
3 bulan kemudian...
Tak terasa sudah 3 bulan berlalu, sekarang Aurel sudah melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Ia berhasil memasuki salah satu perguruan tinggi di Jakarta.
Sementara itu, Aunia semakin menekuni bakatnya dalam bidang seni lukis. Ia rutin mengikuti kelas lukis, hingga karyanya semakin lama semakin diminati banyak orang. Ia mulai menjual satu persatu lukisan di media sosial. Hingga hari demi hari lukisannya bisa memberikan pendapatan yang mencukupi untuk Aunia.
Dan penyakit Aunia pun mulai sembuh perlahan-lahan. Aurel tak lagi menemukan Aunia yang keluar malam hanya untuk menyayat tangannya. Bekas luka yang ada di tangan Aunia pun tak lagi terlihat.
Aurel yang baru saja pulang dari kampus segera memasuki rumah dengan suara cempreng. Panggilan untuk sang kembaran melengking di dalam rumah.
"Aunia!!" pekiknya saat memasuki rumah.
Aunia yang mendengar teriakan Aurel pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Aurel yang sungguh kekanak-kanakan.
Ia terpaksa meninggalkan lukisannya yang baru setengah jadi. Tak butuh waktu lama bagi Aunia untuk datang dan menghampiri Aurel.
"Kenapa?" tanya Aunia.
"Liat nih, gue bawa apa" ujar Aurel memperlihatkan sebuah brosur yang ia temukan di jalan.
Aunia melihat brosur tersebut, brosur lomba melukis.
"Kamu mau aku ikut lomba ini?" tanya Aunia, dengan cepat Aurel mengangguk mengiyakan ucapan Aunia.
"Gak ah, lukisan aku gak sebagus itu buat ikut lomba"
"Lo cuman gak PD Aunia, coba aja dulu, kalah atau menang bukan hal penting" balas Aurel.
"Kalau kamu mau, kamu aja yang ikut!"
"Kenapa gue, yang jago lukis kan lo"
"Makanya jangan maksa"
"Kalau Lo gak mau, gak papa, gue bakalan tetap daftarin lo"
"Aurel, Aku gak suka di paksa yah"
"Terserah"
Aurel berlalu menuju kamar dengan mengapit dua buku tebal di tangannya.
.
.
.
Aunia yang baru saja akan melanjutkan lukisannya kembali di kejutkan oleh suara kaca pecah.
Prankkkk
Aurel yang baru saja keluar dari kamar mandi pun tak kalah kaget dengan Aunia.
"Itu apa?" ujar keduanya.
Tanpa pikir panjang pun, Aurel dan Aunia segera menuju sumber suara.
Keduanya sangat kaget, ketika mereka mendapati kaca rumah pecah berkeping-keping. Aleta yang saat itu tengah libur kerja pun melihat kejadian tersebut.
__ADS_1
Aurel yang tak sengaja menginjak batu dengan balutan kertas putih merasa penasaran dan melihatnya.
Aurel membuka kertas tersebut, dan ia kembali dikagetkan dengan kalimat didalam kertas tersebut.
Kalian pembunuh
Aurel meremas kertas tersebut, ia sangat mengerti yang dicap pembunuh adalah kembarannya sendiri.
"Kenapa rel?" tanya Aunia.
"Gak papa" balas Aurel, ia menyembunyikan kertas tersebut kebelakangnya.
"Jangan bohong, aku gak suka Aurel, siniin kertasnya!" pinta Aunia.
Dengan ragu-ragu Aurel memberikan kertas yang telah ia remas-remas.
Aunia membacanya, matanya melotot ketika membaca tulisan tersebut.
"Kenapa Aunia?" Bukan Aurel yang bertanya, melainkan Aleta.
"Bukan apa-apa ma, cuma orang iseng" balas Aunia cepat.
"Orang iseng sekarang makin aneh-aneh ya, masa sampai mecahin kaca rumah orang" ujar Aleta geleng-geleng kepala.
"Yaudah kalian ke kamar aja, biar mama yang beresin" pinta Aleta.
"Iya ma"
.
.
.
Aurel terus berguling-guling di atas kasurnya. Hal itu tentu saja membuat Aunia yang tengah asyik melukis merasa terusik dengan tingkahnya itu.
"Kamu kenapa si rel?" tanya Aunia.
"Gue lagi mikir" singkatnya menghentikan sejenak aksi guling-guling di kasurnya.
"Mikir apa?"
"Sabtu Minggu gue kan gak kuliah, enaknya ngapain ya?" tanya Aurel.
"Emangnya kamu gak ada rencana gitu?"
"Kalau gue ada rencana, gak mungkin gue guling-guling gak jelas gini" balas Aurel. Mendengar jawaban Aurel tentu saja membuat Aunia terkekeh, ia bahkan mengakui sendiri jika tingkahnya tidak lah jelas.
"Kenapa gak aja Darren jalan aja" usul Aurel.
"Males gue, palingan cuman di ajak makan doang gue nya, gak asyik!"
"Ya trus kamu mau gimana?" jengah Aunia.
"Gue sempet kepikiran buat camping deh, menurut Lo gimana?" tanya Aurel.
"Camping ya? kedengarannya si seru, coba aja kalau kamu mau camping"
"Nah itu masalahnya, kalau gue camping gue ngajak siapa? kan gak mungkin kalau gue ngajak Darren doang, bisa di coret gue dari kartu keluarga sama mama" celoteh Aurel.
__ADS_1
"Kenapa harus di coret, emang kamu bikin kesalahan apa?" tanya Aunia dengan polosnya.
"Udahlah, malas gue jelasinnya, masalah beginian aja Lo kagak ngerti" sewot Aurel.
"Kenapa malah sewot? aku kan cuman nanya" balas Aunia.
Aurel tak lagi membalas ocehan Aunia, itu hanya akan membuatnya pusing karna sikap polosnya itu.
"Gimana kalau Lo ikut" usul Aurel setelah keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Aku? ikut?" tanya Aunia.
"Iya, sekalian gue ajak Andra juga"
"Hmm, gimana yah? kira-kira mama ngizinin aku pergi gak ya?" gumam Aunia.
"Tenang aja, biar gue yang minta Izin, dua hari doang kok, pasti boleh lah" balas Aurel semangat.
"Yaudah, aku ngikut aja de"
Karna mendapat persetujuan dari Aunia, Aurel langsung menelfon Andra untuk mengajaknya camping bersama.
Andra yang juga tak punya kesibukan pada hari itu, langsung mengiyakan ajakan Aurel. Hal itu membuat Aurel bersorak kegirangan, karna rencana yang ia buat berjalan dengan mulus.
Sementara Darren, ia bahkan hanya menurut saja jika Aurel mengajaknya. Jadi Aurel tak ambil pusing dengan jadwal Darren, karna sejatinya Darren adalah orang yang punya banyak waktu luang dalam hidupnya.
Satu-satunya masalah yang harus dihadapi Aurel sekarang adalah mamanya. Ia harus memikirkan cara untuk membujuk mamanya agar mau mengizinkan ia untuk pergi camping.
"Aunia, Lo udah kelar ngelukisnya?" tanya Aurel.
"Belum nih, kenapa?"
"Bantuin gue yuk!"
"Bantu apa?"
"Ikut gue sekarang!" tanpa pikir panjang, Aurel langsung menarik tangan Aunia mengikutinya.
"Ngapain kesini?" tanya Aunia, ketika ia ditarik menuju dapur.
"Makan malam spesial buat mama" ujar Aurel.
"Kamu mau bikin makan malam buat mama?" tanya Aunia.
"Iya, bantuin gue!" ujar Aurel.
"Yaudah, ayo! mau masak apa?" tanya Aunia.
"Ayam kecap" ujar Aurel semangat, itu adalah masakan kesukaannya dan Aleta.
"Oke"
Keduanya memasak dengan semangat, mereka membagi tugas agar semuanya selesai dengan cepat.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, masakan yang akan mereka siapkan untuk sang mama telah tersaji di meja makan.
Aurel dan Aunia hanya menunggu mamanya pulang, biasanya Aleta akan pulang sekitar jam 8.10 malam. Dan benar saja, suara pintu rumah terbuka terdengar oleh telinga Aurel dan Aunia. Keduanya langsung menyambut Aleta dan mempersilakannya duduk di meja makan.
Aleta yang baru saja pulang dari bekerja, sangat terkejut dengan sikap putrinya yang terlihat bersemangat.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Aleta ketika ia sudah duduk di meja makan dengan perintah dari kedua putrinya.