PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 94


__ADS_3

Keesokkan harinya...


"Nay, ayo nanti telat loh!" Pekik Aurel tepat di ambang pintu. Ia tengah menunggu adik iparnya itu selesai bersiap.


Hari ini, ia, Darren dan Kayla akan mengantarkan Naya menuju bandara. Hari Sabtu adalah hari libur bagi Aurel dan Darren dari pekerjaannya. Dan Kayla, ia juga sedang libur sekolah.


"Udah kak" ujar Naya. Ia menyeret kopernya keluar rumah.


"Sini! Aku masukin bagasi" ujar Darren. Naya memberikan kopernya. Dan Darren memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Naya dan Kayla langsung memasuki mobil. Keduanya duduk di belakang. Sementara itu Darren dan Aurel duduk di depan.


"Udah gak ada yang ketinggalan?" Tanya Darren.


"Gak ada kak" balas Naya.


Darren melajukan mobilnya menuju bandara.


Di bandara,


"Ini koper kamu" ujar Darren. Ia memberikan koper Naya.


"Aku pamit ya kak" ujarnya.


"Iya kalau udah sampai kabarin kakak" pinta Darren.


"Pasti"


"Binay" panggil Kayla.


"Iya sayang?"


"Kalau Binay lagi libur, sering-sering main ke indo ya!"


"Pasti dong sayangnya Binay" balas Naya. Ia mengusap lembut rambut Kayla.


"Kak aku pamit ya! Aku bakalan kangen banget sama kalian" kekehnya.


"Gak ada lagi yang bakalan posesif sama aku lagi" ujarnya melirik Darren.


"Tenang aja, nanti kakak bilangin mama sama papa buat posesif sama kamu" balas Darren.


"Gak gitu juga kali kak" sewot Naya.


"Dan kakak, aku bakalan kangen banget di belain sama kakak kalau lagi diomelin kak Darren" ujarnya memegangi tangan Aurel.


"Gak usah khawatir, selama kamu benar kakak akan terus belain kamu" balas Aurel.


"Yaudah kak, aku pamit" ujarnya.


"Iya"


Naya langsung menuju pesawatnya. Sementara itu, Aurel, Darren dan Kayla ia kembali ke mobilnya.


Sebelum pulang mereka mampir ke rumah Aleta terlebih dahulu.


Darren menghentikan mobilnya tepat di perkarangan rumah. Kayla langsung berlarian keluar saat melihat Omanya tengah duduk di teras dengan secangkir teh.


"Oma!" Pekiknya. Ia langsung berhamburan ke pelukan Aleta.


"Oma, Kayla kangen" ujarnya.


"Oma juga kangen sama Kayla" balas Aleta.


Aurel dan Darren menghampiri mamanya.


"Gimana keadaan mama?" Tanya Aurel.


"Seperti yang kamu lihat, baik-baik aja kan?"


"Syukur deh"


"Oh ya ma, Lastri mana?" Tanya Aurel.


"Di dalam, lagi masak buat makan siang" balas Aleta.

__ADS_1


"Aku ketemu Lastri dulu ya ma"


"Iya"


Aurel memasuki rumah. Ia segera menuju dapur. Disana dilihatnya Lastri yang tengah sibuk memasak.


"Lastri" panggil Aurel. Lastri yang merasa namanya di panggil ia langsung menoleh.


"Eh mbak Aurel, kapan nyampenya?" Tanya Lastri.


"Baru aja kok"


"Mbak mau masak ya?" Tanya Lastri.


"Gak, saya ada perlu sama kamu" ujar Aurel.


"Perlu apa ya mbak?"


"Kejadian mama keracunan makanan membuat saya sedikit khawatir untuk meninggalkannya"


"Memangnya mbak mau kemana?" Tanya Lastri sedikit penasaran.


"Besok saya akan berangkat ke Bandung. Sebelum saya pergi saya ingin cctv di rumah ini di perbaiki"


"Tapi, Bu Aleta tidak mengizinkannya mbak"


"Lakukan tanpa sepengetahuannya"


"Tapi bagaimana caranya mbak?"


"Saya akan mengajak mama makan di luar. Dan kamu bisa pakai waktu itu untuk memperbaikinya. Saya sudah memanggil petugas untuk memperbaikinya. Kamu hanya tinggal mengarahkannya saja"


"Baik mbak"


"Yasudah saya tinggal"


Aurel kembali ke depan. Ia menghampiri Aleta dan Kayla yang tengah berbincang. Sementara itu Darren, ia tengah duduk di kursi sebelah Aleta. Ia hanya memperhatikan keakraban nenek dan cucunya itu.


"Ma" panggil Aurel.


"Kenapa?"


"Ngapain, Lastri kan lagi masak. Kita makan di rumah aja" balas Aleta.


"Gak papa lah ma, sekali-kali kita makan di luar. Udah lama kan kita gak makan bareng" balas Aurel sedikit merengek.


"Iya ma, Aurel benar. Bentar aja kok!" Ujar Darren.


"Ayo Oma! Kita makan diluar. Oma kan udah janji bakalan ikut lain waktu" balas Kayla.


"Iya-iya, Oma ikut" balas Aleta pasrah. Bagaimana tidak. Anak dan menantunya memaksanya ikut. Bahkan cucunya juga ikut memaksa dirinya.


"Tapi Oma siap-siap dulu ya" balas Aleta.


"Oke oma"


🥀


"Selamat menikmati" ujar pelayan ramah. Beberapa pelayan menyajikan makanan di atas meja.


"Makasih" balas Aleta.


"Ayo Oma! Kita makan. Habis ini kita ke mall ya! Kay mau beli mainan" ujar Kayla semangat.


"Tapi Kay, mainan Kayla udah banyak! Masa mau ditambah lagi" ujar Aurel.


"Aku udah bosan sama mainan lama ma, maunya mainan baru" rengek Kayla.


"Kay gak boleh gitu, itu namanya pemborosan! Mama kan selalu bilang buat hemat" nasehat Aurel.


"Udahlah, kamu jangan marahin dia! Apa salahnya sih, Kayla kan mau ganti mainannya. Biarin ajalah" balas Aleta membela Kayla.


"Tapi ma_" bantah Aurel.


"Gak ada tapi-tapian!" Balas Aleta tak terbantahkan.

__ADS_1


Darren yang menonton sedari tadi hanya bisa menahan tawanya. Melihat bagaimana mertuanya lebih menyayangi cucunya dari pada anaknya sendiri. Mempunyai kesan lucu tersendiri bagi Darren.


Aurel tak berkata-kata lagi. Ia hanya diam dan menuruti kemauan anak dan mamanya itu.


"Yeay, Oma baik deh" puji Kayla.


"Iya dong, Oma nya siapa dulu?" Balas Aleta.


"Omanya Kayla dong" kekehnya semangat.


Selesai makan, mereka mengunjungi sebuah mall yang terletak di pusat kota.


"Oma! Itu toko mainannya!" Ujar Kayla.


"Iya ayo" balas Aleta.


Aleta mengikuti Kayla yang terus menarik tangannya memasuki tokoh mainan. Sementara itu Darren dan Aurel mengikutinya dari belakang.


"Oma, ini bagus gak?" Tanya Kayla. Ia mengambil sebuah mainan Barbie dengan ukuran sekitar 30 cm.


"Bagus" balas Aleta.


"Tapi kayaknya yang itu juga bagus deh Oma" ujar Kayla menunjuk sebuah Barbie dengan ukuran yang lebih besar.


"Yang ini" ujar Aleta. Ia mengambil sebuah boneka Barbie yang terletak di rak paling atas.


"Iya Oma, bagus kan?" Tanya Kayla.


"Bagus" balas Aleta.


"Kay mau yang ini dong Oma" rengeknya.


"Yaudah Kay ambil aja! Nanti Oma bayar" balasnya.


"Tapi oma_" balas Kayla ragu.


"Kenapa sayang?" Tanya Aleta.


"Yang ini juga bagus" balasnya menunjukkan boneka Barbie yang ia pegang.


"Kalau itu Kay ambil dua-duanya aja" ucap Aleta.


"Bener Oma?" Tanya Kayla.


"Iya, apa sih yang enggak buat cucu Oma ini" kekehnya mencubit pelan pipi Kayla.


"Horeee, Oma emang yang paling baik" pujinya. Hal itu tentu membuat Aleta sangat senang.


"Ada lagi yang mau Kayla beli?" Tanya Aleta.


"Gak ada Oma, ini aja" balasnya.


"Yaudah, kita bayar dulu ya"


"Iya Oma"


"Sini bonekanya, Kayla tunggu di sana sama papa dan mama ya!" Pinta Aleta.


"Oke oma" Kayla memberikan dua boneka Barbie tersebut pada Omanya. Lalu ia berlari menghampiri Darren dan Aurel yang sedang menunggunya di depan toko mainan.


"Mama! Papa!" Panggilnya menghampiri kedua orang tuanya.


"Kay, Oma mana?" Tanya Aurel.


"Lagi bayar boneka Barbie aku ma" balasnya.


"Kay, kok Oma yang bayar sih? Kenapa gak minta sama mama aja" balas Aurel.


"Yah, mama gak bilang sih" balasnya.


Aurel hendak menyusul Aleta yang ada di depan kasir. Tapi ia terlambat karna Aleta ternyata sudah selesai membayarnya.


"Ini boneka Kayla" ujar Aleta. Ia memberikan paper bag nya pada Kayla.


"Makasih Oma" balasnya.

__ADS_1


"Sama-sama"


"Ma, kenapa gak bilang Aurel sih. Biar Aurel aja yang bayarin! Mama kan juga perlu uang buat kebutuhan mama" ujar Aurel.


__ADS_2