
Aunia segera menghampiri Aurel dengan senyum mengembangnya.
"Kenapa nih? senang banget keliatannya?" tanya Aurel.
"Kamu tau gak? Aku dapat rekomendasi buat ikutan lomba lukis ke Hongkong" ujar Aunia semangat.
"Trus Lo terima?" tanya Aurel penasaran.
"Iya" Angguk Aunia.
"Congratulation ya" balas Aurel memeluk saudara kembarnya.
"Iya makasih, semua ini berkat kamu tau?" jawab Aunia membalas pelukan Aurel.
"Kok aku?" tanya Aurel melepaskan pelukannya.
"Iya, karna kamu, kalau bukan kamu yang ngusulin buat aku daftar kelas lukis ini, semua ini gak bakalan terjadi"
"Semua itu juga berkat usaha dan kerja keras kamu kok" balas Aurel.
"Yaudah, intinya aku bisa dapet rekomendasi ke Hongkong itu berkat kerja keras dan usaha aku, tapi melalui jalan yang kamu tunjukkan buat aku" ujar Aunia.
"Hahaha bisa aja Lo"
"Trus kapan Lo pergi ke Hongkong?" tanya Aurel.
"Minggu depan" balas Aunia.
"Udah bilang mama?"
"Nanti aja di rumah aku kasih tau"
"Ooh, yaudah mau pulang sekarang?" tanya Aurel.
"Iya, kasihan kak Andra dirumah sendirian" ujar Aunia mengingat sepupunya yang masih sakit.
"Bentar gue pesen taksi online dulu"
Selang beberapa menit setelah Aurel memesan taksi online, taksi tersebut sudah ada di depan kelas lukis Aunia.
Keduanya segera menaiki taksi dan pulang.
Setibanya di rumah, Aurel segera menuju kamarnya sementara Aunia, ia segera menemui Andra.
Aurel tak ambil pusing dengan sikap Aunia, sepertinya kembarannya itu mulai dekat dengan sepupunya.
Apalagi saat mengetahui jika Aunia dan Andra mempunyai hobi yang sama yaitu melukis. Bahkan Aunia juga minta di ajarkan bermain gitar pada Andra. Sungguh dua orang itu memiliki kebiasaan yang sama. Keduanya juga sulit untuk berinteraksi dengan banyak orang. Mereka lebih cendrung menghabiskan waktu sedirian dengan hobinya dari pada bergaul dengan teman seusianya.
Aurel menutup pintu kamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya pada kasurnya. Matanya melirik langit-langit rumah dengan cat putih itu.
"Bentar lagi Darren ultah gue kasih kado apa ya?" pikirnya.
"Kira-kira Darren lagi pengen sesuatu gak ya?"
"Coba gue cari tau de" putusnya, ia mengambil ponsel yang ada di dalam tas ranselnya.
Darren, Lo sibuk gak?
~Aurel
Beberapa detik setelah pesan itu terkirim, Aurel langsung mendapat balasan dari Darren.
^^^Gak, kenapa?"^^^
^^^~Darren^^^
Bisa temenin gue jalan?
~Aurel
__ADS_1
^^^Kemana?^^^
^^^~Darren^^^
Gue lagi pengen belanja
~Aurel
^^^Oke, gue otw rumah Lo sekarang^^^
^^^~Darren^^^
Thanks, gue tunggu
~Aurel
Setelah mendapat persetujuan dari Darren, Aurel segera menuju kamar mandi dan bersiap-siap sebelum kedatangan Darren.
Aurel sangat bersemangat untuk hari ini. Misinya mencari tau apa yang diinginkan oleh Darren harus tercapai.
^^^Gue di depan^^^
^^^~Darren^^^
Tunggu bentar
~Aurel
Setelah membaca pesan dari Darren dan membalasnya Aurel segera menghampiri Darren yang menunggu di depan rumah.
"Mau kemana?" tanya Aunia, saat melihat kembarannya sangat bersemangat.
"Mau jalan ama pacar gue" balas Aurel penuh maksud.
"Oh, udah dijemput sama Darren?"
"Iya udah didepan anaknya"
"Aunia, Lo kapan punya pacar? biar kita bisa jalan berempat" ujar Aurel sedikit sewot.
Mendengar perkataan Aurel, Aunia sontak menghentikan langkahnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba nanyain itu?" tanya Aunia bingung.
"Gak papa sih, gue cuman pengen Lo punya pacar doang" balas Aurel.
"Yaudah kalau belum punya gak papa, tapi kalau udah ada jangan lupa kenalin gue! gue pergi, bye" balas Aurel meninggalkan Aunia.
"Pacar ya?" gumam Aunia.
.
.
.
Sebuah mol yang cukup populer dikalangan remaja menjadi tujuan Aurel kali ini.
Aurel berkeliling memasuki toko ke toko di temani oleh Darren.
"Lo mau cari apa sih rel?" tanya Darren, ia sudah lelah mengikuti Aurel yang memasuki toko demi toko tapi tak membeli apa pun.
"Gue lagi nyariii, nyari apaan ya?" tanya balik Aurel.
Darren yang tak mengerti dengan sikap Aurel yang super duper aneh kali ini pun hanya bisa menepuk dahinya jengah.
"Lo pms ya?" tanya Darren.
"Gak tuh, kenapa?"
__ADS_1
"Tumben Lo aneh gini, biasanya kalau diajakin belanja palingan beli camilan doang, sekarang malah masuk toko ini itu, tapi gak beli apa-apa"
"Hehehe, gue bingung mau beli apa? kalau Lo ada yang pengen Lo beli gak?" tanya Aurel.
"Apa ya? Kayaknya gak ada" balas Darren.
"Gak ada?"
"Gak" singkat Darren.
"Sia-sia dong gue ngajakin Darren kesini" batin Aurel.
"Kita pulang yuk!" ajak Aurel.
"Katanya mau belanja, gak jadi?" tanya Darren.
"Gak jadi, ayo pulang!"
"Iya, ayo" balas Darren menggaruk-garuk kepalanya. Bagaimana tidak, ia sudah menemani Aurel berkeliling sedari tadi dari satu toko ke toko lainnya tapi tak membeli apa-pun. Dan sekarang ia malah diajak pulang tanpa belanja apa pun.
"Darren, Lo tunggu sini, gue mau ke toilet dulu" ujar Aurel pergi mencari toilet.
Darren yang melihat Aurel berlari tergesa-gesa pun hanya geleng-geleng kepala. Tingkah. Aurel semakin hari semakin aneh saja.
Setelah menemukan toilet, Aurel segera masuk tanpa pikir panjang.
"Ah, lega" ujar Aurel keluar dari toilet.
Namun, saat ia melirik ke samping, ia tak sengaja melihat seorang pria yang baru saja memasuki toilet.
"AAAAHHH, MESUM!!!! NGAPAIN LO DISINI?!! HAH!!!" pekik Aurel memukul-mukul pria tersebut dengan tangannya.
"Udah?" tanya pria itu mencekal tangan Aurel.
"Udah apaan? ngapain Lo masuk toilet cewek?" tanya Aurel sarkas.
"Toilet cewek? Lo sadar gak ini toilet cowok" balas pria itu.
"Lo ngibulin gue? gak bakalan bisa!!" ujar Aurel percaya diri.
"Ikut gue!" ujar pria itu menarik tangan Aurel.
"Liat! toilet cowok atau cewek?" tanya pria itu, ketika ia sudah ada di depan pintu yang bertandakan toilet cowok.
"Cowok" ciut Aurel.
"Sekarang yang salah siapa?" tanya pria itu.
"Gue, sorry" balas Aurel menciut.
"Lepasin tangan gue" ujar Aurel.
"Sana! lain kali pakai mata kalau mau masuk toilet!" balas pria itu.
"Iya-iya, gue kan udah minta maaf" sewot Aurel.
Ia meninggalkan pria itu yang masih menatapnya dari kajauhan.
Aurel melupakan semua kekesalannya pada pria itu, toh salahnya juga. Aurel segera menghampiri Darren yang menunggunya ditempat sebelumnya.
Namun, saat melihat sebuah toko jam tangan. Aurel menjadi tertarik untuk melihatnya.
Aurel memasuki toko itu, dan melihat-lihat koleksi yang terdapat pada toko itu. Hingga ia tertarik pada satu jam tangan yang berwarna coklat.
"Mbak, saya mau yang ini ya" ujar Aurel.
"Baik mbak, tunggu sebentar"
Setelah pelayan mengemasi belanjaannya, Aurel segera membayarnya.
__ADS_1
Aurel segera keluar dari toko itu dan menghampiri Darren.
"Maaf, lama banget yah?" tanya Aurel bersalah.