
"Ayo!" Andra berjalan lebih dulu. Ia menaiki tangga satu persatu untuk menuju lantai atas. Begitu juga Darren dan Aurel yang mengikuti dari belakang.
Sesampainya di lantai atas. Mereka langsung di kejutkan dengan adanya Kayla, Naya, Rendy, dan Mikha yang diikat pada kursi. Mulut mereka di sumpal dengan kain.
"Kayla!" Ujar Aurel, ia hendak berlari menghampiri putrinya itu.
Namun,
Seseorang menghalangi jalannya. Aurel menatap tajam pada wanita yang menghalangi jalannya.
"Kamu lagi?!" Ujar Aurel sarkas.
Sorot mata yang penuh kebencian terlihat jelas pada mata wanita yang ada di depannya. Begitu juga dengan dirinya sendiri, sorot mata yang penuh amarah ia tujukan pada wanita yang telah menculik anaknya.
"Aurel, Aurel, kamu membawa mereka kesini?" Tanya Arsy dengan nada meremehkan.
"Kenapa jika kami disini? Apa kamu takut?!" Tanya Andra sarkas.
"Andra" ujarnya. Ia berjalan mendekat pada Andra.
Arsy menatap Andra dengan seksama. Ia sangat mencintai pria yang ada di depannya ini. Namun, dendam di hatinya lebih besar dari rasa cintanya pada Andra.
"Andai, kak Andra gak ikut campur. Mungkin kita gak akan ada di posisi seperti ini" ujarnya penuh perasaan.
"Tapi, karena kamu udah ikut campur! Kamu juga akan mendapatkan imbasnya!" Lanjutnya kembali sarkas.
"Asal kamu tau, jika saya tidak terlibat dalam kejadian ini pun. Saya tetap tidak sudi mengenal wanita pendendam seperti kamu!" Balas Andra penuh amarah.
"Ouh, apa kamu lupa? Kamu tidak hanya mengenal ku. Tapi__" Arsy memotong ucapannya. Ia melirik Mikha yang tengah terikat di kursi.
"Kamu juga mencintai ku, bahkan kamu mencari ku beberapa tahun lalu" kekehnya kembali menghadap Andra.
"Apa yang kamu harapkan? Kamu harap jika istriku akan cemburu pada wanita yang tidak punya hati seperti kamu" balas Andra mendecihkan ludahnya ke samping.
"Dia tidak bisa di bandingkan dengan wanita seperti kamu. Dia tulus dan penyayang, tidak seperti kamu!" Andra menatap jijik pada Arsy.
"Pendendam!" Lanjutnya.
"Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api! Ini semua kesalahan wanita itu!" Tunjuk Arsy pada Aurel.
"Bukankah Aunia sudah meninggal! Lalu kenapa kamu masih menganggu keluarga kami?!" Balas Andra. Ia sangat kesal dan marah pada wanita yang ada di hadapannya ini.
"Ya, Aunia sudah meninggal. Namun hutangnya belum lah lunas. Jadi__"
"Aku ingin menagihnya sekarang!" Lanjutnya.
"Tanggap mereka!" Ujarnya. Entah dari mana, tiga orang pria langsung meringkus tangan mereka ke belakang.
"Lepas!!"
"Apa-apaan ini?!"
"Dasar! Wanita gila!"
Kurang lebih begitulah. Umpatan yang keluar dari mulut Aurel, Darren dan Andra.
"Aurel" lirihnya.
Perlahan ia berjalan menghampiri Aurel.
"Kamu ingat? Dulu Bu Lina gagal menggambar di wajah kamu"
"Boleh aku melanjutkannya?" Tanya Arsy.
"Gagal itu wajar untuk manusia seperti kamu!" Balas Aurel sini.
__ADS_1
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aurel. Hingga berbekas.
"Aurel!" Ujar Darren dan Andra bersamaan.
"Jika Bu Lina gagal, maka aku yang akan melanjutkannya!"
"Aku yakin Bu Lina bakalan seneng aku lanjutin pekerjaan yang tidak sempat ia lakukan!" Balas Arsy menatap bintang di langit malam.
"Sayangnya dia terlalu tersiksa di neraka, untuk melihat kejadian ini!" Ucap Aurel terkekeh. Walaupun tamparan bekas tangan Arsy masih terasa ngilu di pipinya.
"Diam!" Bentaknya.
"Kalau begitu aku akan mengirimmu ke neraka untuk menemani Bu Lina!" Balas Arsy.
"Tapi sebelum itu, kamu harus menyaksikan kematian orang-orang tersayang kamu terlibih dahulu"
Arsy berbalik menghadap pada Kayla, Naya, Rendy dan Mikha yang terikat.
"Mulai dari siapa ya?" Tanyanya sembari berfikir-fikir. Ia melirik Kayla, Naya, Rendy dan Mikha bergantian.
Tatapannya terhenti pada Mikha. Ia berjalan mendekat menghampiri Mikha.
"Mulai dari istri kak Andra dulu kali ya" ujarnya menatap Andra.
"Jangan sentuh Mikha!" Bentak Andra.
"Hahaha"
"Sepertinya kamu sangat menyayangi wanita ini" balas Arsy.
"Berani sentuh Mikha! Kamu mati!" Ujar Andra geram.
"Uhhhh, aku takut!" Balas Arsy pura-pura ketakutan.
Andra semakin geram, Arsy benar-benar menguji kesabarannya.
"Bawakan tali tambang!!" Teriak Arsy. Seorang pria langsung membawakan tali tambang padanya.
Sontak Aurel dan Darren serta Naya kaget dengan pria yang memberikan tali tambang tersebut.
"Pria di foto itu dia" batin Aurel.
"Terimah kasih Jessen" balas Arsy. Pria itu berdiri tegak di belakang Arsy.
"Aku akan membuat sebuah permainan yang menegangkan" ujar Arsy penuh maksud.
"Jessen! Ikat leher Mikha dengan tali ini!" Pinta Arsy.
"Baik Bu" balasnya.
"Jangan sentuh Mikha!" Bentak Andra. Namun, Jessen tak mendengarkannya. Ia langsung mengalungkan tali tersebut pada leher Mikha.
"Pria brengsek! Kamu mau mati!" Bentak Andra.
"Kenapa Mikha terbawa-bawa kedalam masalah ini! Dia tidak ada kaitannya dengan dendam kamu!" Ujar Aurel.
"Karena dia wanita yang dicintai Andra! Aku benci perebut!" Balas Arsy.
"Sadar! Kamu yang tidak tau diri! Kamu akan kehilangan semua orang yang menyayangi mu. Kalau kamu punya sifat pendendam!" Ujar Aurel.
"Aku gak peduli!" Balasnya.
"Sudah" ujar Jessen.
__ADS_1
"Sekarang ikatkan pada leher bocah di sampingnya!" Pinta Arsy tertuju pada Rendy.
"Baik"
Jessen langsung mengalungkan ujung tali lainnya pada leher Rendy. Bocah itu sempat protes namun ia akhirnya diam karna tamparan Arsy.
Plak
"Diam!" Bentak Arsy.
"Arsy!! Akan ku potong tanganmu! Berani sekali menampar anak ku!" Teriak Andra.
"Selesai Bu" ujar Jessen.
Arsy melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Rendy. Tak lupa ia juga melepaskan sumpalan pada mulut Rendy.
"Dasar nenek lampir!" Tiga kata yang mampu membuat Arsy langsung naik pitam.
"Apa kamu bilang?!" Bentak Arsy. Ia ingin kembali menampar Rendy.
"Kenapa?! Mau nampar?!" Tanya Rendy.
"Mau sebelah kanan atau kiri?" Lanjutnya menunjukkan pipi kanan dan kirinya.
"Bocah ini, berani sekali" batin Arsy.
Ia mengurungkan niatnya menampar bocah tengil yang ada di depannya ini.
"Tamparan terlalu sederhana buat kamu! Aku bakalan kasih yang lebih istimewa" balas Arsy sinis.
Rendy mengerenyitkan dahinya heran.
"Ayo ke sini!" Ajak Arsy. Ia membawa Rendy ke tepi lantai.
"Jangan!" Ujar Andra.
"Liat ke bawah!" Pintanya pada Rendy.
"Apa yang kamu liat?"
"Lantai"
"Kamu tau? lantai itu akan menjadi kasur terakhir kamu" balas Arsy. Ia langsung mendorong tubuh Rendy jatuh ke bawah.
"Ayah!" Teriaknya sebelum Arsy mendorongnya.
"Rendy!!"
"Aku melupakan sesuatu" ujar Arsy. Ia langsung menghampiri Mikha.
Ia langsung melepaskan sumpalan pada mulutnya.
"Akhhhh"
Suara tercekik Mikha membuat Andra kehilangan kendali.
"Ini bari seru" ujar Arsy. Ia sangat puas dengan suara tercekik Mikha.
Brak
Kursi tempat Mikha di ikat terjatuh.
"Tampaknya anak mu cukup berat ya" ujar Arsy.
"Asal kamu tau? Jika kamu bertahan disini, maka anak kamu akan mati tercekik! Dan jika kamu segera meloncat ke tepi lantai. Maka kamu bisa menemani anakmu menjemput ajalnya" balas Arsy puas.
__ADS_1
"Lepas! Aku gak akan biarin anak ku tersiksa sendirian" balas Mikha sesenggukan.