PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 55


__ADS_3

"Bagus kalau gitu, tapi jangan ada yang bilang happy birthday ya, gue udah acting pura-pura lupa sama ulang tahunnya, kalian juga harus acting, oke?!" ujar Aurel.


"Iya" balas Andra dan Aunia.


"Gue ke kamar dulu, siap-siap" ujar Andra.


"Gue juga" balas Aurel.


Ketiga saudara yang sebelumnya sudah menyusun rencana untuk suprise ulang tahun Darren, seketika meninggalkan meja makan menuju kamarnya masing-masing.


.


.


.


Aurel menatap puas pada hasil karyanya. Setengah jam sudah ia habiskan hanya untuk membungkus kado untuk sang pacar.


"Aunia, liat deh bagus kan?" tanya Aurel memperlihatkan bungkusan kado karyanya.


"Bagus" puji Aunia melihatnya sekilas.


"Lo bikin apaan sih Aunia? sibuk banget dari tadi?" tanya Aurel kepo.


"Ini, Darren kan ulang tahun, sebagai calon saudara ipar yang baik aku juga harus ngasih kado kan?"


"Bisa aja Lo, emangnya Lo mau kasih kado apaan?" tanya Aurel.


"Nih, liat deh" ujar Aunia.


Aurel berdiri dari duduknya dan menghampiri Aunia yang duduk di kursi lukisnya.


"Bagus kan?" tanya Aunia.


Aurel terbelalak kaget, ia tak menyangka jika kembarannya ini sangatlah perhatian.


"Bagus banget" puji Aurel, sebuah lukisan yang menampakkan foto ia dan Darren yang masih mengenakan seragam SMA.


"Kenapa Lo bisa bikin lukisan sebagus ini?" tanya Aurel.


"Tadi aku nemu foto lama di bawa kolong tempat tidur, pas aku liat itu foto kamu sama Darren, dan pas banget pagi tadi kamu bilang Darren ulang tahun, jadi aku inisiatif buat jadiin foto lama kalian jadi lukisan" terang Aunia.


"Ahh, Sweet banget sih kembaran gue" ujar Aurel memeluk Aunia.


"Kalau kamu senang aku ikut senang" balas Aunia membalas pelukan sang kembaran.


"Gue liat-liat, kalian lagi suka pelukan yah?" tanya Andra yang baru saja memasuki kamar keduanya.


"Ada yang salah?" tanya Aurel.


"Gak ada sih, Oh ya gue cuma mau ngasih tau Darren udah nyampe, dia nyariin Lo rel" ujar Andra.


"Nyariin gue?" tunjuk Aurel pada dirinya sendiri.


"Iya, Masa nyariin Mak Lo" balas Andra tak habis fikir.


"Mungkin aja"


"Buat apaan dia nyariin Mak Lo?"


"Minta restu" singkat Aurel melengos meninggalkan Andra yang geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Gak usah di masukin hati kak" saran Aunia dilanjutkan oleh kekehannya.


"Gak usah ketawa!" sarkas Andra, Seketika Aunia langsung membekap mulutnya untuk diam.


Aurel langsung duduk di sofa tepatnya disamping Darren.


"Kenapa?" tanya Aurel.


"Kok kenapa? gak boleh ketemu pacar sendiri?" tanya Darren.


"Bukan gitu"


"Lo ngerasa ada yang lupa gak?" tanya Darren ragu.


"Lupa?"


"Iya, hari ini ada apa gitu?" pancing Darren.


"Gak ada kayaknya, hari ini hari libur kan?"


"Hmm gak ada ya?" balas Darren lemah.


"Katanya mau pergi sama Andra, jadi?" tanya Aurel.


"Jadi kok" balas Andra cepat.


"Ayo Darren!"


"Iya"


"Gue jalan dulu, jagain rumah!" pinta Andra.


.


.


.


Setelah kepergian Andra dan Darren, Aurel dan Aunia langsung menuju rumah Darren. Aurel yang sering kali datang ke rumah Darren pun tak kesulitan untuk memasuki rumah itu. Karna sebelumnya Darren sudah memberi tahunya jika ia sering meletakkan kunci cadangan di bawah keset. Alasannya karena ia sering lupa meletakkan kunci rumah. Hal itu pun berguna untuk Aurel. Ia menjadi lebih mudah untuk memberi suprise untuk sang pacar yang selalu menemaninya selama ini.


Seseorang yang mau menerima segala kekurangannya. Yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Dan Orang yang selalu memberikan sandaran serta support agar Aurel tak selalu terpuruk dalam kesedihan.


Aurel akui ia sangat beruntung memiliki Darren disampingnya. Ia merasa dihadirkan sosok yang sangat memahami dirinya.


"Rel, kamu yakin sama rencananya? kita gak bakalan di kira maling kan?" tanya Aurel.


"Gak, Lo tenang aja, gue kenal kok sama tetangga sini" balas Aurel sembari membalik keset yang terletak di depan pintu.


Aurel segera mengambil kunci yang terletak di balik keset lantai dan segera membuka pintu.


"Yaudah deh" balas Aunia manggut-manggut.


Aurel dan Aunia memasuki rumah. Gelap, susuana pertama yang mereka lihat.


"Kok gelap?" tanya Aunia.


"Bentar gue cari saklar lampu dulu" ujar Aurel mulai meraba-raba dinding.


Creng


Seketika rumah menjadi terang, setelah memencet saklar lampu Aurel segera menghampiri Aunia.

__ADS_1


"Ayo mulai!" Ajak Aurel.


Sebagai respons Aunia hanya menganggukan kepala.


Kedua gadis itu mulai menjalankan rencananya, mereka mulai mendekorasi rumah Darren dengan berbagai balon dan barang-barang lainnya.


.


.


.


Darren dan Andra berhenti di sebuah toko buku yang lumayan ramai oleh pengunjung.


"Mau ngapain kesini?" tanya Darren.


"Mau cari buku lah, Masa nyari bakso" balas Andra asal.


"Kalau itu gue juga tau" sewot Darren.


"Ayo! tadi sebelum pergi Aunia nitip beliin buku, makanya gue kesini" terang Andra sembari memasuki toko buku.


"Gue kira Lo yang mau beli buku, lagian tumben amat Lo ngajakin gue" ujar Darren.


"Kenapa? gak mau?"


"Bukan gitu, kan gue bilang tumben"


"Udah ah, buruan gue mau cari buku dulu, ntar malah kesorean" balas Andra.


Andra mulai menjelajahi rak buku yang ada di tokoh tersebut, berulang kali ia mencocokan sampul buku yang dikirimkan Aunia dengan buku yang ada didepannya. Sementara Darren, ia tak mengikuti melainkan menjelajahi deretan Novel fiksi yang ada di toko tersebut.


Mengingat bagaimana Aurel sangat menyukai novel fiksi, Darren berinisiatif untuk membelikan beberapa untuk pacarnya itu. Walaupun Darren sedikit sedih karena Aurel tak mengingat hari ulang tahunnya, tapi hal itu tak masalah baginya. Ia memaklumi mungkin saja Aurel sedang banyak fikiran sehingga ia melupakan hari ulang tahunnya itu.


Darren memilih beberapa novel fiksi yang mungkin di sukai Aurel. Ia segera membawa Novel itu ke kasir untuk di bayar.


"Mbak, tolong bungkus yang ini ya" ujar Darren memberikan beberapa novel yang telah ia pilih.


"Baik mas, mas nya suka novel bergenre romantis ya? jarang Lo cowok suka sama novel kayak gini, biasanya kan cewek" ujar mbak kasir sembari memasukkan novel-novel tersebut pada paper bag.


"Gak mbak, itu buat pacar saya dia suka novel-novel romantis" balas Darren menyunggingkan senyum.


"Oh buat pacarnya toh mas, masnya perhatian ya, pasti pacarnya beruntung banget ya" puji mbak kasir.


"Mbak bisa saja"


"Totalnya dua ratus lima puluh ribu ya mas"


"Ini uangnya mbak" ujar Darren memberikan uang seratusan tiga lembar.


"Baik ini novelnya dan kembaliannya mas" ujar mbak kasir memberikan paper bag yang berisi novel dan kembalian uang Darren.


"Gue cariin dari tadi taunya Lo disini" sewot Andra.


"Iya, gue mau kasih Aurel novel nih" balas Darren mengambil paper bag yang ada di meja kasir.


Andra melirik paper bag yang diambil Darren sembari manggut-manggut.


"Lo udah nemu bukunya?" tanya Darren.


"Udah nih" ujar Andra memperlihatkan buku bersampul kuning itu.

__ADS_1


__ADS_2