PSIKOPATH GIRLS

PSIKOPATH GIRLS
Part 41


__ADS_3

Andra memasuki sebuah kafe didekat kampusnya. Ia dan teman-temannya melakukan kerja kelompok bersama di kafe tersebut.


Andra melirik ponselnya yang berdering.


"Gue di depan ini!"


"...."


"Iya-iya, bawel banget sih Lo"


Andra mengakhiri panggilannya. Ia langsung memasuki Kafe dengan menyandang tas ranselnya.


Di dalam kafe, Andra melirik mencari dimana teman-teman nya berada. Saat Andra celingak-celinguk mencari teman-temannya, salah satu temannya melambai padanya. Andra membalas lambaiannya dan berjalan menghampiri teman-temannya.


Namun, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berjalan ke arahnya.


"Maaf-maaf saya gak sengaja" ujar Andra bersalah.


"Iya gak papa" balas pria dengan setelan jas. Yang tak lain adalah Hendra.


Saat melihat wajah pria yang ada didepannya, entah kenapa ia seolah merasa pernah bertemu dengannya.


"Gue kayak pernah ketemu orang ini, tapi dimana ya?" batin Andra.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Hendra. Ia merasa familiar dengan wajah Andra.


"Kayaknya gak deh Om" balas Andra dengan ragu.


"Ouh, mungkin saya yang salah ingat! maaf yah" ujar Hendra lalu pergi meninggalkan Andra yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


Namun suara teman-temannya yang memanggil membuat Andra melupakan semua fikirannya dan menghampiri teman-temannya.


.


.


.


Andra masih teringat dengan sosok orang yang tak sengaja ia tabrak saat di kafe. Ia sendiri tak ingin memikirkannya, namun rasa penasaran yang ada dalam diri Andra membuatnya terus menerus memikirkan kejadian tersebut.


"Dia siapa yah? kenapa wajahnya gak asing?" gumam Andra. Ia masih mengingat dengan jelas wajah pria paru baya itu.


Andra menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia terus saja berguling kanan kiri memikirkan kejadian itu.


Hingga sebuah memori masa lalu terlintas di otaknya.


"Om Hendra" ujarnya ketika memori itu teringat dengan jelas di otaknya.


"Sial! kenapa gue bisa lupa sih!" kesal Andra.


"Om Hendra satu-satunya cara buat ketemu lagi sama Arsy, Gue gak mungkin sia-siain kesempatan ini" gumamnya.


Andra segera mengambil kunci mobilnya dan segera menuju kafe yang ia kunjungi tadi siang.


"Mau kemana ndra?" tanya Hilda yang tengah menyiapkan makan malam.


"Keluar bentar ma, ada urusan"

__ADS_1


"Gak mau makan dulu?" tanya Hilda.


"Nanti aja ma, Aku buru-buru"


Andra melangkahkan kakinya menuju mobil. Dalam hitungan menit, mobil Andra sudah meninggalkan perkarangan rumahnya.


Kafe yang ia datangi tadi siang kini ia datangi kembali.


Andra memasuki kafe, ia sadar betul jika usahanya itu sia-sia. Ia tak mungkin menemukan Hendra disana lagi. Karna Hendra mungkin saja hanya berkunjung ketempat ini. Namun, bagi Andra usaha lebih penting dari pada hasilnya.


Andra mengitari Kafe dari sudut ke sudut. Namun ia tak menemukan tanda-tanda keberadaannya sama sekali.


"Sia-sia gue kesini" batin Andra.


Andra keluar dari kafe dengan perasaan kecewa. Harapannya untuk kembali bertemu dengan Arsy kini pupus kembali.


.


.


.


Seminggu kemudian...


Ujian Akhir yang telah dijalani semua murid SMA DASASILA telah usai. Semua murid terlihat bernafas lega saat keluar dari ruangan masing-masing.


Aurel dan Darren tampak berjalan beriringan menuju parkiran. Sesekali Darren mengeluarkan candaannya, hal itu tentu saja membuat Aurel tertawa.


Sesampainya di parkiran Aurel dan Darren yang sedari tadi bergandengan tangan tak sadar jika banyak mata yang tengah memperhatikannya.


Sadar akan tatapan yang tak mengenakkan dari orang-orang sekitarnya. Aurel segera melepaskan gandengan tangannya pada Darren.


"Malu" ciut Aurel.


"Malu? kenapa?"


"Mereka liatin kita" ujar Aurel. Berbeda dengan Darren yang tersenyum hangat pada Aurel, dan kembali menggenggam tangan Aurel.


"Darren!" bentak Aurel dengan nada rendah.


"Tenang aja, kita gak ngelakuin kesalahan, kalau mereka mau liatin kita itu hak mereka, karna mereka punya mata" balas Darren.


"Tapi gue gak suka diliatin gitu!"


"Kalau Lo gak suka, kita pulang sekarang!" putus Darren.


"Iya" angguk Aurel.


Motor Darren melaju meninggalkan perkarangan SMA DASASILA.


.


.


.


Sebulan kemudian...

__ADS_1


Setelah tinggal bersama dengan Aunia sebulan, bahkan sampai berbagi kamar. Aurel baru menyadari sesuatu yang aneh dari Aunia.


Sarapan pagi yang ceria selalu terdengar di meja makan. Apalagi sejak kedatangan Aunia di dalam keluarga kecil itu.


"Aunia ambilin nasinya" ujar Aurel memberikan piringnya.


Aunia menyendok kan nasi untuk Aurel, lalu ia memberikannya.


"Nih" balas Aunia memberikan sepiring nasi pada Aurel.


Namun, bukannya mengambil nasinya. Mata Aurel malah tertuju pada tangan Aunia.


"Tangan Lo kenapa?" tanya Aurel, ia melihat banyak bekas luka pada pergelangan tangan Aunia.


Aunia yang sadar pun segera menutupi tangannya dengan lengan bajunya kembali.


"Tangan aku kenapa emangnya? gak papa tuh" balas Aunia menyembunyikan tangannya cepat, sebelum dilihat oleh Aleta.


"Masa sih gue salah liat" batin Aurel.


"Kalian kenapa? ayo makan!" pinta Aleta.


"Iya ma" jawab keduanya.


Aurel pun tak ingin memperpanjang masalahnya, ia duduk dan memakan sarapannya.


Jam menunjukkan pukul 10 malam, Aurel merasakan matanya yang sudah mengantuk berat. Ia yang sedang menonton tv sendirian pun mematikan tv-nya. Ia memasuki kamarnya, di kamar ia melihat saudara kembarnya yang sudah tertidur lelap. Aurel merebahkan dirinya di samping Aunia dan mulai memejamkan matanya.


Namun, ia tersentak dari tidurnya karna mimpi buruk. Keringat bercucuran di dahinya, nafasnya tersengal-sengal. Air putih yang terletak di samping nakasnya ia teguk sampai tandas.


"Astaga serem banget mimpi gue" gumamnya kembali meletakkan gelas yang sudah ia tandaskan.


Merasa lega karena nafasnya sudah mulai teratur, Aurel kembali merebahkan dirinya. Namun, saat ia menyadari jika Aunia tak ada ia pun bertanya sendiri.


"Aunia kemana?" pikirnya.


Aurel keluar dari kamarnya dan menelusuri setiap sudut rumah. Namun, ia tak menemukan keberadaan Aunia.


Hingga saat diruang tamu, ia menemukan jika pintu belakang terbuka.


"Kenapa pintu belakang ke buka? biasanya mama gak pernah lupa buat ngunci pintu" pikir Aurel.


Aurel melangkahkan kakinya setapak demi setapak menuju pintu tersebut. Sesaat setelah membuka pintu ia syok dengan apa yang ia lihat.


"Aunia apa yang Lo lakuin!" bentak Aurel, berlari menghampiri Aunia yang tengah berdiri di taman belakang.


"Lepasin aku rel!" balas Aunia.


"Ini gak baik Aurel, berhenti!" sergah Aurel merebut pisau yang ada pada tangan Aunia.


"Aku gak mau ngelukain kalian! Lepasin!" bentak Aunia tak mau kalah.


"Ngelukain? ngelukain apa?" bingung Aurel.


"Aku pembunuh Aurel, aku gak bisa kalau gak liat darah sehari aja" jelas Aunia.


"Tapi gak gini caranya Aunia, Lo ngelukain diri Lo sendiri!" bantah Aurel.

__ADS_1


"Lebih baik aku yang luka dan bersimbah darah dari pada aku ngelukain kalian!" ujarnya melihat pergelangan tangannya yang sudah meneteskan darah segar.


"Siniin pisaunya!" balas Aurel merebut pisau ditangan Aunia. Ia menarik Aunia ke ruang tamu dan mengobati luka pada tangan Aunia.


__ADS_2