
Sore itu, Gio melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Pedal gas ia injak seakan-akan tengah meluapkan emosinya. Raut wajahnya berubah menjadi merah padam. Emosi yang tengah ia rasakan, sudah tak lagi bisa ia kontrol.
"Aku udah berusaha minta maaf sama kalian! tapi kenapa kalian gak mau maafin aku! apa aku gak bisa dapat kesempatan kedua! AAAAAHHHH SIAL!!!!" ujarnya membanting setir.
Gio terus menginjak pedal gas mobilnya, tanpa sadar. Hingga ia melihat lampu jalan yang berwarna merah. Ia langsung menginjak rem mobilnya. Tapi sayang rem mobilnya blong, dan gio tak bisa me ngerem mobilnya.
"SIAL!! kenapa bisa blong" pikirnya.
Sebuah truk dari arah berlawanan melaju kearah mobilnya. Tabrakan antara mobil Gio dan truk tersebut tak dapat terelakkan.
Bruakkkkkk
Suara tabrakan di lanjutkan ledakan menggema dijalan itu. Orang-orang sekitar segera berkerumun melihat kejadian tersebut. Ada yang merasa iba dengan nasib penumpang kedua mobil tersebut. Ada juga yang mengapload video pada media sosial masing-masing.
Suara mobil ambulance dan suara sirine mobil polisi terdengar setelah beberapa saat. Para korban yang ada didalam kedua mobil tersebut segera dievakuasi menuju rumah sakit.
.
.
.
Aurel terbangun dari tidurnya dengan keringat diseluruh tubuhnya. Perasaan yang sangat sulit ia artikan terasa saat ini. firasatnya mengatakan akan ada yang hilang darinya. Tapi ia tak tau apa itu?
"Gue kenapa ya? perasaan gue jadi gak enak gini" pikirnya.
"Mungkin karena kecapean aja kali ya? gue mandi dulu deh"
Aurel menepis semua perasaan gundahnya, ia menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Selesai dari kamar mandi ia menuju kamar mamanya.
"Mama tidur?" tanya Aurel pada aunia yang duduk ditepi ranjang Aleta.
"Iya, tadi selesai makan, mama minum obat trus ketiduran deh, mungkin karna kecapean kali yah abis jalan-jalan" balas Aunia.
"Biar gue aja yang jagain mama, Lo istirahat aja, Lo pasti capek jagain mama seharian" ujar Aurel.
"Yaudah, aku tinggal yah" Aunia meninggalkan Aurel dan Aleta.
Namun baru beberapa langkah, suara bel rumah berbunyi yang mengharuskan ia berbalik dan membukakan pintu untuk sang tamu. Aunia sedikit kaget dengan adanya polisi didepan rumahnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Aunia.
"Apa benar ini rumah bapak Gio?" tanya polisi.
"Iya benar, ada apa yah pak?"
"Begini, tadi siang terjadi kecelakaan di lampu merah ada dua orang korban dari kecelakaan tersebut, salah satu korban adalah bapak Gio" terang polisi.
"Maaf yah pak, tapi itu gak mungkin papa saya!" tegas Aunia.
"Tapi menurut KTP korban, alamatnya disini" ujar polisi menunjukkan KTP Gio. Aunia segera memeriksa KTP yang ditunjukkan polisi. Melihat KTP itu Aunia segera memanggil Aurel.
__ADS_1
"Aurel!"
"Aurel!"
"Ada apa?" tanya Aurel, ketika mendengar teriakan Aunia, Aurel segera berlari menuju sumber suara.
"Papa kecelakaan!" ujar Aunia.
"Gak! lo jangan bercanda, gak lucu tau gak!"
"Aku gak bercanda, pak polisi yang bilang!" ujar Aunia menunjuk polisi yang berdiri di depan rumahnya.
"Papa saya dimana sekarang?" tanya Aurel pada polisi.
"Rumah sakit Citra Media"
Setelah kepergian polisi, Aurel dan Aunia segera menuju rumah sakit yang telah disebut oleh polisi.
Di rumah sakit, Aurel bertanya pada resepsionis dimana keberadaan korban kecelakaan tadi siang. Setelah mendapat informasi tentang keberadaan papanya, Aurel dan Aunia segera berlari menuju ruangan yang disebutkan oleh petugas.
Tepat di depan pintu UGD Aunia dan Aurel di hadapkan oleh suster yang membawa tubuh Gio keluar dengan brankar.
"Papa saya mau dibawa kemana sus?" tanya Aurel.
"Pasien telah meninggal, kami akan memindahkannya ke ruang jenazah"
"Meninggal?" ulang Aurel.
Aurel terdiam di tempatnya, kakinya bahkan tak kuat untuk menopang tubuhnya. Ia ambruk ke lantai, air matanya berderai. Tangisnya tak lagi bisa ia bendung.
"Rel, kamu jangan kayak gini! Kamu harus kuat! ini udah takdir" hibur Aunia.
"Aku belum minta maaf sama papa, aunia, dan sekarang papa pergi ninggalin aku" ujarnya dengan Isak tangis.
"Tapi kamu gak bisa ngatur takdir rel, Sekarang yang harus kami pikirin adalah gimana caranya buat ngasih tau mama tentang ini, mama pasti sedih banget"
"Iya kamu benar, untuk sekarang kita gak usah ngasih tau mama dulu, mama baru pulih, jangan nambahin beban mama" ujar Aurel sembari mengusap air matanya.
.
.
.
Aurel dan Aunia kembali kerumahnya, ia mengecek mamanya yang ternyata masih tertidur.
"Mama masih tidur, berarti mama gak tau kalau kita pergi" ujar Aurel.
"Iya"
"Gue mau ke kamar" ujar Aurel.
__ADS_1
"Gue disini aja, nemenin mama" balas Aunia.
.
.
.
Pemakaman Gio terasa sangat sepi, tak banyak orang yang menghadirinya. Hanya ada Aurel dan Aunia, Darren dan Andra, serta beberapa kerabat lainnya.
Setelah pembacaan doa telah selesai, orang-orang mulai meninggalkan makam Gio.
"Pa, maafin Aurel yah, maaf udah marah-marah sama papa, Aurel cuman gak mau kalau papa ngelakuin hal-hal bejat"
"Aurel pamit pa". Aurel mengecup nisan Gio, lalu pergi meninggalkan pemakaman.
"Rel!" panggil Andra.
"Ya ndra, kenapa?"
"Kenapa Lo gak kasih tau Tante Aleta tentang kematian om gio?"
"Gue gak mau kalau mama sampai drop karna masalah ini, gue harap Lo ngerti" ujar Aurel.
"Ayo Aunia kita pulang!" ajak Aurel pada Aunia yang berdiri disampingnya.
"Ndra, Lo juga harus ngerti posisi Aurel, dia baru kehilangan papanya, dan mamanya juga baru masuk rumah sakit, gue rasa wajar kalau dia egois buat sekarang" ujar Darren.
"Mungkin Lo benar, Gue titip Aurel dan Aunia yah, jagain mereka!" ucap Andra.
"Lo tenang aja, gue pasti jagain mereka!"
Sesampainya dirumah Aurel langsung menuju kamarnya. Tangis yang sedari tadi ia tahan tak lagi bisa ia bendung. Sungguh kepergian Gio memberikan penyesalan tersendiri untuk Aurel. Ia ingat bagaimana marah dan bencinya pada Gio. Bahkan disaat Gio meminta maaf dan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan nya lagi, Aurel tak memberinya kesempatan kedua.
"Pa, maafin Aurel udah marah-marah sama papa, Aurel nyesal pa, seandainya aja Aurel maafin papa, mungkin papa gak bakal ninggalin kita" sesalnya di dalam Isak tangis.
Fotonya bersama Gio yang ia bingkai dengan indah terlihat jelas terpajang di dinding kamarnya. Aurel semakin terisak ketika ingatan tentang kebersamaannya dengan Gio terlintas jelas di pikirannya. Bagaimana ia bisa tersenyum hangat saat adanya sang papa di sampingnya.
"Papa!! maafin Aurel, Aurel nyesal!" isak tangisnya kembali pecah.
"Harusnya Aurel gak marah sama papa, hanya karna satu kesalahan yang papa buat, seharusnya Aurel berusaha buat papa ngerti, bukannya marah gak jelas sama papa, maafin Aurel papa" lirihnya di dalam tangis.
.
.
.
Thanks udah baca :)
Jangan lupa like and Coment yang banyak yah..
__ADS_1