PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 51


__ADS_3

Aurel segera keluar dari toko itu dan menghampiri Darren.


"Maaf, lama banget yah?" tanya Aurel bersalah.


"Iya, dari mana aja?"


"Tadi ada insiden dikit, tapi lupain aja, gak penting juga" balas Aurel, ketika ia mengingat pria menyebalkan di toilet itu.


"Oh" singkat Darren.


"Lo ngambek?" tanya Aurel, yang sadar jika sikap Darren mulai dingin padanya.


"Gak, Ayo gue anterin pulang" Ajak Darren, ia berjalan duluan meninggalkan Aurel.


"Darren kenapa sih?" batin Aurel, melihat punggung Darren yang mulai menjauh. Lama larut dalam fikirannya yang tak berujung, Aurel akhirnya memilih mengejar Darren.


Sepanjang perjalanan pulang Darren tak banyak bicara. Aurel yang tak punya topik pembicaraan pun hanya diam menikmati suasana canggung yang kian terasa.


"Makasih udah nemenin gue" ujar Aurel, ketika ia sudah ada di depan rumahnya.


"Sama-sama, yaudah gue pamit" ujar Darren melajukan motornya.


Aurel hanya bisa melihat sosok Darren yang mulai hilang dari pandangannya.


"Kenapa gue ngerasa sikap Darren dingin banget ya" gumam Aurel.


Tak ingin terlalu overthingking Aurel pun memasuki rumahnya.


Baru beberapa langkah Aurel memasuki rumah, suara bel rumah berbunyi.


"Siapa lagi sih?" jengah Aurel, ia yakin jika Darren sudah meninggalkan rumahnya. Lalu siapa lagi tamu yang datang ke rumahnya.


Suara bel rumah yang terdengar semakin nyaring itu pun membuat Aurel mau tak mau beranjak untuk membukakan pintu.


Ceklek


Aurel menatap kesekeliling rumah, tak ada seorang pun.


"Gak ada orang, trus yang mencet bel siapa?" pikirnya.


Saat Aurel ingin menutup pintu kembali, ia tak sengaja melihat kearah lantai. Tepat pada kakinya terdapat sebuah kotak kado yang telah terbungkus rapi.


Aurel mengambil kotak tersebut.


"Gak ada nama pengirimnya" ujar Aurel ketika ia melihat kotak kado tersebut.


Aurel yang penasaran pun, membawa kotak tersebut kedalam rumah. Ia segera menuju kamarnya untuk menemui sang kembaran.


"Aunia, lihat deh gue nemuin apa?" ujarnya sembari menutup pintu kamar.


Aunia yang sedang melukis pun melihat sekilas, lalu kembali melanjutkan lukisannya.


"Apa?" tanyanya.


"Gue nemuin kotak kado depan pintu"


"Dari siapa?"


"Gak tau, gak ada nama pengirimnya"


"Mungkin Darren kali, dia pengen ngasih kejutan sama kamu"


"Tapi Darren udah pulang"

__ADS_1


"Kalau kamu penasaran, buka aja, mungkin didalamnya ada jawaban dari semua pertanyaan kamu" saran Aunia tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisan yang hampir selesai itu.


Aurel segera membuka kotak kado itu, raut wajah penasarannya seketika berubah menjadi kaget.


"AAHHHHH!!" pekiknya melemparkan kotak tersebut hingga terlempar ke lantai.


"Kenapa?" tanya Aunia khawatir. Ia segera meletakkan alat lukisnya dan menghampiri Aurel.


"Itu!" tunjuk Aurel pada kotak kado yang sudah tergeletak di lantai.


Aunia segera melihat kotak kado yang dilemparkan Aurel. Matanya langsung melotot kaget ketika melihat apa yang ada dalam kotak tersebut.


"Astaga, ini kerjaan siapa? kenapa iseng banget" ujar Aunia, ketika ia melihat mayat tikus yang sudah tak berbentuk di dalam kotak kado itu.


"Kamu nemuin ini di mana?" tanya Aunia.


"Depan pintu" balas Aurel, ia masih sangat syok dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Kamu tunggu sini, biar aku cek" ujar Aunia.


"Gue ikut" Seru Aurel cepat.


"Kamu yakin?" tanya Aunia, ia sangat mengerti jika Aurel sedang syok.


"Iya"


Aunia segera menuju pintu rumah dengan Aurel yang masih bergelayutan di tangannya.


"Disini gak ada siapa-siapa" ujar Aunia, ketika ia melihat sekeliling rumahnya.


"Gue merinding nih, kita gak diteror kan?" tanya Aurel.


"Gak boleh ngomong gitu, palingan orang iseng doang itu" balas Aunia mencoba menenangkan Aurel.


"Dari pada kamu ketakutan gini, mending kamu masuk trus istirahat, pasti capek kan" ujar Aunia.


"Iya"


"Mending kamu mandi dulu, biar lebih fresh" saran Aunia.


"Iya" angguk Aurel. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


.


.


Keesokkan harinya...


Setelah beberapa hari berisitirahat Andra sudah merasa lebih baik. Badannya tak lagi terasa lemas.


Pukul tujuh pagi, Andra sudah siap dengan pakaian jogingnya. Setelah beberapa hari berbaring, Andra memutuskan untuk berolahraga agar semua sistem sarafnya tidak kaku.


Beberapa putaran keliling kompleks perumahan. Keringatnya sudah bercucuran deras, ia segera kembali ke rumah.


Segelas air putih menjadi tujuannya sesampai dirumah. Setelah meneguk air putih segelas penuh, Andra kembali ke kamarnya dan membersihkan diri.


"Aurel mana?" tanya Andra saat ia keluar kamar dan tak mendapati Aurel ada di meja makan.


"Sakit, lagi istirahat" balas Aunia.


"Kok bisa, kemarin masih sehat-sehat aja" balas Andra, ia duduk di meja makan.

__ADS_1


"Kemarin ada yang ngirim kotak kado, didalamnya ada tikus yang udah gak berbentuk, Aurel kaget banget pas buka kotak itu, mungkin karna syok kali yah, jadinya sampai sakit"


"Hmm, trus yang ngirim kotak itu siapa?" tanya Andra.


"Gak ada nama pengirimnya, pas aku liat di depan rumah juga gak ada orang sama sekali"


"Gue cek Aurel dulu" ujar Andra, ia beranjak dari kursinya.


Tok Tok Tok


"Rel, gue masuk ya" ujar Andra setelah berkali-kali mengetok pintu kamar.


"Masuk aja ndra" balas Aurel dengan suara serak.


Andra membuka pintu kamar Aurel, terlihat Aurel yang tertidur dengan dahi dikompres.


"Kenapa bisa sakit?" tanya Andra.


"Gak papa, bentar lagi juga sembuh" balas Aurel.


"Gue nanya kenapa, bukan kapan" sewot Aurel.


"Gak usah judes-judes, gue lagi sakit" kekeh Aurel dengan suara lemahnya.


"Udah minum obat?" tanya Andra.


"Udah" Angguk Aurel.


"Yaudah istirahat gih" pinta Andra, menyelimuti Aurel. Ia melangkah keluar dari kamar Aurel dan kembali menghampiri Aunia yang masih sarapan sendirian.


Andra menggeser kursinya dan ikut duduk di meja makan.


"Gimana?" tanya Aunia.


"Lagi istirahat anaknya" balas Andra sembari menyendok nasi.


.


.


.


Langkah kaki terus saja terdengar di dalam ruangan yang cukup luas itu. Beberapa kali terdengar suara gerutuan dari mulut seorang pria. Ia berulang kali menghubungi seseorang tapi tak kunjung di jawab.


"Aurel kemana sih? kenapa telfon gue gak angkat" Rutuk Darren.


Kesal karena panggilan telfonnya tak kunjung di angkat. Darren langsung menyambar kunci motor dan jaketnya.


Tujuannya sekarang adalah rumah Aurel. Entah kenapa perasaannya menjadi tak karuan ketika panggilan telfonnya tak kunjung di angkat oleh Aurel.


Setibanya di rumah Aurel, Darren langsung memarkirkan motornya.


Beberapa kali bel rumah ia pencet, hingga menampakkan Aunia dari ambang pintu.


"Darren, tumben pagi-pagi udah kesini?" tanya Aunia.


"Aurel dimana? kenapa gue telfon gak diangkat-angkat?" tanya Darren dengan nada khawatir.


"Aurel lagi istirahat, dia sakit karna kemarin ada yang neror kita pakai bangkai tikus yang udah gak berbentuk" jelas Aunia.


"Trus keadaan Aurel gimana? dia baik-baik ajakan?" tanya Darren bertubi-tubi.


"Dia baik-baik aja, cuman syok doang"

__ADS_1


"Gue mau liat kondisi Aurel"


"Dia dikamar, kamu masuk aja! ada Andra juga didalam lagi makan, aku mau berangkat ke tempat lukis" ujar Aunia, ia segera menghampiri taksi yang tadi ia pesan.


__ADS_2