
Suara tangis yang tertahan bisa ia dengar dari arah belakang rumah. Andra sangat tau, semarah apa pun Aurel, ia tak akan bisa menahan dirinya untuk menangis.
Perlahan Andra menghampiri Aurel yang terduduk di teras belakang dengan memeluk kedua lututnya.
"Ngapain nangis? Emang ada gunanya?" Tanya Andra datar.
"Andra, Lo ngapain disini?" Balas Aurel menyeka air matanya. Ia bangkit dan berdiri sejajar dengan Andra.
"Tadi gue denger ada yang nangis, makanya gue samperin, siapa tau mbak Kunti lewat siang bolong gini" kekeh Andra meledek.
"Rese Lo!!" Kesal Aurel.
"Udahlah, kalau sedih jangan lama-lama, cuman nyiksa diri sendiri doang"
"Siapa yang sedih? Gue gak sedih" balas Aurel.
"Yang bilang Lo sedih siapa?" Ujarnya Andra dengan wajah tanpa dosanya.
"Andra!!! Lo ngeselin bangetttt!!" Pekik Aurel, ia memukul Andra sekeras-kerasnya.
Andra hanya diam dengan pukulan yang diterimanya. Pukulan dari tangan Aurel tak seberapa baginya. Ia malah tersenyum, ketika wajah sedih Aurel perlahan menghilang. Yang terlihat hanya wajahnya yang kesal dan ingin terus memukulnya.
"Pukulan Lo gak seberapa! Udah ah gue mau keluar! Bye". Andra mencegal tangan Aurel dan melepaskannya. Ia berlalu meninggalkan Aurel yang terdiam dan mencerna ucapannya.
Tiba-tiba Aurel tersadar dengan perkataan Andra.
"Lo ngatain gue lemah?!" Pekiknya pada Andra yang mulai menjauh.
"Gue gak bilang ya" kekehnya.
π£π£π£
Pukul 7 malam. Semua keluarga berkumpul di ruang makan. Mereka sedang menyantap makan malam bersama seperti biasanya. Tapi kali ini tanpa adanya Aunia.
"Tan, besok aku pulang ke Bandung ya" ujar Andra di sela-sela makan.
"Kok mendadak banget?" Tanya Aleta setelah meletakan gelas bekas minumnya.
"Iya Tan, besok lusa aku ada tugas kuliah yang harus di kumpul"
"Oh gitu, yaudah gak papa, tapi nanti main kesini lagi ya" ujar Aleta.
"Pasti Tan"
"Dia gak main kesini juga gak papa kok ma, bikin kesel dong kalau kesini!" Sewot Aurel. Ia masih mengingat kejadian tadi siang. Dimana Andra secara tidak langsung mengatakan jika dirinya itu lemah.
"Yakin Lo? Setau gue, Lo selalu minta bantuan sama gue" ledek Andra.
"Udah gak usah ribut, lanjutin aja makannya!" Pinta Aleta.
Andra dan Aurel langsung diam mendengar perintah Aleta. Tapi keduanya masih meledek satu sama lain, melalui isyarat mata.
Suara langkah kaki, membuat Aurel, Andra dan Aleta menoleh.
Aunia berjalan dengan kepala tertunduk. Ia menghampiri mereka yang sedang makan malam.
Aurel yang masih kesal tak bereaksi apa-apa. Ia melanjutkan makannya yang belum selesai. Sedangkan Aleta, ia tak menengok sedikit pun pada Aurel, ia kecewa dengan sikap putrinya itu. Sementara Andra, ia hanya menatap sekilas, lalu kembali menyantap makan malamnya.
"A_aku mau minta maaf" lirihnya terbata-bata.
Tapi tak ada yang membalas ucapannya.
"Aku tau aku salah, aku bodoh selalu kabur dari masalah, aku tau aku harus berani hadapin masalah, tapi aku gak berani!" Lanjutnya mengakui kesalahannya.
"Kalau mama, Aurel sama kak Andra gak mau maafin aku, gak papa kok! Aku tau kok, aku udah ngecewain kalian semua"
"Maaf" ujarnya lagi. Ia ingin beranjak pergi meninggalkan ruang makan.
Namun, tangannya di cekal oleh Aurel.
"Duduk sini! Makan dulu! Lo belum makan kan?" Tanya Aurel.
__ADS_1
Aunia mengangguk sekilas.
Ia duduk tepat di sebelah Aurel. Dengan cepat Aurel membalikkan piring untuk Aunia. Ia mengambilkan nasi dan lauk yang banyak untuknya.
"Makan! Lo pasti laper banget kan?"
"Pasti aku habisin kok" balas Aunia, ia memakan makanan yang telah di sajikan Aurel untuknya.
"Jangan diulangi lagi!" Ujar Andra, tanpa melihatnya.
"Gak akan" balas Aunia.
"Makan yang banyak! Jangan nyiksa diri sendiri lagi!" Pinta Aleta, menatap datar dirinya.
"Iya ma" balas Aunia tersenyum hangat.
Ditengah-tengah makan malam yang sudah mulai kembali hangat. Suara telfon rumah berdering.
Kring... Kring...
"Aku aja ma" ujar Aurel, ketika melihat Aleta hendak beranjak bangkit.
"Yasudah"
Aurel segera mengangkat telfon yang terletak di ruang tamu.
"Halo, dengan siapa?" Tanya Aurel menempelkan gagang telfon pada telinganya.
"BERSIAPLAH! AJAL KALIAN SUDAH DEKAT! HAHAHA" suara berat seorang pria terdengar seperti sedang mengintimidasi dirinya.
"Anda siapa? Jangan macam-macam!!" Balas Aurel.
Tut..
Namun panggilannya langsung ditutup sebelah pihak.
Dengan kesal Aurel meletakkan telfon ia langsung kembali ke meja makan.
"Orang gila ma" balas Aurel.
"Orang gila?" Tanya Aleta tak mengerti.
"Iya, masa gak ada angin gak ada hujan dia langsung bilang "Ajal kalian sudah dekat! Hahaha"" balas Aurel meniru ucapan sang penelfon.
"Lo gak salah denger kan?" Tanya Andra.
"Gak gue yakin kok" balas Aurel.
"Itu pasti bukan orang iseng, apa mungkin ini teror lagi?" Tanya Andra.
"Teror lagi?" Tanya Aunia.
"Kali ini Lo gak akan kabur dari masalah kan?" Tanya Aurel.
"Gak, kamu tenang aja! Kali ini aku bakalan hadapin masalahnya" balas Aunia yakin.
"Bagus! Ini baru kembaran gue" kekeh Aurel.
"Sekarang gimana?" Tanya Aurel.
"Gimana apanya? Kalian gak akan lakuin apa-apa, biar mama yang cari tau siapa peneror itu!" Sergah Aleta. Ia tak akan membiarkan anak-anak nya dalam bahaya.
"Tapi ma" hanya Aurel.
"Gak ada tapi-tapian" balas Aleta.
Andra, Aurel dan Aunia hanya diam. Mereka tak mungkin bisa membanta Aleta. Semuanya melanjutkan makan malamnya. Setelah selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing.
πΎπΎπΎ
Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Aleta sudah selesai menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Sekarang ia sudah siap dengan pakaian formalnya ke kantor.
__ADS_1
"Berangkat kerja ma?" Tanya Aurel yang tak sengaja melihat Aleta akan segera berangkat.
"Iya, kalian jaga rumah ya! Jangan berantem lagi" ujar Aleta.
"Iya ma, mama hati-hati, jangan malam-malam pulangnya"
"Mama usahain, mama pergi ya" pamit Aleta.
"Iya ma"
Setelah memastikan mamanya sudah pergi. Aurel segera menghampiri kamar Andra.
Tok Tok Tok
"Ndra, udah bangun?" Tanya Aurel setengah berteriak.
"Iya bentar" balasnya dengan suara serak bangun tidur.
Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Andra yang berdiri di depan pintu dengan rambut acak-acakan.
"Baru bangun Lo?" Tanya Aurel.
"Iya, semalam gue gak bisa tidur, kenapa?" Tanyanya.
"Lo pulang ke Bandung hari ini?" Tanya Aurel.
"Iya kenapa?"
"Jangan ya, nanti aja pulangnya" rengek Aurel.
"Kasih gue alasan yang kuat buat gue gak pulang"
"Bantuin gue cari tau siapa peneror itu"
"Yakin Lo?" Tanya Andra
"Iya gue yakin, gue capek di teror Mulu"
"Oke gak masalah"
"Beneran?" Tanya Aurel tak percaya.
"Iya"
"Yaudah Lo mandi gih, nanti pulang kuliah kita bahas semuanya"
"Oke" balas Andra, ia langsung menutup pintu. Sementara Aurel ia hanya bisa mendengus kesal.
Aurel kembali ke kamarnya. Ia bersiap untuk pergi ke kampus.
"Aunia, gue kuliah dulu ya, Lo baik-baik dirumah!" Pinta Aurel.
"Iya kamu tenang aja"
Aurel segera keluar, ia menaiki taksi yang dihentikannya di depan rumah.
"Darren!" Panggil Aurel. Tepat di depan parkiran kampus Aurel melihat Darren yang tengah memarkirkan motornya.
"Hei" balas Darren melambaikan tangan.
Dengan sedikit berlari, Aurel menghampiri Darren.
"Maaf ya gak bisa jemput, gue harus nganterin Naya dulu" ujar Darren.
"Gak papa"
"Yaudah masuk yuk!" Ajak Darren.
"Ayukk"
Darren mengantarkan Aurel terlebih dahulu ke kelasnya. Setelah itu ia baru menuju kelasnya.
__ADS_1