PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 21


__ADS_3

Andra tersadar dari lamunannya, memori masa lalu itu seakan berputar-putar dikepalanya.


"Lo dimana?" Lirihnya.


Andra melajukan mobilnya menuju rumah. Sementara itu, Laura yang melihat Andra melamun di dalam mobil raut wajahnya berubah murung.


"Kak Andra, Lo gak ngenalin gue?" Lirihnya.


Perlahan mobil Andra menghilang dari pandangannya. Ia kembali tersadar ketika ucapan seseorang beberapa tahun lalu terlintas di kepalanya.


"Gue gak cengeng" ucapnya dengan cepat menyeka air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya.


Langkah cepat seseorang memasuki rumah. Suasana tegang sangat kental terasa, orang-orang yang berpakaian serba hitam layak nya seorang bodyguard menundukkan kepala karena takut.


"Kenapa kejadian ini bisa terjadi!!" Bentaknya.


"Kalian tau kan?!!! Kalau sampai kegiatan ini Bocor, nyawa kalian taruhannya!!" Pria itu mondar mandir sembari membentak setiap orang yang ada disana.


"Maafkan kami bos" ucap salah satu dari mereka.


"Apa?! Maaf kamu bilang!!!" Bentaknya lagi, namun yang dibentak tetap menundukkan kepala karena takut.


Bughh


Sebuah pukulan mendarat pada perutnya, ia meringis kesakitan. Namun, ia tetap menahan rasa sakitnya.


"Ini peringatan buat kalian semua!!! Jangan sampai kejadian ini terulang lagi!!" Tegasnya dengan suara lantang.


"Papa" panggil seorang gadis dari arah tangga rumah.


"Aunia, kamu disini?" Tanya gio.


"Iya pa, papa jangan marahi mereka!" Pintanya.


"Kenapa?!" Tanya gio.


"Ini semua bukan salah mereka tapi putri kesayangan papa" kekehnya.


"Maksud kamu Aurel?" Bingung gio.


"Siapa lagi pa? Kan cuma dia putri yang paling papa sayangi" ucap aunia, ia perlahan berjalan menuju tempat gio.

__ADS_1


"Bahkan aku yang juga putri kandung papa, papa sembunyikan dari semua orang" ujarnya sendu, namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah riang. Hal itu tentu saja membuat semua orang yang ada disana merasa ngeri.


"Hai, kalian gak usah tegang gitu! Kita ini teman aku bakal bantuin kalian, stay calm" ucapnya menghibur orang-orang yang dimarahi gio. Bukannya merasa senang orang-orang tersebut malah semakin bungkam akibat ucapan aunia.


"Dari mana kamu tau ini ulah Aurel?!" Tanya gio.


"Papa papa, kamu ini bodoh atau--"ucap aunia dengan nada meledek, aunia menggantung ucapannya ketika gio menatapnya tajam.


"Apa papa lupa?" Tanya aunia kembali formal.


"Maksud kamu?"


"Setiap sudut rumah ini memiliki cctv" ucapnya diakhiri kekehan.


"Jadi benar ini ulah Aurel?" Tanya gio, aunia hanya menganggukkan kepala ucuh.


"Dia sudah bertindak terlalu jauh" gumam gio.


"Sebaiknya papa jaga dia dengan baik, sebelum dia jadi korban selanjutnya" ucap aunia lantang.


"Jangan macam-macam kamu!!" Pinta Gio.


"Itu semua tergantung saudari ku itu, akankah dia melakukan kesalahan yang sama atau tidak" setelahnya ia kembali kekamar Aurel yang ia tempati.


Gio mengepalkan tangannya erat "kenapa jadi gini? Sialan!!!" Geramnya, ia melemparkan semua barang yang ada dihadapannya.


Aleta kembali melakukan rutinitasnya setiap hari, setelah istirahat total selama dua hari ia menjadi bosan terlalu lama berada ditempat tidur. Dapur memang menjadi tempat favoritnya sedari ia masih kecil.


Tangannya mulai memotong-motong sayuran dengan telaten. Tangannya yang lincah membuatnya tak kesulitan dalam memasak, walaupun tak ada yang membantu.


"Wihhh,, harum banget baunya" ucap Hilda ketika ia mencium masakan Aleta.


"Kak, dari mana aja?" Tanya Aleta, karna ia tak melihat Hilda sedari pagi.


"Biasa abis olahraga" jawabnya, ia mengangguki ucap Hilda.


"Yaudah aku mandi dulu ya, gak sabar mau cicipin makanan kamu lagi" ucapnya.


"Iya kak" balas Aleta dengan senyum hangatnya.


Setelah kepergian Hilda, Aleta merasakan rasa nyeri pada dadanya.

__ADS_1


"Aku lupa minum obat pagi ini" lirihnya. Aleta memegangi dadanya yang semakin sakit. Andra yang baru saja pulang mengantarkan Aurel tak sengaja melihat Aleta yang kesakitan di dapur.


"Tante! Tante kenapa?" Panik Andra sembari berlari menghampiri Aleta.


"Ambilin obat Tante di laci" pintanya.


"Iya, Tan bentar" Andra segera berlari menuju kamar Aleta. Ia mencari obat yang dimaksud Aleta, setelah menemukannya ia segera menghampiri Aleta.


"Ini Tan obatnya" ucap Andra memberikan obat Aleta


Aleta meneguk obat yang diberikan Andra, segelas air menjadi pendorong obat tersebut. Perlahan rasa nyeri yang dirasakan Aleta menghilang, seiring dengan nafasnya yang kembali normal.


"Makasih ya ndra" lirihnya.


"Iya Tan sama-sama" balas Andra.


"Kamu bantuin Tante hidangin makanan di atas meja ya" ujar Aleta.


"Iya Tan" Andra membantu Aleta menghidangkan makanan diatas meja makan.


"Andra, udah pulang?" Tanya Hilda.


"Iya ma, baru aja kok"


"Ayo kak, kita makan dulu" ajak Aleta.


"Wiiih, udah lama ya? Aku gak makan masakan kamu" ujar hilda.


"Iya kak, terakhir sebelum aku kehilangan putri aku" lirihnya, raut wajahnya berubah sedih.


"Maaf ya, aku jadi bikin kamu sedih" ucap Hilda bersalah.


"Iya kak, gak papa kok. Ayo dilanjut lagi makannya" ujar Aleta berusaha mencairkan suasana. Sementara Andra hanya menyimak percakapan keduanya.


"Gue semakin yakin kalau aunia beneran kembaran Aurel" batinnya.


Thanks udah baca :)


Maaf ya lama update :(


Semoga kalian tetap stay buat baca cerita ini ya🤗

__ADS_1


Mohon supportnya ya😊 (biar semangat nulisnya,, hehe)


Bye bye di part selanjutnya😚


__ADS_2