PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 25


__ADS_3

Aurel dan Darren mengendap-endap mengikuti perempuan bertopi itu. Namun, saat keduanya sampai di gerbang rumah. Mereka dikagetkan oleh dua orang bodyguard yang berjaga di pos satpam.


"Ada yang jaga!" sergah Aurel sebelum Darren melangkahkan kakinya membuka gerbang.


"Tadi gak ada" ujar Darren.


"Kayaknya kita gak liat deh, Lo liat kan posisi mereka itu gak keliatan dari tempat kita berdiri tadi" ucap Aurel.


"Sekarang gimana?"


"Kita harus alihin perhatian mereka"


"Biar gue aja yang ngalihin perhatiannya, Lo masuk aja" usul Darren.


"Jangan ngacoh!! kalau pakai cara itu Lo bisa ketangkap"


"Trus gimana?"


"Bentar!" sejenak Aurel terdiam.


"Gue tau" ujarnya sumringah.


"Apa?"


"Pakai ini aja" Aurel menunjukkan beberapa buah kelereng yang ia bawa di dalam tasnya.


"Kelereng? emang bisa?"


"Jangan ngeremehin dong, bentuknya emang kecil tapi bantuannya bakalan besar banget" kekeh Aurel.


Aurel melemparkan kelereng tersebut kearah kaca jendela secara bersamaan.


Prankkkkkk


Terdengar nyaring suara kelereng itu saat terbentur kaca. Suara tersebut mampu membuat kecurigaan dari kedua bodyguard yang berjaga di pos satpam tersebut.


"Suara apaan tuh?"


"Jangan-jangan penyusup lagi" ujarnya.


"Mending kita cek, dari pada kena amuk si bos lagi"


kedua bodyguard itu memeriksa sumber suara yang didengarnya.


"Sekarang" ujar Aurel.


Keduanya mindik-mindik memasuki rumah agar tak katauan oleh satpam. Dan usahanya itu berhasil, mereka bisa memasuki rumah tanpa ketauan oleh kedua bodyguard tersebut.


Setelah memasuki rumah, Aurel dan Darren dapat bernafas lega.


"Untung gak ketauan" ujar Aurel.


"Cemerlang juga ide Lo" puji Darren.


Tap


Tap


Tap


"Ntar aja mujinya, kayaknya kita belum aman" ujar Aurel ketika telinganya mendengar langkah kaki dari atas.


"Ngumpet situ aja" usul Darren.

__ADS_1


Aurel menuruti Darren, mereka bersembunyi dibelakang tangga.


Suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat ditelinga keduanya. Susah payah mereka menahan nafas agar tak ketauan oleh orang yang akan datang itu.


"Gue sebenarnya ngeri kerja disini tapi yah gimana gue butuh duit"


"Sama gue juga tapi yaudahlah, jangan banyak tingkah aja disini kita pasti bakalan aman"


Terdengar perbincangan dua orang yang baru saja turun dari tangga. Dari pembicaraan yang didengar Aurel dan Darren. Mereka dapat menyimpulkan jika dua orang bodyguard itu tertekan. Tapi karna faktor ekonomi mereka harus menahannya.


"Ayo!" Aurel dan Darren kembali mindik-mindik. Mereka menaiki tangga dan tetap waspada akan kedatangan orang-orang yang mungkin tak akan mereka duga.


Sesampainya di atas mereka kembali melihat rak buku yang sebelumnya mereka lihat.


"Ambil bukunya!" pinta Aurel pada Darren.


"Kenapa gak Lo aja?"


"Gue gak nyampe, ketinggian" sewotnya.


"Hehe, maaf gue lupa kalau Lo pendek" kekeh Darren mengambil buku Dengan sampul warna merah itu.


Walaupun tau Darren tengah meledeknya tapi Aurel tak ambil pusing. Lagian apa yang dikatakannya memang benar adanya.


Rak buku tersebut bergeser menampakkan sebuah pintu. Tanpa pikir panjang Darren langsung membuka pintunya. Sebuah tangga curam kembali mereka lihat.


Setelah melewati tangga curam itu, mereka dihadapkan oleh dua buah pintu. Itu adalah pintu yang sebelumnya mereka periksa. Satunya berisi alat-alat medis dan bau darah yang anyir. Satu lagi berisi kumpulan orang-orang yang disekap oleh mereka. Entah untuk apa mereka menyekap orang-orang tersebut Aurel dan Darren tak tau alasan dibalik itu.


Aurel dan Darren kembali bersembunyi dibalik tumpukan kardus tatkala mereka mendengar sebuah teriakan bersamaan dengan suara tangis.


"Lepasin!! Saya salah apa sama kalian? lepasin saya,,, hiks,,, hiks" Suara seorang perempuan dengan seragam SMA DASASILA yang tengah diseret oleh bodyguard dengan tidak manusiawi.


Perempuan itu terus saja memberontak, tapi usahanya itu sia-sia karena bodyguard itu tampak tak peduli pada nasibnya.


"Itu Aunia" ujar Darren.


"Lo yakin?"


"Gue yakin, mata gue gak mungkin salah"


Aurel kembali memperhatikan perempuan itu, sekilas memang terlihat sama.


"Iya sih, dia mirip sama yang tadi"


Perempuan yang diseret oleh bodyguard itu masih memberontak.


"Lepasin!! Lepasin saya!!! hiks,,,hiks,,"


"Diam!!" bentak bodyguard yang menyeretnya.


"Bawa dia masuk!!" Pinta perempuan yang berpakaian medis.


"Baik nona" Bodyguard itu segera menyeretnya memasuki ruangan yang diperintahkan.


"Sudah selesai nona"


"Kamu boleh pergi" Setelahnya bodyguard tersebut meninggal kan tempat itu.


Perempuan dengan pakaian medis itu menutup pintu.


Suara teriakan dan tangisan semakin nyaring terdengar setelah perempuan itu masuk.


"Sebenarnya apa yang mereka lakukan pada orang-orang itu?" pikir Aurel.

__ADS_1


"Entahlah"


"Gue penasaran" Aurel keluar dari persembunyiannya ia diikuti Darren. Keduanya menguping dari balik pintu mendengarkan pembicaraan perempuan dengan pakaian medis itu pada perempuan yang diseret Bodyguard itu. Karna tak ada celah untuk mereka melihat apa mereka lakukan didalam ruangan itu.


"Lepasin!!!"


"Lepasiiin saya!!!"


"Saya salah apa?!!"


"Ughh kamu terlalu berisik ya"


"Kamu mau apa?!!"


"Gak mau apa-apa, cuma mau ngirim kamu ke neraka"


"AAAAAAAAHHH!!!" setelah teriakan itu tak lagi terdengar suara pekikan dari dalam ruangan.


"Apa yang mereka lakukan padanya? kenapa suaranya sangat tersiksa" tanya Aurel.


"Gue gak tau"


Beberapa lama menguping mereka tak lagi mendengar suara apa-pun dari dalam.


"Selesai, papa pasti bangga sama aku"


Setelah mendengar suara itu, Aurel dan Darren kembali bersembunyi dibalik tumpukan kardus.


Benar saja pintu itu terbuka, memperlihatkan perempuan itu lagi. Tapi ia tak lagi menggunakan pakaian medisnya. Masker yang melekat pada wajahnya juga sudah tak ia pakai. Hal itu membuat Aurel dan Darren bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aurel dan Darren tentu saja terpelongo melihat wajah perempuan itu, yang sangat persis dengan Aurel. Bahkan Darren berulang kali menatap Aunia dan Aurel secara bergantian.


"Kalian benar-benar mirip" ujar Darren.


"Kayaknya gue beneran punya kembaran" balas Aurel tak percaya. Apalagi saat ia melihat seseorang menghampiri Aunia, yang tak lain adalah Gio papanya sendiri.


"Ada papa Lo?" tanya Darren sedikit berbisik.


Aurel tak mengubris ia hanya fokus pada Aunia dan papanya.


"Pekerjaan ku sudah selesai pa" ujar Aunia pada Gio.


"Bagus, gadis pintar" puji gio mengusap lembut rambut Aunia. Aunia terlihat senang saat pujian itu dilontarkan Gio padanya.


"Terimah kasih pa"


"Kalian bereskan!" pinta Gio pada dua orang bodyguard yang ada dibelakangnya.


Setelah memberikan perintah Gio dan Aunia meninggalkan tempat itu. Hanya tersisa bodyguard yang tadi diperintahkan Gio untuk membereskan sesuatu. Dua orang bodyguard itu memasuki ruangan yang dimasuki Aunia sebelumnya. Tak berapa lama mereka keluar, Aurel dan Darren langsung terbelalak kaget melihat apa yang dibawa oleh dua orang bodyguard itu.


Perempuan yang tadinya dengan berani memberontak pada bodyguard yang menyeretnya terkulai lemah dengan tubuh berlumuran darah. Bahkan tubuhnya dibawa bak karung beras, sementara bodyguard satu lagi membawa organ-organ tubuh, kemungkinan itu adalah organ tubuh dari perempuan itu.


Melihat hal tersebut, Aurel tak bisa menahan tangisnya. Air matanya jatuh begitu saja melihat pemandangan mengerikan itu. Aurel tak menyangka jika papanya memiliki hati iblis seperti ini. Apalagi saat ia tau jika yang melakukan kekejaman itu adalah saudari kembarnya sendiri.


Aurel terduduk lemas, kakinya tak lagi kuat untuk menopang tubuhnya. Tenaganya seolah-olah terserap begitu saja. Darren yang melihat Aurel yang sangat terpukul berusaha menenangkannya.


.


.


.


.


Thanks udah baca :)

__ADS_1


See you next part😊


__ADS_2