
Hiruk pikuk keramaian, membuat kedua bocah yang tengah memegangi tangan kedua orang tuanya tersenyum senang.
"Wahhh, pasar malamnya rame banget" ujar Kayla.
"Gak nyangka ayah bakalan ngajak Rendy ke sini" ujarnya. Andra hanya menanggapinya dengan senyum sekilas. Sebagai seorang ayah ia memang jarang memanjakan anak laki-laki nya itu. Tapi beruntungnya Rendy selalu mengerti dengan keadaannya. Tak pernah sekali pun Rendy protes padanya. Kenapa dirinya selalu sibuk dengan pekerjaannya dan tidak meluangkan waktu untuk anaknya sendiri.
Kayla menarik tangan papa dan mamanya menuju seorang penjual permen kapas.
"Kay pelan-pelan!" Ujar Aurel, tapi ia tetap mengikuti anaknya.
"Pa, ma! Kay mau permen kapasnya" ujar Kayla.
"Permen gak baik buat gigi, Kay" ujar Aurel mengingatkan.
"Ihhh mama gak asyik ah" balas Kayla dengan nada merajuk.
"Udah, kamu beli aja" ujar Darren.
"Tapi_"
"Gak papa, kali ini aja" balas Darren memotong ucapan Aurel. Aurel tak punya pilihan lain, saat perkataannya tak didengar. Ia lebih memilih mengalah dari anak dan suaminya yang sudah bersekutu.
"Pak, permen kapasnya satu!" Pinta Kayla.
"Ini dek" ia memberikan sebuah permen kapas dengan warna pink.
Darren langsung membayarnya sesuai dengan nominal yang tertera di gerobak pemilik permen kapas tersebut.
Kayla tampak puas dengan permen kapas di tangannya. Ia langsung mencicipinya.
"Manis" gumamnya.
"Papa mau?" Tanya Kayla.
"Buat kamu aja" balas Darren.
"Mama?" Tanya Kayla.
"Kamu aja" ujar Aurel.
"Pa, bang Rendy kemana? Ayah sama bunda juga gak keliatan" ujar Kayla. Ia kembali melirik pada tempat di mana Andra, Mikha dan Rendy berdiri tadi. Tapi ia tak melihat adanya mereka.
"Papa gak tau, mungkin udah masuk ke dalam kali" balas Darren.
"Kalau gitu, kita juga masuk ya pa"
"Iya, ayo"
Kayla menggandeng tangan papanya sembari memakan permen kapasnya yang masih tersisa setengah. Sementara itu, Aurel terus mengikuti anak dan suaminya itu dari belakang.
"Pa, bang Rendy lagi main panahan! Aku mau ikut juga pa" sorak Kayla heboh.
Sontak Aurel dan Darren melirik pada arah pandang Kayla. Benar saja di sana ada Andra, Mikha dan Rendy yang sedang membidik sasarannya.
"Kesana yuk pa" ujar Kayla.
"Iya, ayo!"
Darren dan Aurel menyusul Kayla yang telah berlari menuju Mikha dan Andra.
"Ayah, bunda!" Panggilnya.
"Eh Kayla, dari mana aja?" Tanya Mikha.
"Habis beli permen kapas Bun, bunda mau gak?" Tanya Kayla.
__ADS_1
"Gak usah, buat kamu aja" balas Mikha.
"Bun, aku mau main panahan juga" ujar Kayla.
"Kayla mau main panahan?" Tanya Darren.
"Iya pa"
"Kalau gitu, tunggu sini! Papa beliin tiket buat kamu dulu" balas Darren.
Kayla mengangguk setuju.
Darren menuju tempat pembelian tiket untuk ikut permainan panahan tersebut. Kemudian ia kembali dan memberikannya pada Kayla.
"Ini" ujar Darren.
"Makasih pa"
Kayla langsung menuju petugas yang berdiri didepan area panahan. Ia memberikan tiketnya dan petugas memberikan sebuah panah dan anak panah pada Kayla.
Kayla di pandu oleh petugas untuk memanah dengan benar. Pertama kali ia melepaskan panahnya. Ia meleset dan tidak tepat sasaran. Kedua kali ia juga gagal karna anak panahnya hampir saja tepat sasaran.
"Huh, dikit lagi" gumamnya kesal.
Ia melirik Rendy yang tampak ahli dalam menggunakan panah. Beberapa kali anak panah yang ia lepaskan selalu tepat sasaran. Kayla merasa sedikit iri pada Rendy. Karna Rendy selalu bisa dalam segalah hal. Rendy anak yang pintar di sekolahnya. Dan Rendy juga hebat dalam bidang olahraga.
Sementara dirinya, ia hanya unggul dalam pelajaran saja. Dalam bidang olahraga Kayla sangatlah lemah. Ia bahkan sudah merasa sesak nafas hanya karna berlari dari depan rumah ke pagar. Bagi Kayla hal tersebut sangat mengesalkan.
Kayla kembali fokus pada sasarannya. Kali ini ia mencoba fokus. Sorot matanya terlihat serius.
Set
Kayla melepaskan anak panahnya.
Dan,
"Yeay" soraknya senang. Pertama kali ia berhasil membidik tepat sasaran.
"Hebat, Kay!" Sorak Darren. Ia senang karna putri kecilnya itu ternyata bisa membidik dengan tepat sasaran.
Sementara Aurel, ia mengabadikannya dengan mengambil foto kayla yang sedang bersorak kegirangan.
Selesai bermain panahan, Kayla dan Rendy mencoba permainan lainnya. Mulai dari mesin capit boneka, lempar gelang, hingga memancing ikan. Semua permainan yang ada di pasar malam tersebut mereka coba. Tentunya dengan di dampingi oleh orang tuanya masing-masing.
"Ma, ada bianglala!" Seru Kayla. Ia menunjuk biangLala yang tengah berputar.
"Kamu mau naik?" Tanya Aurel.
"Iya" balas Kayla mengangguk.
"Yaudah, ayo!"
Baru saja Aurel akan mengajak Kayla untuk menaiki bianglala. Tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Drttttt Drttttt Drttttt
"Bentar!" Ujar Aurel. Ia menganggkat telfonnya sedikit menjauh dari Darren dan Kayla.
"Halo" sapanya.
"Aurel, mama nelfon Darren kenapa gak di angkat?" Tanya Dessy. Yang tak lain adalah mama mertuanya.
"Gak kedengaran kali ma, kita lagi ngajak Kayla main di pasar malam" balas Aurel.
"Oh gitu, Naya gimana kabarnya? Besok dia udah mulai kuliah loh. Naya gak jadi lanjut kuliah di Singapura? Sayang banget loh, mama udah daftarin dia" oceh Dessy tanpa hentinya.
__ADS_1
Deg
"Naya belum sampai Singapura ma?" Tanya Aurel.
"Naya ke Singapura? Kapan?"
"Kemarin ma, aku sama Daren udah anterin dia ke bandara"
"Tapi Naya gak sampe disini?"
"Mama udah coba telfon Naya?"
"Udah, tapi hp nya gak aktif"
"Mama tenang, jangan panik! Aurel bakalan coba tanya sama teman-temannya naya dulu"
"Iya"
Aurel menutup panggilan telfonnya. Pikirannya tidak tenang memikirkan Naya. Kemana gadis itu? Kenapa ia tidak ke singapura. Padahal dirinya dan Darren sudah mengantarkan Naya ke bandara.
"Darren!" Panggil Aurel.
"Kay, tunggu sini bentar ya!" Pinta Darren
Darren segera menghampiri Aurel.
"Kenapa?"
"Naya belum sampai di Singapura"
"Kok bisa? Seharusnya sekarang dia udah sampe"
"Makanya itu"
"Coba kamu hubungin teman-temannya!" Pinta Darren.
"Iya"
Aurel segera menghubungi teman-temannya naya. Sudah semua teman-temannya ia hubungi. Tapi tak ada satu pun yang tau di mana Naya.
"Gimana?" Tanya Darren.
Aurel menggeleng.
"Gak ada yang tau" balasnya.
"Kemana itu anak?!" Pikir Darren, ia sangat mengkhawatirkan adiknya itu.
"Coba kamu telfon nomor Naya!" Pinta Aurel.
"Iya, kamu benar! Kita belum coba hubungi nomor Naya langsung"
Darren langsung menghubungi adiknya itu. Ia sangat berharap jika Naya mengangkat panggilannya itu.
Tapi berulang kali Darren mencoba menghubungi hanya suara operator yang ia dengar.
"Gak aktif"
Aurel dan Darren semakin resah dan khawatir pada gadis yang hilang tanpa jejak itu.
"Sekarang gimana? Kita harus balik ke Jakarta sekarang!" Ujar Aurel.
"Iya"
"Kayla, kita naik_" ucapan Aurel terpotong ketika putrinya tidak ada di tempat ia berdiri.
__ADS_1
"Kayla mana?" Tanya Aurel.