
"Kayla mana?" Tanya Aurel.
"Gak tau, apa mungkin dia pergi sama Andra? Andra dan Mikha juga gak ada" balas Darren.
"Bentar, aku telfon Andra dulu!"
Aurel langsung menelfon Andra.
"Halo"
"Halo ndra, Kayla sama kamu gak?" Tanya Aurel.
"Enggak, cuma ada Mikha sama Rendy di sini" balas Andra.
"Gak ada?"
"Iya, tadi rendy mau makan! Tadinya sih mau ngajak kalian. Tapi, Ngeliat Kayla mau naik bianglala, aku ngajak Rendy makan aja. Emangnya Kayla gak sama kalian? Sorry ya kita gak pamit dulu"
"Gak, gak tau kemana itu anak"
"Mungkin dia naik bianglala, kamu tau sendiri Kayla anaknya gak sabaran"
"Bisa aja, aku cek dulu"
Aurel kembali menutup panggilannya.
"Sama Andra?" Tanya Darren.
"Gak ada, kita cek sama petugas bianglala aja, mungkin dia liat anak kita"
Darren dan Aurel segera menuju bianglala. Keduanya menanyai petugas dengan memperlihatkan foto Kayla.
"Maaf pak, Bu. Anak itu gak naik kesini!" Ujar petugas.
"Coba liat baik-baik pak, mungkin bapak keliru?" Ujar Aurel.
"Maaf Bu, saya ingat betul anak ini tidak naik bianglala ini"
"Kita cari ke tempat lain aja! Mungkin Kayla gak ke sini!" Ajak Darren, agar Aurel tak menimbulkan keributan.
Darren menarik Aurel sedikit menjauh dari keramaian.
"Kayla kemana?" Tanya Aurel khawatir.
"Kamu tenang dulu, kita cari Kayla di sekitaran sini ya! Aku ke sana, kamu ke situ!" Pinta Darren.
"Nanti kita ketemu di sini lagi!" Lanjutnya.
"Hm, iya"
Aurel dan Darren mencari ke arah yang berlawanan. Mereka menyusuri pasar malam yang cukup ramai itu. Tapi sekeras apa pun usaha mereka untuk menemukan Kayla. Tetap saja gadis kecil itu tak juga di temukan.
Aurel dan Darren kembali ke tempat semula mereka berpisah. Mereka berharap jika yang lainnya dapat menemukan anaknya.
Namun, saat kedunya bertemu kembali. Mereka hanya membawa tubuh mereka sendiri. Tak ada Kayla.
"Kayla mana?" Tanya Aurel.
"Gak ketemu" balas Darren.
"Trus Kayla kemana? Gak mungkin dia hilang sendiri!" Ujar Aurel sangat khawatir.
"Bentar, aku hubungin Andra dulu!" Balas Darren. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Andra.
"Halo ndra, Kayla sama kamu gak?"
"Gak tuh, Kayla belum ketemu juga?" Terdengar suara Andra bertanya balik padanya di seberang telfon.
__ADS_1
"Belum"
"Kalian di mana? Biar kita susulin ke sana"
"Di dekat bianglala"
Darren mengakhiri panggilannya.
"Apa kata Andra?" Tanya Aurel.
"Kayla gak sama dia"
"Kay, kamu kemana? Jangan bikin Mama khawatir" ujarnya.
"Tenang, kita tunggu Andra dulu" ucap Darren.
"Mana bisa tenang, anak aku hilang!" Balas Aurel dengan nada meninggi.
"Aku ngerti, tapi kalau kamu panik gini kita gak bakalan nemu jalan keluarnya"
Hilangnya Kayla secara mendadak membuat Aurel tak bisa berfikir dengan jernih. Segalah hal yang menyangkut putrinya itu. Entah kenapa membuatnya sangat mudah marah.
Aurel kembali melirik pada tempat Kayla berdiri sebelum anaknya itu menghilang. Sesuatu menarik perhatiannya. Aurel menghampirinya dan memunguti sesuatu itu.
Jam tangan Kayla. Aurel ingat betul, jam tangan itu adalah jam tangan yang baru ia beli untuk Kayla seminggu yang lalu. Dan Kayla sangat menyukainya. Hingga anaknya itu, selalu menggunakan jam tangan itu kemana pun ia pergi.
"Darren, liat! Ini jam tangannya Kayla" ujar Aurel memperlihatkan jam tangan yang baru yang baru saja ia pungut dari tanah.
"Kamu yakin?"
"Iya, aku yakin. Jam tangan ini baru aku beli seminggu yang lalu. Kayla suka banget sama jam ini. Dia selalu make jam tangan ini kemana pun"
"Darren! Aurel!" Panggilan dari Andra membuat keduanya menoleh.
"Andra!" Seru Aurel.
"Tadi aku sama Darren lagi diskusi tentang Naya yang belum sampe Singapura sampai sekarang" balas Aurel.
"Naya belum sampe Singapura? Bukannya dia udah berangkat kemarin?" Tanya Andra.
"Iya, tiba-tiba aja Naya ngilang dan nomornya gak bisa dihubungin. Teman-temannya juga gak ada yang tau"
"Aneh banget, pertama Naya sekarang Kayla" Andra tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Aku nemuin jam tangan Kayla di sana!" Ujar Aurel.
"Mikha sama Rendy mana?" Tanya Darren.
"Aku suruh tunggu di mobil, Rendy ngantuk banget keliatannya"
Ting
Sebuah notif pesan dari ponsel Aurel. Aurel segera memeriksanya.
+62*********07**
Balik ke jakarta sekarang!
Datang ke gudang tua di pusat kota!
Kalau gak adik ipar, anak kamu, ipar kamu dan keponakan tersayang mu ini tidak akan selamat***!
Salam dari masa lalu mu
Aurel melotot kaget melihat pesan yang ia baca.
"Kita harus balik ke Jakarta sekarang!" Ujar Aurel.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Darren.
"Naya, Kayla, Mikha sama Rendy di culik" ujar Aurel.
"Bukannya Mikha sama Rendy di mobil?" Tanya Darren pada Andra.
Sontak Andra langsung berlari menuju mobil. Sesampainya di parkiran, ia langsung membuka pintu mobilnya.
Dan,
Kosong.
"Mikha! Rendy!"ujar Andra.
Kedua anak dan ibu itu sudah tak ada di mobil.
"Gak ada waktu, kita harus balik ke Jakarta sekarang!" Ujar Aurel.
"Iya, Aurel benar!" Balas Darren.
Aurel dan Darren langsung memasuki mobil. Dan Andra yang mengemudikannya menuju Jakarta.
Dengan kecepatan tinggi Andra melajukan mobilnya. Ia sangat khawatir dengan anak dan istrinya. Begitu juga pada Naya dan kayla.
"Dari mana kamu tau kalau mereka di culik?" Tanya Andra. Tapi ia masih tetap melajukan mobil.
"Tadi ada yang ngirim pesan sama aku. Aku di suruh ke gudang tua di pusat kota" balas Aurel yang duduk di kursi belakang.
"Siapa yang ngirim?"
"Aku gak tau, nomor gak dikenal. Tapi di akhir pesan dia bilang (Salam dari masa lalu mu!)"
"Masa lalu?" tanya Darren tak mengerti.
"Iya"
🥀
Jakarta
Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai di Jakarta. Andra langsung melajukan mobilnya menuju gudang tua yang terletak di pusat kota.
Andra menghentikan mobilnya di depan gudang tua. Mereka turun dari mobil dan menatap heran pada gudang tua tersebut.
"Kamu yakin ini tempatnya?" tanya Andra.
"Iya, aku yakin!" balasnya.
"Kita masuk?" tanya Darren.
"Entah kenapa perasaan aku gak enak banget waktu mau masuk ke gudang ini" ujar Andra.
"Aku juga" balas Aurel. Ia merasakan sebuah firasat yang membuatnya sangat gelisah.
"Tapi kita harus masuk buat nyelamatin anak-anak kita" ujar Darren.
Mereka tak punya pilihan lain. Walaupun hati mereka mengatakan untuk tidak masuk. Tapi fikiran mereka mengalahkannya. Karna anak-anak jauh lebih penting dari keselamatan mereka sendiri.
Tepat saat mereka telah memasuki gudang. Aurel kembali mendapatkan pesan.
+62*********07**
Lantai paling atas***!
"Lantai paling atas" lirihnya membaca pesan.
"Ayo!" Andra berjalan lebih dulu. Ia menaiki tangga satu persatu untuk menuju lantai atas. Begitu juga Darren dan Aurel yang mengikuti dari belakang.
__ADS_1