PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 37


__ADS_3

Selama Aleta dirumah, Aunia dan Aurel menjaga dan merawatnya dengan baik. Tak ada satu pun keluhan yang keluar dari mulut Aleta tentang kondisi tubuhnya. Melihat sang mama yang telah berangsur-angsur pulih, Aurel memutuskan untuk kembali sekolah dan mengejar materinya yang tertinggal.


"Ma, Aurel pergi sekolah dulu yah" pamitnya pada sang mama yang berbaring ditempat tidur.


"Iya" angguk Aleta.


"Aunia, gue udah pesen makanan buat Lo sama mama, bentar lagi juga nyampe, jagain mama ya! gue pamit" ujar Aurel pada Aunia.


"Iya, pasti aku jagain kok" balas Aunia.


Aurel segera menghampiri Darren yang telah menungguinya didepan rumah. Mereka berangkat menuju sekolah seperti biasanya. Namun saat di persimpangan sebuah mobil menghadang jalan mereka. Darren dengan cepat mengerem motornya.


Keduanya menatap intens mobil yang ada didepannya. Mobil yang sangat familiar bagi Darren dan Aurel.


Pengemudi mobil keluar dan menghampiri keduanya. Aurel yang tau betul jika itu adalah Gio hanya diam dan mengamati.


"Papa Lo rel" lirih Darren memberi tahu.


"Gue tau"


Aurel turun dari motor dan menghampiri Gio. Terlihat jelas Aurel masih marah pada Gio.


"Mau ngapain?" tanya Aurel to the point pada papanya.


"Kamu masih marah sama papa?" tanya Gio.


"Kalau udah tau jawabannya kenapa masih nanya pa? Papa gak sadar apa yang papa lakuin itu udah tindak kriminal, papa tau gak? berapa banyak nyawa yang melayang karna ulah papa, dan papa tau? karna perbuatan papa, mama sampai masuk rumah sakit, sekarang papa masih nanya, aku masih marah sama papa?" jawab Aurel mengeluarkan semua unek-unek nya.


"Maafin papa, papa janji gak bakal lakuin itu lagi, maafin papa yah" ujarnya sungguh-sungguh.


"Untuk sekarang aku belum bisa pa, maaf aku harus ke sekolah" pamit Aurel kembali menaiki motor Darren.


"Jalan Darren!" pinta Aurel.


Motor Darren melaju meninggalkan Gio yang terdiam diri ditempatnya. Sudah kesekian kalinya ia meminta maaf, tapi yang ia dapatkan hanyalah amarah dari putrinya.


"Maafin papa, papa nyesel" lirihnya sendu.


.


.


.


Disekolah Aurel sangat kewalahan mengejar materinya yang tertinggal. Beruntungnya Darren dengan senang hati membantunya. Waktu ujian yang semakin dekat membuat Aurel Harus segera mengejar materinya yang tertinggal dengan cepat.


Namun, Aurel yang sedang fokus pun harus menghentikan kegiatannya, saat Laura datang dan berdiri disamping mejanya.


"Aurel" panggil Laura. Aurel sedikit mendongak untuk menatap Laura yang tengah bicara kepadanya.


"Laura? ada apa?" tanya Aurel.

__ADS_1


"Ada hal penting yang mau gue omongin sama lo" ujarnya dengan wajah serius.


"Yaudah, ngomong aja!" balas Aurel.


"Gak disini, ikut gue bentar!"


Laura langsung menarik tangan Aurel dari kursinya.


"Gue ikut yah" ujar Darren.


"Gak perlu, Lo disini aja" pinta Laura.


Laura terus menarik tangan Aurel hingga keduanya berada di depan gudang sekolah. Aurel sedikit penasaran kenapa dirinya dibawah ke gudang sekolah.


"Kita ngapain disini?" tanya Aurel.


"Ntar Lo bakalan tau sendiri" balasnya.


Aurel tak bertanya lagi, saat ini pikiran nya sedang menebak-nebak apa yang akan dibicarakan Laura. Sehingga ia harus membawanya sampai di depan gudang.


"Lo mau ngomong apa?" tanya Aurel lagi.


"Bukan gue, tapi dia" ujar Laura mengarah pada Bu Lina yang baru saja datang.


"Bu Lina" lirihnya.


"Aurel, lama yah gak ketemu" ucap Bu Lina.


"Kemana aja kamu? Lagi sibuk yah" tebak Bu Lina.


"Beberapa hari ini mama saya dirawat dirumah sakit Bu, jadi saya jagain mama disana" balas Aurel.


"Ouh, Trus gimana kabar mama kamu, udah sembuh?" tanya Bu Lina. Namun Aurel merasa ada yang janggal dengan kata demi kata yang keluar dari mulut Bu Lina. Nadanya seakan-akan tengah mengolok-olok dirinya.


"Masih tahap pemulihan Bu"


"Begitu yah, salam yah buat mama kamu"


"Iya Bu, nanti saya sampaikan, maaf Bu, bukannya lancang, tapi ibu mau ngomong apa yah? sampai nyuruh Laura bawa saya kesini" tanya Aurel yang mulai merasa aneh dengan ucapan Bu Lina, tidak biasanya ia menanyai kehidupan pribadi dari muridnya.


"Oh iya, hampir saja saya lupa" ujarnya dengan nada yang dibuat-buat.


"Apa kamu ingat pernah berjanji pada saya?" tanya Bu Lina.


"Janji?" tanya Aurel sembari mengingat apa yang pernah ia janjikan pada Bu Lina. Meski telah berusaha, Aurel tetap saja tak dapat mengingat janji apa yang telah ia buat pada Bu Lina.


"Maaf Bu saya gak inget, janji apa ya Bu?" tanya Aurel.


"Gak inget ya?" kekeh Bu Lina.


"Ini salah saya yang terlalu berharap lebih, seharusnya dari awal saya gak perlu percaya ucapan kamu" lanjutnya.

__ADS_1


"Maaf Bu, tapi saya beneran lupa" Sesal Aurel.


"Kamu ingat kamu pernah berjanji akan membuat orang yang telah membunuh anak saya dengan tidak manusiawi bertanggung jawab atas perbuatannya, tapi sampai sekarang saya tak pernah mendengar kamu melakukan sesuatu untuk itu" ujar Bu Lina.


Sepersekian detiknya, Aurel langsung teringat ucapannya pada Bu Lina beberapa bulan yang lalu. Aurel terdiam ketika mengingat hal tersebut, bagaimana bisa ia menghukum saudara kembarnya sendiri. Sungguh ia tak bisa berfikir jernih sekarang, bagaimana pun Aunia terpaksa melakukan hal tersebut, karna tekanan dari Gio.


.


.


.


Pulang dari sekolah Aurel langsung diantar oleh Darren menuju rumahnya.


"Mau mampir dulu gak?" tawar Aurel ketika keduanya baru saja sampai di rumah.


"Gak usah, lain kali aja"


Motor Darren melaju meninggalkan rumah Aurel. Setelah kepergian Darren, Aurel langsung memasuki rumah. Ia langsung memasuki kamar mamanya, Namun saat ia masuk Aleta tak ada dikamarnya.


"Ma!" panggil Aurel berulang kali. Ia memeriksa kamar mandi dan seisi rumah. Tapi ia tak menemukan Aleta dimana pun.


"Mama kemana yah?" pikirnya.


Aurel segera menghubungi Aunia untuk menanyakan dimana mamanya. Namun belum sempat Aurel menelfon, Aunia dan mamanya sudah berada di ambang pintu.


"Aurel, kamu udah pulang?" tanya Aleta.


"Mama kemana aja? Aurel nyariin mama dari tadi, Aurel khawatir mama kenapa-napa" ujarnya menghampiri mamanya.


"Maaf yah rel, Aku lupa ngabarin, kalau aku mau bawa mama jalan-jalan sebentar, kata mama dia bosan dikamar terus" terang Aunia.


"Gak papa, sekarang mama istirahat ya, pasti capek kan habis jalan-jalan" ujar Aurel.


Aurel dan Aunia memapah mamanya menuju kamar. Aleta mematuhi kedua putrinya. Ia tak akan membuat kedua putrinya itu repot karna mengurusnya.


"Sudah, mama tidak apa-apa, kamu istirahat sana, pasti capek yah?" tanya Aleta.


"Iya ma, aku ke kamar dulu" Aurel segera menuju kamarnya dan beristirahat. Setelah berganti pakaian, Aurel merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak butuh waktu lama hingga ia terlelap akan banyaknya masalah yang harus ia hadapi hari ini.


.


.


.


Thanks udah baca :)


See you next part...


Jangan lupa tekan like nya yah..

__ADS_1


__ADS_2