
Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam. Akhirnya Andra sampai dirumah Aurel. Ia langsung memasuki rumah. Di dalam rumah, ia mendapati Aurel, Aleta dan Gio tengah sarapan pagi.
"Pagi semua" sapa Andra saat memasuki rumah.
"Pagi ndra, kok gak ngabarin mau kesini?" ujar Aleta.
"Udah kok tan, yah kan rel?" ujar Andra.
"Iya ma, aku lupa ngasih tau"
"Kamu udah makan? Ayo makan dulu" tawar Aleta.
"Iya Tan, kebetulan nih aku belum makan" kekeh Andra mengelus perutnya.
"Lo berangkat subuh lagi ndra?" tanya Aurel
"Iya, takut macet gue"
Suasana sarapan pagi kembali hening, seperti sebelum Andra datang.
"Ma, aku pamit ya" pamit Aurel setelah selesai makan.
"Iya"
"Mau gue Anter gak?" tanya Andra.
"Emang Lo gak capek?"
"Gak, udah biasa gue" kekehnya.
"Yaudah ayo, gue juga udah telat nih"
"Pamit yah Tan, om" ujar Andra.
Di Perjalanan menuju SMA DASASILA, Andra bingung harus menceritakannya pada Aurel atau tidak.
"Oh yah ndra, Lo bilang mau ngomong sesuatu, ngomong apa?" Tanya Aurel.
"Ntar aja, kalau ceritain sekarang bakalan panjang banget, Lo kan udah telat?"
"Yaudah"
Sesampainya di sekolah, Aurel turun dari mobil Andra. Ia memasuki gerbang sekolah yang hampir tertutup dengan tergesa-gesa.
Setelah melihat Aurel masuk kedalam sekolah, Andra kembali melajukan mobilnya, namun saat ia melihat benda pipi yang terletak disampingnya, Ia mengurungkan niatnya.
"Pakai ketinggalan segalah nih ponsel" gumam Andra.
Andra mengambil benda pipi tersebut, ia melangkah memasuki sekolah namun di halangi oleh satpam.
"Maaf mas, ada keperluan apa ya? tampaknya mas bukan siswa di sini?" tanya satpam.
"Gini pak, saya mau nganterin ponsel adik saya yang ketinggalan, boleh saya masuk pak?" tanya Andra sopan.
"Yasudah" Satpam menggeser pagar agar Andra bisa memasukinya.
"Makasih pak"
"Sama-sama"
Andra mulai mencari kelas Aurel, suasana sekolah yang sudah mulai sepi karna waktu belajar telah di Mulai, membuat Andra tak bisa bertanya pada siapapun.
"Gak ada orang apa?" gumamnya.
Andra menghentikan langkahnya ketika ia melihat seseorang yang sangat ia kenali.
"Itu Laura bukan ya? coba tanya dia aja" ujar Andra pada diri sendiri.
"Laura!!" panggil Andra.
Mendengar namanya di panggil Laura menghentikan langkahnya dan berbalik melihat sosok yang memanggilnya. Betapa terkejutnya Laura ketika ia mendapati Andra tengah melambai padanya, lalu menghampirinya.
"Ka-kak Andra?" tanya Laura gugup.
"Iya, gue mau tanya dong. Kelasnya Aurel dimana? dari tadi gue nyari gak nemu-nemu"
__ADS_1
"Kelas Aurel disitu kak, kak Andra lurus aja. kelas paling ujung itu kelasnya Aurel" ucap Laura menjelaskan.
Andra mendengarkan instruksi yang diberikan oleh Laura dengan seksama.
"Makasih ya" Tanpa sadar Andra melihat kalung yang dipakai Laura.
"Yaudah kak, gue ke kelas dulu" pamit Laura, namun tangannya di cekal oleh Andra.
"Tunggu!"
"Kenapa kak?" tanya Laura.
"Kalung itu? Lo dapet di mana?" Tanya Andra.
"Kalung?" Laura merabah lehernya, ia tersenyum ketika mengingat siapa yang memberikan kalung itu padanya.
"Kalung ini hadiah dari seseorang kak, waktu ulang tahun gue ke 15" jawab Laura dengan senyum mengembang.
"Kok bisa sama ya? Apa cuma kebetulan?" Batin Andra.
"Kenapa kak?" tanya Laura.
"Eh gak papa, kalungnya bagus" puji Andra, lalu meninggalkan Laura.
"Ngingetin gue sama dia" batinnya melanjutkan.
Dikelas, Aurel tengah panik karena tidak menemukan ponselnya. Ia terus mengotak-atik tasnya tapi tak juga menemukan ponselnya.
"Lo ngapain?" tanya Darren yang terus memperhatikan tingkah Aurel.
"Ponsel gue gak ada" ujarnya.
"Emang Lo taroh mana?"
"Gak tau, gue lupa"
"Coba Lo inget-inget dulu deh"
Sementara itu, Andra telah berdiri di ambang pintu. Ia terkekeh melihat Aurel yang panik karena kehilangan ponselnya.
"Rel, ada Andra tuh" ujar Darren memberi tahu.
Melihat ponselnya ada bersama Andra, membuatnya bernafas lega.
"Nemu dimana?" tanya Aurel mengambil ponselnya.
"Ketinggalan di mobil"
"Gue kira ilang, Thanks ya"
"Hmm, Gue pulang dulu" Pamit Andra.
Sesampainya dirumah, Andra kembali teringat oleh kalung yang di pakai Laura. Kejadian beberapa tahun lalu kembali terlintas di kepalanya.
Flasback on
Arsy berlari kecil menghampiri Andra yang tengah duduk dibawah pohon.
"Kak Andra!!" pekiknya kegirangan, dengan wajah sumringah ia menghampiri Andra.
"Kenapa?"
"Nih" Arsy memberikan sebuah undangan pada Andra.
"Lo ulang tahun?"
"Iya kak, jangan lupa datang ya"
"Pasti" balas Andra. Mendengar jawaban Andra membuat Arsy sangat senang.
"Arsy pulang dulu" ujarnya.
"Tumben? gak mau main bareng gue?" tanya Andra.
"Bukan gitu kak, ntar malam kan acara ulang tahun Arsy, Arsy harus nyiapin acaranya dulu" ujarnya memberi penjelasan.
__ADS_1
"Yaudah sana" ujar Andra.
"Bye kak Andra"
Arsy meninggalkan Andra yang masih duduk di bawah pohon. Sejenak Andra berfikir, Hadiah apa yang akan ia berikan untuk Arsy sebagai kado.
.
.
Andra telah siap untuk menghadiri acara ulang tahun Arsy. Sebuah kotak yang berbalut pita warna merah telah ia siapkan sebagai hadiah untuk Arsy.
Sesampainya di acara ulang tahun Arsy, ia langsung di sambut oleh Arsy. Arsy nampak cantik dengan balutan dress warna biru.
"Kak Andra!!" ujarnya menyambut Andra.
"Nih buat Lo" ujar Andra memberikan kadonya.
"Makasih kak" Saking antusiasnya, Arsy langsung membuka kado yang diberikan Andra.
"Iiihhhh kak Andra" ujar Arsy saat melihat kado yang diberikan Andra.
"Kenapa? Lo gak suka?" tanya Andra panik.
"Bagus banget kak" balas Arsy bahagia, melihat kalung yang ada pada genggaman tangannya.
"Gue kira Lo gak suka" Akhirnya Andra bernafas lega.
"Kak Andra" panggil Arsy.
"Kenapa?"
"Pakeiiin" pintanya.
"Sini" Andra mengambil kalung yang ada pada genggaman Arsy dan memakaikannya pada lehernya.
Arsy sangat senang dengan kalung pemberian Andra, ia berjanji akan selalu memakai kalung pemberian Andra. Sementara Andra ia bersyukur ketika kado yang diberikannya sangat disenangi oleh Arsy.
Flasback off
.
.
.
Laura duduk dikamarnya, ia kembali teringat kejadian di sekolah saat ia bertemu Andra.
"Apa kak Andra inget kalung ini?" gumamnya.
"Kalau iya, berarti dia masih inget gue dong"
"Tapi gimana cara gue ngasih tau kak Andra"
"Kalau gue jelasin semuanya, apa kak Andra bakal percaya?"
"Atau, kak Andra malah ngira gue nipu?"
"AAAH,, GUE HARUS GIMANA?" pekiknya frustasi.
Laura larut dalam fikirannya sendiri, hingga sebuah ketukan dari pintu rumahnya membuat lamunannya buyar.
"Siapa, malam-malam gini?" tanya Laura pada diri sendiri.
Laura melangkahkan kakinya menuju pintu. Saat pintu terbuka terlihat seorang pria paru paya tengah berdiri di ambang pintunya.
"Papa" lirih Laura.
.
.
.
.
__ADS_1
Thanks udah baca :)
See you next part ^_^