PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 40


__ADS_3

Aurel mengisi kertas ujiannya dengan teliti. Ia tak ingin jika hasil ujiannya mendapatkan nilai yang kurang baik.


Setelah kejadian tadi pagi, Aurel menjadi lebih bersemangat. Apalagi saat hubungannya dengan Darren telah menemukan titik terang. Rasa yang ia pikir hanya dirasakan olehnya, ternyata Darren juga merasakan hal yang sama.


Pagi itu, juga menjadi awal dari hubungan keduanya. Perasaan keduanya yang telah terbalaskan, membuat sebuah hubungan baru untuk Darren dan Aurel.


Aurel mengumpulkan kertas ujiannya ketika ia rasa semua soal telah ia isi dengan benar. Setelah menyerahkan kertas ujiannya, Aurel langsung keluar ruangan dan menghampiri Darren yang telah menunggunya di parkiran.


"Lama ya?" tanya Aurel ketika ia melihat Darren tengah bersandar pada motor sembari memainkan hp nya.


"Lumayan, Lo si kelamaaan baca soalnya" balas Darren.


"Siapa suruh Lo kecepatan baca soalnya!" ujar Aurel tak mau kalah.


"Lebih cepat lebih baik!"


"Teliti juga penting!"


Darren tersenyum ketika Aurel menatapnya dengan kesal. Wajah Aurel yang cemberut menjadi sangat lucu saat ini dimata Darren.


"Lo lucu" kekeh Darren.


"Emang!" balas Aurel masih dengan wajah kesal.


"Kebiasaan banget sih, ambekan!" ujar Darren ia menarik hidung Aurel.


"Ahh, sakit!" Aurel mengelus hidungnya yang memerah akibat Darren.


"Uhhh, pacarnya Darren tukang ngambek ya?" Ledeknya.


"Enak aja! siapa yang Ngambek? gue gak ngambek!"


"Kalau gak ngambek senyum dong, jangan cemberut Mulu, ntar cantiknya ilang". Darren menarik kedua sudut bibir Aurel membentuk lengkungan.


"Nah gitu, kan cantik" puji Darren. Aurel senang ketika pujian itu keluar dari mulut Darren. Apalagi saat pujian itu di tujukan untuk dirinya sendiri.


"Makasih selalu ngehibur gue" ujar Aurel.


"Makasih Mulu! gak capek apa?" kekeh Darren.


"Ayo pulang" Ajak Darren.


Motor Darren melaju meninggalkan perkarangan sekolah yang sudah mulai sepi karna banyak murid yang sudah pulang.


.


.


.


Aurel dan Aunia menghabiskan waktunya bersama di kamar. Keduanya tengah asyik melukis gambar yang disukai masing-masing. Alat-alat lukis tersebut sengaja di beli Aurel secara Online, untuk mengisi kesibukannya dengan Aunia. Aurel sangat mengerti jika Aunia tak punya banyak aktivitas selain membantu Aleta dirumah. Jadi Aurel berinisiatif untuk membeli perlengkapan melukis agar Aunia bisa mengisi waktu luangnya.


Aunia terlihat senang saat lukisannya sudah mulai terbentuk. Walaupun tak pernah melukis sebelumnya tapi lukisan Aunia cukup bagus untuk pemula. Sepertinya Aunia memiliki bakat Alamiah melukis sedari dulu. Namun bakat itu tak pernah ia asa sehingga hanya terpendam di dalam dirinya.


"Wah, bagus banget lukisan Lo" puji Aurel.


"Makasih" balas Aunia.


"Lo ada bakat ngelukis ya?"

__ADS_1


"Gak tau, aku baru pertama kali ngelukis sekarang"


"Seriusan? Lo baru pertama kali ngelukis, udah bisa bikin lukisan sebagus ini". Aurel tak menyangka jika Aunia baru pertama kali melukis.


"Kamu berlebihan deh" balas Aunia.


"Gue serius, lukisan Lo bagus, Lo gak mau ngembangin bakat Lo gitu?" tanya Aurel.


"Ngembangin? ngembangin gimana?" tanya Aunia bingung.


"Gue daftarin kelas lukis mau?"


"Kelas lukis?"


"Iya, disana Lo bakalan tau dasar-dasar dan trik-trik buat ngelukis yang benar, gimana Lo mau gak?"


"Aku mau"


"Besok pulang sekolah gue bawain formulirnya ya"


"Makasih Aurel"


Ditengah Asyiknya perbincangan keduanya, Suara bel rumah berbunyi.


"Ada tamu" ujar Aurel.


"Kayaknya gitu, tapi lukisan aku manggung nih"


"Selesain aja dulu, biar gue yang buka pintunya"


"Iya"


"Gawat itu kan polisi waktu itu!" panik Aurel.


Saat melihat polisi yang bicara dengan mamanya telah pergi. Aurel segera menghampiri Aleta.


"Ma" panggil Aurel.


"Mau ngapain polisi itu kesini?" tanya Aurel.


Aleta menatap Aurel dengan binar mata yang berkaca-kaca. Butiran bening itu mulai berjatuhan di pipinya.


"Mama kenapa?" tanya Aurel.


"Kenapa kamu gak cerita sama mama!" Bentak Aleta.


"Cerita? Cerita apa ma?


"Kenapa kamu gak bilang kalau papa kamu udah meninggal, HAH!!" ujar Aleta. Perasaannya menjadi campur aduk, antara sedih dan kecewa.


"Maaf ma" lirih Aurel.


"Aurel cuma gak mau kalau mama sampai drop karna masalah ini" lanjutnya.


Aleta terduduk, Air matanya yang berjatuhan ia biarkan saja tanpa ada niat untuk menghapuskan. Ia ingin marah, tapi ia tak bisa melakukannya. Bagaimana pun, putrinya melakukann hal tersebut untuk kesembuhannya sendiri.


"Mama tau kamu peduli sama mama, tapi nyembunyiin ini dari mama, apa kamu tau? kamu telah mengambil hak mama untuk hadir di pemakaman papa kamu"


"Maaf ma"

__ADS_1


"Mama capek mau istirahat"


Aleta meninggalkan Aurel yang terdiam melihat kepergian mamanya. Matanya tak sengaja melihat dompet dan ponsel milik Gio yang terbungkus plastik transparan. Aurel dapat menyimpulkan jika kedatangan polisi itu, untuk memberikan barang-barang milik Gio yang tertinggal di TKP.


Dering ponselnya, membuat Aurel mengalihkan pandangannya dari Aleta pada layar ponselnya. Nomor yang tak dikenal tertera di layar ponselnya.


"Halo, siapa ya"


"Kami dari kantor polisi mbak"


"Kantor polisi? Ada apa ya pak?"


"Begini, dari kasus kecelakaan yang terjadi beberapa hari yang lalu, kami menemukan kejanggalan dari mobil pak Gio, tim kami menemukan Rem mobil yang dipotong dengan sengaja"


"Maksud bapak, kecelakaan papa saya ada yang sabotase?"


"Kemungkinan besar begitu"


Aurel terdiam, ia tak pernah berfikir jika kecelakaan Gio dilakukan secara sengaja oleh orang yang tak bertanggung jawab.


"Terimah kasih informasinya pak, kalau ada informasi selanjutnya tolong kabari saya pak"


Setelah penggilan telfonnya berakhir, Aurel kembali ke kamar untuk menceritakannya pada Aunia.


.


.


.


Pantulan wajahnya terlihat jelas di dalam cermin. Tangannya ia gunakan untuk menopang wajahnya. Raut wajah bingung bercampur penasaran terlihat jelas pada wajahnya. Pikirannya menerawang memikirkan kabar yang di berikan oleh polisi tadi siang.


Sentuhan pada pundak Aurel membuatnya menggeliat menatap wajah yang sama persis dengan dirinya.


"Aku tau kamu masih mikirin perkataan polisi itu, tapi semuanya udah terjadi kita gak bisa ngelakuin apa-apa" ujar Aunia.


"Kita emang gak bisa lakuin apa-apa buat papa, tapi seenggaknya kita bisa buat pelaku yang udah sabotase mobil papa bertanggung jawab atas perbuatannya!"


"Kamu mau cari pelakunya?" tanya Aunia ragu.


"Iya, gue bakal buat dia mendekam di penjara karna perbuatannya!"


"Saran aku jangan deh, itu bisa ngebahayain kamu"


"Sampai sekarang gue gak pernah takut sama bahaya, gue cuma takut saat orang-orang terdekat gue terluka, dan gue gak bisa ngelakuin apa-apa"


"Tapi, Aurel, kamu mau cari pelakunya kemana? kamu gak tau kan titik terangnya dimana?"


Aurel kembali terdiam, Aunia benar. Ia harus mencari titik terang dari masalah ini. Tapi, dari mana ia akan memulainya. Jika ia hanya mengandalkan polisi belum tentu ia bisa mendapatkan informasi yang cepat. Aurel menghela nafas panjang, masalah demi masalah terus saja menghampirinya saat ini. Pikirannya tak lagi bisa tenang, selalu saja ada masalah setiap saatnya.


.


.


.


Thanks udah baca :)


Jangan lupa likenya ya, gratis kok gak perlu bayar, hehe✌️😁

__ADS_1


__ADS_2