
"Diam!" Bentak Arsy.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Aunia.
"Lo ingat, gue pernah jatuh dari sini, Lo mau coba gak?" Tanya Arsy.
"Dorong dia Laura, ibu mau liat dia nyusulin Lala!" Pinta Bu Lina.
"Dengan senang hati Bu" balas Arsy.
BRUKKK
"Aunia!!" Teriak Aurel.
Aurel langsung berlari menuju tepi atap dimana Aunia terjatuh.
"Lo udah gila ya! Hah!" Bentak Aurel. Ia mendorong tubuh Arsy kasar.
"Kalau Lo mau nyusulin dia, gue bisa bantu" kekehnya.
Melihat tubuh Aunia yang sudah tak bergerak. Aurel langsung berlari ingin menuruni atap.
Namun,
"Hentikan dia!" Pinta Bu Lina.
"Minggir! Gue mau lewat!" Bentak Aunia pada para bodyguard yang ada di depannya.
Aurel berusaha melawannya untuk membebaskan diri. Namun, karna jumlah mereka terlalu banyak Aurel tetap kalah.
Ia diringkus dengan kasar kedepan Bu Lina.
"Kamu tau, saya benci sekali dengan wajah ini!" Ujarnya mengusap wajah Aurel.
Sedetik kemudian.
Plak
Plak
Dua kali tamparan mendarat di kedua pipi Aurel.
Emosi yang sudah menguasainya, membuat Bu Lina tak lagi bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Dengan kuat Bu Lina menjambak rambut Aurel.
"Kalau saya bunuh kamu sekarang, itu gak seru! Saya mau kamu merasakan siksaan yang sama yang pernah dilakukan saudara kamu kepada anak saya dan teman-temannya" kekeh Bu Lina.
Ia kembali memperlihatkan pisau lipatnya di depan wajahn Aurel.
"Sepertinya wajah cantik kamu ini saya buat ukiran akan lebih menarik!" Ujarnya tersenyum aneh.
"Baiknya buat gambar apa ya? Apa kamu ada ide Laura?" Tanya Bu Lina.
"Buat aja ukiran pembunuh di wajahnya Bu" balas Laura.
"Ide bagus" balas Bu Lina.
🦉🦉🦉
"Lepasin gue!" Bentak Andra memberontak.
"Diam!!"
Sampai di bawah tangga Darren menendang kaki salah satu bodyguard hingga ia mengadu kesakitan.
"AHH!" Ringisnya memegangi kakinya.
Melihat bodyguard yang lainnya lengan. Andra langsung mendorongnya hingga tersungkur bersama temannya.
Bodyguard yang tak terima karna sudah di permainkan oleh dua orang anak ingusan. Ia merasa kesal dan terjadilah perkelahian antara Andra dan Darren dengan dua bodyguard tersebut.
Beberapa kali Andra dan Darren terkena pukulan. Tapi Andra dan Darren tetap berhasil melumpuhkan kedua bodyguard hingga keduanya jatuh pingsan.
__ADS_1
"Buruan, jangan sampai Aurel dan Aunia kenapa-napa" ujar Andra.
Keduanya langsung berlari menaiki anak tangga. Setibanya di atap, pemandangan yang ironis di tangkap oleh kedua matanya.
Bu Lina dan Arsy yang tak menyadari keberadaan keduanya, membuat mereka segera menyusun rencana.
"Andra, Lo urus Arsy!" Pinta Darren.
"Oke, serahin sama gue" balas Andra.
Keduanya berjalan perlahan menghampiri Bu Lina dan Arsy.
Bu Lina yang ingin mengukir di wajah Aurel, tiba-tiba tangannya terasa berat. Saat ia menoleh ternyata tangannya di cekal oleh Darren.
"Darren" lirih Aurel. Aurel langsung memukul bodyguard yang meringkusnya dengan sikunya. Dengan cepat Andra memukul tengkuknya hingga ia terjatuh pingsan.
"Lepasin!!" Bentak Bu Lina. Namun, dengan cepat Darren meringkus Bu Lina hingga dia tak lagi bisa bergerak.
Arsy yang ingin membantu langsung diringkus oleh Andra.
"Kak Andra" ujarnya, ketika melihat Andra ada dibelakangnya.
"Diam!" Bentak Andra, ia langsung memukul tengkuknya. Dengan sekejam mata Arsy langsung pingsan.
"Kalian__" Bu Lina yang hendak memerintahkan bodyguardnya, terdiam ketika melihat para bodyguard telah tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Mau apa? Mau perintahkan mereka? Coba aja kalau bisa!" Tantang Darren.
Sebelum ia dan Andra meringkus Arsy dan Bu Lina. Melihat segerombolan bodyguard yang menjaga ketat keduanya. Mengharuskan Darren dan Andra melumpuhkan bodyguard itu terlebih dahulu.
Balok kayu yang tergelatak menjadi senjata keduanya untuk melumpuhkan para bodyguard dengan badan kekar tersebut.
"Lebih baik ibu diam, kita udah buat semua bodyguard ibu pingsan, dan bentar lagi polisi bakalan datang, ibu bakalan mendekap di penjara" ujar Andra.
"Kamu yakin? Kalau saya mendekam di penjara maka Laura atau Arsy kamu itu juga akan mendekam di penjara" balas Bu Lina.
"Saya tak pernah membeda-bedakan, yang salah tetap salah, baik itu orang yang paling saya cintai di dunia ini, tidak ada pengecualian!" Ujar Andra. Hal itu tentu saja membuat Bu Lina tersenyum masam.
Suara sirine polisi membuat Darren dan Andra bernafas lega. Polisi membawa Bu Lina dan Arsy ke kantor polisi terdekat.
"Gue gak papa, tapi_"
"Tapi kenapa?" Tanya Darren.
"Aunia, dia di dorong Arsy dari atap" jawabnya.
Aurel, Andra dan Darren langsung melihat Aunia dari atap. Melihat tubuh Aunia yang tak lagi bergerak membuat Aurel langsung kalang kabut.
"Aunia!" Pekiknya. Ia langsung menuruni tangga untuk menghampiri kembarannya itu.
Darah yang telah menyelimuti tubuh Aunia membuat Aurel syok. Ia langsung memeluk tubuh Aunia yang mulai terasa dingin.
"Aunia bangun! Lo harus bertahan" ujar Aurel.
"Ndra, angkat! Bawa Aunia ke rumah sakit sekarang" pintanya.
Andra langsung mengangkat tubuh Aunia dan menidurkannya di bangku belakang bersama Aurel.
Andra melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
"Sus, selamatkan saudara saya!" Pinta Aurel pada suster.
Sesampainya di depan pintu UGD, suster melarangnya masuk.
"Selamatkan saudara saya sus!" Pinta Aurel.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin, bantu doanya ya" ujarnya. Lalu menutup pintu UGD.
Darren yang sadar jika Aurel tengah kalut. Ia langsung menenangkannya.
"Semua pasti baik-baik aja" ujar Darren, ia langsung mendekap Aurel kedalam pelukannya.
"Aunia gak bakalan ninggalin gue kan?" Tanya Aurel.
"Berdoa aja ya" balas Darren, ia juga tak bisa memprediksi keadaan Aunia. Dari yang ia lihat, kondisi Aunia sangat kecil kemungkinan untuknya bisa bertahan.
__ADS_1
Aurel menumpahkan semua air matanya di pelukan Darren.
"Udah ya, dari pada Lo nangis mending Lo berdoa buat Aunia" nasehat Darren.
"Iya Lo benar" balas Aurel, ia segera menghapus air matanya.
"Rel, Lo luka?" Tanya Darren, ia baru menyadari jika kedua bahu Aurel terluka.
"Gak papa, luka kecil ini" balasnya.
"Semua luka Lo bilang luka kecil, tapi Lo gak sadar kalau luka kecil juga bisa membesar kalau gak di obati" ujar Darren.
"Nanti gue obatin, tapi gue harus tau kondisi Aunia dulu" balasnya. Ia masih melihat ke rumah UGD yang masih tertutup.
"Rel, lebih baik Lo kabarin Tante alete deh" ujar andra.
"Iya, gue belum ngabarin mama dari tadi"
Aurel langsung mencari nomor mamanya.
"Halo ma"
"..."
"Aku dirumah sakit"
"..."
"Aurel kecelakaan ma"
"...."
"Aku tunggu ma"
.
.
.
Dengan langkah tergesa-gesa, seorang wanita paru baya memasuki rumah sakit.
"Sus, UGD di mana ya?" tanyanya pada suster yang ada di resepsionis.
"Ibu lurus aja, setelah itu belok kanan" ujar suster mengarahkan.
"Terimah kasih"
Aleta langsung menuju UGD yang telah di arahkan oleh suster.
Tepat di pintu UGD, terlihat Aurel, Andra dan Darren yang sedang menunggu dengan panik di depan pintu UGD.
"Aurel" ujarnya menghampiri ketiganya, mereka terlihat tidak baik-baik saja. Terdapat bercak darah dan luka di tubuh mereka.
"Aunia gimana? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Aleta panik.
"Aunia masih di tangani dokter ma" balas Aurel.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Dan kamu ini kenapa luka?" Tanya Aleta, ia melihat tubuh putrinya terdapat banyak goresan luka.
Dengan cepat Aurel menceritakan detail kejadian yang baru saja di alaminya. Tentang Bu Lina yang ingin menghabisi Aunia dan kemarahannya pada Aurel karna memiliki wajah yang sama persis dengan pembunuh anaknya. Hingga mereka harus bertaruh nyawa untuk menyelamatkan diri dari cengkraman Bu Lina dan Laura.
"Mama kan udah larang kamu nyelidikin masalah ini!!" Bentak Aleta.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Aurel. Karna terlalu marah, Aleta tanpa sadar menampar putrinya sendiri.
Aurel memegangi pipinya yang sakit akibat tamparan dari mamanya. Ia hanya diam menahan rasa sakit yang menggerogoti pipinya. Ia sadar dirinya memang bersalah atas apa yang menimpa Aunia.
"Maafin mama, mama terlalu emosi" ujarnya. Ia langsung memeluk tubuh Aurel yang bergetar menahan tangisnya.
Sementara Darren dan Andra hanya terdiam ditempatnya masing-masing. Ingin membantu ia juga tak bisa melakukan apapun. Dalam masalah ini, mereka juga terlibat.
Hiks..
__ADS_1
Aurel menumpahkan tangisnya di dalam pelukan mamanya. Rasa sakit dan sesak ia rasakan sudah tak bisa lagi ia tahan. Sekuat tenaga ia berusaha tegar, namun pendirian itu digoyahkan oleh sebuah bentakan.