
Darren segera merobek baju kaos yang ada dibalik hoodienya.
"Nih, Lo kompres ke dahinya!" pinta Darren.
"Oke-oke" Aurel segera melakukan perkataan Darren.
Aurel menempelkan kain sobekan yang telah dibasahi air pada dahi Andra.
"Lo yakin ini berhasil?" tanya Aurel.
"Semoga aja"
"Ndra bangun dong! gue takut Lo kenapa-napa" lirih Aurel.
"Ishhhh" Ringis Andra, ia mulai membuka matanya perlahan.
"Gue dimana?" tanyanya dengan suara lemah.
"Di hutan" balas Darren.
"Ndra, Lo gak papa kan? badan Lo gimana? ada yang sakit gak?" tanya Aurel.
"Gue gak papa, cuman lemes doang" jawab Andra.
"Lo jangan banyak gerak, istirahat aja dulu" pinta Aurel, ketika Andra hendak bangkit untuk duduk.
"Aurel!!"
Panggilan dari atas tebing membuat ketiganya mengalihkan pandangannya, terlihat Aunia dan beberapa petugas sedang berdiri di atas tebing.
"Aunia, buruan bantuin kita!" pinta Darren.
"Iya tunggu bentar" balas Aunia.
"Pak, bantuin teman-teman saya pak" ujar Aurel.
"Kami akan berusaha" balas salah satu petugas.
"Ulurkan tali!" pintanya. Petugas lain mengulurkan tali ke bawah tebing.
"Naik satu persatu!" ujar petugas. Sementara petugas lainnya bersiap untuk menarik.
"Lo naik duluan ndra" ujar Aurel.
"Iya ndra, Aurel bener, lebih baik Lo naik duluan!" pinta Darren.
Andra mulai memanjat tali yang diulurkan petugas, kondisi tubuhnya yang lemah membuatnya kesulitan untuk memanjat ke atas tebing. Beberapa kali ia terpeleset karna kakinya tak kuat untuk menopang berat tubuhnya.
"Hati-hati ndra!" ujar Aurel khawatir.
Andra melanjutkan memanjat, ia tak ingin membuat orang-orang disekitar khawatir padanya.
Setibanya di atas tebing, Andra di bantu oleh para petugas. Ia berhasil memanjat tebing yang curam dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Giliran Lo rel!" pinta Darren.
"Iya"
Aurel dan Darren bergantian memanjat tebing menggunakan tali yang di ulurkan pertugas. Hingga mereka sampai di atas tebing dengan selamat.
"Aurel, kamu gak papa kan? Kenapa bisa ilang sih? Aku khawatir tau?" ujar Aunia, ia langsung memeluk tubuh Aurel yang sudah kotor oleh tanah.
"Gak papa kok, Lo tenang aja" balas Aurel.
"Sebaiknya kita segera kembali, sebentar lagi akan gelap" ujar petugas.
"Ayo!" ujar Aurel.
__ADS_1
Mereka segera meninggalkan hutan sebelum gelap datang. Andra yang sudah tak memiliki tenaga terpaksa dipapa oleh Darren dan seorang petugas.
.
.
.
Andra yang mengalami demam tinggi segera di bawah ke posko kesehatan terdekat.
"Sekarang gimana? apa kita pulang aja?" tanya Aunia.
"Sebaiknya kita pulang aja, kasihan Andra" balas Aurel melirik tubuh Andra yang tengah terbaring lemah di atas ranjang.
"Yaudah kita balik sekarang!" ujar Darren.
"Iya" balas Aurel dan Aunia.
"Sekarang lebih baik kita bersiap" ujar Darren.
"Gue sama Aunia mau beresin barang-barang dulu" ucap Aurel.
Setelah mengatakan itu, Aurel dan Aunia segera kembali ke tendanya.
"Udah semua?" tanya Aurel ketika ia sudah selesai membereskan barang-barang nya.
"Udah nih"
"Sekarang kita kembali ke tempat Andra, Darren pasti udah nunggu disana" ujar Aurel.
"Iya, ayo!"
Tak butuh waktu lalu bagi kedua gadis kembar itu untuk sampai pada posko kesehatan. Setibanya disana ia sudah melihat Darren yang tengah menemani Andra.
"Darren" panggil Aurel.
"Kalian udah siap?" tanya Darren.
"Udah"
"Yaudah kita berangkat sekarang" ujar Darren.
Setelah membawa Andra ke mobil di bantu oleh perugas, Darren dan kedua gadis kembar itu segera bergegas menaiki mobil dan meninggalkan kawasan gunung pancar.
Rencana camping yang semula telah mereka rencanakan kini hanya tinggal wacana saja. Semuanya berubah setelah kejadian di hutan itu.
Apalagi Andra yang mengalami demam tinggi, membuat semua rencana itu tidak mungkin dilanjutkan.
Setibanya di pusat kota Andra segera di bawa kerumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih lanjut.
"Gimana keadaan Andra dok?" tanya Aurel ketika dokter telah selesai memeriksa Andra.
"Tidak perlu khawatir, pasien hanya mengalami demam tinggi, saya akan meresepkan obat, silakan tebus di apotik ya!" ujar sang dokter.
"Baik dok"
Setelah kepergian sang dokter, Aurel segera merenebus obat di apotik. Sedangkan Aunia ia sedang membeli makanan di kantin rumah sakit. Sementara Darren ia langsung menuju toilet, saat tiba di rumah sakit perutnya mendadak sakit.
Selesai menebus obat, Aurel segera kembali ke ruang rawat Andra.
"Udah bangun Lo?" tanya Aurel, ketika mendapati Andra telah sadar.
"Hmm" gumamnya.
"Nih, gue udah tebusin obat Lo" ujar Aurel memberikan obat yang telah ia tebus pada Andra.
"Makasih" balasnya.
__ADS_1
Krekkk
Pintu yang terbuka menampakkan Aunia yang datang dengan beberapa kotak makanan.
"Nih, Aku bawain makanan, pasti pada lapar kan?" Ujar Aunia memperlihatkan makanan yang telah ia beli.
"Iya gue laper banget nih, dari pagi belum makan" balas Aurel.
"Oh iya, Darren mana? kok gak keliatan" tanya Aurel.
"Gak tau, Aku gak ketemu sama dia" balas Aunia.
"Nyariin gue ya?" tanya Darren yang baru saja datang.
"Gimana perutnya? udah mendingan?" tanya Aurel.
"Udah, tadi udah minta obat diare juga ama dokter" balasnya.
"Andra, Lo gimana? udah baikan belum?" tanya Darren.
"Udah nih" jawab Andra dengan suara lemahnya.
"Pada laper gak sih, kasihan nih makanannya di anggurin" ujar Aunia.
"Eh, iya lupa gue" cengir Aurel. Ia langsung mengambil sekotak nasi dan menyantapnya.
.
.
.
Setelah pulang dari rumah sakit, Andra segera istirahat dibantu oleh kedua saudara kembarnya. Sementara Darren, ia sudah berpamitan untuk pulang.
"Lo istirahat dulu, jangan banyak aktivitas!" pinta Aurel.
"Iya gue tau, gak usah cerewet bisa kan rel?" balas Andra jengah, karna sedari tadi Aurel terus saja memperingatinya untuk tak banyak aktivitas.
"Kak Andra, jangan gitu, Aurel khawatir sama kakak, dia cuman gak mau kak Andra kenapa-kenapa" nasehat Aunia.
"Iya, kalian sama aja, udah sana! gue mau istirahat" usir Andra.
"Udahlah, Aunia dia emang susah kalau dibilangin, mending kita keluar aja" ajak Aurel.
"Yaudah"
Aurel menutup pintu kamar Andra.
"Gue haus nih, Lo duluan aja" ujar Aurel.
"Oke" singkat Aunia.
Aurel segera menuju dapur untuk mengambil Air. Setelah merasa lega karena rasa hausnya telah reda, Aurel segera kembali ke kamarnya. Namun, suara pintu rumah yang terbuka membuatnya mengintip mencari tau siapa yang datang.
"Mama" panggil Aurel ketika ia melihat Aleta baru saja memasuki rumah.
"Aurel, udah pulang campingnya? Gimana seru gak?" tanya sang mama.
"Boro-boro seru ma, dapet apesnya doang" balas Aurel.
"Loh kok gitu?" tanya Aleta sembari duduk di sofa ruang tamu.
"Iya ma, ada kendala waktu campingnya, jadi kita pulang aja"
"Kendala? kendala apa?" bingung Aleta.
"Andra sama Darren, mereka nyasar di hutan karna cari kayu bakar"
__ADS_1
"Kok bisa? kenapa bisa nyasar?"