
Dering di ponselnya membuatnya segera melirik ponselnya.
"Halo, Darren buruan ke rumah sakit! Aurel masuk rumah sakit!" ujar Aunia tanpa membiarkan Darren berbicara sepatah kata pun.
"Gue ke sana sekarang!" hanya kata itu yang bisa di ucapkan Darren setelah mendengar kabar dari Aunia.
Aunia kembali menyimpan ponselnya. Ia kembali menatap pintu UGD yang belum terbuka.
Namun, ponselnya kembali berdering. Kali ini bukan Darren yang menelfon melainkan mamanya sendiri.
Dengan ragu, Aunia segera mengangkat panggilan telfon dari mamanya.
"Halo ma" sapa Aunia.
"Aunia, kamu gak papa kan?" tanya mamanya.
"Iya ma, aku baik kok ma, kenapa ma?" tanya Aunia bersikap senormal mungkin. Bukan tak ingin memberi tahu, tapi mamanya saat ini sedang bekerja. Ia tak ingin membuat mamanya menjadi khawatir dan tidak konsentrasi pada pekerjaannya.
"Gak papa, perasaan mama tiba-tiba jadi gak enak, oh iya Aurel udah balik dari kampus? mama telfon tapi gak di angkat-angkat sama dia, nanti kalau udah pulang kamu suruh dia buat telfon mama ya!" pinta Aleta.
"Iya ma" balas Aunia.
"Aunia, gimana keadaan Aurel dia baik-baik aja kan? apa kata dokter?" tanya Darren yang baru saja sampai di depan pintu UGD. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir.
Aunia yang belum mematikan panggilan telfonnya. Terdiam kaku, ia harap mamanya tak mendengar perkataan Darren barusan.
"Aunia! Aurel kenapa?!" tanya Aleta dari dalam telfon dengan suara yang sangat khawatir.
"A-anuh ma, tadi Aurel jatuh, kepalanya kebentur" jawab Aunia sedikit menciut.
"Kenapa baru bilang sekarang, pantesan aja perasaan mama gak enak, sekarang kamu kirimin mama alamat rumah sakitnya, mama kesana sekarang!" ujar Aleta terburu-buru.
Aunia menyimpan ponselnya kembali dan melihat Darren dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Lo gak bilang kalau Aurel di rumah sakit sama Tante?" tanya Darren.
"Gak, aku takut mama khawatir, tapi yaudahlah mama juga udah tau" pasrah Aunia kembali menatap ruang UGD yang masih tertutup.
"Maaf ya, gara-gara gue kan?" tanya Darren.
"Lupain aja, sekarang yang bisa kita lakuin cuman berdoa buat kesembuhan Aurel" ujar Aunia tanpa mengalihkan pandangannya.
Melihat Aunia yang begitu sedih, Darren jadi tau kalau Aunia sangat takut kehilangan Aurel sama seperti dirinya.
Dokter dengan jas putih keluar dari UGD, disusul oleh seorang suster yang juga berseragam putih.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Aunia.
"Benturan di kepalanya cukup lebar, jadi kami terpaksa mengambil tindakan untuk menjahitnya, pasien sedang istirahat jadi harap jangan mengganggunya, saya permisi" ujar Dokter.
Aunia menghela nafasnya gusar, ini adalah kesalahannya. Seandainya saja ia tak mendorong Aurel, maka ia tak akan ada dirumah sakit ini.
"Dengan adanya aku disini, cuma jadi malapetaka, seharusnya aku pergi jauh dari mereka" batin Aunia berbicara.
__ADS_1
"Aunia!" panggil Darren.
"Ya kenapa?"
"Gue panggilin dari tadi diam aja Lo, mikirin apa?" tanya Darren.
"Mikirin Aurel ya? tenang aja dia gak papa kok kan dokter udah bilang kalau Aurel lagi istirahat" ujar Darren.
"Iya" balas Aunia dengan senyum yang dipaksakan.
"Lo gak mau liat kondisi Aurel?" tanya Darren lagi.
"Kamu duluan aja" balas Aunia.
"Yaudah" ujar Darren, ia langsung memasuki ruang UGD.
Pemandangan yang ironis langsung terlihat oleh kedua matanya. Gadis yang selalu ceria dan suka menjahilinya. Kini terbaring lemah di ranjang UGD. Balutan perban di keningnya dan selang oksigen di hidungnya. Semakin membuat hatinya nyeri.
Darren menggenggam tangan dingin Aurel. Ia mengelusnya dan menggenggamnya erat.
"Cepat sembuh ya, jangan lama-lama sakitnya!" lirih Darren beralih mengecup kening Aurel.
Ia belai lembut rambut Aurel dengan sayang.
"Darren" ujar Aunia menyentuh bahu Darren.
"Ada apa?" tanya Darren.
"Aku ada perlu bentar, aku titip Aurel sama kamu ya!"
"Nanti aja aku kasih taunya" balas Aunia ragu.
"Yaudah, Lo pergi aja gue pasti jagain Aurel kok" balas Darren.
Tak lama setelah Aunia pergi, mamanya datang dengan tergesa-gesa. Ia segera memasuki UGD yang ia yakini sebagai tempat putrinya di rawat.
Matanya langsung menangkap nanar putrinya yang terbaring di ranjang UGD.
"Aurel" lirihnya dengan langkah lunglai menghampiri Aurel.
Ia membelai rambut putrinya dengan lembut.
"Gimana kejadiannya?" tanya Aleta melirik Darren yang berdiri di belakangnya.
"Saya gak tau Tan, tadi waktu saya pulang dari kampus saya liat banyak panggilan tak terjawab dari Aunia, saya telfon balik, Aunia ngasih tau saya kalau Aurel dirumah sakit, jadi saya langsung ke sini" terang Darren.
"Dimana Aunia?" tanya Aleta, karna sedari tadi ia tak menemukan adanya sosok putrinya itu.
"Aunia izin keluar tan, katanya ada urusan"
"Urusan apa yang begitu penting sampai dia harus meninggalkan saudaranya yang sedang sakit seperti ini?"
"Saya gak tau Tan"
__ADS_1
Ditengah kekesalan Aleta pada Aunia, beberapa perawat datang dan memasuki UGD.
"Permisi, pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat" ujar salah satu perawat.
"Baik" balas Aleta.
Setengah jam sudah berlalu begitu cepat. Tapi Aunia belum juga kembali. Entah kenapa Aleta begitu gelisah memikirkan putrinya itu.
"Darren, Aunia gak bilang mau kemana?" tanya Aleta.
"Gak Tan, dia cuma bilang ada urusan aja"
Aleta kembali melirik Aurel yang masih belum sadar. Ia menggenggam erat tangan putrinya dan menempelkan nya pada pipinya.
"Cepat sembuh ya!" pinta Aleta lirih.
Darren hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa. Melihat Aleta yang begitu menyayangi Aurel. Membuatnya kembali merindukan mamanya yang baru ia antarkan pagi ini ke bandara. Mungkin saja saat ini, mamanya sudah sampai di Singapura.
Berulang kali ia mengecek ponselnya. Berharap satu pesan dari mamanya itu. Sebuah kabar bahwa ia sudah sampai di tempat tujuannya.
Tapi ia tak mendapatkan pesan itu. Darren melirik jam tangannya, sudah tiga jam setelah penerbangan mamanya. Seharusnya sekarang ia sudah sampai, tapi kenapa tak ada pesan atau telfon dari mamanya yang mengatakan jika ia sudah sampai di tempat tujuannya.
Darren memutuskan untuk menelfon papanya. Karna nomor sang mama tak bisa di hubungi.
"Tan, aku permisi keluar bentar ya" ujarnya pada Aleta. Aleta mengangguk sekilas mengiyakan.
Nada tersambung terdengar di telinganya. Beberapa detik kemudian terdengar suara berat seorang pria.
"Halo pa" ujarnya.
"Darren, ada apa? tumben kamu nelfon papa?"
"Mama udah sampai Singapura?" tanya Darren.
"Belum"
"Tapi penerbangannya udah tiga jam yang lalu"
"Mungkin ada kendala sama penerbangannya, jadi mama belum berangkat"
"Gitu ya pa"
"Iya"
"Tapi aku khawatir pa"
"Kamu berdoa aja buat mama, biar dia bisa selamat sampai Singapura"
"Amiiin"
"Yasudah, papa masih ada meeting, nanti kita lanjutkan obrolannya"
"Iya pa, maaf ganggu waktu kerja papa"
__ADS_1
"Gak papa, sesibuk apapun papa kalau kamu ada perlu, pasti kamu yang papa utamakan"