
30 menit kemudian...
"Ahhh"
Aurel meregangkan tangannya yang terasa penat. Sudah berjam-jam ia habiskan hanya untuk mendatangani berkas.
"Akhirnya selesai juga" gumamnya.
Aurel memasukkan ponselnya kedalam Tas. Ia meninggalkan ruangannya. Dan menunggu Darren menjemputnya. Sebelum itu ia menghampiri pos satpam.
"Malam pak" sapa aurel.
"Malam Bu, ada apa Bu?"
"Nitip mobil saya ya pak"
"Baik Bu"
"Terimah kasih"
"Ibu kenapa belum pulang?" Tanya satpam.
"Biasa pak, lembur"
"Ohhh"
"Yasudah pak, saya tinggal. Sepertinya suami saya sudah jemput" pamit Aurel. Ia melihat mobil Darren berhenti tepat di depan kantornya.
"Baik Bu"
Aurel segera menghampiri mobil Darren yang berhenti tepat di depan lobi kantornya.
"Darren!" Panggilnya saat Darren ingin masuk kedalam kantor.
"Aku kira kamu masih di dalam"
"Gak, aku udah selesai. Tadi nitip mobil sama pak satpam"
"Pulang sekarang?"
"Iya"
Keduanya memasuki mobil. Ia segera pulang dan menuju rumah.
Di dalam mobil,
"Kamu tau aku ketemu siapa tadi siang?" Tanya Aurel.
"Siapa?"
"Arsy"
Reflek Darren langsung menghentikan mobilnya.
"Arsy?" Tanya Darren tak percaya.
Keterkejutannya membuat pengendara lain kesal karna tindakannya yang berhenti mendadak di jalan raya.
Tittttt Tittttt Tittttt
Suara klakson yang terdengar tak sabaran membuat Darren kembali melajukan jalan mobilnya.
"Shock banget ya? Denger nama dia lagi setelah lima belas tahun?" Tanya Aurel.
"Bukan gitu, aku pernah liat dia beberapa kali sih"
"Kamu pernah liat dia? Dimana?"
"Pertama di supermarket waktu aku lagi antri bayar di kasir, dan yang kedua waktu aku lagi kena macet di jalan"
"Kenapa gak ngasih tau aku?"
"Aku cuma gak mau kamu kembali sedih karna masalah lima belas tahun lagi"
"Yahhh, kejadian itu emang udah lama. Tapi kejadian itu masih terekam jelas di pikiran aku"
"Aku tau kamu terpukul karna kehilangan Aunia. Tapi menaruh dendam itu juga gak baik"
"Aku gak dendam, tapi buat maafin kesalahannya masih susah"
"Pelan-pelan aja"
🥀
Aurel dan Darren memasuki rumah. Di ruang tamu ia di sambut oleh Kayla yang sedang nonton televisi.
"Mama!" Pekiknya berhamburan ke pelukan Aurel.
__ADS_1
"Kay, kok sendirian?" Tanya Aurel.
"Iya ma, Binay di ajak nonton gak bisa, kakinya masih sakit. Binay kenapa sih ma? Kok kakinya di perban gitu?" Tanya Kayla.
"Binay keserempet motor sayang. Jadi Kayla jangan gangguin Binay dulu ya!"
"Iya ma"
"Yaudah sana nonton lagi, tapi habis itu tidur ya! Besok masih harus sekolah"
"Siap mama" balasnya. Kayla langsung kembali ke sofa untuk melanjutkan nontonnya.
"Aku mau liat Naya dulu" ujar Aurel.
"Iya, aku juga mau liat keadaannya"
Aurel dan Darren menuju kamar naya.
Tok Tok Tok
"Masuk aja" balas Naya.
Aurel dan Darren memasuki kamar Naya.
"Nay, gimana keadaan kamu?" Tanya Aurel.
"Udah membaik sih kak"
"Kenapa bisa kecelakaan gini sih? Kamu gak hati-hati ya?" Tanya Darren.
"Aku udah hati-hati kak, tapi yang namanya musibah gak ada yang tau"
"Udah jangan di marahin nayanya" larang Aurel.
"Tuh kak, dengerin!" Balas Naya.
"Seneng ya kamu di belain?"
"Iya dong" kekeh Naya.
"Oh ya nay, rencana kamu buat ke singapur gimana?" Tanya Aurel.
"Aku undur tiga hari kak. Kemungkinan dalam jangka waktu itu kaki aku udah mulai membaik"
"Yaudah, sekarang kamu istirahat. Kakak tinggal dulu"
🥀
Di kantor.
"Permisi Bu, ibu di tunggu oleh perwakilan pak Bryan di ruang meeting" ujar Chika.
"Kenapa pak bryan di wakilkan?" Tanya Aurel.
"Iya Bu, dia sedang mengantarkan istrinya ke rumah sakit"
"Siapa yang mewakilkannya?"
"Kalau saya tidak salah, adik pak Bryan sendiri Bu"
"Adik?"
"Iya Bu, apa ada masalah?" Tanya Chika.
"Tidak, kamu bisa kembali ke ruangan kamu"
"Baik Bu"
Chika keluar dari ruangan Aurel.
"Arsy" lirihnya.
Aurel beranjak dari kursinya dan segera menuju ruang meeting.
"Hai, kita ketemu lagi" ujar Arsy.
"Ya, jika bukan karna urusan pekerjaan saya tidak akan Sudi bertemu dengan kamu" balas Aurel dingin.
"Oh, baiklah. Kalau begitu mari kita mulai meetingnya" ujar Arsy.
"Jadi masalah apa yang ingin kamu diskusikan dengan saya?" Tanya Aurel.
"Proyek pembangunan apartemen di puncak"
"Ada apa dengan proyek itu?"
"Saya mendapat laporan jika bahan baku untuk pembangunan apartemen tersebut mengalami kecelakaan. Sehingga pembangunan apartemen tersebut di tunda"
__ADS_1
"Kenapa saya tidak mendapat laporan tentang ini?" Tanya Aurel.
"Saya tidak tau, sebaiknya kamu tanyakan pada sekretaris mu"
"Sebentar!"
Aurel menelfon Chika.
"Chika ke ruang meeting sekarang!"
"Baik Bu"
Setelah panggilan berakhir tak lama Chika datang dengan tergesa-gesa menuju ruang meeting.
"Ibu manggil saya?" Tanya Chika.
"Iya, saya dapat laporan jika bahan baku untuk pembangunan apartemen di puncak mengalami kecelakaan sehingga pembangunan tersebut tertunda. Kenapa kamu tidak melaporkannya pada saya?"
"Maaf Bu, saya juga baru dapat kabar setelah ibu masuk ke ruang meeting ini"
"Lalu kenapa pembangunan nya bisa tertunda?"
"Hal itu karna penyedia bahan baku perlu waktu untuk menyediakan bahannya lagi Bu"
"Apa tidak bisa cari penyedia bahan baku lain?"
"Bisa saja Bu, tapi kita tidak bisa menjamin jika kualitas bahan bakunya akan sama dengan yang biasa kita pakai"
"Yasudah, kamu bisa pergi" ujar Aurel.
"Baik Bu"
Setelah Chika keluar dari ruang meeting.
"Kenapa kamu bisa tau informasi itu sebelum kami?" Tanya Aurel penuh selidik.
"Bukan masalah besar untuk saya mendapatkan informasi dengan cepat tentang proyek itu"
"Sudahlah lupakan saja, kamu terlalu berbelit-belit dalam berbicara"
"Lebih baik kita kembali ke inti permasalahannya" lanjut Aurel.
"Baik"
"Jadi apa maksud kedatangan kamu kesini? Ingin proyek tersebut segera dilakukan?" Tanya Aurel.
"Jika saya mendesak, apakah kamu bisa mendapatkan bahan baku yang berkualitas seperti bahan baku yang biasa kamu pakai?"
"Tentu saja, beri saya waktu dua hari untuk mendapatkan penyedia bahan baku yang berkualitas"
"Tidak masalah"
"Baiklah jika tidak ada lagi yang akan di bahas, lebih baik jika meeting ini kita akhiri. Agar tidak membuang lebih banyak waktu"
"Time is money, pepatah yang tepat untuk kamu" kekeh Arsy.
🥀
Pukul 12.30
Aurel melirik jam tangannya. Sudah waktunya Kayla pulang dari sekolahnya.
Aurel segera meninggalkan ruangannya untuk menjemput putrinya di sekolah.
Tepat di gerbang sekolah Kayla. Aurel melihat putrinya itu tengah berdiri di depan gerbang sekolah bersama Rendy.
"Kayla" panggil Aurel. Ia menghampiri putrinya itu.
"Udah pulang?" Tanya Aurel.
"Udah ma, ini aku lagi nunggu mama jemput" balas Kayla.
"Yasudah, ayo pulang!" Ajak Aurel.
"Iya ma"
"Rendy ada yang jemput?" Tanya Aurel pada rendy.
"Gak tau Tan, kata bunda, ayah bakalan jemput, tapi sampai sekarang belum datang-datang" balas Rendy.
"Andra Andra, kebiasaan emang" gumam Aurel.
"Tante ngomong apa?" Tanya Rendy.
"Eh gak ngomong apa-apa" ujar Aurel.
"Rendy pulang sama Tante aja ya, biar Tante anterin pulang" tawar Aurel.
__ADS_1
"Boleh deh Tan" balas Rendy.