PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 79


__ADS_3

Ceklek


Ruang UGD yang terbuka mengalihkan pandangan mereka. Aleta, Aurel, Andra dan darren langsung mengerumuni dokter yang baru saja keluar.


"Bagaimana kondisi putri saya dok?" Tanya Aleta.


Dokter menghela nafas sebelum akhirnya mulai bersuara.


"Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi Tuhan lebih menyayangi putri ibu, kami tidak bisa menyelamatkan nya" ujar dokter.


Seperti di sambar petir, Aleta langsung terdiam kaku. Kesadarannya langsung hilang, mendengar kabar jika putrinya sudah tiada.


"Ma" ujar Aurel menopang tubuh Aleta.


Dengan cepat, Andra dan Darren membantu Aleta untuk duduk di kursi yang tersedia.


"Dokter bercanda kan? Saudara saya gak mungkin meninggal!" Bantah Aurel kembali menghadap dokter.


"Saya tidak bercanda, pasien memang sudah meninggal, dan pasien akan segera di pindahkan ke ruang jenazah"


"Saya permisi" lanjutnya.


Air matanya langsung mengalir membasahi pipinya. Tangisnya mulai terdengar perlahan. Saudara kembar yang baru saja ia temui, sekarang telah pergi meninggalkannya.


"Aunia, kenapa Lo ninggalin gue" lirihnya. Tubuhnya melorot di sudut dinding.


Darren langsung memeluk tubuh Aurel yang begitu rapuh. Ia tak bicara apa pun, ia membiarkan Aurel menumpahkan segala kesedihannya di pelukannya.


Jika tidak bisa meredakan rasa sedih sang pacar. Setidaknya ia bisa memberikan sandaran bagi tubuhnya yang sangatlah rapih untuk saat ini.


Tubuh kaku Aunia yang dibawa keluar oleh petugas rumah sakit langsung membuatnya bangkit.


Perlahan ia menyingkap kain putih yang menyelimuti wajah kembarannya. Bibir pucat dan tubuhnya yang kaku membuat Aurel tak bisa berkata-kata. Hanya Isak tangis yang keluar dari mulutnya. Tak kuasa menahan sesak, Aurel kembali kehilangan keseimbangan. Untungnya Darren selalu ada dibelakangnya untuk memberikan topangan.


"Darren, Aunia udah pergi, dia ninggalin gue" lirihnya.


Darren yang tak tega karna wanita yang selalu ceria itu, ternyata bisa serapuh ini dihadapannya. Dengan erat, Darren kembali mendekapnya kedalam pelukannya.


"Nangis aja, gak papa, jangan ditahan" ujarnya.


🥀🥀🥀


Tumpukan tanah dengan taburan bunga membuat semua orang yang mengelilinginya menangis haru.


Orang-orang dengan pakaian serba hitam. Mulai pergi satu-persatu. Pemakaman yang dilakukan telah selesai. Nisan dengan nama Aunia, membuat semua orang berduka.


Kematiannya yang sungguh tragis memang sangat di sayangkan oleh orang sekitarnya.


"Aunia, gue beruntung karena punya saudara seperti Lo, kenapa sih takdir gak adil sama kita, takdir terlalu cepat misahin kita, padahal kita baru aja ketemu, rasanya baru kemaren kita masih ngobrol bareng, sekarang kita udah beda alam aja" kekehnya, namun raut wajahnya tak memperlihatkan kalau ia sedang tertawa. Tawanya terdengar seperti ejekan bagi dirinya sendiri.


"Aunia, kamu itu putri mama yang pengertian, kenapa kamu cepat banget ninggalin mama, mama sayang sama kamu, mama bakalan kangen banget waktu masak bareng sama kamu, ketawa bareng sama kamu, kita makan bareng sekeluarga, sekarang gak bakalan sama lagi, mama pasti kesepian!" Lirihnya.

__ADS_1


Aurel yang mendengar penuturan mamanya, langsung memeluknya.


"Udah ya ma, tuhan lebih sayang sama Aunia, makanya dia manggil Aunia lebih dulu" ujar Aurel.


"Tuhan sayang banget ya sama Aunia sampai-sampai Tuhan misahin kita dari Aunia" balas Aleta. Matanya yang sembab karna terlalu lama menangis. Memperlihatkan binar kesedihan yang begitu dalam.


"Kita pulang sekarang ya ma" ajak Aurel. Aleta tak menjawab melainkan hanya mengangguk sekilas.


Tumpukan tanah yang bertaburan bunga, perlahan mulai ditinggalkan. Langkah kaki yang mulai menjauh hanya menyisakan jejak kaki yang tertinggal dari orang-orang yang datang.


Halaman rumah yang terpasang bendera kuning menambah kesan duka yang tengah dirasakan keluarga yang baru saja di tinggalkan salah satu anggotanya.


"Mama istirahat ya" ujar Aurel, Aurel membawa Aleta untuk berisitirahat di kamar.


Ia menaikin selimut, menutupi sebagian tubuh mamanya. Setelah Aleta tertidur, Aurel perlahan keluar dari kamarnya.


"Gimana Tante?" Tanya Andra.


"Mama udah tidur" balas Aurel.


Perlahan Aurel duduk di sofa. Pakaian hitam yang ia gunakan bahkan belum sempat ia ganti. Tangannya menopang wajahnya yang begitu muram.


Darren yang melihat hal itu. Ia langsung duduk di samping Aurel. Ia merangkul tubuh Aurel ke dalam pelukannya. Sementara itu, Andra meninggalkan keduanya.


.


.


.


Pikirannya tak menentu, seperti layangan putus yang diterbangkan angin tanpa arah.


Sosok gadis yang selama ini ia cintai. Gadis yang selama ini ia tunggu dalam penantian. Dan gadis yang selama ini ia cari. Berharap bisa kembali bersama. Namun, gadis itu tak lagi seperti yang ia harapkan. Gadis itu berubah jadi seorang pendendam. Ia bahkan tak mengenali gadis yang ia cintai itu lagi. Bukan hanya wajahnya yang berubah, ternyata sikap dan sifatnya juga bertolak belakang dengan gadis yang dulunya sangat ia dambakan.


"Harapan gue buat bisa bersatu sama Lo, ternyata kesalahan yang amat sangat fatal" lirihnya.


.


.


.


Tangannya merabah dinding, mencari saklar lampu.


Kamar yang ditempatinya bersama Aunia, Kini terlihat sunyi dan sepi. Hanya ada beberapa foto keduanya yang terpajang di dinding. Keduanya tanpa bahagia.


Aurel beralih pada tempat yang biasanya digunakan Aunia untuk melukis. Setiap harinya, ia akan selalu melihat Aunia duduk disini dan melukis. Jika dirinya terlambat bangun, maka omelannya akan terdengar begitu rewel.


Pandangannya terhenti pada tumpukan buku milik Aunia yang ada di mejanya. Secarik kertas menarik perhatiannya.


Karna penasaran, Aurel mengambilnya.

__ADS_1


For Aurel


Aku gak tau setelah pertemuan di atap SMA itu, aku bakalan bisa balik lagi kesini.


Gak tau kenapa aku ngerasa aku gak akan bisa lagi ketemu sama kamu dan mama.


Jadi aku mau bilang, kalau aku sayang banget sama kamu dan mama


Kalian jaga diri baik-baik ya..


Maaf aku gak bisa jadi sosok yang kalian harapkan, tapi aku bersyukur banget bisa dapetin keluarga yang baik seperti kamu dan mama


Jaga kesehatan ya, jangan telat makan..


Satu lagi, kamu masih ingat sama kecelakaan papa?


Aku mau minta maaf tentang itu, sebenarnya dalang dari masalah itu adalah aku


Aku kesal sama papa, dia selalu jadiin aku alat buat memperkaya dirinya sendiri


Aku juga kesal karena papa selalu lebih sayang sama kamu dari pada aku


Kamu pasti nanya kan, gimana aku ngelakuinnya?


Jadi, waktu papa ke rumah buat minta maaf sama mama, aku diam-diam motong rem mobil papa


Awalnya aku cuma mau bikin papa kecelakaan ringan aja


Tapi, aku gak nyangka sampai papa meninggal


Maaf ya, udah buat kamu kehilangan orang kamu sayangi


Suatu saat aku pasti minta maaf kok sama papa, jangan marah sama aku ya


Dan, makasih buat semua yang udah kamu lakuin buat aku. Sampai aku bisa kayak gini. Bisa jadi orang normal tanpa penyakit itu lagi


Thanks Aurel


Love you so much


Aku beruntung punya saudara kayak kamu


Aurel mengelap air matanya yang terjatuh saat membaca surat yang ditinggalkan Aunia.


"Sekarang Lo pasti udah ketemu sama papa, jangan lupa minta maaf ya"


"Gue gak marah kok sama Lo, papa pantes dapetin semua itu"


"Gue juga beruntung punya saudara kayak Lo"


Dengan menatap langit yang mulai berganti malam, Aurel menjawab setiap ucapan Aunia pada surat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2