PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 42


__ADS_3

Setelah kejadian semalam, Aurel menjadi khawatir dengan keadaan Aunia. Ia selalu mengawasi apa pun yang dilakukan Aunia.


Aunia dan Aleta yang sedang memasak di dapur pun ia awasi terus menerus.


"Aunia, kamu potong kubisnya ya" pinta Aleta.


"Iya ma" Aunia mengambil kubis yang ada di dalam kulkas.


"Ambilin pisaunya ma" ujar Aunia karna pisau dapur terletak di samping Aleta.


Aleta memberikan pisau yang diminta Aunia. Berbeda dengan Aleta yang terlihat biasa-biasa saja dengan Aunia, karna ia tak mengetahui ada masalah apa dengan diri Aunia. Aurel justru menjadi was-was ketika tangan Aunia mengambil pisau tersebut. Sekelebat bayangan kejadian tadi malam kembali terlintas di fikirannya. Dimana Aunia dengan sengaja melukai tangannya sendiri dengan pisau, hingga darah segar mengalir dari pergelangan tangannya.


"Aunia, biar gue aja!" ujar Aurel langsung menyerobot pisau ditangan Aunia.


Aunia yang tau kalau Aurel tengah mengkhawatirkannya hanya diam dan memberikan pisau dapur itu pada Aunia.


"Tumben kamu mau bantu" ledek Aleta.


"Emangnya kenapa si ma, salah aku bantu mama?" balas Aurel.


"Gak salah sih, tapi tumben aja gitu" kekeh Aleta.


Aurel hanya diam mendengar perkataan mamanya sembari menahan kesal. Selama ini ia memang jarang membantu Aleta di didapur. Tapi sudahlah, bukan itu tujuan Aurel, ia hanya ingin jika Aunia aman dan tidak melukai dirinya sendiri lagi.


Selesai memasak Aurel segera mengajak Aurel ke kamar untuk berbicara empat mata dengannya.


"Mau kemana?" tanya Aleta, saat melihat Aurel menarik tangan Aunia.


"Kamar bentar ma" balas Aurel.


"Yaudah cepat, kita makan bareng" pinta Aleta.


"Iya ma" balas Aurel dan Aunia.


Setibanya di kamar Aurel menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


"Kok ditutup?" tanya Aunia.


"Gue mau ngomong penting sama Lo" balas Aurel.


"Mau ngomong apa?"


"Sejak kapan Lo mulai ngelukain diri sendiri kayak semalam?" tanya Aurel to the point.


Aunia tertunduk, ia malu mengakui dirinya sendiri. Ia sadar jika perbuatannya itu memang tidak patut untuk dilakukan. Tapi ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri, jika darah segar itu tak ia lihat dalam sehari.


"Sejak aku berhenti mutilasi organ-organ tubuh manusia" balas Aurel dengan wajah tertunduk.


"Tapi kenapa Lo ngelukain diri Lo sendiri?"


"Karna darah itu kayak kehidupan buat aku rel, kalau aku gak liat darah segar secara langsung, maka aku akan kehilangan kontrol atas diriku sendiri, aku gak mau ngelukain kalian, kamu ngerti gak sih rel?"


"Kita ke psikiater ya" bujuk Aurel.


"Ngapain?"


"Buat obatin penyakit Lo"

__ADS_1


Sejenak Aunia terdiam, lalu ia mengangguk mengiyakan ucapan Aurel.


"Iya" ujarnya.


Aurel senang karna Aunia mau mendengarkannya. Keduanya saling berpelukan memperlihatkan betapa keduanya sangat menyayangi satu sama lain.


.


.


.


Seminggu telah berlalu, Aurel selalu rutin membawa Aunia berkonsultasi dengan Psikiater. Namun, usahanya itu belum juga membuahkan hasil. Aunia masih sering keluar malam dan melukai dirinya sendiri.


Hingga Aurel rela memberikan tangannya untuk disayat agar Aunia tak melukai dirinya sendiri.


"Udah yang keberapa kalinya?" tanya Aurel, ketika ia mendapati Aunia tengah memegang pisau dan bersiap menyayat tangannya lagi.


"Maaf rel, penyakit Aku gak akan sembuh" lirih Aunia.


Tanpa menjawab ucapan Aunia, Aurel malah menyodorkan pergelangan tangannya pada Aunia.


"Kenapa rel?" balas Aunia, ia sangat mengerti jika Aurel rela tangannya terluka agar ia tak melukai dirinya sendiri.


"Gak papa kok, gue kasian sama tangan Lo, liat tuh udah pada luka semua" balas Aurel dengan senyum hangatnya.


"Maaf!" pekik Aunia, ketika pisau itu menyayat tangan Aurel. Darah segar mengalir dari pergelangan tangannya dengan deras.


Aurel memejamkan matanya menahan sakit yang terasa pada tangannya.


Aunia langsung memeluk Aurel, ia menangis sekencang-kencangnya di pelukan Aurel.


"Gue janji, gue bakalan rutin konsultasi" ujarnya diringi suara serak dan tangis.


"Gue seneng dengernya" balas Aurel.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, Aleta tengah berkutat di dapur. Ia mempersiapkan sarapan untuk kedua putrinya yang masih tertidur.


Selesai memasak ia menghidangkannya di meja makan. Lalu ia kembali ke kamar untuk bersiap.


Hari ini ia akan melanjutkan memimpin perusahaan yang di kelola Gio selama hidupnya.


Beberapa hari yang lalu staf kantor Gio menelfonnya memberi tau kalau perusahaan dalam ambang kebangkrutan. Hal itu disebabkan karena perusahaan tak memiliki pemimpin yang bisa mengelola perusahaan nya itu.


Aleta yang tak ingin jika perusahaan yang telah dirintis Gio dari nol kandas. Akhirnya memilih membangkitkannya kembali.


Aleta yang telah siap dengan pakaian kantornya segera menuju meja makan untuk sarapan. Kedua putrinya belum bangun, Aleta terpaksa harus sarapan sendiri. Ia juga tak tega membangunkan kedua putrinya itu. Apalagi sekarang Aurel sudah libur sekolah setelah ujian akhirnya. Aurel hanya tinggal menunggu waktu kelulusannya di umumkan.


Selesai makan Aleta menuliskan beberapa bait kata untuk kedua putrinya di meja makan. Lalu ia berangkat dengan taksi online yang telah ia pesan.


.

__ADS_1


.


.


Aurel dan Aunia menggeliat bersamaan. Sinar matahari yang menembus melalui tirai-tirai jendela mengusik tidur kedua gadis kembar itu.


"Jam berapa nih? tumben mama gak bangunin kita?" ujar Aurel yang baru saja melihat jam Beker.


"Gak tau, ketiduran kali" balas Aunia.


"Mungkin aja sih"


"Gue mau mandi dulu" ujar Aunia, ia langsung mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Setelah Aunia selesai mandi giliran Aurel yang mandi selanjutnya.


Keduanya merasa lega karena telah mandi. Aurel dan Aunia keluar dari kamarnya dan menuju meja makan.


"Makanan udah siap tu, kayaknya mama di dapur de" ujar Aurel setelah melihat makanan telah tersaji.


"Bisa aja, Aku cek ke dapur dulu" balas Aunia.


"Iya"


Aunia menuju dapur untuk mencari mamanya, namun ia tak menemukannya. Sementara itu Aurel yang sudah duduk di kursi pun tak sengaja melihat surat yang ditinggalkan Aleta di meja makan.


Hai my twins..


Udah pada bangun yah?


Pasti kalian nyariin mama, kalian tenang aja mama gak papa kok


Sarapan udah mama siapin, kalian makan aja


Nanti sore mama pulang kok


Mama lagi berjuang buat bangkitkan perusahan papa yang hampir bangkrut


Doain mama yah


~Your mom


Setelah membaca surat yang ditinggalkan Aleta, Aurel langsung memanggil Aunia.


"Aunia! sini deh" ujar Aurel.


Aunia yang dipanggil pun segera menghampiri Aurel.


"Kenapa?" tanya Aunia.


"Liat" ujar Aurel, ia memberikan surat yang baru saja ia temukan.


Aunia membaca surat itu dengan seksama.


"Mama kerja rel" ujar Aunia.


"Iya"


Aurel dan Aunia hanya bisa berdoa untuk mamanya. Semoga mamanya bisa lancar dalam pekerjaan. Rasa ingin membantu ada dalam hati keduanya. Namun, mereka sadar jika mereka ikut membantu pun tak ada gunanya karna Aurel dan Aunia tak mengerti apa-apa tentang dunia bisnis.

__ADS_1


__ADS_2