
Aurel hanya diam menatap lekat Darren yang tersenyum padanya.
"Kenapa liatin Mulu? Gak bakalan ilang gue, kan masih hak milik Aurel" kekehnya.
"Peluk" ujarnya lirih.
"Dasar" balas Darren menyentil keningnya.
"Hehe" kekehnya.
Darren berdiri dari duduknya.
"Sini" ujar Darren bersiap memeluk Aurel. Aurel langsung memeluk Darren erat, ia sangat bahagia saat ini. Tuhan tak hanya menghadirkan sosok untuk mendampinginya. Tapi juga menghadirkan sosok yang mau menghargai dan mengerti dirinya lebih dari pada dirinya sendiri.
"Udah peluknya?" Tanya Darren.
"Udah" balas Aurel melepaskan pelukannya.
"Udah mau malam, mau pulang sekarang?" Tanya Darren.
"Iya" angguk Aurel. Entah sejak kapan ia menjadi sangat patuh seperti ini. Dan itu hanya karena Darren. Sosok yang tak akan pernah ia lepaskan dalam genggamannya.
.
.
.
"MalamTante" sapa Darren sembari mendorong Aurel.
"Udah pulang?" Tanya Aleta yang sedang menyiapkan makan malam.
"Iya Tan, Aurel keasyikan jalan-jalan nya sampai lupa waktu" kekeh Darren.
"Kok gue?!" Balas Aurel tak terima.
"Udah, jangan ribut! Ayo duduk sini kita makan bareng" tawar Aleta.
"Siap tan, dengan senang hati" balas Darren. Ia langsung menyendok nasi dan menyantap makanannya.
Drtttt Drttttt Drttttt
Getaran ponselnya membuat Darren terpaksa menghentikan makannya.
"Tan, bentar aku angkat telfon dulu" ujar Darren.
"Iya"
Darren sedikit menjauh dari meja makan.
"Halo"
"...."
"Lo serius? Udah periksa semua?"
"..."
"Yaudah, thanks bantuannya"
Darren kembali menyimpan ponselnya. Ia kembali ke meja makan untuk melanjutkan makannya.
"Siapa?" Tanya Aurel.
"Andra"
"Udah lama Andra gak main kesini" balas Aleta.
"Andra kan sibuk kuliah ma"
"Iya mama tau, tapi mama kangen liat Andra sama Aunia ngelukis bareng, senang aja liatnya"
"Iya, Aunia tiap hari pasti ngabisin harinya dengan ngelukis, tiap kali aku masuk ke kamar pasti ada dia yang lagi asyik ngelukis, tapi sekarang gak ada" balas Aurel mengingat memori yang pernah di laluinya.
"Kenapa jadi sedih gini, kan aku gak nafsu makannya" ujar Darren berusaha mencairkan suasana.
"Maaf ya Darren, kamu lanjut aja makannya! Aurel kamu juga! Di meja makan gak boleh sedih, mama yakin Aunia pasti pulang ke sini lagi" balas Aleta.
"Iya Tan"
"Iya ma"
Selesai makan malam, Darren mengantarkan Aurel ke kamarnya. Setelah membantu Aurel duduk menyandar pada dinding kasur. Darren sedikit menghela nafas.
"Kenapa?" Tanya Aurel menyentuh bahu Darren.
"Andra udah ngasih kabar" ujarnya sedikit ragu.
"Apa kata Andra? Aunia ada disana?" Tanya Aurel tidak sabar.
"Andra bilang Aunia gak ada disana" jawabnya.
__ADS_1
"Kalau dia gak ada disana, Lalu Aunia pergi kemana?!" Tanya Aurel khawatir.
"Lo tenang aja, gue bakalan cari dia! Jangan khawatir oke!" Ujar Darren meyakinkan.
"Aunia, Lo dimana? Gue khawatir" gumamnya tapi masih bisa di dengar Darren.
"Dia pasti baik-baik aja" balas Darren berusaha menyemangati.
"Semoga" balas Aurel berharap.
.
.
.
Setelah berhasil menenangkan Aurel, Darren langsung kembali ke rumahnya.
Suasana rumah yang biasanya sunyi dan sepi sekarang menjadi rame. Semuanya karna ada Naya, anak yang baru saja di adopsi oleh mamanya.
"Aku pulang" ujarnya setelah memasuki rumah.
"Darren, dari mana aja kamu? Kenapa baru pulang?" Tanya papanya yang sedang asyik menonton televisi.
"Dari rumah Aurel pa" balas Darren seadanya. Sembari menghampiri mamanya yang sedang mengajari Naya menggambar.
"Aurel, pacar kamu itu?" Tanya papanya.
"Iya"
"Kapan-kapan kamu ajak dia kenalan sama papa ya, kayaknya mama kamu suka banget sama dia, jadi penasaran papa, orangnya seperti apa?"
"Yang pasti tidak akan mengecewakan papa, dia calon menantu idaman" balas mamanya ikut nimbrung.
"Tuh, dengarkan, papa jadi tambah penasaran sama orangnya" kekeh papanya.
"Nanti aku ajak Aurel ketemu sama papa deh" balas Darren.
Ia beralih menatap Naya yang sedang menggambar di atas kertas gambarnya.
"Naya gambar apa?" Tanya Darren lembut, sembari membelai rambut adiknya.
"Gambar kelinci" balasnya.
"Bagus banget gambar Naya" puji Darren.
"Hehe makasih kak Darren" balas Naya memperlihatkan gigi kelincinya. Sangat menggemaskan.
"Iya kak"
"Ma, pa Darren ke kamar dulu"
"Iya, istirahat jangan begadang" pinta mamanya.
"Siap ma" balasnya dengan gaya hormat bendera.
"Dengerin tuh kata mama kamu!" Ujar papanya memperingati.
"Iya pa"
Darren menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia berusaha memejamkan matanya tapi pikirannya selalu saja berputar-putar.
Mengingat bagaimana Aurel begitu mengkhawatirkan Aunia. Darren merasa tidak tega.
Setelah kepergian Aunia, kebahagian Aurel seperti berkurang setiap harinya.
"Kayaknya gue harus lakuin sesuatu" gumamnya.
Ia langsung bangkit dari tidurnya. Disambarnya jaket yang baru saja ia gantungkan di balik pintu.
Dengan tergesa-gesa ia melewati ruang tamu.
"Loh, mau kemana?" Tanya Dessy, karna seingatnya anaknya itu pamit untuk istirahat.
"Keluar bentar ma, ada urusan"balasnya cepat.
"Katanya mau istirahat"
"Bentar aja kok ma"
"Yaudah hati-hati, jangan malam-malam pulangnya" ujar Dessy setengah berteriak.
"Iya ma" balas Darren setengah berteriak.
"Udahlah, anak kamu itu udah besar, dia bisa jaga dirinya sendiri" balas papa Darren yang masih asyik menonton televisi.
"Dimata aku dia tetap anak kecil" ujarnya tak mau kalah.
🌸🌸🌸
Jam Beker yang berbunyi begitu nyaring. Membuat Darren langsung terlonjak kaget. Dan langsung bangun dari tidurnya. Semalam ia memang memasang jam bekernya dengan volume besar sehingga ia tak kesiangan.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan ia bangun pagi di waktu libur seperti ini.
Hari ini ia akan menemui Aurel untuk membahas sesuatu yang sangat penting.
Darren segera mandi dan bersiap. Setelah selesai ia langsung mengambil kunci motornya dan pergi.
Tapi saat melewati ruang makan. Darren di panggil oleh mamanya.
"Darren, sini sarapan dulu!" Pinta mamanya.
"Nanti aja ma" balas Darren.
"Kamu mau kemana buru-buru gitu, semalam juga pulang udah larut, sebenarnya ada apa sih?" Tanya Dessy.
"Ada urusan yang harus aku selesain ma"
"Yasudah kamu selesaikan dulu urusan kamu, tapi jangan lupa jaga kesehatan!" Ujar papanya tegas.
"Iya pa, aku pamit"
Darren mengendarai motornya. Sesampainya di rumah Aurel. Darren langsung disambut oleh Aurel dan Aleta yang sedang sarapan.
"Darren, ayo gabung sini, sarapan dulu!" Ajak Aleta.
"Nanti aja tan, aku ada hal penting yang mau di omongin sama Aurel"
"Tapi Aurel lagi makan" balas Aleta.
"Gak papa ma, aku udah selesai kok" ujar Aurel.
"Mau ngomong dimana?" Tanya Aurel pada Darren.
"Diluar aja"
Keduanya duduk di kursi yang ada di teras rumah.
Darren menghela nafas, sebelum ia memulai ceritanya.
"Gue udah nemuin posisi Aunia" ujarnya.
"Serius? Dimana?" Tanya Aurel.
"Di Bandung, tepatnya di jalan Pattimura gang mawar"
"Yaudah tunggu apa lagi, ayo kesana!" Ajak Aurel tanpa pikir panjang.
"Lo yakin?"
"Gue yakin, kepala gue juga udah mulai baikan, perbannya juga udah dibuka" balas Aurel.
"Mama Lo ngizinin?" Tanya Darren.
"Biar gue yang minta izin, mama pasti ngizinin kok"
Aurel langsung memasuki rumah diikuti oleh Darren. Ia menghampiri mamanya yang sedang makan sendirian.
"Ma" panggil Aurel.
"Iya" balas Aleta.
"Aku boleh ke Bandung?" Tanya Aurel.
"Mau ngapain? Kamu baru aja sembuh loh" balas Aleta sedikit keberatan
"Jemput Aunia ma"
"Aunia ada dibandung?" Tanya Aleta.
"Iya, makanya aku mau jemput dia pulang"
"Kalau gitu mama ikut"
"Jangan ma, biar aku sama Darren aja yang pergi"
"Yasudah, tapi kamu janji sama mama buat bawa Aunia pulang dan juga jaga kesehatan kamu!"
"Iya ma"
Aurel langsung menuju kamarnya. Sementara Darren ia menunggu di ruang makan.
"Darren, Tante titip Aurel ya, dia baru aja keluar dari rumah sakit"
"Tante tenang aja, aku pasti jagain Aurel kok"
"Tante percaya sama kamu"
Aurel kembali menghampiri Darren setelah ia berganti pakaian.
"Ayo!"
"Kita pamit Tan" ujar Darren.
__ADS_1