PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 70


__ADS_3

Darren memarkirkan motornya di parkiran kampus. Setelah melepaskan helm, ia langsung memasuki kampus menuju kelasnya.


Langkah lebarnya menggema disepanjang lorong. Namun dering ponselnya menghentikan langkahnya.


"Halo"


"Darren gue udah dapet info dari nomor yang Lo kasih, posisi terakhirnya ada di Bandung, tapi gue gak tau tepatnya di mana"


"Oh gitu ya, yaudah gak papa, thanks ya infonya"


Darren kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Pulang kuliah aja gue kasih taunya" gumam Darren sembari melangkahkan kakinya.


.


.


.


Seperti biasa, saat memasuki rumah Aurel. Darren tak lagi merasa sungkan. Ia langsung masuk dan segera menuju kamar Aurel. Karna meminta izin pun mama Aurel pasti sudah pergi bekerja.


Baru saja melewati ruang tamu. Darren sudah di kagetkan oleh sebuah suara yang terdengar sangat familiar.


"Hem Hem" dehemnya.


Darren berbalik melihat orang berdehem tepat di belakangnya.


"Eh Tante, apa kabar Tan?" Sapa Darren cengengesan.


"Mau kemana kamu? Nemuin Aurel?" Tanya Aleta tegas.


"I_iya tan" balas Darren gugup.


"Lain kali, kalau mau masuk rumah bilang assalammualaikum jangan main nyelonong aja" balas Aleta dengan tatapan mengintimidasi.


"Maaf tan" sesal Darren menundukkan kepala.


"Nih kamu bawain sarapan Aurel, dia belum makan siang. Jangan lupa suruh dia minum obat, Tante masih ada kerjaan di kamar" pinta Aleta.


"Siap tan"


Darren merasa lega, karna ia pikir Aleta akan memarahinya. Tapi ternyata ia hanya memberi peneguran agar ia bersikap lebih sopan ketika memasuki rumah.


Dengan semangat Darren membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Aurel.


Tok Tok Tok


"Gak di kunci kok ma" balas Aurel dari dalam kamar setengah berteriak.


Darren perlahan membuka pintu kamar Aurel.


"Tumben mama ngetok pintu, biasanya langsung masuk" ujar Aurel masih sibuk dengan hp nya.


"Karna gue bukan mama Lo" balas Darren.


Aurel langsung melupakan hp nya ketika suara Darren terdengar di telinganya.


"Darren? Lo kok disini?" Tanya Aurel.


"Nih gue bawain makanan buat Lo, makan gih!" Pinta Darren. Memberikan nampan yang berisi makanan pada Aurel.


Aurel hanya diam dengan muka cemberut.


"Kenapa?" Tanya Darren tak mengerti.


"Suapin" balas Aurel manja.


"Hehe dasar manja" kekeh Darren.


"Biarin" ujar Aurel menjulurkan lidahnya.


Meski begitu Darren tetap menyuapi Aurel makan. Aurel sangat senang karna Darren mau menyuapinya. Ia terus mengembangkan senyum sampai makanannya habis ia makan.


Darren meletakkan nampan yang berisi piring dan gelas di atas Nakas.


"Gue mau kasih tau sesuatu" lirihnya.


"Apa?"

__ADS_1


"Tentang Aunia"


"Aunia udah ketemu?" Tanya Aurel penasaran.


"Belum, tapi gue nyuruh orang buat lacak nomor hp Aunia, dan posisi terakhirnya ada di Bandung"


"Apa mungkin Aunia ke rumah itu?" Pikir Aurel.


"Gue juga mikir gitu, tapi kemungkinan kalau Aunia gak kesana juga ada"


"Gak ada salahnya kan, kita cek kesana?" Tanya Aurel.


"Iya, tapi kondisi Lo gak memungkinkan buat perjalanan jauh" balas Darren mengingatkan.


"Gue bisa kok, Lo gak usah khawatir"


"Gak ada, gue gak bakalan biarin Lo pergi!" Dengan Darren.


"Tapi gue harus cari Aunia Darren!" Balasnya tak mau kalah.


"Gue gak setuju Lo pergi dalam keadaan kayak gini, seenggaknya Lo tunggu kondisi Lo pulih dulu"


"Tapi kita gak tau, apa yang bakal di lakuin Aunia kalau kita terlambat sedetik aja, gue masih inget dia pernah ngelukain tangannya sendiri, bisa aja nanti dia lebih nekat lagi!"


"Yaudah, gue suruh Andra buat liat kesana! Kalau Aunia ada, kita kesana besok. Kalau gak Lo tetap disini buat pulihin kondisi Lo"


"Setuju" balas Aurel semangat.


Darren langsung mengeluarkan ponselnya.


"Halo, ndra Lo bisa bantu gue gak?"


"..."


"Lo tolong cek rumah lama Aurel, disana ada Aunia gak?"


"..."


"Iya sekarang Masa tahun depan!"


"..."


Darren mengakhiri panggilannya, ia menatap Aurel dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Udah" ujar Darren.


"Makasih" balas Aurel tersenyum senang.


"Makannya udah, sekarang minum obat ya?"


"Iya" angguk Aurel.


Darren mengambilkan obat Aurel dan memberikannya pada Aurel. Setelah Aurel menelannya, Darren memberikan segelas air putih untuknya. Hal itu bertujuan agar obatnya mudah ditelan.


"Darren" panggil Aurel.


"Hemm"


"Gue kan udah makan, udah minum obat juga"


"Trus?"


"Jalan-jalan keluar yuk, bosan nih" rengek Aurel.


"Jalan aja gak bener, malah mintak jalan-jalan" ketus Darren.


"Kok gitu sih, kalau gak mau yaudah! Gak usah!"


Aurel memalingkan wajahnya dari Darren. Tangannya ia silangkan di dada.


Jika tak mau mengajaknya jalan-jalan keluar. Kenapa harus mengejeknya. Tubuhnya memang masih dalam kondisi yang tidak stabil. Tapi bukan berarti ia harus diam di kamar terus-menerus. Ia juga ingin merasakan udara lepas, bukan kamar yang semakin hari semakin pengap.


Bukannya ia tak bersyukur. Tapi menikmati udara luar juga baik untuk kesehatan. Beraktifitas juga dapat melancarkan peredaran darah.


Tubuhnya sudah pegal seharian hanya berbaring di kamar. Tapi saat ia minta di ajak jalan-jalan saja, Darren sampai mengejeknya tidak bisa berjalan dengan benar. Memang menjengkelkan.


Darren hanya bisa menghela nafasnya kasar. Ia sudah bisa menebak, jika Aurel tengah mengomelinya dengan sumpah serapahya di dalam hati.


"Yaudah ayo!" Ujar Darren, kali ini ia harus mengalah. Dan juga tugasnya bertambah karna harus memastikan jika Aurel tidak apa-apa. Tubuhnya yang masih tidak stabil membuat Darren sedikit ragu untuk membawanya keluar.

__ADS_1


Tapi apalah daya dirinya. Ia tak bisa apa-apa jika Aurel sudah marah kepadanya.


"Yang bener?" Tanya Aurel tanpa mengalihkan pandangan.


"Iya"


"Yeyy, gitu dong kan gue seneng dengernya" balas Aurel semangat. Memang sangat mudah mengubah mood seorang Aurel. Hanya dengan menuruti moodnya saja, hari yang mendung bisa langsung cerah dengan sinar matahari.


"Tapi pakai kursi roda"


"Okay" balas Aurel, ia tak mempermasalahkan hal itu.


Beruntungnya Aleta punya kursi roda yang sebelumnya ia beli untuk aktivitasnya sehari-hari selama hamil. Karna saat mengandung kedua putri kembarnya, kandungannya sangat lemah. Sehingga ia harus berhati-hati setiap saatnya.


"Kamu pakai ini aja, ini kursi roda yang mama pakai waktu hamil kamu sama Aunia" ujar Aleta.


"Mama pakai kursi roda saat hamil aku sama Aunia?" Tanya Aurel.


"Iya, karna kandungan mama lemah dan rentan keguguran, beruntungnya mama masih bisa ngelahirin kalian dengan selamat" balas Aleta.


"Tan, maaf sebelumnya" ujar Darren.


"Iya, kenapa?" Tanya Aleta.


"Kursi rodanya, apa gak bahaya buat Aurel, secara kursi rodanya udah lama banget" ujar Darren ragu.


"Kamu tenang aja, ini aman kok"


"Yaudah deh tan"


"Tante tau kamu cemasin Aurel, tapi kursi ini beneran gak papa kok, ini aman Tante selalu ngerawatnya. Biar Tante bisa ngingat kenangan betapa kerasnya perjuangan Tante buat perjuangin mereka supaya bisa melihat dunia" balas Aleta haru.


"Maaf tan, aku gak maksud buat Tante sedih" ujar Darren bersalah.


"Gak papa, sekarang kamu ajak Aurel jalan-jalan ya, dia pasti bosen di kamar terus" pinta Aleta.


"Iya Tan"


.


.


.


Suasana taman di sore hari selalu sejuk. Banyaknya orang tua yang menghabiskan waktu bersama anaknya. Dan muda mudi yang tengah asyik dengan pasangan mereka masing-masing.


Darren terus mendorong kursi roda Aurel mengelilingi taman. Wajahnya tampak senang hanya dengan berkeliling dan melihat-lihat keadaan sekitar.


"Kita berhenti dulu ya, gue capek" ujar Darren, ia langsung duduk di atas rerumputan yang sudah menjalar di seluruh tanah.


"Maaf ya" lirih Aurel, ia merasa bersalah pada Darren. Gara-gara dirinya lah, Darren menjadi kelelahan sampai seperti ini.


"Kenapa minta maaf?" Bingung Darren.


"Gue yang bikin Lo capek"


"Tenang aja, kalau soal capek gue gak masalah, selama Lo seneng gue juga ikutan seneng kok" balas Darren dengan senyuman yang manis. Sungguh mampu membuat Aurel meleleh. Ditambah rambutnya yang sudah mulai panjang dan keringat yang membasahi pipinya. Sangat menambah kadar ketampanannya.


Aurel hanya diam menatap lekat Darren yang tersenyum padanya.


"Kenapa liatin Mulu? Gak bakalan ilang gue, kan masih hak milik Aurel" kekehnya.


"Peluk" ujarnya lirih.


"Dasar" balas Darren menyentil keningnya.


"Hehe" kekehnya.


Darren berdiri dari duduknya.


"Sini" ujar Darren bersiap memeluk Aurel. Aurel langsung memeluk Darren erat, ia sangat bahagia saat ini. Tuhan tak hanya menghadirkan sosok untuk mendampinginya. Tapi juga menghadirkan sosok yang mau menghargai dan mengerti dirinya lebih dari pada dirinya sendiri.


"Udah peluknya?" Tanya Darren.


"Udah" balas Aurel melepaskan pelukannya.


"Udah mau malam, mau pulang sekarang?" Tanya Darren.


"Iya" angguk Aurel. Entah sejak kapan ia menjadi sangat patuh seperti ini. Dan itu hanya karena Darren. Sosok yang tak akan pernah ia lepaskan dalam genggamannya.

__ADS_1


__ADS_2