PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 83


__ADS_3

"Mau kemana?" Tanya Naya. Jessen membawanya ke parkiran.


"Bentar, aku ambil mobil dulu!" Jessen segera mengambil mobilnya. Ia berhenti tepat di depan Naya berdiri menunggunya.


"Mau kemana sih? Kita belum pamit sama yang lain" ujar Naya.


"Gak papa, nanti aku kabarin via chat sama mereka" balas Jessen. Naya mengangguk, ia langsung memasuki mobil bersama Jessen.


Jessen menghentikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi.


"Kok berhenti?" Tanya Naya, ia tak mengerti kenapa Jessen membawanya ketempat sepi seperti ini.


"Tunggu bentar ya" ujar Jessen.


Tak lama, sebuah mobil berhenti di depan mobil Jessen.


"Nah, itu dia" ujar Jessen.


Naya melirik pada mobil hitam yang berhenti di depan.


"Mereka siapa?" Tanya Naya, tiga orang pria keluar dari mobil tersebut.


"Ayo turun!" Ajak Jessen. Ia bahkan tak menjawab pertanyaan Naya.


Jessen dan Naya keluar dari mobil. Mereka menghampiri tiga pria yang tengah menunggu mereka.


"Jessen! Lo bawa yang gue minta kan?" Tanya pria yang berdiri di tengah.


"Tentu bang, gue pasti nepatin janji. Kapan gue pernah bohong sama Abang" balas Jessen.


"Dia?" Tanya pria ditengah. Ia melirik Naya dari atas sampai bawah.


"Iya bang" balas Jessen.


Sontak Naya terkejut dengan jawaban Jessen. Ia tak mengerti dengan arah pembicaraan dua orang yang ada di depannya.


"Maksud kamu apa?" Tanya Naya pada Jessen.


"Sesuai kesepakatan, gue bakalan dapat bayaran yang setimpal untuk ini" ujar Jessen.


"Kasih!" Pinta pria di tengah. Pria yang ada di sampingnya menyerahkan sebuah tas hitam pada Jessen.


"Thanks, ini yang Lo mau" Jessen langsung mendorong Naya pada tiga orang tersebut.


"Jessen!" Pekik Naya. Ia ingin kabur, tapi salah satu dari pria tersebut mengunci tangannya ke belakang.


"Lepas! Kalian mau apa?" Tanya Naya.


"Kami gak tertarik sama kamu! Jadi jangan ke geeran. Kamu cuman bahan mutilasi untuk bos kami" ujar salah satu pria.


"Jessen!" Pekik Naya, tapi Jessen telah meninggalkan tempat tersebut dengan mobilnya.


Naya sungguh tak menyangka. Pria yang begitu ia cintai. Bahkan ia selalu membelanya di depan kakak yang tak menyukainya. Tapi nyatanya, Jessen malah dengan teganya menjual dirinya pada seseorang yang ingin memutilasi dirinya.


Naya di bawa masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang dengan salah satu pria.


Di tengah perjalanan. Saat pria disampingnya tertidur. Naya mengambil kesempatan itu untuk mengirimkan lokasinya pada Darren.


Dengan cepat Naya kembali menyimpan ponselnya agar tak ketahuan oleh ketiga pria tersebut.


🥀


Disisi lain, Darren yang tengah menonton tv bersama Aurel.


Ting


Darren mengambil ponselnya. Ia membaca sebuah pesan dari Naya. Darren merasa bingung dengan lokasi yang di kirimkan oleh Naya. Pasalnya lokasi tersebut jauh dari cafe Scarlett tempat pesta di adakan.


"Rel, aku jemput Naya dulu" ujarnya, ia langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya.


"Ya, hati-hati" pekik Aurel, agar Darren bisa mendengarnya.


Dengan cepat, Darren langsung menuju lokasi yang dikirimkan Naya. Entah kenapa ia merasa jika Naya sedang dalam masalah. Naya bukan tipe orang yang suka mengirim pesan tanpa ada sesuatu yang penting. Apalagi saat ia mengirimkan lokasinya. Darren sangat yakin, jika Naya ingin Darren datang ke tempat itu.

__ADS_1


Di perjalanan, Darren tak sengaja melihat siluet sosok Jessen yang tengah nongkrong bersama teman-temannya. Tapi Karna ia terlalu buru-buru, Darren tak mempedulikannya. Yang penting saat ini adalah Naya.


Pasti ada sesuatu yang terjadi. Sehingga Naya mengirimkan lokasinya pada Darren.


🥀


"Pak bisa berhenti dulu gak? Saya kebelet nih" ujar Naya pada pria yang sedang mengemudi.


"Jangan alasan kamu!" Balas pria yang ada di samping kemudi.


"Saya gak alasan pak, beneran kebelet ini!" Balas Naya memegangi perutnya.


"Yasudah, di depan ada toilet umum! Berhenti disana!" Pintanya pada pria yang mengemudi.


"Temani dia!" Pintanya pada pria yang ada di samping Naya.


Naya di antarkan oleh pria tersebut tepat di depan toilet.


"Cepat! Saya tunggu disini! Jangan berani kabur" pintanya.


"Iya pak, mana berani saya lawan bapak. Yang ada tulang saya remuk semua" celetuk Naya. Ia langsung menutup toilet.


Di dalam toilet,


Naya menghidupkan keran air, agar pria di luar tak mendengarnya.


Naya mengeluarkan ponselnya, ia kembali mengirimkan pesan pada Darren.


Naya


Kak, dimana?


Tolongin aku, Jessen nge jual aku


Tolong aku kak, aku bakalan di mutilasi sama mereka


^^^Darren^^^


^^^Lima menit lagi kakak sampai^^^


Naya kembali menyimpan ponselnya. Ia harus menunggu lima menit sebelum kakaknya sampai. Tugasnya sekarang, adalah menunda waktu hingga Darren tiba.


"Hei, udah belum? Jangan lama-lama!" Teriak pria dari luar.


"Bentar pak, saya kebelet" balas Naya.


Tak lagi ada sahutan, Naya terus mondar mandir di dalam toilet. Ia sangat khawatir jika kakaknya terlambat, bagaimana ia bisa kabur.


Sebuah jendela di bagian atas dinding menarik perhatiannya. Naya melepaskan sepatu heelsnya. Perlahan ia membuka jendela, dan ternyata berhasil.


Naya keluar dari toilet melalui jendela. Namun, saat menutup kembali, Naya tak sengaja menghempaskannya. Sehingga terdengar suara.


Prakk


Naya langsung terbirit-birit kabur. Bersamaan dengan itu, pria yang menunggu diluar langsung memanggil teman-temannya untuk mengejar Naya.


"Woi, gadis itu kabur!" Teriak nya. Dengan cepat dua orang yang menunggu di mobil langsung membantunya mengejar Naya.


Naya terus berlari menjauh dari ketiga pria itu. Ia berlari tanpa alas kaki, sehingga kakinya terasa sakit karna menginjak kerikil.


Tapi Naya tak peduli. Ia harus bisa menyelamatkan dirinya saat ini. Ia tak akan mudah menyerah begitu saja. Apalagi pasrah di mutilasi oleh bos ketiga pria itu.


Ketiga pria yang mengejarnya. Terasa semakin dekat. Nafasnya yang sudah tersengal-sengal. Membuatnya kelelahan Karna berlari terlalu jauh.


Naya terus berlari, tanpa sadar jika dirinya melintasi jalan. Dan ada sebuah mobil yang melaju ke arahnya.


"AHHHH!" Pekik Naya menutup wajahnya.


Untungnya mobil tersebut dapat mengerem. Sehingga Naya tak tertabrak. Namun hal itu membuatnya syok. Sehingga ketiga pria itu dapat menangkapnya.


"Mau lari kemana kamu?" Tanya salah satu pria geram.


"Beraninya kabur! Mau mati kamu?" Tanya yang lainnya.

__ADS_1


"Kalau gak kabur juga mati pak! Lebih baik usaha dulu" balas Naya dengan polosnya.


"Iya juga sih, cerdas juga kamu!" Puji pria lainnya.


"Kenapa malah di puji! Dia cerdas, kita tewas! Mau kamu di mutilasi sama bos?" Ujar yang lainnya.


"Gak lah, udah ayo! Bawa dia ketemu bos!"


Ketiga pria itu langsung membawa Naya kembali ke mobil.


Namun,


"Tunggu!" Ketiga pria langsung membalikkan badannya. Naya yang mengenali suara itu langsung tersenyum senang.


"Siapa kamu?" Tanya salah satu pria.


"Lepasin dia!" Pintanya.


"Jangan ikut campur!" Balas yang lainnya.


"Lepasin Naya!"


"Kalau kita gak mau gimana?"


"Kalian akan menyesal!"


"Jaga dia!" Pintanya. Pria yang ada di dekat Naya langsung memeganginya agar tidak kabur lagi.


"Kak Andra! Hati-hati!" Pekik Naya.


Perkelahian antara Andra dan dua orang pria tersebut berlangsung sengit. Beberapa kali, Andra mendapatkan pukulan dari pria tersebut. Tapi akhirnya ia dapat mengalahkan kedua pria tersebut.


"Lepasin Naya!" Pintanya lagi.


"Bawa dia pada bos!" Pinta pada pria yang memegangi Naya.


Dengan cepat, pria itu langsung menarik Naya menuju mobil.


Namun, seseorang menghalangi jalannya.


"Lepas!" Pintanya.


"Kak Darren" ujar Naya senang.


Pria tersebut langsung mengeluarkan pisau dan meletakkannya di leher Naya.


"Kamu mendekat! Dia minggat dari dunia ini!" Ancamnya.


"Oke-oke, jangan sakiti Naya" perlahan Darren melangkah mundur.


Dan,


"Ahhh!" Teriaknya. Saat melihat ada celah. Naya langsung memelintir tangan pria tersebut sehingga pisaunya terjatuh.


"Sebenarnya, aku bisa hajar kalian. Tapi dress aku pendek" celetuknya pada diri sendiri.


"Nih kak, kakak yang beresin!" Ujar Naya.


Darren meringkus tangannya. Ia meminta Naya mengambil tali yang ada di mobil. Ketiga pria tersebut, akhirnya diikat.


Pihak kepolisian yang di hubungi Darren langsung membawa ketiga pria tersebut ke dalam jeruji besi.


"Makasih ya ndra. Untung kamu lewat sini, kalau gak Naya pasti udah di bawa sama mereka" ujar Darren.


"Seharusnya kamu makasih sama istriku. Dia yang minta beliin bakso malam-malam, kalau gak, aku gak bakalan lewat sini" balas Andra terkekeh.


"Ngidam kali kak" sahut Naya.


"Enggaklah, mbak Mikha lagi pms. Gak mungkinlah dia ngidam" kekeh Andra.


"Kirain" balas Naya.


"Aku pamit ya, mau beli bakso" kekeh Andra. Ia melajukan mobilnya meninggalkan Darren dan Naya.

__ADS_1


"Jadi, ada yang mau jelasin sama kakak?" Tanya Darren.


__ADS_2