
Keesokkan harinya..
Aurel bangun dari tidurnya, ia mendapati dirinya telah berada dikamar. Aurel melirik jam Bekernya, sudah menunjukkan pukul 6.30.
"Astaga gue telat" rutuknya. Ia segera bergegas menuju kamar mandi.
.
.
.
"Pagi ma" sapa Aurel. Ia baru saja keluar dari kamar dan mendapati semua orang tengah berkumpul di meja makan.
"Pagi sayang" balas Aleta.
"Ayo makan dulu rel" tambah Hilda.
"Iya tan"
"Oh ya ndra, semalam yang bawa gue ke kamar siapa?" Tanya Aurel, saat ia duduk di samping Andra.
"Gue" singkatnya.
"Oh"
"Lo berharap darren yang gendong Lo ke kamar?" Ledek ndra.
"Apaan sih ndra" sewot Aurel.
"Benerkan? Liat tuh pipi Lo merah"
"Udah ah, gak usah ngeledekin Mulu" ujar Aurel.
"Rel, mama kan udah bilang sama kamu, kamu boleh berteman sama dia tapi jangan sampai lebih dari itu! Kamu ngerti kan?" Ucap aleta lembut.
"Iya ma, Aurel ngerti kok"
"Sekarang kamu makan! Nanti telat kesekolahnya" pinta Aleta. Aurel menuruti Aleta, ia menghabiskan nasi goreng yang telah disiapkan mamanya itu.
"Aku pamit ya ma" ucap Aleta saat ia selesai menghabiskan nasi gorengnya.
"Hati-hati" balas Aleta.
"Pamit ya Tan, ndra" lanjutnya. Sebelum pergi ia teringat akan sesuatu.
"Oh ya ma" ucap Aurel.
"Ada yang ketinggalan?" Tanya Aleta.
"Gak sih, ma. Tapi aku gak liat papa dari tadi, papa kemana?" Tanya Aurel.
"Tadi pagi udah berangkat lagi, kayaknya ada hal penting deh. Papa kek buru-buru gitu" jawab Aleta.
"Oh gitu, yaudah deh ma"
"Tapi kamu tau dari mana papa pulang?"
"Mati gue harus jawab apa? Masa gue jawab gue nguping ucapan papa waktu di Bandung, kan gak mungkin" batin Aurel.
"Aurel, mama nanya kok malah bengong?"
"Eh iya ma, semalam aku liat mobil papa diluar" alibinya.
"Bukannya kamu tidur?"
"Oh jadi Lo ngerjain gue, gue kira Lo ketiduran" sewot Andra.
"Ya maaf ndra, gue capek soalnya" balas Aurel.
"Trus Lo kira gue gak capek?" Tanya Andra, yang dibalas kekehan dari Aurel.
"Udah ah, mending Lo anterin gue kesekolah" ujar Aurel.
"Males"
"Ndra, anterin Aurel ya kasian tu, ntar Aurel telat kesekolahnya" ucap Hilda lembut.
"Iya ndra, sopir juga lagi sakit. Jadi gak bisa nganterin" tambah Aleta.
"Yaudah ayo!" Sewot Andra, tapi tetap mengambil kunci mobilnya. Aurel bersorak kegirangan, karna ia dibantu oleh dua wanita paruh baya yang sangat ia sayangi.
"Ndra" panggil Aurel, saat keduanya tengah ada di dalam mobil.
"Hmm"
"Kira-kira papa tau gak ya kita yang nyusup ketempat itu?" Tanya Aurel.
"Entah"
"Kok entah si ndra?"
"Gue gak tau"
"Lo inget gak pas mama bilang kalau papa pergi buru-buru?"
__ADS_1
"Iya, kenapa?"
"Apa ada yang ngasih tau papa, tentang kejadian itu?"
"Bisa aja"
"Gue masih bingung deh, aunia itu siapa?" Tanya Aurel setelah beberapa hening.
"Kembaran Lo" lirih Andra.
"Gue kan gak punya kembaran?"
"Gue yakin itu kembaran Lo, gue bakalan cari bukti buat memperkuat keyakinan itu" balas Andra.
"Tapi kita gak pernah ketemu dia, gimana caranya?"
"Dia mirip sama Lo"
"Dari mana Lo tau?"
"Kalian itu kembar, pasti mirip kan?" Tanya Andra.
"Tapi kan belum kebukti?"
"Susah ya ngomong Ama Lo" sewot Andra.
"Kok sewot si, gue kan cuman nanya"
"Udahlah, Lo liat aja ntar" balas Andra. Andra lebih baik mengalah dari pada meladeni perdebatan dengan Aurel, yang tak pernah kehabisan kata-kata dalam menjawab ucapannya.
.
.
.
"Udah sampai tuh, sana turun!" Ujar Andra.
"Iya, gue turun. Sensian amat Lo, pms ya?" Tanya Aurel, yang dibalas delikan tajam dari Andra.
"Hahaha macan ngamuk" balas Aurel, lalu ia melengos pergi.
Saat Andra ingin melajukan mobilnya, matanya tak sengaja menatap seorang gadis yang semalam ia antarkan pulang. Saat melihat mata Laura, ia seakan melihat seseorang yang sangat ia sayangi. Ia teringat akan kejadian beberapa tahun lalu yang tak akan pernah ia lupakan.
Flasback on
Andra seorang anak pendiam yang susah bergaul dengan banyak orang. Ia selalu duduk dibawah pohon ditaman dekat rumahnya. Sebuah buku menjadi temannya saat itu.
Tiba-tiba saja seorang gadis kecil nan mungil menghampirinya. Gadis itu seusia Aurel, adiknya. Andra hanya melihat sekilas lalu ia kembali fokus pada bukunya.
"Lo gak bosan baca buku terus, bukannya anak-anak kayak kita lagi asyik-asyiknya main sama teman-teman ya? Lo kenapa cuman diam disini?" Tanya gadis itu, Arsy.
"Anak-anak juga harus belajar" balas Andra.
"Gue tau, tapi Lo terlalu berlebihan?"
"Ini tidak berlebihan, cuman lo yang malas"
"Gue gak malas, cuman lagi gak mau belajar aja" kekeh Arsy.
"Sama aja"
"Nama lo siapa?" Tanya arsy, namun tak dibalas oleh Andra.
"Kok gak ngomong si? Lo gak sariawan kan?"
"Andra" singkatnya, jika ia tak menjawab maka gadis ini tak akan berhenti menanyainya.
"Oh nama Lo Andra, bagus sih. Tapi sayang-" ucap Arsy menggantung ucapannya.
"Sayang kenapa?" Tanya Andra.
"Cailah manggil sayang" ledek Arsy, Andra mendengus kesal dengan keusilan Arsy.
"Eh becanda kok, jangan kesel gitu Napa?" Hibur Arsy.
"Gak peduli"
"Oh ya ndra, kayaknya Lo lebih tua dari gue ya?" Tanya arsy, yang hanya dibalas deheman oleh Andra.
"Gue panggil kak Andra kali ya" ujarnya.
"Terserah"
"Ok fiks, gue panggilnya kak Andra"
"Kak Andra aku pulang dulu ya, takutnya mama nyariin" pamit Arsy. Andra hanya melihat tubuh mungil itu kian menghilang dari pandangan matanya.
Matanya terus menatap gadis itu hingga ia akan menyebrangi jalan dengan cerobohnya. Sebuah mobil melaju dengan kencang menuju ke arah gadis itu.
"Arsy!! Teriak Andra, namun gadis itu tak mendengarnya.
Andra berlari menuju gadis itu, kepalanya terbentur saat menarik tangan Arsy.
"Arrgghh" ringis Andra, ia merasakan darah segar mulai mengalir di kepalanya.
__ADS_1
"Kak Andra, kepala kakak berdarah" panik Arsy.
"Lo gak papa?" Tanya Andra.
"I'm okay, kak Andra. Tapi kakak luka" lirihnya.
"Tolong!" Pekiknya. Beberapa orang yang lewat datang menghampiri Meraka.
"Pak, buk tolongin kak Andra" ujarnya, bulir-bulir bening mulai berjatuhan dari matanya.
"Gak usah cengeng" ujar Andra, sebelum ia kehilangan kesadarannya.
"Kak andra" pekik Arsy kian menjadi.
.
.
.
Andra membuka matanya, nuansa putih kian pekat diruangan yang ia tempati.
"Kak Andra udah bangun" suara cempreng Arsy, kembali terdengar ditelinganya.
"Ngapain Lo disini?" Tanya Andra.
"Nemenin kak Andra, tadi aku mau hubungin orang tua kakak, tapi ponsel kakak gak ada" ujarnya.
"Gak usah di kasih tau"
"Kenapa gak?"
"Nanti mereka khawatir, ini cuma luka kecil"
"Tapi--"
"Gak usah cerewet" Arsy tak lagi melanjutkan ucapannya.
"Gue mau pulang" ujar Andra.
"Tapikan kak Andra masih sakit"
"Gue gak papa" Andra turun dari tempat tidur rumah sakit dan membuka selang infus yang terpasang ditangannya.
"Kak Andra tunggu bentar, Arsy tanya dokter dulu" pintanya, Andra kembali duduk di tempat tidur. Mendengar Arsy yang terlihat khawatir ia menjadi tidak tega pada gadis kecil itu.
Tak lama gadis itu memasuki ruangan Andra dengan seorang dokter.
"Biar saya periksa dulu" ujarnya. Andra mengangguk setuju.
"Kondisi kamu normal, namun luka pada kepala itu harus dibersihkan dengan rutin" lanjutnya.
"Saya udah bisa pulang dok?" Tanya Andra.
"Sudah, saya permisi dulu" pamit dokter tersebut.
"Kak tunggu bentar" pinta Arsy.
"Apa lagi? Gue mau pulang" ujar Andra.
Suara pintu terbuka membuat Andra mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Seorang pria dengan perawakan tegap dan jas hitam pada tubuhnya menambah kewibawaannya.
"Halo, kamu Andra?" Tanya pria tersebut.
"Iya, anda siapa?"
"Saya Hendra, papanya Arsy" balasnya.
"Saya mau ngucapin terimah kasih karna kamu telah menolong anak saya, jika tidak ada kamu saya tidak tau apa yang akan terjadi pada Arsy, Terimah kasih banyak" ujarnya.
"Tidak masalah, saya hanya kebetulan melihat kejadian itu" ucap Andra.
"Sebagai ucapan Terimah kasih saya, kamu boleh meminta apapun dari saya"
"Permintaan saya cuman satu, jaga anak anda! Dia terlalu ceroboh" ujar Andra.
"Saya permisi" pamit Andra.
"Biar saya antar"
"Tidak perlu, saya bisa sendiri"
"Tapi kak--" belum selesai Arsy menyelesaikan ucapannya Andra sudah meninggalkannya.
Flasback off
.
.
.
.
Thanks udah baca :)
__ADS_1