
"Ma, kenapa gak bilang Aurel sih. Niat Aurel aja yang bayarin! Mama kan juga perlu uang buat kebutuhan mama" ujar Aurel.
"Gak papa, uang yang kamu kirimin tiap bulan juga kebanyakan buat mama. Apalagi uang itu cuma buat diri mama sendiri. Listrik, air, bahkan gaji Lastri kamu juga yang bayar. Kalau mama pake uangnya buat manjain cucu sendiri gak papa lah" balas Aleta.
"Udah ayo pulang, udah mau gelap ini!" Ujar Aleta.
"Iya" balas Aurel.
🥀
Mereka sampai di rumah Aleta pukul 18.00.
"Mama istirahat aja dulu! Pasti capek ngikutin kemauan Kayla dari tadi" ujar Aurel.
"Iya, mama ke kamar dulu ya"
"Iya ma, nanti aku suruh Lastri buat nyiapin makan malam buat mama"
"Hmm"
"Buatin aku kopi ya!" Ujar Darren. Ia langsung duduk di ruang tamu dan menonton televisi.
"Iya"
Aurel beranjak menuju dapur.
Sementara kayla, ia sedang memainkan boneka Barbie yang baru saja ia beli.
"Lastri" panggil Aurel.
"Iya mbak"
"Pemasangan cctvnya sudah selesai?" Tanya Aurel.
"Sudah mbak"
"Bagus" ujarnya. Setidaknya ia merasa lebih tenang jika rumah mamanya di pasangi cctv.
Kejadian beberapa Minggu lalu sungguh membuatnya sangat khawatir.
Kali ini ia akan memastikan keamanan mamanya. Ia tak akan membiarkan mamanya celaka untuk kedua kalinya. Apalagi oleh orang yang sama.
Aurel mengambil cangkir dan membuatkan Darren kopi.
"Untuk siapa mbak?" Tanya Lastri.
"Buat suami saya" balasnya.
"Ohh"
Aurel membawa kopi yang telah di buatnya ke ruang tamu. Tepat di mana Darren tengah asyik menonton televisi.
"Ini kopinya" ujar Aurel.
"Iya taroh aja disitu" balasnya.
__ADS_1
Aurel meletakkan kopinya di atas meja. Dan ia kembali ke dapur untuk menemui Lastri.
"Kamu udah selesai masak?" Tanya Aurel.
"Udah mbak"
"Kalau gitu jam tujuh nanti kamu Anter makanan ke ibu ya! Jangan lupa suruh dia minum obat" ujar Aurel.
"Iya mbak"
"Sebentar lagi saya akan pulang, tolong jaga mama saya dengan baik ya. Dan kalau ada apa-apa segera hubungi saya" pinta Aurel.
"Pasti mbak"
Aurel menuju kamar mamanya. Ia melihat Aleta yang tengah bersandar pada dinding.
Aurel membuka perlahan pintu kamar mamanya.
"Capek ya ma?" Tanya Aurel menghampiri mamanya.
"Lumayan" kekehnya.
"Anak kamu aktif banget ya? Mama sampe kewalahan" lanjutnya.
"Mama jangan selalu nurutin kemauannya Kayla, gak baik ma. Aku udah biasain dia buat hidup hemat. Jangan sampai karna mama selalu nurutin kemauan dia, Kayla jadi suka beli sesuatu yang gak dibutuhkan"
"Iya mama ngerti. Tapi nurutin kemauan dia sekali-kali gak papa kan?"
"Iya gak papa, aku cuma gak mau Kayla tumbuh jadi anak yang boros ma"
"Mama tau, kamu tenang aja. Mama yakin Kayla bakalan tumbuh jadi anak yang baik"
"Iya"
"Aku tinggal ya ma"
"Iya, maaf mama gak Anter ke depan. Capek" kekehnya.
"Gak papa ma, mama istirahat aja"
Aurel keluar dari kamar Aleta. Ia menghampiri Darren yang tengah nonton televisi.
"Ayo pulang!" Ajaknya.
"Sekarang?"
"Iya"
"Cepet banget, kopi aku aja belum habis" balas Darren.
"Katanya besok mau ke Bandung bareng keluarga Andra, kalau kita gak packing dari sekarang. Besok kita pergi gak ada persiapan"
"Oiyah, aku lupa. Yaudah ayo pulang!" Ujarnya. Ia langsung meneguk habis kopinya. Dan langsung menuju mobil.
"Kay, ayo pulang!" Ajak Aurel.
__ADS_1
"Iya ma, bentar" balasnya. Kayla langsung merapikan mainannya dan memasukkannya kembali ke dalam paper bag.
Selesai membereskannya Kayla langsung menyusul Aurel yang berjalan lebih dulu darinya.
🥀
Aurel dan Darren memasuki rumah. Begitu juga Kayla yang di gendong oleh Darren. karna anak itu ternyata sudah tertidur di dalam mobil.
Darren menidurkan Kayla di kamarnya. Setelah selesai Ia kembali ke ruang tamu dan duduk disana.
"Huh, Kayla makin berat aja ya" keluhnya.
"Bukan Kayla yang berat, kamunya aja yang jarang olahraga. Makanya gak ada tenaga" balas Aurel. Ia menuju dapur untuk mengambil air. Tenggorokannya terasa kering sejak memasuki rumah tadi.
"Bukannya jarang olahraga, aku kan banyak kerjaan rel. Gak ada waktu buat olahraga" jawab Darren. Ia tak akan terima jika dibilang lemah hanya karna jarang olahraga.
"Terserah" balas Aurel. Ia kembali ke kamarnya. Dari pada berdebat dengan suaminya itu. Lebih baik ia menyiapkan barang-barangnya untuk pergi ke Bandung besok pagi.
"Mau kemana?" Tanya Darren.
"Kamar"
Aurel mengambil koper yang ada di atas lemari. Berhubung dirinya tidak dapat mencapai ia mengambil kursi riasnya untuk mengambil koper tersebut.
Kopernya sangat berdebu. Mungkin akibat karna jarang di pakai. Setelah menepuk-nepuk debu yang menempel pada koper. Aurel mengambil bajunya dan juga baju Darren. Ia memasukkannya ke dalam koper. Setelah memasukkan semua barang yang di butuhkan. Aurel beralih ke kamar Kayla untuk mengemasi barang-barangnya juga.
Aurel selesai berkemas jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aurel melirik ponselnya. Tak ada satu pesan dari adiknya itu. Seharusnya Naya sudah sampai di Singapura beberapa jam yang lalu. Tapi sampai saat ini, ia tak juga menerima kabar dari Naya.
"Darren!" Panggil Aurel. Darren yang duduk di sebelahnya menoleh.
"Kenapa?" Tanya Darren.
"Naya ada ngabarin kamu gak?"
"Gak tuh, emangnya kenapa?"
"Dia gak ngasih kabar sama sekali? Seharusnya sekarang Naya udah sampai di Singapura kan?"
"Seharusnya sih iya"
"Apa aku telfon aja ya?" Pikir Aurel. Jika tak mendapat kabar dari Naya, ia merasa sangat khawatir. Apakah Naya baik-baik saja?
"Gak usah, kamu kan tau Naya gimana? Anak itu suka lupa sama ucapannya. Udahlah! Gak usah di pikirin. Palingan Naya kecapean sampai situ trus langsung istirahat, gak ingat ngabarin kita" balas Darren. Ia ingin istrinya itu tak terlalu berlebihan dalam berfikir.
"Istirahat udah malam!" Pinta Darren. Ia mematikan lampu tidur dan mulai mencari posisi nyaman untuk merebahkan tubuhnya.
Tak lama setelah Darren tidur. Aurel juga menyusul untuk tidur. Ia ingin melupakan semua kekhawatirannya terhadap Naya. Namun pikiran-pikiran negatif itu terus berkeliaran di kepalanya.
🥀
Setelah semalam tidur agak larut. Aurel sedikit terlambat bangun pagi ini. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Ia segera membangunkan Darren. Jam 8 nanti mereka akan berangkat ke Bandung. Jika tak bersiap dari sekarang kemungkinan mereka akan terlambat sampai di sana.
"Darren bangun! Udah jam 7 nih!" Ujar Aurel. Ia terus menggoyangkan tubuh Darren. Tapi pria itu malah menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.
"Lima menit lagi" gumamnya tidak jelas.
__ADS_1
Aurel sekarang yakin, jika Kayla mewarisi sifat dari papanya ini. Karna keduanya memiliki sifat sama persis. Suka menunda waktu untuk bangun.
"Awas ya kalau gak bangun dalam lima menit!" Ancam Aurel. Ia keluar dari kamar dan menuju kamar Kayla.