
Tok Tok Tok
Aurel segera menyeka air matanya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk.
"Rel, buka pintunya gue mau ngomong" ujar Darren dari balik pintu.
Aurel membuka pintu kamarnya, menampakkan Darren yang tengah berdiri didepan kamarnya. Tatapan Darren yang terlihat iba pun dapat dilihatnya dengan jelas.
"Gue gak suka dikasihani Darren" ucap Aurel yang tau betul jika Darren tengah iba padanya.
"Gue gak kasihan sama Lo, gue cuman ikut ngerasain kesedihan Lo rel, please lo jangan nganggap gue orang asing" ujar Darren lembut.
"Gue tau Lo sedih rel, tapi gak gini caranya, jangan sampai karna kehilangan satu orang Lo abaikan orang-orang yang sayang sama Lo!" lanjutnya.
"Lo benar! gue gak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, tapi untuk kali ini biarin gue sendiri! gue mau nenangin diri dulu, dan gue sangat sangat berharap Lo ngerti Darren!" pinta Aurel.
"Gue gak bakal ganggu Lo, tapi kalau Lo butuh tempat buat bercerita ataupun berkeluh kesah, Lo harus ingat gue selalu ada buat Lo! gue pamit" ujar Darren.
"Darren!" panggil Aurel, baru beberapa langkah kaki Darren meninggalkan kamar Aurel. Panggilan Aurel kembali menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Aurel yang baru saja memanggilnya.
"Makasih buat semuanya" lirih Aurel.
Darren membalasnya dengan senyum hangat yang selalu ia tujukan pada Aurel.
.
.
.
Disisi lain, Aunia tengah duduk di taman belakang rumah. Ia menatap langit hitam yang mulai menghilang terbawa oleh angin. Dan akhirnya menampakkan langit biru yang cerah ditambah sinar hangat matahari.
"Sekarang hidup aku kayak langit ini, awan hitamnya udah pergi dan tinggal langit biru yang cerah dengan hangatnya sinar mentari" gumamnya.
Aunia tersenyum senang, saat angin sepoi-sepoi menerpa pipinya. Matanya ia pejamkan untuk menikmati angin yang menerpa wajahnya.
"Nyaman banget anginnya"
"Keliatannya seneng banget, kenapa?" tanya Andra yang melihat Aunia tersenyum sendiri di taman belakang.
Aunia yang mendengar suara familiar itu segera membuka matanya.
"Kak Andra, ngapain kesini?" tanya balik Aunia.
"Tadi gue liat Lo lagi senyum-senyum sendiri jadi gue samperin, gue pikir Lo Kesambet" kekehnya.
"Kak Andra bisa aja" balas Aunia malu.
"Mikirin apa?" tanya Andra.
"Gak mikirin apa-apa" jawabnya cepat.
"Santai aja gue bercanda kok, kenapa Lo jadi gugup gitu" kekeh Andra.
"Oh ya, gue mau pamit pulang, salam yah buat Aurel, gue gak mau ganggu dia, jadi titip salam aja buat dia" ujar Andra.
"Pasti kak, nanti aku sampein"
__ADS_1
Setelah berpamitan pada Aunia, Andra segera mengambil kunci mobilnya yang ia tinggalkan di ruang tamu. Lalu meninggalkan rumah dan melajukan mobilnya menuju Bandung.
.
.
.
Tujuh hari kemudian...
Aurel telah siap dengan seragam sekolahnya. Hari ini adalah hari pertama ujian akhirnya dimulai. Aurel menyantap sarapan yang telah disiapkan mamanya. Setelah beberapa hari dirawat dirumah, Aleta pulih dengan cepat. Ia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.
"Tumben, pagi-pagi gini kamu udah siap?" tanya Aleta, ia tau betul kebiasaan Aurel yang selalu bangun terlambat.
"Hari ini aku ujian ma" balas Aurel kembali menyantap sarapannya.
"Pantesan!" kekeh Aleta.
Aurel menghabiskan sarapannya dengan cepat, ia tak mau terlambat untuk ujiannya pagi ini. Notifikasi chat dari Darren jika ia telah sampai membuat Aurel segera menyelesaikan makannya.
"Ma aku udah selesai, aku pamit yah" ujar Aurel.
"Aurel, minum susu dulu, udah aku buatin itu, mubazir!" ujar Aunia.
Aurel segera meneguk susu putih itu dengan buru-buru.
"Ah!" suara leganya terdengar saat susu digelas sudah ia tandaskan.
"Udahkan?" ujar Aurel melirik Aunia.
Aurel segera berlari menuju halaman rumah. Motor Darren yang terparkir di halaman rumahnya membuatnya semakin mempercepat langkahnya. Ia tak mau jika Darren terlambat hanya karna menjemputnya. Namun, saat ia melihat motor Darren terparkir didepan rumahnya. Aurel tak melihat sosok Darren di dekat motornya. Aurel melihat ke sekeliling, namun tak juga menemukannya.
"Darren kemana ya?" pikir Aurel.
Sebuah tangan dari arah belakangnya menutup mata Aurel. Aurel yang kaget langsung memberontak untuk dilepaskan.
"Kasar banget sih jadi cewek" suara itu, suara yang sangat ia kenali pemiliknya.
"Darren" ujar Aurel, ketika ia berhasil membuka tangan yang menutupi matanya.
"Iya ini gue"
"Lo ngapain nutupin mata gue? gak ada kerjaan banget"
"Gue mau ngasih suprise Ama Lo, tapi yaudah gak jadi!"
"Suprise apaan?"
"Kan udah gue bilang gak jadi!"
"Masa mau ngasih suprise pake gak jadi segala" balas Aurel kesal.
"Malah ngambek! gue kan becanda doang, sensi amat dah" ujar Darren.
"Bodoh!"
"Nih gue kasih suprisenya, jangan ngambek dong" kekehnya, sembari menghibur Aurel.
__ADS_1
Aurel melihat sebuah kotak yang ada pada tangan Darren.
"Ini apa?" tanya Aurel.
"Buka aja, nanti Lo bakalan tau" pinta Darren.
Aurel membuka kotak yang diberikan oleh Darren. Raut wajahnya terlihat senang saat mengetahui jika kotak itu adalah sebuah kotak musik. Aurel memutar kunci kotak musik tersebut, Alunan musik yang indah terdengar melodis di telinga.
"Bagus banget" Ujar Aurel girang.
"Lo suka?" tanya Darren.
"Suka banget" balas Aurel dengan menampakkan deretan gigi ratanya.
"Makasih yah" ujar Aurel.
"Gitu doang makasihnya?" tanya Darren. Aurel mengerenyitkan dahinya bingung, ia tak mengerti maksud dari perkataan Darren.
"Trus makasihnya harus gimana?" tanya Aurel.
"Gak mau peluk gitu" kekeh Darren.
"Jadi Lo gak ikhlas ngasih?"
"Kata siapa? gue ikhlas kok"
"Trus kenapa mau cari-cari kesempatan?"
"Siapa tau gue dapet rejeki pagi-pagi" kekehnya.
"Yaudah, ayo berangkat, ntar kita telat" pinta Aurel.
"Yaudah" Darren mengambil helm yang ia letakkan pada kaca spion motornya. Baru saja akan memakaikan helm di kepalanya, sebuah tangan sudah melingkar di perutnya. Darren terdiam ditempatnya ketika Aurel memeluknya dari belakang.
"Darren, makasih banyak yah, Lo udah mau bantuin gue dalam kondisi apa pun, dan Lo gak pernah ninggalin gue walaupun dalam keadaan terpuruk sekali pun, Lo selalu jadi orang yang bisa semangatin gue disaat gue lagi jatuh-jatuhnya, dan makasih Lo masih stay disisi gue" lirih Aurel.
Mendengar penuturan Aurel membuat Darren tersenyum tipis. Ia tak menyangka jika Aurel akan mengatakan hal sedalam dan setulus itu padanya.
Darren menggenggam tangan yang melingkar pada perutnya. Ia memutar badannya sehingga dapat melihat dengan jelas wajah Aurel.
"Lo gak perlu berterimah kasih sama gue, karna tanpa Lo suruh pun, gue bakalan tetap stay disisi Lo" ujar Darren, ia mendekap tubuh Aurel kedalam pelukannya.
"Karna gue sayang sama Lo" lanjutnya.
Aurel senang ketika ucapan itu keluar dari mulut Darren, karna perasaannya pada Darren ternyata terbalaskan.
"Gue juga" ujarnya di dalam dekapan Darren.
.
.
.
Thanks udah baca:)
See you next part...
__ADS_1