PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 82


__ADS_3

"Senang bisa bekerja sama dengan bapak" ujar Darren, ia menjabat tangan kliennya.


"Ya, saya juga senang bisa bekerja sama dengan perusahaan bapak Darren. Semoga kedepannya kerja sama ini semakin maju ya pak"


"Amiiin, semoga ya" balas Darren.


"Kalau begitu saya pamit"


"Ya silakan pak" ujar Darren.


Baru saja Darren ingin keluar dari caffe tempatnya meeting dengan klien. Darren tak sengaja melihat adiknya, Naya. Ia sedang makan bersama seorang pria yang tak ia kenali.


Karna penasaran, Darren menghampirinya.


"Naya!" Panggil Darren.


"Kak Darren" balasnya, ia sedikit terkejut dengan keberadaan kakaknya disini.


"Sama siapa?" Tanya Darren, ia melirik pria yang ada di depannya.


"Kenalin kak, ini Jessen temen aku" ujar Naya.


Darren melihat Jessen dari atas sampai bawah. Bajunya yang terlihat seperti seorang preman membuat Darren sedikit khawatir dengan adiknya itu.


"Jessen" ujarnya.


"Saya Darren, kakaknya Naya" balas Darren.


"Naya udah selesai makan?" Tanya Darren.


"Udah kak, ini kita mau pulang bentar lagi" balas Naya.


"Kalau gitu, Naya pulang sama kakak aja ya?" Bujuk Darren.


"Tapi Jessen?" Balas Naya.


"Gak papa kan Jessen?" Tanya Darren.


"Iya gak papa kok kak" balas Jessen.


"Nah Jessen aja gak masalah, kamu pulang sama kakak ya!"


"Yaudah deh kak, kalau Jessen gak keberatan" putus Naya.


Ia mengikuti kakaknya, sebelum pergi ia menyempatkan melihat Jessen yang tengah tersenyum padanya. Naya membalasnya.


Di dalam mobil,


"Nay, kamu udah lama kenal sama Jessen?" Tanya Darren.


"Iya kak semenjak aku SMA"


"Saran kakak, sebaiknya kamu jauhin dia. Kakak ngerasa aura dia itu negatif buat kamu" ujar Darren sedikit khawatir.


"Apaan sih kak? Udah kayak indigo aja bisa ngerasain aura" kekeh Naya.


"Kakak gak bercanda ya nay" balas Darren.


"Kakak gak usah khawatir, Jessen baik kok" balas Naya yakin.

__ADS_1


"Kamu ini, kalau di bilangin gak pernah mau nurut" ujar Darren geleng-geleng kepala.


🥀


Malam hari..


Aurel dan Darren tengah menonton tv bersama. Sementara Kayla, ia tengah bermain boneka di lantai.


"Kak, aku pamit ya" suara Kayla membuat Aurel dan Darren langsung beralih padanya.


"Wahhh, cantik banget Naya! Kamu mau kemana?" Tanya Aurel. Ia meneliti dress pendek yang digunakan Naya. Dress putih tanpa lengan, yang hanya menutupi bagian dadanya. Sehingga memamerkan belahan dadanya yang sedikit terlihat.


Rambutnya ia biarkan terurai. Dengan hiasan bandana putih di kepalanya membuatnya terlihat sangat cantik.


"Aku mau ke acara ulang tahun teman kampus aku kak" ujar Naya malu.


"Tapi nay, dress kamu gak ada yang lain? Dress ini terlalu minim" tambah Darren.


"Ini dress yang di beliin Jessen buat acara ini, masa gak aku pake" balas Naya tidak enak.


"Tapi ini terlalu minim nay, gak baik buat kamu" ujar Darren.


Naya hanya diam tertunduk, ia tak pernah berani membantah Darren.


"Udah ah, kasian tuh Naya. Jangan di marahin" belah Aurel.


"Tapi rel, dress yang di pakai Naya bisa nyelakain dirinya sendiri. Aku gak suka!" Ujar Darren.


"Naya cuma ke acara ulang tahun aja kok kak, gak macam-macam" ujar Naya.


"Yaudah, kamu pergi aja. Kak Darren biar aku yang urus" balas Aurel.


"Sana berangkat!" Pinta Aurel.


"Nay!" Panggil Darren. Naya yang baru melangkahkan kakinya beberapa langkah keluar rumah, langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap kakaknya.


"A_ada apa kak?" Tanya Naya, ia sedikit gugup menghadapi kakaknya.


"Dimana acaranya?" Tanya Darren.


"Cafe Scarlett"


"Pergi sama siapa? Siska?" Tanya Darren lagi, karna adiknya lumayan akrab dengan tetangganya itu.


"Gak, sama Jessen"


"Pria itu? Kan kakak udah bilang buat jauhin dia, kenapa bandel banget sih" omel Darren.


"Jessen baik kok kak"


"Darren udah. Biarin aja dia pergi sama Jessen, Naya udah gede dia bisa milah mana yang baik dan buruk buat dia"


"Tapi_"


"Nay kamu berangkat aja. Nanti kalau ada apa-apa, kabarin kakak ya!" Pinta Aurel.


"Iya kak"


Naya langsung keluar dari rumah, ia menghampiri Jessen yang tengah menunggunya di depan rumah. Naya sengaja tidak menyuruh Jessen masuk, agar tidak terjadi keributan antara Jessen dan kakaknya.

__ADS_1


"Kamu kenapa biarin Naya pergi?" Kesal Darren.


"Kamu gak bisa kekang dia terus, dia udah gede! Biarin dia nikmatin masa mudanya" balas Aurel.


"Aku gak masalah dia nikmatin masa mudanya. Tapi jangan sampai ngerusak dirinya sendiri"


"Naya bisa kok jaga batasannya!"


"Naya emang bisa jaga batasan. Tapi apa dia bisa jaga dirinya biar gak di ganggu sama pria-pria brengsek kayak Jessen. Pertama kali, aku liat Naya makan sama dia. Aku ngerasa yakin, kalau dia punya maksud lain sama Naya"


"Ma, kay ngantuk" ujar Kayla, ia telah puas bermain boneka.


Aurel langsung menghentikan perdebatannya dengan Darren.


"Kay ngantuk ya? Yaudah ayo bobok ke kamar" ajak Aurel.


"Mama ceritain dongeng Cinderella ya" ujar Kayla. Ia sangat suka jika sebelum tidur mamanya membacakan dongeng untuknya.


"Iya sayang" balas Aurel.


🥀


Pukul 24.00...


Darren masih setia duduk di sofa, disampingnya ada Aurel yang sudah terlelap dengan posisi menyandar padanya.


Darren melirik jam dinding. Sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tapi adiknya belum juga pulang. Entah kenapa ia merasakan perasaannya tidak enak. Ia takut jika sesuatu terjadi pada adiknya.


Ia juga sudah menghubungi adiknya itu berulang kali. Tapi hanya nada tersambung yang terdengar. Panggilannya tak di jawab oleh Naya. Hal itu tentu semakin membuat Darren khawatir pada gadis yang baru beranjak dewasa itu.


"Aurel, bangun!" Ujar Darren, ia menepuk-nepuk pelan pipi Aurel.


Aurel menggeliat, ia mengucek-ngucek matanya.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Aku mau susulin Naya, aku khawatir" ujar Darren.


"Jam berapa ini?" Tanya Aurel.


"Udah tengah malam"


"Yaudah, kamu susulin aja sana! Udah malam banget, gak baik dia kan cewek"


"Iya, kamu kalau mau tidur di kamar aja. Gak usah nungguin" pinta Darren.


"Iya"


Darren langsung mengambil kunci mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju cafe Scarlett. Tempat pesta ulang tahun teman Naya di adakan.


Disisi lain,


Suasana pesta yang ramai membuat Naya sangat menikmati pestanya. Ia berjoget ria bersama teman-teman kampusnya yang lain. Tanpa ia sadari jika ponselnya berdering sedari tadi


Sentuhan lembut di bahunya, membuat Aurel sedikit meremang. Sentuhan yang membelai tengkuk lehernya hingga ke bahu, membuat bulu kuduknya berdiri.


Ia membalikkan badan, di lihatnya Jessen yang tengah tersenyum hangat pada dirinya. Tapi Naya tak menyadari jika sorot matanya dan senyuman yang ia perlihatkan oleh Jessen punya niat terselubung yang tak ia ketahui.


"Ikut aku yuk!" Bisik Darren di telinga Naya.

__ADS_1


"Kemana?"


"Ikut aja, nanti juga tau" balas Jessen.


__ADS_2