PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 58


__ADS_3

Darren segera mengambil paper bag yang berisi buku-buku yang dibelinya di toko buku bersama Andra.


Dengan semangat Darren langsung memasuki rumah dengan membawa dua paper bag di tangannya.


"Aunia, nih buat Lo, kemarin Andra yang beli" panggil Darren ketika melihat Aunia.


Aunia mengambil paper bag nya dan melihat isinya.


"Makasih ya kak Andra" ujarnya lalu kembali ke kamar.


"Ya sama-sama" balas Andra sembari memindahkan cat yang tadi mereka gunakan.


"Oh ya rel, kemarin gue beli ini buat Lo" ujarnya memberikan paper bag yang ada di tangannya.


Aurel menerimanya, dan betapa terkejutnya ketika ia memeriksa isi dari paper bag tersebut.


"Darren, ini beneran buat gue?" tanya Aurel tak percaya.


"Iya" angguknya.


"Ahhh makasih" pekiknya kegirangan sambil memeluk Darren.


Darren sangat senang karna hadiahnya diterima dengan baik oleh Aurel.


"Aurel, jaga jarak!" pinta Aleta yang baru saja keluar dari kamarnya.


Mendengar ucapan mamanya, mendadak suasananya menjadi canggung.


"E-eh gak sengaja ma" balas Aurel langsung melepaskan pelukannya.


"Pa-pagi tan" sapa Darren kikuk.


"Mama mau kemana?" tanya Aurel ketika mamanya sudah siap dengan pakaian olahraganya.


"Mau ikut senam ibu-ibu kompleks" balas Aleta seadanya.


"Mama berangkat dulu ya" pamitnya, lalu meninggalkan rumah.


"Darren, kok Lo bisa dapetin semua novel ini?" tanya Aurel.


"Lo kan pernah cerita kalau Lo suka sama novel genre romantis gitu, kebetulan kemarin gue liat jadi gue beli buat Lo" jelas Darren.


Aurel mendengar penuturan Darren mendadak hatinya menghangat. Bagaimana tidak, sesuatu yang kita senangi diberikan tanpa kita minta. Apa itu tak cukup membahagiakan bagi Aurel. Walaupun bukan hal besar namun bersyukur atas apa yang kita punya saat ini itu perlu. Terutama buat Aurel yang sangat bersyukur memiliki Darren yang mengerti dirinya lebih dari siapa pun.


"Darren, gue janji gue bakalan simpan ini baik-baik dan gak akan rusak satu helai pun" ujar Aurel sungguh-sungguh.


"Gak usah segitunya" kekeh Darren.


"Harus Darren, ini pemberian Lo, jadi gue harus jaga baik-baik" ujar Aurel menyunggingkan senyum.


Darren yang gemas dengan tingkah Aurel langsung mengacak-acak rambutnya.


Aurel tak marah, ia menikmati rambutnya di acak-acak oleh Darren. Ia sangat mengerti jika itulah cara Darren menunjukkan rasa sayangnya padanya.


"Oh ya, hari ini mama pulang dari Singapura, besok gue mau ajak Lo ketemu mama, mau ya" ujar Darren.

__ADS_1


"Iya" angguk Aurel. Walaupun ia sedikit takut akan reaksi mamanya Darren ketika bertemu dengannya, Aurel tetap memasang wajah full senyum pada Darren.


"Yaudah gue pergi dulu, bye" pamit Darren.


"Bye, langsung pulang kan?" tanya Aurel.


"Ngak, mau nongkrong bentar"


"Yaudah, hati-hati" balas Aurel.


Setelah kepergian Darren, Aurel langsung menuju kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur.


Paper bag yang tadinya diberikan Darren ia peluk erat-erat. Dengan mata terpejam ia masih bisa tersenyum mengingat bagaimana manisnya sikap Darren padanya.


Namun, ucapan Darren yang mengatakan jika mamanya akan pulang dari Singapura. Dan memintanya bertemu dengan mamanya langsung membuat Aurel kalang kabut.


Ia langsung berguling-guling dia atas kasur memikirkan bagaimana reaksi mamanya Darren ketika bertemu dengannya. Akankah dia senang? atau malah sebaliknya.


Memikirkan kejadian-kejadian yang mungkin terjadi membuat Aurel langsung kehilangan moodnya.


"Kenapa? tadi aja senang banget, sekarang malah ngelamun, hati-hati ntar Kesambet loh" ujar Aunia yang duduk di kursi lukisnya.


"Darren ngajak gue ketemu mamanya besok" ujar Aurel.


"Bagus dong, itu artinya dia emang serius sama kamu" balas Aunia.


"Iya sih, tapi gue takut kalau mamanya gak suka sama gue gimana?" tanya Aurel bingung.


"Itu tantangan buat kalian, buat bisa dapat restu dari orang tua kalian masing-masing"


.


.


.


Sepulang dari kampus, Aurel langsung bersiap mencari pakaian yang cocok untuk bertemu dengan mama Darren.


Ia langsung mengeluarkan satu persatu baju yang ia punya. Ia memilah-milah mana yang akan ia gunakan untuk bertemu calon mertuanya itu.


"Yang ini aja deh" ujarnya ketika mendapatkan baju yang cocok untuk ia pakai.


Aurel langsung bersiap dan mengenakan baju yang telah ia pilih. Setelah selesai berdandan ia menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Sempurna" ujarnya puas.


Namun, bayang-bayang buruk tentang reaksi mama Darren ketika bertemu dengannya langsung berputar di kepalanya.


"Gimana kalau mama Darren gak suka sama gue? sama kayak reaksi mama pertama kali ketemu Darren" pikirnya.


"Aurel, kamu udah siap?" tanya Aunia mengintip dari balik pintu kamar.


Aurel melirik sekilas dengan wajah bingung.


"Loh kenapa? kok kayak gak senang gitu?" tanya Aunia sembari menghampiri Aurel.

__ADS_1


"Gue takut deh Aunia, gimana kalau mama Darren gak suka sama gue?" ujarnya menumpahkan semua gelisahan yang ada di hatinya.


"Kamu gak boleh berfikiran negatif gitu, siapa tau mama Darren suka banget sama kamu" ujar Aunia menenangkan.


"Udah ah, jangan bengong Mulu! Darren udah datang tuh, buruan temuin!" lanjutnya memberi tahu.


"Darren udah Dateng?" tanya Aurel.


"Udah, lagi nunggu di depan"


"Aunia" lirih Aurel dengan raut khawatir.


"Gak papa, kamu bisa kok" ujar Aunia menyemangati.


Dengan ragu, Aurel langsung menemui Darren yang sudah menunggunya di depan rumah.


"Darren" panggilnya.


Darren yang merasa namanya di panggil langsung membalikkan badan. Ia menatap Aurel dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Hanya Satu kata yang keluar dari mulutnya.


"Cantik" lirihnya.


Aurel hanya bisa tersenyum malu mendengar pujian dari Darren.


"Ayo berangkat sekarang!" ajaknya.


"Lo bawa mobil?" tanya Aurel, ketika ia tak melihat motor yang biasanya di pakai Darren. Melainkan mobil sedan hitam yang sudah terparkir di depan rumahnya.


"Iya, takut tuan putri gue lecet" kekehnya.


"Apaan sih, gombal" balas Aurel terkekeh.


"Silakan" ujar Darren langsung membukakan pintu mobil.


"Makasih" balas Aurel menyunggingkan senyum.


"Rel" panggil Darren ketika Aurel baru saja duduk.


"Kenapa?" tanya Aurel menatap Darren.


"Jangan keseringan senyum ya" ujar Darren serius.


"Kenapa?" lagi-lagi hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Aurel.


"Takut diabetes gue" balasnya langsung menutup pintu mobil.


Aurel yang mendapat gombalan receh dari Darren pun tersipu malu, hingga wajahnya menjadi merah tomat.


Mobil Darren langsung melaju menuju kediamannya. Sepanjang perjalanan menuju kediaman darren, Aurel terus saja membayangkan kejadian buruk yang mungkin terjadi.


Hingga mobil Darren memasuki perkarangan rumahnya. Aurel semakin gugup dibuatnya.


Darren langsung membukakan pintu mobil untuk Aurel. Namun, Aurel yang masih sibuk memikirkan kejadian-kejadian buruk yang mungkin saja terjadi hingga ia tak sadar jika mereka telah sampai di depan rumah.

__ADS_1


"Aurel" Panggil Darren setelah membuka pintu mobil untuknya.


__ADS_2