah orang yang tak peduli lagi padanya.
"Kenapa sikap Aurel berubah? Apa dia tau sesuatu tentang itu?" Gumam Gio.
"Pa,, kamu ngapain?" tanya Aleta yang baru saja memasuki kamar.
__ADS_1
"Gak ngapa-ngapain" balas Gio cepat.
"Ini kopinya, udah aku buatin" Ujar Aleta ia meletakkan segelas kopi di atas Nakas. Gio mengangguk mengiyakan ucapan Aleta.
"Mama ke dapur dulu, bentar lagi Aurel pulang dia pasti lapar"
"Iya"
Setelah kepergian Aleta, ponsel Gio berdering menandakan adanya panggilan masuk.
"Ada apa?"
"Sepertinya putri kesayangan papa itu, udah tau semuanya" ujar Aunia dari dalam telfon.
"Maksud kamu?"
"Tadi aku nge cek cctv, dan aku liat mereka nyusup ke dalam rumah"
"Apa?! kenapa bisa kecolongan gini?"
"Aku gak tau, anak buah papa tuh gak becus jaga gerbang rumah"
"SIAL!!" geram Gio. Ia langsung melempar asal ponselnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" batin Aleta dari balik pintu. Sedari tadi ia tak pergi ke dapur melainkan menguping pembicaraan Gio.
Disisi lain Andra kembali teringat akan masa lalunya. Foto-foto seorang gadis yang sangat ia cintai terangkai indah pada dinding kamarnya.
Andra sejenak menghela nafas panjang, ia teringat bagaimana ia membenci gadis itu, bahkan mengatakan kata-kata kasar padanya. Tapi, ia tak pernah marah atau benci pada Andra. Hal itu yang membuat Andra bisa mencintainya, kesabaran dan ketulusan yang ia berikan pada Andra mampu meluluhkan hati Andra yang sekeras batu.
"Arsy Lo dimana? kak Andra Lo kangen"
"Andai aja waktu itu gue gak pergi ke Amerika, mungkin gue masih bisa sama Lo sampai sekarang" Sesal Andra.
Tok Tok Tok
"Masuk aja ma, gak aku kunci" ujar Andra. Ia tau jika yang mengetuk adalah mamanya, karna papanya tidak ada dirumah.
"Mama udah nyiapin makanan buat kamu, ayo turun dulu!" pinta mamanya, namun saat ia melihat foto-foto pada dinding kamar Andra membuatnya tau jika putranya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Ndra, kamu gak bisa kayak gini terus" Nasehat Hilda.
"Aku kangen Arsy ma" lirihnya memeluk Hilda.
Hilda mengelus-elus puncak kepala anaknya, ia tau betapa sedihnya Andra saat ia kehilangan Arsy.
"Ini semua salah Andra ma, kalau aja Andra gak ke Amerika, Andra pasti bisa ngelarang Arsy pindah, Andra gak akan kehilangan kontak sama Arsy sampai sekarang" ujarnya.
"Sabar ya nak, mama tau kamu sedih tapi bukannya Arsy punya kontak kamu, kalau dia peduli sama kamu pasti dia hubungin kamu, nyatanya dia gak ngehubungin kamu kan? dan dia malah bikin kamu khawatir dan merasa bersalah kayak gini"
"Mungkin aja terjadi sesuatu sama Arsy ma, hal itu yang buat dia gak bisa ngehubungin Andra" kekeuh Andra, ia sangat yakin jika Arsy tak akan mungkin melupakannya.
.
.
.
Thanks udah baca :)
__ADS_1
See you next part ^_^