PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 7


__ADS_3

Aurel menghentikan langkahnya menuju gudang, saat ia mendengar sesuatu. Darren dan Andra juga refleks berhenti ketika tubuhnya dihadang oleh tangan Aurel.


"Kenapa rel?" Tanya Darren.


"Kalian denger gak?" Ucap Aurel mencoba memastikan pendengarannya tidaklah salah. Sementara Andra berusaha menacari sumber suara yang dimaksud Aurel.


"Iya, gue denger" balas Darren.


"Suaranya dari sana" ucap Andra, setelah memastikannya dengan baik.


Aurel dan Darren mengikuti andra yang tengah mindik-mindik dibalik dinding. Hingga mereka menemukan lima orang yang tengah berbicara didepan gudang.


"Mereka ngomong apa? Kok gak kedengaran" tanya Aurel.


"Makanya Lo diam!" Pinta Andra tak terbantahkan. Aurel langsung menutup mulutnya, ia lebih memilih patuh pada Andra dari pada ia gagal mendapatkan informasi.


"Kalian bawa mereka, jangan sampai lecet sedikit pun!" Pinta seseorang berbaju hitam dan dipatuhi oleh empat orang lainnya.


"Baik!" Jawab keempatnya, lalu mereka memasuki gudang. Sementara orang yang memerintahkan mereka menerima telfon.


"Halo bos" jawabnya.


"...."


"Iya, saya sudah siapkan bos" setelahnya orang itu berdiri didepan pintu gudang. Tak lama empat orang yang masuk kedalam gudang keluar, masing-masing membawa seorang gadis. Gadis-gadis itu memberontak, tapi mulutnya yang disumpal dengan kain membuat suara mereka tidak terdengar.


"Mau apa mereka?" Tanya Aurel, Aurel sangat kaget ketika mereka membawa gadis-gadis itu dengan tidak manusiawi.


"Mereka murid disekolah ini" ucap Darren, saat ia melihat seragam yang dikenakan oleh para gadis itu. Aurel yang mendengar perkataan Darren, melihat para gadis itu kembali, ia baru sadar jika seragam yang digunakan gadis itu sama dengan seragamnya.


"Ayo ikuti mereka!" Ucap Darren. Tapi ditahan oleh Andra.


"Apa lagi? Nanti kita kehilangan jejak" ucap Darren tak sabaran.


"Liat!" Pinta Andra, Aurel dan Darren mengikuti arah pandang Andra. Aurel kaget ketika ia melihat satpam sekolahnya berbicara dengan orang berbaju hitam itu.


"Itu kan?" Kaget Aurel.


"Satpam sekolah" lanjut Darren.


"Keliatannya satpam itu terlibat" ucap Andra. Aurel dan Darren menyetujui ucapan Andra.


"Sekarang gimana?" Tanya Darren.


"Kita ikutin dia" ucap Andra pasti.


"Maksud Lo, kita ikutin orang baju hitam itu?" Tanya Aurel.


"Iya"

__ADS_1


"Lo yakin? Keliatannya dia orang yang berbahaya" ngeri Aurel.


"Itu resikonya rel, Lo mau pulang dengan tangan kosong?" Tanya Andra.


"Gak si, tapi gue takut" ucap Aurel.


"Gapapa, gue bakalan jagain Lo kok, kayak biasanya" ucap Andra, mengelus kepala Aurel. Keduanya tak lepas dari pandangan Darren, tangannya mengepal melihat tingkah Aurel dan Andra.


"Dia udah pergi, ayo!" Kali ini Aurel yang memberi arahan, setelah mendengar perkataan Andra, ia tak lagi takut. Andra yang melihat tingkah Aurel hanya tersenyum, bagi Andra, Aurel adalah adik yang harus ia jaga. Sedari kecil Andra sangat menyayangi Aurel, karna dalam silsilah keluarganya, Aurel adalah satu-satunya saudara perempuan yang ia punya. Walau Aurel anak yang usil, tapi bagi Andra tingkahnya itu adalah hal yang menggemaskan.


Andra dan Darren mengikuti Aurel, walau akhirnya Andra kembali memimpin, Aurel tak keberatan karna Andra memang bisa mengarahkan mereka.


Mereka terus mengikuti orang itu hingga mereka memasuki hutan.


"Lo yakin? Ini udah jauh dari sekolah" ucap darren saat melihat hutan yang dimasuki orang berbaju hitam itu.


"Gue yakin kok" balas Andra.


"Gimana rel? Mau lanjut atau pulang?" Tanya Darren.


"Lanjut aja, nanggung udah sampai sini" ucap Aurel, ia juga takut akan terjadi sesuatu tapi ia tak mungkin pulang tanpa mendapatkan informasi apa-apa.


Mereka kembali mengikuti orang itu, tetapi saat ditengah hutan mereka kehilangan jejak. Orang itu tak lagi ada dihadapan mereka, mereka melihat kesekeliling hutan tapi tak menemukan apapun selain pepohonan rindang yang menjulang tinggi.


"Kemana dia?" Tanya Andra.


"Cepet banget ilangnya" ucap Aurel, tapi tetap memperhatikan sekelilingnya.


"Jangan!" Sergah Andra.


"Kenapa lagi?" Darren bertanya dengan nada kesal, sedari tadi ia selalu dilarang oleh Andra. Bagi Darren yang tidak suka diatur, itu bukanlah hal yang mudah.


"Ini hutan, kalau kita mencar itu lebih berbahaya" ucap Andra.


"Iya Darren, Lo jangan gegabah gitu" ucap Aurel, mendengar perkataan Aurel, Darren hanya diam menahan emosi.


"Sekarang lebih baik kita keluar dari sini, sebelum gelap" pinta Andra.


"Iya" Aurel mengikuti Andra, namun saat melangkah kakinya memasuki lubang.


"Arrgghh sakittt" teriak Aurel. Andra dan Darren segera menghampiri Aurel, memeriksa keadaannya.


"Lo gak papa?" Tanya keduanya.


"Kaki gue sakit" ucap Aurel.


"Coba liat" Andra memeriksa pergelangan kaki Aurel.


"Kaki Lo memar, kayaknya pergelangan kaki Lo terkilir" ucap Andra, lalu menggendong Aurel.

__ADS_1


"Mau ngapain?" Tanya Aurel.


"Lo gak bakalan bisa jalan, biar gue gendong aja" ucap Andra. Aurel tak menolak, ia hanya mengangguk mematuhi perintah Andra.


"Kenapa dia selalu satu langkah didepan gue" batin Darren.


Sebelum pulang kerumah Aurel, Andra dan Darren mampir ke rumah sakit terlebih dahulu.


"Mau ngapain?" Tanya Aurel, saat melihat rumah sakit yang ada didepannya.


"Periksa kaki Lo" ucap Andra.


"Iya, ntar bengkak kalau gak cepat di obatin" ucap Darren.


"Yaudah" Aurel pasrah, karna kedua laki-laki yang sangat ia sayangi tak mau mendengarkan rengekannya agar langsung pulang saja.


"Biar gue aja" ucap Darren, sebelum Andra kembali menggendong Aurel. Andra hanya mengangguk, karna ia yakin Darren juga pasti khawatir dengan keadaan Aurel.


Darren menggendong Aurel yang duduk dibangku belakang. Aurel tak keberatan dengan hal tersebut, ia malah senang karna mendapatkan kesempatan yang langkah. Sementara Andra hanya mengikuti dari belakang.


"Kayaknya posisi gue bakalan kegeser" gumam Andra dengan kekehannya. Sebagai seorang kakak Andra hanya ingin memastikan orang yang disukai adiknya adalah orang yang tepat, yang bisa melindungi adiknya.


Aurel mendapatkan pemeriksaan yang intensif pada kakinya, terlalu berlebihan bagi Aurel tapi dua orang laki-laki dihadapannya ini tak mau mendengarkannya.


"Gimana dok?" Tanya Andra dan darren bersamaan.


"Kompak amat" kekeh Aurel. Sementara darren dan Andra menatapnya sinis.


"Tidak ada hal yang serius, dua hari lagi kaki mbak Aurel akan kembali membaik, saya sudah resepkan obatnya. Diminum ya mbak!" Pinta dokter, Aurel mengangguk menanggapi ucapan dokter tersebut.


"Denger kan? Apa kata dokternya, minum obat!" Pinta Andra.


"Iya, gue denger kok" sewot Aurel.


"Aurel pasti minum obat kok, Lo gak usah segitunya" ucap Darren, ia tak terima jika Aurel terus diomeli oleh Andra.


"Gue tau banget Aurel, dia paling males minum obat, makanya gue tegasin lagi" balas Andra.


Setengah jam tak ada yang berbicara diruang rawat Aurel, Andra dan Darren sibuk dengan ponselnya masing-masing.


"Gue mau pulang" ucap aurel.


.


.


.


.

__ADS_1


Thanks udah baca :)


__ADS_2