
Aunia tak menjawab, ia hanya mengangguk sembari mengelap sisa-sisa air matanya.
"Lama amat nih drama, kapan selesainya" kekeh Andra.
"Yaudah ndra, kita masuk aja! Biarin aja mama sama Aunia peluk-pelukan sampai pagi" ujarnya bercanda.
"Kamu cemburu ya?" Tanya Aleta dengan nada meledek.
"Gak tuh, siapa bilang" balas Aurel.
"Yaudah, kita masuk sekarang! Kalian pasti capek ya"
"Iya Tan, capek banget" ujar Darren. Tubuhnya memang sudah lelah sedari tadi. Tapi ia harus tetap mengikuti Aurel kemana pun ia pergi.
"Kalau gitu, Lo nginep sini aja, sekamar tuh sama Andra" ucap Aurel.
"Nah bener tuh, Andra gak keberatan kan?" Tanya Aleta.
"Gak kok tan" balas Andra, langsung memasuki kamar yang biasa ia gunakan.
"Darren, kamu ikut sama Andra sana!" Pinta Aleta.
"Iya tan"
"Mama juga istirahat!" Pinta Aunia.
"Iya nanti mama istirahat kok, kalian ke kamar aja!"
"Iya ma" balas keduanya.
πππ
Pukul 12 malam, Aurel merasa sangat haus. Ia berjalan sempoyongan menuju dapur untuk mengambil Air.
Setelah meminum air, Aurel segera kembali ke kamarnya. Namun, sebuah suara membuatnya terkejut dan berteriak.
Pranggg...
"AHHHHH" pekiknya sembari menutup telinga.
Karna teriakan Aurel, semua orang yang ada dirumah menjadi terbangun. Mereka langsung menghampiri Aurel yang ada di dapur.
"Aurel kamu kenapa?!" Tanya Aleta panik.
"Suara kaca pecah" balasnya panik.
"Kaca pecah?" Tanya Aunia tak mengerti.
"Iya, suaranya dari luar" ujar Aurel.
"Lebih baik kita cek kesana buat mastiin!" Usul Darren. Ia langsung menuju sumber suara yang di maksud Aurel.
"Bentar gue cari saklar lampu dulu" ujar Andra.
Kondisi rumah yang gelap membuat mereka kesulitan untuk melihat keadaan.
Tepat saat lampu menyala, kaca jendela sudah berserakan berkeping-keping diatas lantai.
Diantara kepingan kaca itu, ada sebuah kertas yang sudah tak berbentuk.
"KALIAN SEMUA HARUS MATI!!!" lirih Andra membaca tulisan pada kertas itu. Disana juga ada foto yang mereka ambil ketika camping bersama, dan foto tersebut sudah dicoret-coret tepat di bagian wajah.
"Teror lagi?" Tanya Aunia.
"Ini pasti karna aku, seharusnya aku gak balik ke rumah ini!" Sesalnya. Ia langsung berlari menuju kamarnya tanpa menghiraukan semua orang yang memanggilnya.
Aurel berlari mengikuti Aunia, namun ia terlambat beberapa langkah.
BRUAKKK...
__ADS_1
Suara pintu di tutup dengan keras. Membuat langkah Aurel terhenti di tempat.
"Aunia ini bukan kesalahan Lo kok" ujar Aurel dari balik pintu.
"Aku mau sendiri" balas Aunia, sesenggukan. Aurel bisa menebak jika Aunia saat ini sedang menangis.
"Aunia jangan gini, gue mohon Lo gak boleh terpuruk! Mereka pasti seneng banget liat Lo kayak gini!" Ujar Aurel.
"Tinggalin aku sendiri Aurel!!!"
Aurel ingin membantahnya tapi ia juga tak ingin Aunia tertekan karna perkataannya.
"Yaudah, tapi jangan lama-lama"
Hanya itu yang bisa dikatakannya sebelum ia pergi meninggalkan kamar yang telah di kunci Aunia.
"Gimana Aunia?" Tanya Aleta. Ia selalu khawatir dengan kondisi putrinya itu. Sejak kecil ia terlahir dengan kondisi mental yang kurang bagus. Dengan adanya teror demi teror begini, Aleta takut jika kondisi putrinya itu akan memburuk.
"Aunia mau sendiri ma, dia gak mau di ganggu" ujar Aurel.
"Kalau gitu, biarin dia sendiri! Biarin dia nenangin diri dulu, jangan ganggu dia!"
"Iya ma"
"Kalian berdua kembali ke kamar!" Pinta Aleta pada Andra dan Darren.
"Iya Tan" balas keduanya.
Darren dan Andra kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur.
"Aurel, kamu tidur sama mama ya" ujar Aleta.
"Iya ma"
πΆπΆπΆ
2 hari kemudian....
"Mama juga bingung, harus gimana ya? Supaya dia mau keluar" balas Aleta.
"Ndra menurut Lo gimana?" Tanya Aurel. Karna sedari tadi Andra hanya diam dan menyimak saja.
"Gue gak tau, tapi gue kepikiran buat dobrak pintunya sih, itu kalau Tante gak keberatan" balas Andra.
"Tapi kalau ngedobrak, takutnya bahaya buat Aunia, kita kan gak tau posisinya dimana? Kalau dia dibelakang pintu, bukan hal yang mustahil buat dia terluka karena dobrakan itu" ujar Aurel.
"Selain cara itu gue gak tau" balas Andra.
"Udah dua hari Aunia ngurung diri dikamar, mama jadi khawatir sama dia" ujar Aleta.
"Iya ma, kali ini coba aku Anter makanan lagi buat dia, siapa tau dia mau buka pintu". Aurel beranjak bangkit untuk menyiapkan makanan untuk Aunia di dapur.
Aurel menata makanan di atas piring dan meletakkannya di atas nampan.
"Mama khawatir, hal yang kamu lakuin ini bakalan sia-sia" ujar Aleta yang baru saja memasuki dapur.
"Maksud mama?"
"Mama harap kali ini Aunia mau buka pintu" ujarnya lalu meninggalkan Aurel yang bingung akan perkataan mamanya.
Aurel kembali berdiri di depan pintu kamar. Dimana Aunia mengunci dirinya.
Tok Tok Tok
Perlahan Aurel mengetok pintu kamar.
"Aunia, buka pintunya! Gue bawain makanan buat Lo" ujar Aurel.
"Pergi!!" Pekiknya.
__ADS_1
Selalu suara kemarahan Aunia yang ia dengar beberapa hari ini. Setiap kali dirinya mengantarkan makanan hanya suara pekikan Aunia mengusirnya yang ia dengar.
Aurel meletakkan nampan di atas lantai. Ia sudah kesal saat ini. Kembarannya itu sangat kekanak-kanakan. Dengan adanya masalah, ia malah mengunci diri di kamar. Memangnya apa yang ia dapatkan dengan mengurung diri di kamar.
"Aunia!! Buka pintunya sekarang!!" Ujarnya dengan suara meninggi.
"Gak!!"
"Sampai kapan Lo ngurung diri di kamar?!!! Hah!!"
"Sampai aku mati!!"
"Lo mau mati secara perlahan?!! Jangan bodoh!!" Sergah Aurel.
"Aku gak peduli!!"
"Yaudah kalau gitu, gue bakalan pergi duluan, biar kita bisa ketemu lagi disana!!" Balas Aurel.
"Maksud kamu?" Tanya Aunia tak mengerti.
"Gue bakalan akhirin hidup gue disini, biar nanti Lo bisa nyusul gue, dan kita bisa terus sama-sama"
"Jangan ngaco!!! Kamu gak boleh lakuin hal bodoh itu!!" Bantah Aunia.
"Lalu gimana sama Lo? Bukannya mati secara perlahan itu juga bodoh!"
"Aku cuma jadi masalah buat kalian, jadi kalau aku pergi maka hidup kalian bisa tenang!!"
"Itu cuma persepsi Lo sendiri, bukan realitanya!!!"
"Udahlah Aurel kamu pergi aja jangan ganggu aku!!!"
"Gue bakalan pergi kok, selamanya!!" Balas Aurel menekankan kata selamanya.
"Maaf gue gak bisa jadi saudara yang baik buat Lo" lirihnya.
"Aurel jangan bodoh!!" Sergah Aunia.
"AHHHHH" pekiknya berteriak kesakitan.
Mendengar teriakan Aurel, tanpa pikir panjang Aunia langsung membuka pintu kamar.
Wajahnya yang panik terlihat jelas saat membuka pintu.
"Akhirnya Lo buka juga" kekeh Aurel.
Aunia terkejut mendapati Aurel baik-baik saja. Padahal ia baru saja mendengar suara teriakan Aurel yang begitu kesakitan.
"Kamu bohongin aku?" Tanya Aunia tak habis fikir.
"Kalau gak kayak gini, Lo pasti gak bakalan mau buka pintunya kan?"
Aunia terdiam, ia begitu tak menyangka jika saudara kembarnya berbohong hanya agar ia keluar dari kamar.
"Aku gak nyangka kamu Setega ini!" Balas Aunia ingin menutup pintu. Namun dengan cepat di cegah Aurel, ia menghempaskan pintu hingga suaranya membuat Andra dan Aleta yang duduk di ruang tamu kaget. Mereka segera menyusul ke kamar, dan menyaksikan perdebatan kedua saudara kembar yang sama-sama di kuasai amarah.
"Tegaan mana sama Lo!! Hah!! Lo pikir dengan Lo ngurung diri di kamar masalah bakalan selesai?!! Lo cuman buat semua orang khawatir sama Lo!! Ngerti gak!!! Kapan sih Lo bisa berfikiran jernih, jangan terlalu kekanak-kanakan gini!!!" Ujar Aurel emosi.
"Udahlah, gue capek sama Lo!!! Otak Lo terlalu sempit!!" Lanjutnya. Ia meninggalkan Aunia yang masih berdiri di depan pintu seperti patung.
"Mama kecewa sama kamu" ujar Aleta. Ia juga meninggalkan Aunia yang terdiam tepat di pintu kamarnya.
Hanya tersisa Andra yang berdiri, dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kak Andra" lirihnya.
"Gue pikir Lo lebih dewasa dari Aurel, tapi___" Andra menjeda ucapannya.
"Mungkin gue yang terlalu tinggi berekspektasi" lanjutnya.
__ADS_1
Dan akhirnya, hanya dirinya sendirilah yang tersisa. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Isak tangisnya kembali terdengar. Ia menumpahkan semua kesedihannya melalui air mata yang keluar dari pelupuk matanya.