PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 29


__ADS_3

Aleta membuka pintu rumah, memperlihatkan Gio yang baru keluar dari mobilnya.


"Pa, baru pulang?" tanya Aleta.


"Iya ma"


Aleta membawakan tas Gio dan memasuki rumah bersama.


"Papa mau makan dulu?" tanya Aleta.


"Gak usah ma, papa mau mandi aja, badan rasanya lengket semua"


"Yaudah, mama siapin air panasnya dulu"


"Makasih ma"


Aleta segera mempersiapkan air panas untuk Gio. Setelah selesai ia kembali menghampiri Gio.


"Pa, air panasnya udah mama siapin, papa bisa mandi sekarang"


Mendengar perkataan Aleta, Gio langsung membersihkan diri. Beberapa menit berlalu, akhirnya Gio selesai dengan mandinya.


"Aurel udah tidur?" tanya Gio.


"Udah, kenapa?"


"Gak papa, udah malam ayo tidur!" ujar Gio.


.


.


.


Aurel bangun dari tidur pulasnya, jam Beker yang berdering sedari tadi ia matikan dengan malas. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Seragam sekolah juga telah ia kenakan. Aurel segera menuju meja makan untuk sarapan. Di meja makan terlihat Andra dan Aleta, serta Gio yang akan memulai sarapan.


"Pagi ma, ndra" sapa Aurel.


"Pagi" Balas Aleta.


"Papa gak disapa?" tanya Gio. Namun, Aurel hanya melihat sekilas, kemudian duduk untuk sarapan.


"Aurel, gak boleh gitu sama papa" nasehat Aleta.


Aurel yang ingin menyendok nasi pun tak punya selera untuk makan.


"Kalau mama tau apa yang dilakuin papa, mungkin mama akan lebih marah dari pada aku" balas Aurel.


"Aku pamit" ujar Aurel tanpa memakan sarapannya. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu rumah dengan rasa kecewa terhadap papanya.


"Aku gak pernah berfikir papa bisa lakuin hal sekeji itu" batinnya.


Sementara itu, Gio terpaku ditempatnya saat Aurel menyinggung apa yang telah ia lakukan.


"Dia beneran udah tau" batin Gio.


"Pa, papa lakuin apa sih sampai Aurel Semarah itu sama papa?" tanya Aleta.


"Bukan apa-apa" Gio meninggalkan meja makan, tanpa menyentuh makanannya sedikit pun.


Sementara Andra hanya diam dan menyimak, mau ikut campur pun ia pun tak mengerti. Akhirnya diam adalah cara terbaik menurutnya.


"Sabar ya Tan" ujar Andra memberi sandaran.


"Kenapa jadi gini sih ndra, sebenarnya apa yang terjadi sama mereka?" ujar Aleta.


"Aku juga gak tau Tan, tapi aku bakalan bantu cari tau kok tan"


"Tolong ya ndra" Andra tersenyum sebagai tanda mengiyakan ucapan Aleta.


.


.


.


Aurel duduk di kelas dengan perasaan gunda. Ia tak punya semangat untuk belajar saat ini. Bahkan kedatangan Darren pun tak ia pedulikan.


"Rel, Lo kenapa?" tanya Darren. Karena sedari tadi ia melihat raut wajah Aurel yang kusut.

__ADS_1


"Gak papa" singkatnya.


"Gak papa, tapi wajah Lo kusut gitu"


"Bisa diam gak!!" Ketus Aurel. Ia yang sudah badmood, semakin badmood dengan sifat kepo Darren.


"Gue salah apa?" tanya Darren yang bingung, tiba-tiba saja dirinya dibentak tanpa alasan.


"Tau ah" ujar Aurel berlalu meninggalkan kelas.


"Mau kemana Lo?" teriak Darren.


"Bukan urusan Lo!"


"Bentar lagi guru masuk" teriak Darren memperingati.


Namun Aurel, ia seakan tak peduli. Teriakan Darren tak membuatnya berhenti melangkahkan kakinya keluar dari kelas.


Aurel yang kesal, sedih, marah semua perasaan menjadi satu dalam dirinya saat ini. Ia Bahkan tak tau bagaimana cara mendeskripsikan perasaannya sendiri.


Taman belakang sekolah yang sepi, sebuah bangku putih yang terletak di bawah pohon menjadi tempat perhentian Aurel. Ia duduk bangku putih tersebut. Semilir angin menyibakkan rambut panjangnya. Sejenak ia melamun, hingga sebuah sentuhan di pundaknya menyadarkan Aurel dari lamunannya. Aurel menoleh melihat sebuah tangan di pundaknya, hingga ia menoleh melihat orang yang berdiri tegak dibelakangnya.


Sekarang perempuan berpakaian serba hitam, ia memakai topi dan masker pada wajahnya.


"Siapa Lo?" tanya Aurel. Namun perasaannya mengatakan ia seperti mengenal sosok yang ada dibelakangnya.


"Kamu gak kenal aku?" tanyanya beralih duduk di samping Aurel.


"Gak" singkat Aurel. Mendengar jawaban Aurel, perempuan itu membuka masker dan topinya.


"Sekarang udah kenal?" tanyanya lagi.


"Lo? ngapain disini?" tanya Aurel.


"Gak papa, aku cuma pengen tau gimana rasanya hidup normal kayak kamu"


"Gak ada gunanya ngerasain hidup kayak gue, capek tau gak!!"


"Sama, aku juga capek hidup kayak gini terus"


"Aunia, gue ada ide" ujar Aurel semangat.


"Apa?"


"Gimana?" tanya Aurel.


"Aku setuju" ujar Aunia.


Keduanya saling tersenyum dengan rencana yang akan mereka jalankan.


.


.


.


.


Setelah dari taman belakang Aurel kembali memasuki kelas.


"Maaf Bu, saya telat" ujar Aurel memasuki kelas.


"Iya gak papa, silakan duduk" ucap Bu guru.


Aurel duduk di bangkunya, dan segera mengeluarkan buku dari dalam tasnya.


"Lo dari mana?" tanya Darren.


"Hah? Aku?" tanya Aurel.


"Iya, Lo dari mana?"


"Dari toilet" balasnya.


Keduanya tak lagi bersuara, mereka sibuk memperhatikan guru yang tengah menjelaskan materi.


Beberapa jam berlalu, hingga jam istirahat telah dimulai. Aurel segera keluar dan menuju kantin.


"Rel tunggu!!" panggil Darren. Namun Aurel bahkan tak menghiraukannya.

__ADS_1


"Rel" panggil Darren, sekarang ia sudah ada di depan Aurel.


"Kenapa? jangan halangin jalan aku"


"Lo masih marah sama gue?" tanya Darren.


"Marah kenapa?" tanya balik Aurel.


"Masalah pagi tadi"


"Udahlah lupain aja" ujar Aurel melanjutkan jalannya.


"Jadi Lo gak marah sama gue?" tanya Darren.


"Gak, emang kamu salah apa?"


"Syukur deh, tapi bentar deh sejak kapan Lo ngomong aku-kamu?" tanya Darren.


"Emang salah? tanyanya.


"Gak sih, tapi aneh aja"


Aurel tak memperdulikan ucapan Darren, ia kembali fokus pada jalannya.


"Eh rel, Lo potong rambut?" tanya Darren.


"Hah?"


"Rambut Lo panjang kan? sekarang kok pendek"


"Iya, kemarin gue abis potong rambut"


"Tapi tadi pagi masih panjang deh"


"Perasaan Lo aja kali"


Aurel segera meninggalkan Darren sebelum pertanyaan lain di lontarkan oleh Darren padanya.


.


.


.


Sementara itu, Andra telah menunggu di depan gerbang sekolah Aurel. Ia berinisiatif untuk menjemput Aurel sekaligus ingin mencari tau tentang alasan kemarahan Aurel pada Gio.


Saat melihat Aurel keluar dari gerbang. Andra segera melambaikan tangan padanya.


"Rel!!" panggil Andra sembari melambaikan tangannya.


Aurel yang melihat itu terlihat bingung dan menghampiri Andra yang melambaikan tangan padanya.


"Kamu siapa?" tanya Aurel.


"Gak usah becanda deh rel, gak lucu tau gak, jangan-jangan kepala Lo kepentok yah, makanya ngelindur kayak gini" Ujar Andra panjang kali lebar. Namun Aurel melihatnya dengan ekspresi yang sulit di artikan.


"Udah gak usah liatin gue kayak gitu, ayo pulang!! Tante udah nungguin dirumah" ujar Andra.


"Tante?"


"Mama Lo, beneran kepentok Lo yah, Masa sama mama sendiri lupa"


"Oh mama"


Tanpa pikir panjang Aurel segera memasuki mobil Andra. Sekarang ia sangat bersemangat setelah mendengar kata mama.


Andra melajukan mobilnya menuju rumah, sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara. Sementara Andra seperti melihat sosok lain dari diri Aurel.


Ia melirik kesamping dimana Aurel duduk. Terlihat ia sedang senyum-senyum sendiri tanpa alasan.


"Aneh" batin Andra.


.


.


.


.

__ADS_1


Thanks udah baca :)


See you next part ^_^


__ADS_2