
Aurel melangkahkan kakinya menuju ruang guru, setelah pelajaran berakhir ia dipanggil oleh Bu Lina. Bu Lina adalah wali kelasnya sekaligus guru yang selalu menatapnya dengan tatapan misterius. Dan baru kali ini Bu Lina berbicara padanya, biasanya ia hanya menatap Aurel dari kejauhan dengan kemisteriusannya itu.
"Permisi" ucap Aurel.
"Kemarilah" pinta Bu Lina.
Aurel memasuki ruangan guru tersebut, ruangannya sepi tak ada lagi guru yang tersisa hanya tinggal Bu Lina seorang.
Raut wajahnya masih sama dengan terakhir kalinya, misterius. Wanita paru baya itu menatapnya, ada pesan yang ingin ia sampaikan dari sorot matanya. Namun, Aurel tak mengerti apa makna dari sorot mata Bu Lina tersebut.
"Ibu, ada apa manggil saya?" Tanya Aurel.
Bukannya menjawab Bu Lina malah terdiam, ia seakan enggan untuk mengatakan sesuatu pada Aurel.
"Apa saya membuat kesalahan?" Tanyanya lagi.
Bu Lina menghela nafas kasar, seakan-akan sebuah beban berat tengah ia bawa di pundaknya.
"Duduk dulu" ucap bu Lina. Aurel duduk dibangku yang tersedia di depan wanita paru baya itu.
Aurel menunggu dengan seksama, berharap Bu Lina memberikan penjelasan. Apa tujuannya menyuruh Aurel keruangan ini?
"Kamu kenal orang ini?" Tanya Bu Lina, ia memperlihatkan sebuah foto di depan Aurel.
"I-ini__" Aurel tersentak saat ia melihat foto tersebut.
"Kamu kenal?" Ulang Bu Lina.
"I-iya" ucap Aurel.
"Dia siapa?"
"Papa saya" balasnya.
Mendengar jawaban Aurel, Bu Lina melotot tak percaya.
"Kamu bener anaknya?" Tanya Bu Lina, terlihat jelas ketakutan pada raut wajahnya.
"Iya" angguk Aurel.
Tiba-tiba saja Bu lina terlihat panik, ia merogoh laci mejanya. Sebuah pistol melekat pada tangannya saat lacinya kembali ditutup.
"I-ibu mau ngapain?" Tanya Aurel, ia merasa ngeri ketika pistol tersebut diarahkan kepadanya.
"Sa-saya pi-pikir kamu hanya mirip dengannya, tapi ka-kamu benar-benar dia" ucap Bu Lina, sedikit tergagap.
"Maksud ibu apa?" Tanya Aurel, ia sama sekali tak mengerti dengan ucapan gurunya itu.
"Aunia!! Jangan ngacoh kamu!!! Gak mungkin kamu gak tau maksud saya apa?!" Pekik Bu Lina.
"Saya beneran gak tau Bu, saya gak ngacoh dan saya bukan aunia Bu" balas Aurel, ia sungguh takut sekarang. Pistol itu bisa kapan saja menembus kepalanya.
"Bohong!! Kamu pasti aunia!!"
"Gak Bu, saya aurelia" balas Aurel berusaha menenangkan Bu Lina.
"Jangan mendekat!!" Pekiknya. Bu Lina semakin mengarahkan pistol tersebut pada Aurel, Aurel kembali melangkahkan kakinya kebelakang. Ia tidak boleh gegabah, jika tidak maka nyawanya yang menjadi taruhan.
"Bu, saya bukan aunia! Saya aurelia satu-satunya anak gio dan aunia, saya gak tau siapa dia!" Ucap Aurel, ia berusaha menenangkan Bu Lina. Tapi wanita paru baya itu tak percaya padanya, ia tetap kekeuh pada keyakinannya.
"Gak usah bohong kamu, anak gio cuma satu!!"
"Saya gak bohong Bu, saya bukan aunia!!" ucap Aurel, ia tak ingin mati sia-sia ditempat ini.
Brukkk
Suara pintu dibuka kasar dari luar, terlihat dua orang yang sangat Aurel kenali~laura dan Darren.
"Laura, Laura dia yang bunuh teman-teman kamu dan__" ucapannya tergantung.
"Anak saya" lanjutnya.
"Ibu, ibu tenang dulu" ucap Laura lembut, ia mendekap Bu Lina kedalam pelukannya. Sepertinya kedua perempuan itu sangat dekat sebelumnya.
"Tapi, pembunuh itu ada disini!" Bentak Bu Lina.
"Dia bukan aunia Bu" ujar Laura.
"Maksud kamu?" Bu Lina tersentak ketika Laura mengatakan jika orang yang didepannya itu bukanlah pembunuh anaknya.
"Iya Bu dia bukan aunia, saya gak tau apa hubungannya dengan aunia tapi dia Aurel Bu, bukan aunia!"
"Wajah mereka memang mirip, namun sifat dan kepribadian keduanya sangat bertolak belakang. Jika dia aunia mungkin ibu tak akan bisa melihat Laura lagi, tapi ibu lihat sendiri kan? Dia berusaha nenangin ibu" tutur kata lembut dari Laura mampu menenangkan Bu Lina.
"Tapi dia anak gio" ujarnya.
"Kemungkinan mereka kembar Bu" ucap Laura.
"Kembar?" Tanya Bu Lina.
"Iya" angguk Laura. Perlahan Bu Lina menurunkan tangannya. Pistol yang melekat pada tangannya terjatuh kelantai.
Darren menghampiri Aurel yang sedang panik.
"Lo gak papa?" Tanya Darren.
"Iya gue gak papa" balas Aurel.
"Maafin saya" ujar Bu Lina.
"Gak papa kok Bu"
"Awalnya saya kira kamu cuma mirip sama dia, tapi saat saya tau kamu anak gio saya pikir kamu aunia, karna setau saya anak gio cuma satu"
"Boleh saya tau, siapa itu aunia?" Tanya Aurel. Bu Lina menatapnya sesaat lalu, ia mengangguk.
Flasback on
Gio memasuki ruang guru dengan seorang gadis remaja di sampingnya.
"Permisi Bu" ujar gio.
"Iya ada yang bisa saya bantu pak gio?" Tanya Bu Lina.
"Perkenalkan ini aunia, putri saya. Sesuai dengan yang telah kita bicarakan ditelfon dia akan sekolah disini"
"Baik pak, saya akan mengantar aunia menuju kelasnya" balas Bu Lina.
"Baiklah Terimah kasih, saya pamit" ucap gio.
Sebelum pergi gio membisikkan sesuatu pada aunia.
"Selamat bekerja" bisik gio.
"Ikuti saya" pinta Bu Lina.
__ADS_1
Aunia mengikuti Bu Lina, langkahnya terhenti pada kelas yang terdengar ricuh.
"Selamat pagi" sapa Bu Lina.
"Pagi" balas semua murid. Semuanya kembali duduk pada bangkunya masing-masing ketika Bu Lina memasuki kelas tersebut.
"Hari ini kalian kedatangan teman baru, silakan perkenalkan dirimu" pinta Bu Lina.
"Perkenalkan nama saya aunia Meldana" singkatnya.
"Pindahan dari mana?" Terdengar sahutan seorang gadis didepannya.
"Sebelumnya saya home schooling"
"Home schooling ya?" Tanya gadis itu, aunia hanya menganggukkan kepala.
"Hobi apa?" Tanya seorang cowok yang duduk paling belakang.
"Eksperimen"
"Emang dah, gak salah pilih jurusan Lo, dah pas banget masuk IPA" balasnya.
"Lo gak tau aja, eksperimen gue apa?" Batin aunia.
"Apa ada pertanyaan lagi?" Tanya Bu Lina.
"Baiklah, silakan duduk" pinta Bu Lina ketika tak ada lagi yang bertanya pada aunia.
"Duduk sini, aunia" ucap gadis yang pertama kali bertanya padanya. Kebetulan sekali ada bangku kosong disampingnya.
"Kenalin gue Lala" ucapnya ceria.
"Iya"
"Salam kenal ya"
"Terlalu cerewet, gue gak suka" batinnya.
Setelah pelajaran selesai, aunia berjalan menyusuri lorong sekolah.
"Hai,, mau pulang ya?" Tanya seorang cowok.
"Iya"
"Mau gue Anter?" Tawarnya.
"Gak usah"
"Oh ya, kenalin gue Damian" ucapnya.
"Hmm"
"Lo inget gue kan?"
"Iya, yang nanya hobi gue apa" jawab aunia.
"Hehe, kirain Lo lupa sama gue"
"Gaklah, Lo mau jadi bahan eksperimen gue gak?" Tanya aunia semangat.
"Eksperimen apaan?"
"Ada deh, ntar Lo juga tau"
"Besok, gue tunggu di atap sekolah"
"Siap, gue duluan ya" pamit Damian.
"Bakalan seru nih" batinnya.
Setelah kepergian Damian beberapa orang gadis datang menghampirinya.
"Hai, aunia" sapa Lala.
"Hai" balasnya.
"Kenalin teman-teman gue" ujarnya.
"Gue Dian"
"Gue Alin"
"Hai, gue Riri"
"Laura"
Aunia hanya tersenyum ketika semua teman-teman Lala memperkenalkan diri padanya.
"Mau pulang bareng kita gak?" Tanya Lala.
"Gak usah, gue dijemput kok" balas aunia.
"Yaudah kita duluan ya" pamit Lala dan teman-temannya.
"Bye"
"Bye"
.
.
.
Damian tergesa-gesa menuju atap sekolah, dengan langkah cepat akhirnya ia sampai di atap sekolah.
"Gue gak telat kan?" Tanya Damian.
"Telat 20 menit" balas aunia, ia tengah berdiri dipinggir atap sekolah.
"Maaf ya" ucap Damian tidak enak.
"Gak papa kok"
"Jadi eksperimen apa yang bakalan Lo lakuin?" Tanya Damian.
"Gak usah buru-buru, ntar Lo kaget lagi" kekeh aunia.
"Kaget?! Ya gak lah" balas Damian menunjuk dirinya sendiri.
"Jadi Lo udah gak sabar ya?" Tanya aunia.
"Hehe gak juga sih" Damian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yaudah Lo duduk disana, tapi Lo gak takut nih?" Tanya aunia.
__ADS_1
"Ya gak lah, disini kan?" Ujar Damian saat ia melihat sebuah kursi terletak di tengah-tengah atap sekolah.
"Iya" angguk aunia.
"Siniin tangan Lo" ucap aunia.
"Buat apa?" Tanya damian tapi ia tetap memberikan tangannya.
"Kok di ikat?" Bingung Damian saat tali di ikatkan pada tangannya.
"Tenang aja, Lo pasti seneng deh" kekeh aunia. Damian yang tak tau apa yang akan dilakukan aunia hanya diam dan menurut saja.
Setelah tangan Damian diikat aunia beralih pada kakinya. Setelah selesai aunia mengambil tas ransel yang terletak dilantai. Aunia mengambil sebuah pisau cutter dari dalam tasnya.
"Pisau? Buat apa?" Tanya Damian, perasaannya mulai tidak enak. Apalagi saat ia melihat raut wajah aunia yang tadinya hangat berubah menjadi dingin.
"Aku mau bikin gambar di muka kamu boleh?" Tanya aunia, namun terdengar mengerikan ditelinga Damian.
"Maksud Lo apa?" Damian menjadi histeris ketika ia mulai mengerti maksud dari ucapan aunia.
"Jangan macam-macam Lo!!" Bentak Damian. Tapi aunia malah semakin senang, suara teriakan Damian seakan menjadi alunan musik yang indah bagi aunia.
Aunia mulai menorehkan pisau pada wajah Damian, bersamaan dengan suara teriakan Damian. Darah segar mulai bercucuran diwajahnya, semakin keras suara teriakan nya semakin menggelegar tawa aunia.
"Aaaaaaaaaaaaaa!!!"
"Aaaaaaa!!!"
"Aaaaaaa!!!"
Suara teriakan Damian terdengar kesakitan namun belas kasihan dari aunia pun tak ada.
"Aunia lepasin gua, gue salah apa sama Lo?" Mohon Damian.
"Lo gak salah apa-apa, gue cuman mau ngirim Lo kesurga biar Lo seneng" kekeh aunia, ia tetap menorehkan pisau pada wajah tampan Damian.
Puas dengan aksinya aunia sangat senang, wajah Damian yang sudah berlumuran darah sangat amat membuat aunia puas.
"Bagus juga ya" pujinya saat melihat wajah Damian yang tak lagi berbentuk.
Ringisan Damian masih terdengar sayup-sayup ditelinganya.
"Kasian kalau kamu hidup dengan wajah seperti ini, lebih baik kamu pergi aja ya" ujar aunia mengelus rambut Damian, kemudian dengan kasar menarik rambutnya.
"Lepasin gue!!" Bentaknya dengan suara melemah.
"Arrgghh!!" Teriak Damian saat pisau yang berlumuran darah itu menusuk perutnya.
"Suatu saat Lo bakal bayar semuanya" ujar Damian sebelum ia menutup matanya.
"Hahahaha" tawa aunia terdengar nyaring, ia sangat bahagia bisa membunuh seseorang hari ini. Apalagi saat orang tersebut menderita karena ulahnya.
Namun tanpa ia sadari beberapa pasang mata tengah melihat aksinya. Keringat telah membasahi wajah semua gadis tersebut. Mereka tak menyangka bisa melihat kejadian mengerikan itu.
"Gue takut" ujar Lala lirih.
"Gue juga" balas dian, mereka seakan-seakan ingin menangis namun tertahan.
"Ayo keluar dari sini" ucap Laura.
Niat hati ingin mengikuti Damian yang pergi dengan tergesa-gesa menuju atap sekolah. Karna rasa penasarannya itu, kini mereka dihadapkan oleh pemandangan mengerikan.
Mereka yang bersembunyi dibalik dinding berusaha menahan suaranya bahkan nafasnya agar tak terdengar oleh aunia.
Perlahan riri melangkahkan kaki meninggalkan atap sekolah. Namun sialnya, kaki Riri menginjak botol minuman. Tak dapat dihindari lagi aunia menyadari keberadaan mereka.
"Wah, ternyata ada penonton gelap ya" ujar aunia.
Lala dan teman-temannya mendadak menjadi beku ditempat ketika sorot dingin mata aunia melirik mereka. Karna panik mereka segera berlari meninggalkan atap, namun pintunya ditutup oleh dua orang bodyguard. Alhasil mereka tak bisa keluar dari atap tersebut.
"Ini gimana?" Tanya Riri, ia sangat takut sekarang.
Saat mereka ingin berbalik aunia sudah ada tepat dibelakang mereka. Riri yang tepat ada didepan aunia berteriak histeris ketika rambutnya dijambak kasar.
"Arrgghh" teriak Riri, sebuah pisau menusuk perutnya.
"Riri!!!" Teriak teman-temannya.
"Lepasin Riri, kita gak salah apa-apa sama Lo!!" Ujar Laura. Tapi aunia tak menghentikan aksinya ia terus menusukkan pisau pada perut Riri hingga suara teriakannya tak lagi terdengar. Aunia melempar kasar tubuh riri yang telah berlumuran darah.
"Sekarang giliran kalian" ujarnya menyeringai.
Dengan cepat aunia berhasil menangkap Dian, dengan cara yang sama ia juga membunuh Dian. Kemudian tubuh tak bernyawa itu ia lempar menumpuk pada tubuh riri. Hanya tinggal tiga orang tersisa, Lala, Laura dan alin.
"Gue gak mau mati disini" ujar alin histeris, ia berjalan mundur. Tanpa ia sadari kakinya tak lagi menapaki lantai, ia terjatuh dari atap sekolah.
Brukkk
Suara tubuh alin yang terjatuh, membuat seisi sekolah mengerumuninya.
"Sial, harus selesain secepatnya" ujar aunia.
"Aliiiin!!" Teriak Laura dan Lala bersamaan.
Aunia menangkap laura dan Lala yang tengah lengah dari belakang. Rambut mereka dijambak kasar. Aunia mendorong Lala hingga ia terjatuh tepat disamping alin.
"Lala!!!" Teriak Laura tangannya menggapai tubuh Lala namun tak berhasil.
"Lepasin gue!!" Laura memberontak.
"Lo bakalan ngalamin hal sama kayak mereka" ucap aunia.
Aunia mengambil pisaunya dan merusak wajah cantik Laura.
"Arrgghh"
"Arrgghh"
"Arrgghh" berkali kali teriakan laura terdengar bersaman dengan torehan pisau pada wajahnya.
Selesai merusak wajah Laura, aunia melemparkannya dari atas gedung. Tubuhnya terjatuh tepat diatas tumpukan tubuh alin dan Lala.
"Lempar mereka!" Pinta aunia pada dua orang bodyguard yang berjaga didepan pintu.
"Baik" tubuh Dian dan Riri dilempar bersamaan.
"Masukkan jasadnya ke karung, lalu kirimkan pada papa gio" ujarnya saat melihat tubuh Damian.
"Dan jangan lupa bersihkan tempat ini" lanjutnya lalu meninggalkan atap sekolah.
Flasback off
Hai ketemu lagi....
Jangan lupa comen, vote dan tekan like nya ya.. hehe :)
__ADS_1