
Aurel mengemudikan mobilnya menuju rumah Andra dan Mikha terlebih dahulu. Sementara Kayla dan Rendy duduk di kursi belakang. Kedua bocah itu tengah berbincang. Entah apa, Aurel pun tak mengerti.
Setibanya di depan rumah Andra dan Mikha. Rendy langsung turun dari mobil.
"Tan, makasih ya udah nganterin" ujar Rendy.
"Iya sama-sama"
"Tante gak mampir dulu?"
"Gak ren, maaf ya! Habis nganterin Kayla Tante langsung balik ke kantor"
"Oh oke Tan" balasnya.
Aurel kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Sementara Kayla, ia sudah pindah duduk ke depan di samping Aurel.
"Mama tau gak? Di sekolah Kay ada murid baru tau" ujar Kayla memulai pembicaraan.
"Murid baru?" Tanya Aurel.
"Iya ma, namanya itu Andra. Sama kayak nama ayah Andra" ujar Kayla bersemangat.
"Mungkin nama ayah Andra bagus kali Kay, makanya banyak yang make" kekeh Aurel.
Tak terasa, karna keasyikan mengobrol. Ternyata mereka telah sampai di rumah. Aurel dan Kayla keluar dari mobil dan memasuki rumah.
"Kayla ganti baju ya! Mama siapin makanan buat kamu dulu" ujar Aurel.
"Iya ma" balas Kayla. Ia langsung menuju kamarnya dan mengganti pakaian.
Di dapur Aurel hanya memasak telur dadar untuk Kayla. Ia tak punya banyak waktu untuk menyiapkan Kayla makanan lain.
"Kay makanannya udah siap? Ayo makan dulu" panggil Aurel.
"Iya ma" balas Kayla setengah berteriak.
Ia keluar dari kamarnya dan menghampiri Aurel.
"Makan dulu ya, maaf mama gak bisa masak selain ini. Gak sempet" ujar Aurel.
"Iya ma, Kay tau kok mama sibuk" balas Kayla. Ia langsung menyantap makanan yang sudah disiapkan mamanya.
"Mama tinggal ya, Kay jangan nakal! Oh ya, Binay ada di kamar, kayaknya keasyikan nonton deh. Sampai gak denger kalau kita udah pulang"
"Iya ma"
Aurel mengecup kening Kayla sekilas. Kemudian ia kembali menuju kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.
🥀
Darren keluar dari kantornya. Ia menaiki mobilnya dan segera menuju coffe shop. Ia memiliki janji dengan Andra untuk bertemu siang ini.
Ia yang sudah terlambat untuk bertemu dengan Andra. Semakin menjadi kesal karna ada kemacetan.
Tittttt Tittttt Tittttt
Beberapa kali Darren menekan klakson mobilnya untuk mempercepat kemacetan yang sedang terjadi.
Tittttt Tittttt Tittttt
"Ini ada apa sih? Kenapa lama banget macetnya" gerutunya.
Darren melirik pengendara motor yang ada tepat di samping mobilnya.
"Pak, maaf! Di depan ada apaan ya? Kenapa macet gini?" Tanya Darren.
"Ada anak kecil ke tabrak motor pak, gak ada yang berani nolongin. Cuman di kerubungin doang ama warga" balas pengendara motor.
"Emangnya penabrak gak tanggung jawab?"
"Katanya penabraknya kabur, gak tau kemana"
"Gitu ya pak"
Karna penasaran dengan apa yang terjadi di depan. Darren keluar dari mobilnya dan mendekati kerumunan.
__ADS_1
Ia sangat kaget ketika mendapati seorang anak laki-laki yang tengah menangis terisak-isak. Ia terus memegangi siku dan kepalanya yang terluka.
"Pak, Bu! Kenapa diam aja? Tolongin!" Pintanya.
Tapi bukannya menolong. Kerumunan tersebut hanya menatap anak yang terus menangis kesakitan itu.
Darren yang tak tega. Ia langsung menggendong anak tersebut dan mencari kendaraan untuk membawa anak tersebut kerumah sakit.
"Pak! Bantu saya Anter anak ini ke rumah sakit" ujar Darren menghentikan sebuah motor.
"Ayo naik pak! Biar saya antar" ujarnya.
Pengendara motor yang ia hentikan mengantarkannya tepat di depan rumah sakit.
"Makasih ya pak" ujar Darren.
"Sama-sama"
Darren langsung mencari dokter untuk menangani anak yang ia gendong.
"Dok! Tolongin anak ini" ujarnya.
"Baik! Sus bawa anak ini" pinta dokter.
Suster langsung membawa anak yang ada di gendongan Darren untuk segera di tangani. Namun anak itu tak mau melepaskan pegangannya pada tangan Darren.
"Lepasin tangan Om ya" ujar Darren.
Anak itu tak menjawab ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Gak mau dilepas sus, gimana?" Tanya Darren.
"Gimana dok?" Tanya suster.
"Bapak ikut masuk saja"
"Baik"
Tangan Darren terus saja di pegangi erat oleh anak yang ia tolong ini. Hingga dokter selesai mengobatinya, pegangannya juga tidak lepas.
"Gimana dok?" Tanya Darren.
"Dia bukan anak saya dok" balasnya.
"Oh maaf, mungkin saya salah paham. Karna saya lihat anak ini begitu terikat dengan bapak"
"Terikat?" Tanya Darren tak mengerti.
"Bapak gak sadar? Anak ini terus megang tangan bapak sampai sekarang"
Darren melirik tangannya yang di pegang oleh anak itu.
"Yasudah, saya permisi" ujar dokter.
"Nak, nama kamu siapa?" Tanya Darren lembut.
"Andra" lirihnya singkat, padat dan jelas.
"Andra?" Tanya Darren. Anak itu mengangguk.
"Bagus ya namanya, sama kayak nama teman om" balas Darren.
Andra tersenyum.
"Kamu tau rumah kamu dimana? Atau tau nomor telfon orang tua kamu?" Tanya Darren.
"Aku telfon Tante aja om" balasnya.
"Nih, pake hp om! Taukan nomornya?" Ujar Darren, ia memberikan hpnya pada Andra.
"Iya om"
Andra mengetikkan nomor hp tantenya. Lalu ia menempelkannya di telinganya.
"Halo Tan, ini aku Andra"
__ADS_1
"...."
"Tante jemput aku di rumah sakit ya"
"..."
"Tadi aku ketabrak motor"
"..."
"Om ini rumah sakit apa?" Tanya Andra pada Darren.
"Rumah sakit Permana"
"Aku di rumah sakit permana Tan"
"...."
"Aku tunggu Tan"
Panggilan berakhir. Andra memberikan hp Darren padanya.
"Gimana?" Tanya Darren.
"Tunggu bentar ya om, Tante lagi jemput"
"Oke"
Drttttt Drttttt Drttttt
"Bentar ya, om angkat telfon dulu" ujarnya.
Darren keluar dari ruang rawat dan mengangkat telfon.
"Halo ndra"
"Dimana?" Tanya Andra to the point.
"Rumah sakit"
"Ngapain? Katanya mau kesini?" Tanya Andra.
"Tadi ada anak kecil ke tabrak motor, aku tolongin dulu"
"Yaudah, habis itu langsung ke sini!" Pintanya.
"Iya-iya"
Darren kembali memasuki ruang rawat Andra. Ternyata selama ia menelfon ia tak menyadari jika Tante Andra telah datang.
"Tante Andra?" Tanya Darren pada perempuan yang tengah mengkhawatirkan bocah yang bernama Andra itu.
"Iya, kamu yang nolo_" ucapannya terhenti. Begitupun dengan Darren, matanya melotot ketika melihat siapa Tante Andra.
"Arsy" lirihnya tak percaya.
"Darren" ujar Arsy.
"Tante kenal?" Tanya Andra.
"Iya" balas Arsy.
"Jadi kamu yang nolongin keponakan ku?" Tanya Arsy.
"Iya"
"Terimah kasih banyak"
"Tidak perlu, anggap saja balas budiku karna telah menolong Naya" balas Darren. Sebelumnya Aurel telah memberitahunya jika yang menolong Naya saat kecelakaan adalah Arsy.
"Oh, oke"
"Sekarang aku tau kenapa nama anak ini Andra? Karna kamu mencintainya seperti kamu mencintai Andra. Iya kan?" Tanya darren.
Arsy tersenyum. "Kamu benar" balasnya.
__ADS_1
"Yasudah, aku pamit" ujar Darren. Ia masih ada janji dengan Andra.
"Yah"