
15 tahun kemudian...
Pintu kamar terbuka, menampakkan anak perempuan yang masih berusia 8 tahun. Dia adalah Kayla, anak Aurel dan Darren. Anak manis yang selalu ceria dan manja.
"Kay, bangun! Nanti telat loh ke sekolahnya" ujar Aurel lembut, sembari mengusap rambut Kayla.
"5 menit lagi ma" balasnya dengan manja, ia kembali menarik selimutnya menutupi tubuh mungilnya.
"Oke, gak masalah, tapi mama bakalan potong uang jajan kamu, kalau kamu gak bangun sekarang!" Ancam Aurel, ia mulai beranjak pergi.
"Kay udah bangun ma, Kay mandi sekarang ya" balasnya cepat. Ia langsung berlari menuju kamar mandinya.
"Cepat ya, mama tunggu di meja makan!" Ujar Aurel, ia segera menuju ruang makan.
"Naya, tumben kamu udah siap jam segini?" Tanya Aurel.
"Iya kak, hari ini aku ada kelas pagi, jadi harus berangkat sekarang" ujarnya sedikit lesu.
"Kenapa lesu gitu?" Tanya Aurel, ia duduk tepat di samping naya.
"Males kak, dosennya ngebosenin" balas Naya.
"Gak boleh gitu, gimana pun dosennya kamu harus tetap belajar. Jangan hanya karna dosennya ngebosenin, lalu kamu jadi malas" nasehat Aurel.
"Iya kak, aku usahain ya. Aku pamit ya kak, udah telat nih" ujarnya.
"Kamu berangkat sama siapa?" Tanya Aurel.
"Biasa kak, sama Siska. Dia udah nunggu di depan" balas Naya.
"Oh Siska, tetangga kita. Kamu akrab juga ya sama dia" kekeh Aurel.
"Iya kak, aku suka temenan sama dia. Orangnya asyik" balasnya.
"Yasudah, sana berangkat! Jangan sampai telat." Pinta Aurel.
"Iya kak, kakak sih ngajakin ngobrol Mulu" balasnya. Ia langsung berlari keluar rumah.
Bersamaan dengan perginya Naya. Suara berat Darren terdengar di telinganya. Ia bergelayut manja pada tubuh kurus Aurel.
"Pagi sayang" ujarnya di telinga Aurel.
"Darren, lepasin! Nanti di liat Kayla loh" ujar Aurel. Ia menyukai godaan kecil dari Darren di pagi hari. Namun, Darren suka tidak tau tempat.
"Iya-iya, aku lepasin" balasnya sewot.
Darren beralih duduk di meja makan. ia sudah rapi dengan pakaian formal nya ke kantor.
"Aku ambilkan?" Tanya Aurel.
"Iya, tapi jangan banyak-banyak" balasnya.
"Kenapa? Takut gemuk?" Tanya Aurel.
"Gak, aku cuman takut. Waktu aku rapat nanti, aku bakalan keseringan panggilan alam" kekehnya.
"Hush, jangan ngomong itu di meja makan!" Larang Aurel.
__ADS_1
"Iya-iya maaf" balas Darren, ia menyuap nasi goreng yang telah disiapkan oleh istrinya itu.
"Hmmm, seperti biasanya masakan istriku selalu enak" pujinya.
"Mama, Kay udah siap" pekik Kayla. Kayla keluar dari kamarnya dengan pakaian sekolah dasarnya. Ia juga membawa tas sekolahnya bersamanya.
"Kay, jangan teriak-teriak!" Ujar Aurel.
"Iya maaf ma, tapi uang jajan aku gak jadi di potong kan?" Tanya Kayla dengan mata berbinar.
Kayla, anak yang berusia 8 tahun. Ia sudah bisa bersiap ke sekolah sendiri. Dan ia juga punya keahlian membujuk, yang tak akan bisa tertolak oleh siapapun.
"Iya, mama gak bakalan potong uang jajan kamu" balas Aurel.
"Yeah, mama baik deh" puji Kayla, ia memeluk Aurel.
"Mama aja yang di peluk? Papa gak?" Tanya Darren.
"Papa juga dong" balas Kayla, ia beralih memeluk Darren.
"Tapi jajan aku tambahin ya pa" lanjutnya dengan kekehannya.
"Kamu ini, masih kecil udah jago malak orang ya" balas Darren, ia mencubit hidung yang tidak mancung milik Kayla. Tapi ia tetap mengeluarkan uang dua puluh ribuan di dalam dompetnya.
"Yeah, makasih papa" ujarnya mengecup pipi Darren.
"Udah-udah, sekarang Kay makan ya! Mama ambilin" pinta Aurel.
"Siap mama"
"Kamu makan dulu, mama nyiapin bekal kamu dulu ya"
🥀🥀🥀
"Kay, jangan nakal ya!" Ujar Aurel.
"Iya ma, aku gak nakal kok" balas Kayla.
"Yasudah sana masuk! Mama mau ke kantor"
"Dadah mama" ujar Kayla melambaikan tangan, ia langsung memasuki sekolah dasar tempatnya belajar.
Aurel kembali memasuki mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju kantornya. Kantor yang dulunya di pimpin oleh Aleta. Sekarang ia yang harus mengurusnya. Usia mamanya yang sudah tidaklah muda, membuat Aurel harus mengemban tugas untuk memimpin perusahaan yang telah di bangkitkan mamanya dari ambang kebangkrutan.
"Bu Aurel!" Panggil seorang wanita berusia sekitar 25 tahunan.
"Ada apa?" Tanya Aurel. Ia menatap Chika dengan tegas. Chika adalah sekretaris nya yang selalu membantunya menjalankan perusahaan.
"Ibu di tunggu di ruang meeting sekarang!" Ujarnya.
"Ada apa? Kenapa mendadak?" Tanya Aurel.
"Iya Bu, maaf. Saya lupa ngabarin ibu kalau hari ini kita ada rapat dadakan" sesal Chika.
"Yasudah, ayo!"
Aurel tak punya pilihan lain selain menghadiri meeting tersebut.
__ADS_1
Sementara itu,
"Andra!! Bangun!! Jangan jadi kebo. Cepatlah anterin Rendy ke sekolah, jangan sampai dia terlambat" ujar Mikha. Ia sudah berusaha membangunkan Andra sedari tadi. Tapi Andra tak juga beranjak dari tempat tidurnya. Melainkan ia semakin menarik selimutnya menutupi wajahnya.
"Kamu aja yang anterin" balas Andra dengan mata terpejam.
"Kamu kan tau, aku gak bisa bawa mobil! Buruan bangun!" Pekik Mikha.
Kegaduhan yang terdengar di pagi hari. Membuat anak laki-laki, yang berusia 10 tahun itu geleng-geleng kepala.
Baginya, kegaduhan itu sudah biasa ia dengar. Ayahnya yang tak suka bangun pagi. Sementara bundanya yang selalu membangunkan ayah di pagi hari. Membuat kegaduhan itu, mau tak mau harus terjadi.
Rendy yang telah selesai dengan sarapannya. Ia langsung menuju kamar kedua orang tuanya.
"Ayah gak mau anterin Rendy?" Tanya Rendy.
Seketika kegaduhan yang terjadi, langsung hening.
"Ayah mau kok, kamu tenang aja! Bunda lagi bangunin ayah nih" ujar Mikha.
"Kalau ayah gak bisa anterin, aku berangkat sendiri aja" ujar Rendy.
"Kamu mau berangkat sendiri? Mau naik apa?" Tanya Mikha. Ia sangat mengerti jika anaknya itu mandiri. Tapi ia tak akan tega jika membiarkan anaknya berangkat sekolah sendirian. Apalagi diusianya yang masih kecil.
"Di ujung jalan rumah kita ada tukang ojek kok Bun, aku naik ojek aja" ujar Rendy.
"Kamu berangkat sama ayah aja ya" kekeuh Mikha.
"Andra! Bangun, atau mau aku sunat dua kali!" Ancam Mikha.
Seketika Andra langsung bangun dari tidurnya dengan kesadaran penuh.
"Janganlah! Habis dong punya ku" balasnya reflek.
"Aku gak peduli" balas Mikha, ia menyilangkan tangannya di dada.
"Gak boleh gitu, nanti gak bisa nyenengin kamu lagi loh" balas Andra dengan menaik turunkan alisnya.
Plak
Sebuah pendaratan sendal milik Mikha tepat di kepala Andra.
"Aduh" ringis Andra.
"Ada Rendy, jaga tuh mulut! Sekarang cuci muka, terus anterin Rendy!" Ujar Mikha tak terbantahkan.
"Ayo Rendy! Kita tunggu ayah di depan" ajak Mikha.
🥀🥀🥀
Jam tangannya menunjukkan pukul 13.00. Waktu Kayla pulang dari sekolahnya. Aurel langsung membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya.
"Chika, ke ruangan saya sekarang!" Pintanya menggunakan telfon kantor.
Tok Tok Tok
"Masuk!"
__ADS_1
"Ibu manggil saya?" Tanya Chika.
"Iya, saya mau jemput Kayla dulu. Saya sudah tidak ada jadwal meeting lagi kan?" Tanya Aurel.