PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 31


__ADS_3

Setelah kepergian Dira, Aurel bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Jika ia kembali ke dalam rumah, tentu saja itu sangatlah tidak baik bagi keselamatan nya sendiri.


Namun jika ia pulang, Aunia tengah berada di rumahnya. Mereka pasti akan ketauan kalau keduanya tengah bertukar peran. Lalu kemana ia sekarang?


Tanpa ada tujuan Aurel mulai berjalan tanpa arah. Rasa lega karena berhasil menyelamatkan orang itu kembali berubah menjadi kecewa akan sikap papanya yang sangat keji.


Tak sadar sudah berapa lama Aurel berjalan. Kakinya sudah mati rasa akibat terlalu lama berjalan tanpa arah tujuan.


"Sekarang gue kemana?" pikirnya. Ia mengeluarkan ponselnya, ia mengetikkan sebuah nama pada layar ponselnya.


"Gue hubungin gak yah?" Rasa ragu yang ada pada hatinya membuat Aurel tak berani menghubungi orang tersebut.


"Gak usah aja deh" Aurel mengurungkan niatnya, namun saat akan memasukkan ponsel kedalam saku celananya Aurel tak sengaja menekan tombol memanggil.


"Aduhh, kepencet lagi" Buru-buru Aurel mematikan panggilan telfonnya.


"Untung orangnya belum ngangkat" ujar Aurel lega.


Tak lama ponsel Aurel kembali berdering.


"Mati gue!! Dia nelfon balik" gumamnya.


Setelah menarik nafas panjang, dan menetralkan suasana. Aurel menggeser Ikon hijau pada ponselnya.


"Halo" sapa Aurel


"Halo rel, Lo ada apa nelfon?" tanya Darren dari dalam telfon.


"Tadi gue mau angkat, eh udah keburu mati" lanjutnya.


"Gak papa kok, tadi kepencet"


"Lo gak papa kan rel?" tanya Darren, apalagi saat ia mendengar suara Aurel yang berbeda dari biasanya, suaranya sedikit serak dan terdengar sedih bercampur kecewa.


"Darren, gue boleh minta bantuan Lo?" tanya Aurel. Ia tak lagi bisa berbohong pada Darren.


"Bantuan apa?"


"Jemput gue di Bandung"


"Apa?!! Bandung?!!"


"Iya Darren, Lo bisa gak?"


"Yaudah gue jemput sekarang, Lo share lokasi Lo sama gue!" pinta Darren.


.


.


.


.


Aurel duduk di sebuah halte bus yang mulai sepi karna gelap telah datang.


"Udah dua jam gue nunggu tapi Darren gak datang-datang, dia jadi jemput gue gak sih? tapi Jakarta Bandung bukan tempat yang bisa di capai dalam hitungan menit, wajar aja lama. Seharusnya gue bersyukur karena Darren mau jemput gue" batin Aurel.


Sebuah mobil berhenti di depan halte, Aurel sangat bersemangat karena ia menduga jika itu adalah Darren.


"Darren!" ujarnya semangat. Namun harapannya itu musnah, tatkala yang keluar dari mobil tersebut adalah Gio.


"Aurel ayo pulang!!" pinta Gio.

__ADS_1


"Gak mau" bantahnya.


"Jangan kayak anak kecil, buruan masuk Aurel!! jangan buat papa marah, ini udah malam gak baik kamu sendirian disini!!" ujar Gio, ia tak akan tega meninggalkan Aurel sendirian di tempat sepi seperti ini, apalagi pada malam hari.


"Apa peduli papa? bahkan nyawa orang gak berharga bagi papa, jadi buat apa papa khawatirin keselamatan aku"


"Papa peduli sama kamu Aurel, gak mungkin papa biarin kamu disini sendirian, dan untuk hal itu papa punya alasan sendiri"


"Alasan? alasan apa pa? kasih tau aku"


"Belum saatnya kamu tau rel"


"Lalu kapan saatnya itu? saat semua orang udah papa habisin buat kepentingan pribadi papa?"


"Aurel dengerin papa, jangan kayak gini, kita pulang yah nak" bujuk Gio.


"Aku bakalan pulang, kalau papa biarin aunia tinggal dirumah, dan papa kasih tau sama mama kalau aku punya kembaran"


"Tapi aunia bisa berbahaya buat mama Aurel"


"Berbahaya kenapa?" tanya Aurel tak mengerti.


"Aunia seorang PSIKOPATH, dia suka sama semua yang berbau darah, makanya papa misahin kalian dari dia supaya kalian gak dalam bahaya"


"Maksud papa? Aunia bisa bunuh mama" Mendengar perkataan Aurel gio mengangguk mengiyakan.


"Mama Dirumah sama siapa?" tanya Aurel panik.


"Andra ada dirumah trus aunia juga" sadar akan apa yang diucapkannya gio terlihat panik dengan perbuatan cerobohnya.


Sementara Aurel segera menelfon Andra, beruntungnya Andra segera mengangkat telfonnya.


"Kenapa rel? tumben amat Lo nelfon gue, biasanya langsung masuk ke kamar gue aja" tanya Andra dari dalam telfon.


"Jangan becanda rel, barusan gue liat Lo masuk kamar"


"Itu bukan gue"


"Trus siapa?"


"Aunia ndra, gue minta sama lo jagain mama yah sampe gue pulang!!"


"Kok bisa?"


"Panjang ceritanya, ntar gue cerita yang terpenting Lo jagain mama gue sekarang!"


"Pasti, Lo tenang aja"


Setelah penggilan berakhir, Aurel memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Namun, saat ia memasuki mobil papanya, Darren baru saja sampai dengan motornya.


"Rel!" panggil Darren.


"Darren, Lo beneran jemput gue?"


"Masa gue bohong, jadi pulang gak nih?" tanya Darren.


"Aurel pulang sama saya" ujar Gio.


"Eh ada om juga yah, maaf yah om gak liat" mendengar perkataan Darren Gio mendengus kesal.


"Pa, aku pulang sama Darren, kalau aku pulang sama papa takutnya macet"


"Bye pa" tanpa menunggu jawaban gio, Aurel sudah menaiki motor Darren.

__ADS_1


"Duluan ya om" Darren melajukan motornya kembali ke Jakarta.


.


.


.


Aurel dan Darren sampai dirumah setelah 3 jam perjalanan. Nafasnya yang tak beraturan karna sedari tadi di hantui rasa cemas dan khawatir akan mama nya. Ia segera berlari memasuki rumah, namun saat ia memasuki rumah. Ia terpelongo kaget karna apa yang di katakan papanya tak sesuai dengan kenyataannya.


Semua orang tengah makan malam seperti biasanya. Tapi kali ini mamanya mengira kalau aunia adalah dirinya.


Aleta yang baru ingin menyendok nasi, tak sengaja melirik Aurel yang berdiri di ambang pintu. Matanya berkali-kali melihat ke arah Aurel dan aunia secara bergantian.


"Aurel?" ujarnya pada aunia.


"Iya ma"


"Kenapa kalian ada dua?" tanya Aleta melihat Aurel dan aunia bergantian.


Mendengar ucapan Aleta, aunia melirik Aurel yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Aurel, kok kamu udah pulang sih?" tanya aunia menghampirinya.


"Papa bilang__" ucapannya terpotong ketika aunia melanjutkan ucapannya.


"Papa bilang aku bakal nyelakain mama? yah gak mungkin lah Aurel, aku juga anak mama kalau bukan karena mama aku gak bakalan ada di dunia ini" tebak Aurel.


"Jadi papa bohongin gue?"


"Aku gak bakalan jawab, tapi kamu bisa simpulkan sendiri" balasnya.


"Ini ada apa? ada yang bisa jelasin sama mama? trus Aurel yang mana? kenapa kalian mirip" tanya Aleta tak mengerti.


"Aku Aurel ma" jawab Aurel.


"Kalau kamu Aurel dia siapa?"


"Dia aunia ma, papa nyembunyiin dia dari kita" jawab Aurel.


"Aunia? Aunia siapa?" Aleta semakin tak mengerti dengan ucapan Aurel.


"Aku aunia ma, anak mama" ujar Aunia.


"Tapi saya gak punya anak namanya aunia" bantah Aleta.


"Anak saya hanya Aurel dan_" Aleta menghentikan ucapannya.


"Aulia, tapi dia udah meninggal karena kecelakaan 5 tahun lalu" lanjutnya.


"Dia Aulia leta, aku mengganti namanya" ujar Gio yang baru memasuki rumah.


"Aulia, dia beneran Aulia?" tanya Aleta memastikan.


"Iya, Maafin aku udah sembunyiin ini dari kalian semua" sesal Gio.


.


.


.


Thanks udah baca :)

__ADS_1


See you next part ^_^


__ADS_2