
Aleta langsung merebut kertas ditangan Aurel, ia sekilas membacanya lalu *******-***** kertas tersebut dan melemparkannya.
"Kamu balik ke kamar! mama mau beresin ini" ujar Aleta.
"Biar aku bantu ma" balas Aurel.
"Mama bisa sendiri, kamu balik ke kamar" pinta Aleta.
"Iya ma"
Aurel langsung kembali ke kamarnya. Ia juga tak berani membanta ucapan mamanya.
Aurel menutup pintu kamarnya, ia merasa jika teror yang didapatkan bukanlah tanpa alasan. Aurel yakin jika orang yang telah meneror keluarganya beberapa kali ini adalah orang yang sama.
Namun, yang menjadi masalahnya. Siapa orang yang meneror keluarganya. Mengapa orang itu menginginkan agar ia dan keluarganya mati.
Seingatnya, keluarganya itu tak punya dendam pada siapa pun. Lalu mengapa ada yang menginginkan nyawa keluarga kecilnya itu.
Aurel mengambil ponselnya, ia mengetikkan pesan pada Darren.
^^^Gue dapet teror lagi^^^
^^^~Aurel^^^
Beberapa detik setelah pesan itu terkirim. Ponsel Aurel langsung berdering menandakan panggilan masuk. Dilayar ponselnya tertera nama Darren.
Aurel segera menggeser Ikon hijau pada layar ponselnya.
"Halo" ujarnya.
"Lo dapet teror apa?" tanya Darren.
"Kalian harus mati" ujar Aurel mengingat tulisan yang ada pada kertas tersebut.
"Hah? maksudnya gimana?" tanya Darren tak mengerti.
"Itu terornya" balas Aurel.
"Mama Lo tau?"
"Tau, mama nyuruh gue balik ke kamar setelah dapet teror itu".
"Apa mungkin, mama Lo tau sesuatu?" tanya Darren.
"Gue gak tau"
"Yaudah, sekarang Lo tenang jangan terlalu difikirin"
"Gue gak mau mikirin, tapi kepikiran Mulu"
"Gue kesana sekarang" ujarnya lalu mengakhiri panggilan.
Aurel kembali meletakkan ponselnya ke atas Nakas. Ia tak bermaksud menyuruh Darren datang untuk menghiburnya. Tapi sebelum sempat menolak Darren telah mengakhiri panggilannya terlabih dahulu. Aurel tak bisa berkata apa-apa lagi.
Sebenarnya ia sangat senang, karna Darren selalu ada saat ia dalam masalah. Namun, Aurel merasa tak enak hati, karna selalu melibatkan Darren dalam setiap masalahnya. Apalagi saat Darren tak pernah mengeluh dalam membantunya.
^^^Gue didepan^^^
^^^~Darren^^^
Setelah mendapatkan pesan dari Darren, Aurel langsung menuju pintu rumah.
"Ayo masuk dulu!" Ajak Aurel.
Darren memasuki rumah bersama dengan Aurel.
"Duduk aja dulu, gue bikinin minum" ujar Aurel hendak menuju dapur.
__ADS_1
Darren mematuhi Aurel, ia duduk di ruang tamu.
Tak butuh lama Aurel kembali dari dapur dan memberikan segelas sirup dingin untuk Darren.
"Minum dulu"
"Makasih"
Aurel duduk di samping Darren, raut wajahnya masih murung setalah mendapatkan teror siang tadi.
"Kenapa? masih mikirin teror itu?" tanya Darren lembut.
"Gue khawatir deh, kalau orang yang neror itu bakalan ngebahayain keluarga gue" jelas Aurel.
"Lo tenang aja, sebelum orang itu nyelakain keluarga Lo, kita bakalan nemuin orang itu terlebih dahulu" ujar Darren yakin.
"Tapi gimana kalau gak?" Balas Aurel pesimis.
"Gue janji bakalan jagain keluarga Lo, termasuk pacar gue ini" ujar Darren dengan kekehannya.
Ia mengacak-acak rambut Aurel dan Aurel hanya tersenyum karna hal itu.
.
.
.
Matahari pagi mulai masuk melalui celah-celah jendela. Namun, gadis yang tengah terlelap itu malah menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.
Dering ponselnya yang sedari tadi berbunyi, membuatnya mau tak mau bangun dari tidur indahnya.
"Siapa sih, pagi-pagi udah nelfon" rutuk Aurel sembari merabah ponselnya yang terletak di atas nakas.
Ia melirik layar ponselnya yang sedikit buram. Aurel langsung menggeser Ikon hijau pada layar ponselnya tanpa tau siapa yang menelfonnya.
"Halo" ujarnya menempelkan ponselnya pada telinga.
"Darren, ini Lo?" tanya Aurel, kembali melirik layar ponselnya yang memang tertera nama Darren.
"Iya, Lo gak save nomor gue? keterlaluan Lo!" tanya Darren kesal.
"Bukan gitu, tadi gue langsung angkat aja, gak liat siapa yang nelfon"
"Hmm" balas Darren.
"Lo gak marah kan?" tanya Aurel memastikan.
"Nanti gue jemput ke rumah"
"Mau kemana?"
"Mama mau ngajak Lo belanja, katanya biar lebih Deket sama calon menantu" kekeh Darren diselingi tawa.
"Tapi kan, gue gak suka belanja Darren" balas Aurel.
"Gak papa, kan cuman nemenin doang, mau ya?"
"Yaudah deh"
.
.
.
Pria dengan kaos putih di lapisi jaket jeans memarkirkan motornya di depan rumah Aurel. Ia terlihat bersemangat menjemput sang pacar yang akan di ajak mamanya berbelanja.
__ADS_1
Setelah meletakan helm full face nya di atas motor, ia langsung memencet bel rumah yang terletak disebelah pintu rumah.
Beberapa detik setelah bel itu di pencet, seorang gadis dengan rambut semampai membukakan pintu untuknya.
"Udah siap?" tanya Darren pada gadis yang ada di depannya.
"Udah" balas Aurel semangat.
Gadis di depannya tersenyum hangat dengan wajah sumringah.
Satu hal yang membuat Darren sedikit terkejut. Pakaian yang di pakai oleh Aurel persis seperti yang ia kenakan. Kecuali celana jeans yang di pakainya.
Darren menatap penampilan Aurel dari bawah sampai atas. Lalu ia tersenyum menatap Aurel yang belum menyadari jika baju yang di pakai keduanya sama.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Aurel aneh.
"Lo gak sadar?" tanya Darren.
"Sadar apa?"
"Baju kita samaan" kekeh Darren.
Aurel segera melihat baju yang ia kenakan dan Darren.
"Oh iya, Gue baru nyadar" balas Aurel.
"Padahal kita gak janjian Loh" balas Darren.
"Iya, aneh banget ya"
"Jangan-jangan ini pertanda--" balas Darren menggantung ucapannya.
"Pertanda? pertanda apa?"
"Pertanda kalau kita sehati" balas Darren serius.
"Bisa aja Lo" ujar Aurel menggeplak kepala Darren.
"Rel, sakit!" balas Darren tak terima.
Ia mengusap-ngusap kepalanya yang baru saja di geplak Aurel.
"Sakit ya? maaf" balas Aurel tak enak hati. Ia juga tak bermaksud untuk memukul Darren, tapi tangannya reflek langsung memukul kepalanya.
"Mana yang sakit? ini ya?" tanya Aurel meniup bagian kepala yang tadi di pukulnya.
Darren terdiam dengan perlakuan manis Aurel. Waktu seakan-akan berhenti saat ini. Matanya tak bisa berkedip menatap wajah Aurel yang serius meniup kepalanya.
Tanpa sadar pun, Darren mengulas senyum nya.
"Masih sakit?" tanya Aurel sembari meniup kelapa Darren.
Namun, Darren tak menjawab pertanyaannya.
"Darren, Lo denger gue ngomong gak sih?" tanya Aurel.
Namun, melihat wajah Darren yang tak berkedip menatapnya. Membuat Aurel gemas, dan mencubit kedua pipinya.
"Ayo! liatin apa?" tanya Aurel sembari mencubit pipi Darren.
"Aduh!! sakit!" ringis Darren mengelus-elus kedua pipinya.
"Makanya jangan liatin gue Mulu!" kekeh Aurel.
"Emang gak boleh ngeliatin pacar sendiri?"
"Bukan gitu, kalau Lo liatin gue terus kapan ke rumah Lo nya" Alibi Aurel.
__ADS_1
"Yaudah ayo berangkat sekarang!" ajak Darren menarik tangan Aurel menuju motornya.
Aurel dan Darren mengendarai motor menuju rumahnya.