PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 30


__ADS_3

Mobil Andra berhenti di perkarangan rumah. Aurel keluar dari mobil dengan semangat, ia bahkan lupa dengan Andra yang menatapnya aneh Sedari tadi.


"Tuh anak kenapa dah?" batin Andra.


Aurel terus berlari memasuki rumah dengan senyum yang mengembang.


"Akhirnya aku ketemu mama" batinnya.


Sementara Andra yang mengamati sedari tadi hanya geleng-geleng kepala dan mengikuti Aurel memasuki rumah.


"Mama!!" panggil Aurel.


"Ma!"


"Mama!"


"Ada apa rel? kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Aleta yang baru keluar dari dapur.


"Mama" pekiknya memeluk Aleta.


"Kenapa rel?" tanya Aleta yang tak mengerti dengan sikap Aurel.


"Aku kangen" batin Aurel.


"Gak papa, cuma lagi pengen meluk mama aja" ujar Aurel dengan senyum manisnya.


"Kamu ini, mama pikir kenapa?" ujar Aleta menjewer telinga Aurel.


"Ih mama sakit" sewot Aurel.


"Udah sana ganti baju, bau matahari" ledek Aleta.


"Iya ma"


Aurel segera menaiki tangga untuk mengganti bajunya. Namun panggilan Aleta membuatnya menghentikan langkahnya.


"Rel, mau kemana? kamar kamu kan dibawah" ujar Aleta.


"Eh iya ma, aku lupa" balasnya berbalik memasuki kamar yang di tunjuk Aleta.


"Aurel kenapa ndra?" tanya Aleta saat Aurel telah memasuki kamarnya.


"Gak tau Tan, tadi di mobil juga dia senyum-senyum sendiri" Balas andra.


Keduanya tak mau ambil pusing dengan perubahan sikap Aurel. Andra kembali ke kamarnya sementara Aleta kembali ke dapur melanjutkan acara memasaknya yang terganggu akibat teriakan Aurel.


Ketokan di kamar Aurel membuat sang empunya segera membukakan pintu.


"Papa" ujarnya saat melihat Gio berdiri di ambang pintu.


"Bisa papa bicara sama kamu?" tanya Gio.


"Bisa pa, mau bicara dimana?" tanya Aurel


"Ruang kerja papa"


Gio menaiki tangga menuju ruang kerjanya. Aurel mengikutinya dari belakang. Sesampainya di ruang kerja Gio, suasana hening sangat kentara terasa.


"Pa, mau bicara apa?" tanya Aurel saat Gio telah duduk di kursi kerjanya.


"Kamu masih marah sama papa?" tanya Gio.


"Marah? untuk apa?" tanya balik Aurel.


"Bukannya pagi tadi__" Gio menggantung ucapanya, tatkala ia merasa janggal akan sesuatu.


Brakkk

__ADS_1


Gio memukul meja, hal itu membuat Aurel terlonjak kaget.


"Kenapa pa?" tanya Aurel tak mengerti.


"Dimana Aurel?!!" bentak Gio dengan nada bertanya.


"Maksud papa apa?"


"Jangan pura-pura aunia!!" bentak Gio.


Raut wajah cemas yang semula terlihat pada wajah Aurel selanjutnya berubah menjadi raut wajah berbeda.


"Hoho jadi papa ngenalin aku dengan baik yah?" ujar Aunia dengan nada bahagia.


"Dimana Aurel?!!" bentak Gio lagi.


"Aurel yah, dia lagi gantiin posisi aku" cengirnya.


"Apa-apaan ini!!! Kenapa dia bisa gantiin posisi kamu!!"


"Ini ide Aurel pa, aku hanya ngikutin aja, toh juga nguntungin aku" ujarnya santai.


"Minggir!!" Gio segera keluar dari ruangan kerjanya dengan tergesa-gesa hingga ia mengabaikan teriakan Aleta untuk menyuruhnya makan.


.


.


.


Aurel memasuki rumah lamanya dengan was-was. Bukan apa-apa, ia hanya sedikit takut untuk melihat kejadian mengerikan lagi ditempat ini.


"Nona!" panggil seorang bodyguard, Aurel melirik bodyguard itu dari atas sampai bawah.


"Ada apa?"


"Sekarang waktunya" ujarnya.


"Iya nona aunia, kami sudah menyiapkan bahan dan ruangan operasinya" ujar sang bodyguard.


"Operasi?"


"Iya nona, bos menyuruh kita untuk mempersiapkan pesanannya sekarang, mari nona, nona harus melakukan operasinya sekarang, atau bos akan menghukum nona" ujarnya penuh penekanan.


Aurel hanya mengikuti kemana bodyguard itu mengarahkannya. Ia tak berani menolak, karna sekarang ia telah masuk ke dalam bahaya itu sendirian.


Sekarang ia berada didepan sebuah ruangan. Ruangan ini adalah ruangan yang pernah dimasuki Aunia dan saat ia keluar. Tubuh perempuan itu sudah terpisah dengan organ tubuhnya.


Membayangkannya saja, Aurel sudah merinding. Apalagi jika ia disuruh melakukan hal mengerikan itu.


"Silakan nona, bahannya sudah disiapkan di dalam" ujar bodyguard itu lagi.


"Bahan?"


"Iya nona, silakan nona lihat sendiri jika ada yang salah nona bisa bilang pada kami"


Tanpa menjawab sepatah kata pun. Aurel memasuki ruangan itu, ia sangat kaget ketika seorang perempuan tengah terlentang di atas brankar dengan tangan dan kakinya yang di borgol pada bagian brankar.


Aurel menghampiri perempuan yang terlentang itu. Ia sangat iba padanya, wajahnya sudah di basahi oleh air mata. Saat melihat Aurel, ia semakin histeris. Tangisannya semakin kencang bersamaan dengan teriakannya.


"Jangan bunuh saya!!" ujarnya memohon.


"Saya mohon!!"


"Mbak, mbak gak usah takut, aku bakal bantuin mbak keluar dari sini kok" balas Aurel lembut.


"Keluar? maksud kamu keluar dari dunia ini dan langsung ke neraka!! HAH!!" ujarnya dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Mbak, bukan gitu maksud aku"


"Udahlah, percuma saya mohon Sama kamu, jalan terakhir saya keluar dari sini cuma kematian" ujarnya putus asa.


"Percaya sama aku mbak, aku bakalan bantu mbak keluar dari sini" ucap Aurel meyakinkan.


"Jangan ngehibur saya di waktu kematian saya semakin dekat" kekehnya.


"Aku gak ngehibur mbak, aku serius" Aurel kembali meyakinkan.


"Kamu gak becanda kan?"


"Aku gak becanda mbak"


"Kalau gitu buktin ucapan kamu"


"Pasti"


Aurel melihat kesekeliling nya, ia melihat sebuah palu. Aurel menggunakan palu itu untuk membuka borgol pada tangan dan kaki perempuan itu.


Berhasil" ujarnya saat semua borgol itu telah terlepas dari tangan dan kaki perempuan itu.


"Makasih yah" ujar perempuan itu kikuk.


"Aku Aurel mbak" ujarnya ramah.


"Dira" singkat perempuan itu.


"Oke mbak Dira, kita mulai yah rencana nya"


"Rencana kamu apa?"


Aurel membisikkan nya ketelinga Dira. Setelah selesai ia kembali memastikan jika Dira mengerti dengan rencananya.


"Mbak ngerti kan?" tanya Aurel.


"Iya saya ngerti"


Bodyguard yang menunggu Aurel selesai dengan operasinya merasa ada yang janggal. Ia terus mondar-mandir di luar ruangan, rasa gelisah kembali menyelimutinya.


"Kenapa nona aunia lama yah, gak biasanya" ujarnya.


Kemudian ia menguping di pintu ruangan operasi. Tapi ia tak mendengar suara apa pun. Jika biasanya saat ia menguping selalu ada suara penyiksaan di dalamnya. Beda halnya dengan kali ini, ia tak mendengar apa pun.


"Nona, apa nona sudah selesai?" tanyanya memastikan. Namun tak kunjung ada sahutan, ia kemudian mengecek kedalam ruangan.


Ia sangat kaget ketika mendapati ruangan itu kosong. Tiada satu orang pun disana. Ia melihat sekeliling, kaca jendela yang pecah menjadi pusat perhatiannya.


"Nona aunia gak mungkin bawa dia kabur kan?" terkanya.


Ia berlari keluar ruangan untuk memperingati semua orang bahwasanya ada yang kabur. Semua bodyguard yang mendengar berita itu segera menutup semua jalan keluar dari rumah tersebut.


Sementara itu dilain sisi, dua orang perempuan tengah berlari keluar dari rumah itu. Beruntungnya saat orang-orang sibuk mencari mereka, para bodyguard itu lupa mengunci pagar. Sehingga ia bisa pergi dari rumah itu dengan aman.


"Pergi dari rumah ini sejauh mungkin!" pinta Aurel pada dira.


"Tapi kamu?"


"Aku gak papa, mbak pergi aja!" ujarnya.


Dira meninggalkan Aurel dengan perasaan bersalah. Berbeda dengan Aurel yang merasa lega karena ia berhasil menyelamatkan satu nyawa untuk hari ini. Aurel terus menatap punggung Dira hingga menghilang dari pandangannya.


.


.


.

__ADS_1


Thanks udah baca :)


See you next part ^_^


__ADS_2