
Suasana ruang rawat Aleta yang semula hening. Sekarang berubah menjadi panas karna kedatangan Gio.
"Papa gak maksud lakuin ini rel"
Sebelum Aurel semakin memanas akhirnya Andra menengahi keduanya.
"Rel udah, jangan berisik Tante lagi sakit" bujuk Andra.
Aurel melirik Aleta yang terbaring di atas brankar rumah sakit.
"Maaf ma" batin Aurel, ia melirik tajam pada Gio lalu duduk pada sofa diruang rawat Aleta.
Gio hanya berdiri di ambang pintu, ia enggan untuk masuk. Terlihat jelas jika kedatangannya tak diterimah oleh orang-orang di dalamnya. Melihat tak ada yang memperdulikannya, Gio berbalik keluar meninggalkan ruang rawat Aleta.
Dikoridor rumah sakit, gio tak sengaja berpapasan dengan Darren yang baru kembali dari kantin rumah sakit. Darren yang sadar akan adanya gio hanya berpura-pura tak melihatnya.
"Tunggu!!" satu panggilan dari gio mampu menghentikan langkah kaki Darren. Darren menoleh dan melihat ke arah gio.
"Ada apa om?" tanya Darren. Gio memperlihatkan raut wajah sedih dan sesalnya pada Darren.
Darren yang melihat itu merasa iba padanya, namun ia tak punya hak untuk ikut campur dalam masalah yang bukan urusannya. Ia hanya orang luar, yang punya posisi sebagai teman Aurel tidak lebih. Bukan haknya ikut campur ke dalam masalah keluarga yang di hadapi oleh keluarga Aurel.
"Tolong jaga keluarga saya, dan sampein maaf saya untuk mereka" Ujar gio pada Darren. Sebelum pergi gio memperlihatkan senyum kecutnya pada Darren, Darren hanya menatap panggung gio yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Om Gio kenapa?" batinnya. Lama Darren larut dalam pikirannya, hingga suara dering ponselnya berbunyi.
"Halo" ujarnya mengangkat telfon.
"...."
"Iya gue udah didepan kok" balasnya.
Darren memasuki ruang rawat Aleta kembali. Ia kembali melihat Aleta yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Selang infus yang melekat pada tangannya, serta wajah pucat itu membuat siapa pun yang melihatnya tak akan tega. Di samping ranjangnya itu, dua orang gadis tengah menungguinya sadar dari tidur panjangnya. Kedua gadis itu tampak murung dan sedih menunggu sang mama yang masih terbaring lemah.
"Makan dulu yuk!! gue bawa makanan nih" ujar Darren. Namun dua gadis kembar itu tak mengubris ucapannya.
"Kebetulan gue laper nih" balas Andra, ia langsung menyerobot nasi kotak di tangan Darren.
"Main serobot aja Lo, gue beli buat Aurel sama Aunia doang, kalau Lo mau, beli sana!!" sarkas Darren.
"Tega bener Lo sama gue, gak gue restuin baru tau rasa Lo"
__ADS_1
"Bodoh amat!" Darren langsung melengos menuju sofa di mana Aurel dan aunia duduk. Darren berlutut untuk mensejajarkan wajahnya dengan Aurel. Ia sangat tak tega ketika melihat wajah Aurel yang begitu sayu dan terlihat layu.
"Rel" panggil Darren lembut. Aurel meliriknya dengan tatapan yang sayu, hal itu membuat Darren semakin tak tega padanya.
"Makan dulu ya, Lo belum makan dari tadi, cacing Lo pasti minta makan deh" ujar Darren berusaha menghibur.
"Gue gak laper Darren" balas Aurel sayu.
"Jangan nyiksa diri Lo sendiri kayak gini, mama Lo pasti gak suka kalau liat Lo sakit saat dia bangun" Bujuk Darren.
"Mama bakal bangun kan?" tanya Aurel.
"Mama Lo pasti bangun kok, dia lagi capek aja makanya istirahat dulu, dan Lo juga harus makan biar kuat jagain mama Lo disini" Bujukan demi bujukan pun dilayangkan oleh Darren dan akhirnya Aurel mau menurutinya.
"Makan dulu ya, dikit aja, oke?" bujuk Darren. Aurel mengangguk, Darren segera menyuapinya nasi kotak yang dibelinya di kantin tadi.
"Aaaa.." ujar Darren menyuapi Aurel, suapan pertama itu mendarat pada mulut Aurel.
"Nah bagus, makan yang banyak biar kuat jagain mama Lo" ujar Darren semangat, karna suapannya diterima Aurel.
"Makasih Darren" lirih Aurel.
"Sama-sama" Darren menyungging kan senyum manisnya pada Aurel. Namun Darren sadar jika ia hanya memperhatikan Aurel saja. Darren mengeluarkan satu nasi kotak lagi, ia memberikannya untuk aunia yang duduk disebelah Aurel.
"Makasih" singkatnya. Darren membalasnya dengan anggukan sekilas. Lalu ia kembali mengeluarkan satu nasi kotak lagi.
"Ndra nih buat Lo, sorry buat yang tadi gue becanda doang kok" kekehnya memberikan nasi kotak pada Andra. Andra menerimanya dengan baik dan menghadiahkan sebuah geplakan pada kepala Darren.
"Dasar!" ujarnya sembari menggeplak kepala Darren.
"Gak usah pukul-pukul kepala gue!" sewot Darren, namun tak dipedulikan Andra.
"Jadi nyuapin gue gak?" tanya Aurel.
"Yah jadilah" balas Darren semangat.
.
.
.
__ADS_1
Gio mengemudikan mobilnya menuju Bandung. Lama di perjalanan akhirnya ia sampai pada rumah yang menjadi masalah besar dalam keluarganya saat ini. Mobilnya memasuki rumah, seorang satpam membukakan pagar untukmu.
"Suruh semua orang kumpul di ruang tamu sekarang!!" pinta Gio pada satpam.
"Baik bos" satpam itu segera memberitahu semua orang yang ada dirumah itu untuk berkumpul diruang tamu.
Gio menunggu diruang tamu, tatapan dingin pada matanya terpancar jelas saat ini. Bodyguard-bodyguard yang ia pekerjakan telah berkumpul dan berbaris rapi di depannya.
"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa saya mengumpulkan kalian dari sini" ujar gio memulai pembicaraan. Namun semua bodyguard nya tak ada yang bicara sepatah kata pun.
"Saya tidak akan bertele-tele dalam bicara, saya akan menyampaikan pada kalian bahwasanya kalian semua saya berhentikan dari pekerjaan ini" Mendengar ucapan gio semua bodyguard yang semulanya menunduk karna takut, mendadak menatap lekat pada gio.
"Saya tau kalian semua pasti ingin bebas dari pekerjaan gila ini, dan saya akan mengabulkannya, silakan kalian pergi dari sini dan bawa barang-barang kalian!!" pinta gio.
Tanpa pikir panjang, semua bodyguar itu segera mengambil barang-barang mereka dan meninggalkan rumah. Suara kegaduhan yang tadinya ia dengar, berubah menjadi sepi. Bahkan suara angin pun bisa terdengar ditelinganya.
"Hal ini memang pantas ku dapatkan, kesendirian" lirihnya.
Gio teringat akan sesuatu, sesuatu yang ia sekap dan belum ia bebaskan. Ia segera menuju ruang rahasia dibalik rak buku itu. Dibalik pintu ada sekumpulan orang yang berharap jika ia dibebaskan dari tempat mengerikan ini. Gio membuka kuncinya dan memperlihatkan sekumpulan orang dengan keadaan memprihatinkan.
Ketakutan terlihat jelas pada wajah mereka saat Gio memasuki ruangan itu.
"Jangan!!'
"jangan! kami belum mau mati"
"Lepaskan saya!!"
Suara-suara orang yang disekap terdengar bersahutan untuk memberontak.
"Maaf" lirih gio, lalu membukakan tali pada salah satu dari mereka.
"Buka ikatan teman-teman kamu!!" pinta gio, lalu ia pergi meninggalkan ruang rahasia itu. Langkah kakinya terseok-seok menaiki tangga.
Ia berjalan menuju kamar yang biasanya ia tempati saat menginap di tempat ini.
.
.
.
__ADS_1
Thanks udah baca :)
Jangan lupa like, coment, anda vote nya ya ^_^