PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 53


__ADS_3

Aunia menutup pintu kamarnya, namun saat memasuki kamar ia tak melihat adanya Aurel yang tertidur.


"Aurel kemana?" pikir Aunia.


"Udah pulang?" tanya Aurel yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aurel, kamu udah sembuh?" tanya Aunia.


"Udah"


"Yakin? tadi pagi masih panas"


"Udah mendingan kok"


"Bagus deh" lega Aunia.


"Lega banget keliatannya, kenapa?" tanya Aurel.


"Gak kenapa-napa, aku cuma tenang aja kan bentar lagi aku mau ikut lomba lukis, kalau kamu udah sembuh kan aku enak ninggalinnya"


"Oooh gitu, gue kira kenapa" balas Aurel.


"Tapi Lo udah minta izin mama?" tanya Aurel lagi.


"Belum sih, ntar malam pas mama pulang aku kasih tau deh"


"Yaudah gue mau makan dulu, Lo laper gak?" tanya Aurel.


"Kamu duluan aja, ntar aku nyusul"


.


.


.


Pukul sembilan malam lebih, Aurel dan Aunia masih setia duduk di meja makan. Bukan tanpa alasan, kedua gadis kembar tengah menunggu mamanya yang belum pulang sampai sekarang.


"Rel, mama mana sih? aku udah ngantuk nih" ujar Aunia.


"Gue gak tau, gak biasanya mama belum pulang jam segini" balas Aurel melirik jam dinding.


"Gak usah di tungguin, palingan Tante lagi lembur" ucap Andra dari dapur.


"Tapi ndra, ini udah lewat dari waktu biasanya mama kerja, dan kalau mama lembur kenapa gak ngabarin kita?"


"Lupa kali, karna kebanyakan kerjaan"


"Gak mungkin ndra, gue udah telfon dari tadi, tapi gak diangkat"


"Gak kedengaran mungkin"


"Aku jadi khawatir deh sama mama" ujar Aunia


"Gue juga" balas Aurel.


"Kita susulin mama ke kantor aja ya"


"Iya Lo benar, kenapa gak kepikiran dari tadi" ujar Aurel.


"Bentar gue pesen taksi dulu" lanjutnya.


Melihat kedua gadis kembar yang panik, Andra hanya bisa menghela nafas jengah.


"Gak usah, biar gue Anter" ujar Andra.


Aurel yang sedang sibuk mencari taksi online pun menghentikan kegiatannya.


"Seriusan Lo?" tanya Aurel.


"Iya"


"Makasih ya ndra"

__ADS_1


"Tunggu apa lagi, ayo susulin mama" ujar Aunia.


Mereka segera menuju tempat di mana mobil Andra di parkir.


Namun baru sampai didepan pintu, mereka dikejutkan oleh kedatangan sebuah taksi di halaman rumah.


"Siapa?" tanya Aurel.


"Gak tau" balas Andra dan Aunia.


Melihat wanita yang keluar dari taksi tak lain adalah mamanya. Mereka pun dapat bernafas lega.


Aurel dan Aunia segera menghampiri mamanya.


"Ma, dari mana aja? kenapa pulangnya telat? aku telfon juga gak diangkat? mama gak papa kan? mama bikin kita khawatir tau gak?" tanya Aurel bertubi-tubi.


"Mama gak papa, kamu kenapa jadi bawel gini?" tanya Aleta.


"Iiiih mama, aku khawatir sama mama, kenapa di bilang bawel sih?" kesal Aurel.


"Yaudah, mama minta maaf. Tadi mama lembur jadi lupa waktu dan mama juga lupa buat ngabarin kalian, maaf ya" ujar Aleta bersalah, ia telah membuat kedua putrinya menjadi khawatir.


"Gak papa kok ma, mama pasti capek kan? mama istirahat aja dulu" ujar Aunia


"Iya, kamu emang anak mama yang paling pengertian" puji Aleta.


"Trus aku?" tanya Aurel.


"Anak mama yang paling bawel" ujar Aleta mencubit pipi putrinya itu, dan memasuki rumah.


"Mama!" pekik Aurel.


"Udah malam, masuk rumah!" pinta Aleta dari ambang pintu.


Walaupun kesal ketiganya menuruti perintah Aleta tanpa kecuali.


"Gimana cara ngomong sama mama?" tanya Aunia.


"Samperin ke kamar mama aja" saran Aurel.


"Ya mau gimana lagi, kalau ditunda lagi yang ada mama gak bakalan tau masalah ini, lebih baik Lo kasih tau sekarang, Lo mau rencana Lo buat ikut lomba lukis ke Hongkong itu gagal?" tanya Aurel.


"Ya gak mau"


"Makanya, jangan suka nunda-nunda"


"Gue samperin sendirian nih?" tanya Aunia.


"Ya iyalah, masa mau nyamperin mama bawa orang sekampung" ledek Aurel. Sedangkan Aunia mendengus kesal.


Setelah mendapat saran dari Aurel, Aunia segera menghampiri Aleta dikamarnya.


Tok Tok Tok


Tiga kali ketukan ia bunyikan pada pintu kamar Aleta.


"Mama udah tidur?" tanya Aunia dari balik pintu.


"Mama belum tidur, masuklah!" pinta Aleta.


Perlahan Aunia memutar gagang pintu, terlihat Aleta yang sudah menggunakan piyamanya duduk ditepi ranjang.


"Ada apa?" tanya Aleta.


"Aku mau ngomong sesuatu sama mama" lirihnya.


"Mau ngomong apa?"


"Gini ma, guru pembimbing aku rekomendasiin aku buat lomba ke Hongkong, kira-kira mama ngizinin gak?" tanya Aunia.


"Hongkong?" tanya Aleta kaget.


"Iya ma, mama gak ngizinin ya?"

__ADS_1


"Kapan?"


"Minggu depan aku berangkat ma, lombanya berlangsung tiga hari, setelah itu aku langsung balik ke rumah"


"Kamu mau ikut?" tanya Aleta.


"Kalau mama gak ngizinin aku gak bakalan ikut kok ma"


"Mama nanya, kamu mau ikut?" ulang Aleta.


"Mau" singkatnya.


"Yasudah, kalau ada yang perlu mama bantu kamu bilang ya!"


"Maksud mama? aku boleh ikut lomba"


"Kenapa gak? mama gak akan larang selama hal yang kamu lakuin itu bermanfaat dan berdampak positif buat kehidupan kamu"


"Makasih ma" ujar Aunia memeluk Aleta.


"Sama-sama" balas Aleta membalas pelukan sang putri.


.


.


.


"Papa!" pekiknya.


Aurel langsung terbangun dari tidurnya. Lama tak bertemu dengan sang ayah, membuatnya sangat merindukan sosok ayah yang selalu menyayanginya.


"Kamu kenapa? mimpi buruk?" tanya Aunia yang juga ikut terbangun karena teriakan Aurel.


"Gue mimpi ketemu papa, gue kangen banget sama papa" lirihnya sendu.


"Tapi papa udah jahat sama kita, dia udah misahin kita bertahun-tahun"


"Kesalahan fatal papa, gak akan pernah buat gue lupa kalau dia sangat menyayangi gue, dan gue juga sebaliknya, gue sayang sama papa"


"Aku gak ngerti cara fikir kamu gimana rel, dia udah nyakitin keluarga kita dan kamu masih sayang sama dia, dia itu sama kayak sampah!"


"Stop Aunia! jangan pernah bilang papa kayak gitu, gue gak suka!"


"Kenapa? memang itu kenyataannya, dia itu sampah! bahkan keluarganya saja ia korbankan demi uang"


"Aunia cukup!"


"Aurel berhenti bohong sama diri kamu sendiri, Dia cuma nipu kamu di balik kasih sayang yang dia kasih terselubung niat jahat"


"Gue gak peduli, gue sayang sama papa" balas Aurel kemudian keluar dari kamar.


"Mau kemana?"


"Nenangin diri" ujarnya lalu meninggalkan kamar.


Aurel duduk di teras rumahnya, ia menatap langit malam yang bertaburan bintang.


"Katanya, orang yang udah meninggal bakalan jadi bintang, papa pasti jadi salah satunya kan?" gumam Aurel.


"Pa, papa liat aku kan? Aku kangen banget sama papa, Aku gak tau kenapa? hari ini aku kangen banget sama papa, aku ngerasa kehilangan papa" lirihnya.


Lelah bicara pada bintang di langit malam, Aurel menyandarkan kepala pada dinding rumah.


.


.


.


Aunia bangun dari tidurnya, pukul sudah menunjukkan jam enam pagi.


Ia melirik kesamping tempat tidurnya, kosong.

__ADS_1


"Aurel kemana? kenapa gak ada"


__ADS_2